Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 7

Kacau kacau kacau! Aarrghh, Eru sialan! Kenapa jadi gini, sih? Hidup tenangnya jadi berantakan dan itu semua gara-gara pria sinting itu. Apa motif dia sebenarnya? Ia yakin bentar lagi pasti ayahnya akan menyuruh Eru datang melamar.

Aarrghh! Arumi belum siap andai Eru benar-benar mengiakan keinginan Sadewo. Ia harus menghentikan sebelum makin tak terkendali, ia mengambil handphone di nakas samping ranjang, mengirim pesan pada laki-laki edan itu.

Me : aku tunggu jam empat di Grand Canyon Cafe and Resto.

Cowok sial : kangen ya.

Me : najong! Awas jangan lupa.

Cowok sial: Ok, Sayang.

Me : aku bukan sayangmu.

Cowok sial : tapi aku sayang kamu.

Arumi menaruh kembali handphone-nya di tempat semula, masih ada waktu satu jam sebelum bertemu dengan Eru. Ia masuk ke kamar mandi membersihkan badan, tak lama ia keluar lalu berganti baju.

Arumi turun mengambil kunci motor di papan gantungan kunci lalu mendekati orang tuanya yang duduk di sofa depan televisi menyaksikan siaran berita sore ditemani pisang goreng dan teh hangat. “Yah, Bu. Arum pergi dulu,” pamitnya sambil mencium tangan kanan orang tuanya.

Sadewo melihat Arumi. “Sama siapa?”

“Mmm, sama Eru, Yah,” cicit Arumi pelan.

Sadewo mengangguk. “Ya udah hati-hati. Bilang sama Eru suruh sering-sering main ke rumah.”

Arumi mengiakan saja. Ia malas membantah Sadewo. Ia bergegas berangkat karena ia sudah telat dari waktu janjian. Beruntung jalanan lenggang sehingga ia sampai dengan cepat. Arumi langsung memarkir motornya ketika di tempat tujuan dan bergegas masuk mencari Eru.

Eru rupanya cukup pintar memilih tempat bertemu. Dia memilih meja di pojok agak jauh dari meja lainnya. Arumi berjalan ke meja itu.

“Sorry telat.” Arumi mendudukkan pantatnya di kursi kayu. “It's ok, Baby,” sahut Eru. “Mau pesan apa?”

Arumi memutar bola mata mendengar panggilan Eru. Ia tidak tanggapi omongan Eru. Pelayan mendekat mencatat pesanan mereka.

“Maumu apa deketin aku? Kalau cuma mau main-main, kamu salah orang. Aku ingetin jangan pernah deketin keluargku,” tandas Arumi langsung tanpa basa-basi, begitu pelayanan itu pergi.

Eru cuma tersenyum lebar sebelum menjawab pertanyaan Arumi. “Siapa yang main-main? Dari awal aku serius kok. Kalau kamu pikir aku main-main, itu salah. Kamu nggak perlu heran kenapa aku bisa cinta sama kamu hanya dalam hitungan bulan. Karena jauh sebelum ini aku udah cinta kamu,” balas Eru dengan mimik wajah tegas dan tatapan mata tak bisa diartikan.

Eru menatap tajam tepat di manik mata Arumi. Mereka saling tatap, mengunci satu sama lain, dan tersesat pada pandangan masing-masing. Arumi baru sadar bola mata Eru hitam pekat. Indah! Pandangan mereka terputus oleh kedatangan pelayan kafe yang menata pesan mereka.

“Makasih, Mbak,” ucap mereka berbarengan.

Arumi memicingkan mata pada Eru. Ia tak percaya pada omongan laki-laki itu. “Aku nggak percaya! Aku minta jangan deketin aku lagi dan jangan kasih harapan nggak jelas sama orang tuaku.”

“Aku nggak ngasih harapan nggak jelas kok. Permintaan kamu nggak bisa aku terima. Tapi aku bakalan penuhi harapan Ayah sama Ibu,” bantah Eru tidak mau kalah.

Mendengar jawaban Eru memicu emosi Arumi. “Kamu! Aku nggak bakal mau nikah sama kamu. Biar Ayah paksa aku tetep nggak sudi!”

“Terserah! Kita lihat aja siapa yang menang, Honey.” Senyum licik tersungging di bibir Eru

“Ok! Aku yakin kamu nggak bakal bisa menang dariku.”

“Kita lihat nanti, Honey.” Eru mengedipkan mata sebelah. Great! Wanita itu masuk perangkap yang ia pasang, bukankah semua sah dalam cinta dan perang, bahkan kalau perlu dengan cara bejat pun ia akan lakukan.

“Jangan panggil aku, Honey! Aku bukan Honey-mu!” desis Arumi geram. Aarrghh! Setiap kali berhadapan dengan lakilaki gila ini, Arumi naik darah. Ia tak pernah bisa menang melawannya.

“Mmm ... gimana ya?” Dahi Eru mengkerut, wajahnya tampak berpikir. “Tapi aku lebih suka panggil kamu honey,” lanjutnya dengan senyum jahil.

“Aku nggak suka!!”

“Kamu cantik kalau marah, bikin gemes. Jadi pengen gigit itu pipi,” goda Eru, Arumi makin geram memukul lengan Eru dengan keras. “Sakit, Honey.” Eru mengusap lengan kirinya yang dipukul Arumi. Tidak sakit hanya untuk membuat wanita di hadapannya tersenyum karena berhasil membuatnya kesakitan.

Arumi tidak menanggapi godaan Eru, ia meneruskan makannya, sayang sudah pesan tapi tak dimakan. Baru kali ini ia ketemu pria macam Eru. Pria dengan rasa percaya diri selanggit, sinting dan dengan entengnya mengklaim Arumi sebagai pacarnya.

#####

Udara pagi menyentuh kulit saat Arumi membuka pintu balkon. Awan kelabu menyapa langit biru dan harum tanah yang basah menguar menembus penciumannya. Ia rindu hujan, rindu tetesan bening menyirami bumi tempatnya berpijak.

“Rum! Buruan turun itu sarapan udah siap!” teriak Nisa dari luar.

“Ya! Bentar lagi turun,” jawabnya.

Ia cepat-cepat menyambar tas yang biasa dipakainya. Kali ini rambutnya ia ikat satu di tengah belakang, tidak lupa bibirnya ia poles tipis lipstik merah maron. Sempurna. Arumi turun dan mulutnya terbuka disertai mata mengerjap tak percaya kala melihat laki-laki sinting itu sudah bercengkrama dengan orang tuanya. Ia pasang muka cemberut lalu duduk di samping Eru, pria itu hanya terkekeh melihatnya.

“Honey, pagi-pagi itu senyum jangan cemberut gitu.” Eru mencubit pipi Arumi, Sadewo dan Nisa tergelak karena Arumi makin cemberut

“Kamu ngapain pagi-pagi udah nangkring di sini,” cecar Arumi sinis mengusap bekas cubitan Eru di pipinya. Kurang ajar ini cowok, mulai berani!

“Rum! Nggak sopan,” tegur Sadewo. “Panggil Mas atau Abang.”

“Nggak apa-apa, Yah. Mungkin belum biasa ya kan, Honey?” timpal Eru dan tersenyum mengejek. Jarinya mengelus-elus tangan Arumi di atas meja.

Sadewo tetap tak suka meskipun Eru tak keberatan. “Harus dibiasakan mulai sekarang, bentar lagi kan kalian mau nikah.”

Arumi sontak membantah keinginan Sadwo. Apa-apaan ini? Mengapa Ayah begitu semangat menikahkan dia. “Ayah! apaan sih, Arum belum mau nikah. Kita kan udah sepakat nggak ada pernikahan dulu!” pekik Arumi lantang.

Sadewo terlihat tenang seolah tak terpengaruh bantahan Arumi. “Empat bulan! Ayah kasih waktu empat bulan. Siap tidak siap kamu harus siap. Ayah nggak mau dengar bantahan,” ucap Sadewo tegas, biar saja Arumi marah.

“Ayah!”

“Empat bulan, Rum!” kata Sadewo lagi.

Arumi kembali membantah Sadewo. “Ayah! Arum nggak mau!” Arumi berdiri, menyentak kursinya sampai kursi kayu itu jatuh ke belakang dan menimbulkan dentaman keras.

“Baik kalau kamu nggak mau, Ayah akan panggil penghulu sekarang, kalian nikah hari ini juga!”

Eru dan Nisa diam saja. Bukan tak mau menengahi, hanya saja kali ini Sadewo benar, untuk apa menunda niat baik jika bisa disegerakan. Mata Arumi berkaca-kaca, kenapa ayahnya jadi pemaksa begini? Apa ayahnya tidak tahu kalau dirinya takut disakiti dan dikecewakan.

Arumi memilih mengabaikan ayahnya, lebih baik ia segera pergi. “Arum berangkat,” pamitnya mencium tangan Nisa tapi tidak tangan Sadewo.

“Tunggu!” Arumi berhenti tapi tak berbalik melihat Sadewo. “Ru, pakai mobil Arum. Motornya biar di sini aja,” perintah Sadewo.

Eru mengangguk, berdiri dari kursinya, “Kami berangkat,” pamit Eru. Laki-laki itu berjalan ke arah papan gantungan kunci, mengambil kunci mobil Arumi. Ia berjalan mendahului Arumi ke teras dan masuk ke mobil Arumi.

Arumi mengernyit bagaimana bisa Eru tahu kunci mobilnya dan siapa yang mengeluarkan mobilnya.

“Aku yang keluarin, Honey, disuruh Ayah tadi,” terang Eru dari tempat duduknya seolah bisa membaca pikiran Arumi kemudian menutup pintu mobil.

Arumi naik di kursi penumpang samping kemudi, menutup keras pintu mobilnya. Eru menghela napas berat, sepertinya sulit meluluhkan hati gadis itu. Eru menghidupkan mesin lalu melajukan mobil dengan kecepatan sedang dan pandangan mata fokus ke depan .

Eru menoleh sebentar pada wanita di sisinya lalu kembali menatap lalu lintas di depan. “Udah dong nangisnya.”

“Ini gara-gara kamu!” sembur Arumi di sela-sela tangisnya.

Pria tersebut melihat Arumi lagi. “Kok aku, Honey?”

“Kalau kamu nggak ngaku-ngaku pacarku, Ayah nggak bakalan bahas pernikahan!” teriak Arumi

Jadi itu pokok masalahnya. “Tapi aku serius sama kamu, aku nggak main-main,” bantah Eru. “Mungkin aku bukan orang kaya, di mana dompet isinya kartu kredit tanpa limit, mobil mewah dan rumah besar, tapi aku serius sama kamu. Aku mau nikahin kamu,” tukas Eru tegas.

Arumi menganggap perkataan Eru angin lalu, ia tidak akan percaya begitu saja. Bagaimanapun Arumi harus menggagalkan rencana ayahnya untuk menikahkan ia dengan Eru. Tak semudah itu Arumi menyerah.

Tbc.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel