2. ANEH
Waktu terasa begitu lamban bergulir, perjalanan jarum detik seperti siput yang merayap.
Kejadian tadi siang di kantor Mas Reza, hampir seluruh memenuhi otakku. Entah mengapa mendengar kalimat Mbak Rita yang lembut, malah seperti suara monster melewati gendang telingaku.
Ah, kadang ada sesal wanita gemulai nan ayu itu, selalu bersikap baik, jadi semakin menekan hati ini, tak berdaya dibuatnya.
Kuakui memang, tak ada apa-apanya diri ini dibanding mantan Mas Reza itu. Dia terperlajar, berkarier, elegant, cantik, cerdas, baik, lembut, dan dari kalangan keluarga terhormat. Terutama ada Caca menjadi saksi nyata kisah cinta mereka.
Aku? Berbanding terbalik dari kriteria semua itu, ditambah sikap Mas Reza, bagai enggan saja melihatku, apalagi untuk disentuhnya.
Andai ada Oma, mungkin hubunganku dengan putranya tak serumit ini.
Teringat malam pengantin, Oma memaksa kami sekamar, aku menolak halus, "Nantilah, kalau kami sudah saling mengenal." Oma tidak terima alasan. "Kalian sudah dewasa! Ntar kenalannya di tempat tidur saja!" titahnya pada kami saat itu.
Walau aku tidur di kasur dan Mas Reza di sofa, itulah pertama sekaligus terakhir sekamar dengan pria maskulin itu selama dua tahun pernikahan ini.
Sayang sekali, esok hari Oma harus berangkat ke kota seberang lautan, menunggu Dina -adik Mas Rezamelahirkan anak ke tiganya.
Kata Oma, sudah ada aku menjaga Caca di sini, di sana, ia dibutuhkan. Maka, jadilah kami hanya saling berkomunikasi lewat layar tipis.
Ah, Oma, aku merindukanmu!
Pukul dua pagi, bunyi alarm mengalun, rutinitas malam, menyadarkanku dari tidur. Ternyata aku menangis sampai lelap.
Astagfirullah aku belum salat. Buru-buru mengambil wudhu dan bermunajat kepada Allah, Sang Pemilik segala.
Selesai melaksanakan salat Isya, tahajud, dan pengaduan panjang kepada Rabb, sesak ini mulai berkurang, kutarik pelan nafas dari hidung lalu membuangnya lewat mulut. Huft .
Aku melangkah keluar, mengambil minum dan mengecek kamar Caca, termasuk rutinitas malamku juga.
Eits, kaget! Mas Reza tidur sambil memeluk puterinya. Tidak biasanya.
Pelan aku mendekat, kutelisik setiap inci rupa mereka berdua. Raut Caca yang cantik warisan sempurna dari ayahnya.
Ah, ternyata Mas Reza lebih memesona dari jarak sedekat ini. Pantas, rasa aneh itu mengaliri setiap pori ketika bersamanya. Wajahku terasa memerah menikmati debar indah di hati.
***
"Bunda, ayo ganti baju! Ayah ngajakin ke pantai," ajak Caca.
Dia terlihat sudah lengkap dengan baju santai, sementara Mas Reza siap dengan pakaian sama.
"Bunda selesaiin benahan dulu, ya, Sayang," ucapku membereskan bekas makan sarapan pagi tadi.
"Biar aku terusin, Bunda siap-siap aja sekarang!"
Mas Reza mengambil alih. Aku memegang dada menahan rasa kaget lagi. Debaran aneh membuat jantung terasa bergeser. Mas Reza memanggilku bunda, biasanya cuma Zahrah aja.
Refleks aku menatapnya dengan kening berkerut, ia lalu melempar senyum manis.
Belum sempat memperbaiki posisi jantung, Caca menarik lenganku ke kamar.
Tak cukup lima belas menit, acara menyalin baju selesai, Mas Reza sudah lengkap dengan sepatu santainya di luar. Dengan gesit mengambilkan sepatu Caca, pun sepatuku juga ia bawa.
Aduh, kaget lagi. Debaran aneh itu kembali memompa jantung lebih cepat. Kalau begini terus, bisa-bisa berbahaya bagi kesehatan jantungku.
Kok, melamun? Mau dipakein juga seperti Caca?" tanyanya mendelik.
Cepat kupasang sepatu yang disodorkan tadi, sambil memikirkan perubahan sikap Mas Reza.
"Kita pakai mobil kamu, aja, ya?" ucap Mas Reza.
Ia lalu duduk depan kemudi, sementara Caca naik dan mengambil posisi di kursi tengah. Aku menunggu sampai mobil keluar.
Setelah mengunci pagar rumah, aku naik di bagian depan samping sopir, seperti biasa jika perjalanan jarak dekat.
Lagi-lagi Mas Reza membuat jantung ini tak stabil dengan debaran anehnya, saat memasang set belt di kursi dudukku.
Sontak tubuh seperti terpaku, serasa aliran darah berhenti mengalir. Wajahnya begitu dekat ketika memasukkan knop set belt di samping kiriku.
Kurapatkan tubuh di sandaran kursi, untuk menahan nafas, agar ia tak tahu, ributnya kerja jantungku saat ini.
Ada apa denganmu wahai Mas Reza? Sikap anehmu bisa-bisa merusak organ utama tubuhku.
Sepanjang perjalanan, Mas Reza dan Caca mengikuti salawat Aiswa Nahlah yang mengalun merdu di mobil.
Sesekali aku tersenyum melihat pola mereka dan tak henti memikirkan perubahan lelaki jangkung pemilik mata teduh itu.
"Bunda, ayo, kita main air!"
Caca menarik tanganku. Mas Reza mengikuti di belakang setelah mengunci mobil dan menyewa pondok kecil tak berdinding. Khusus disewakan untuk pengunjung.
"Bunda ke pondok itu, ya? Caca main berdua aja, ma ayah."
Kutinggalkan mereka setelah mendapat anggukan Caca.
Hari libur pantai terlihat ramai, pondok-pondok tak ada kosong. Bahkan beberapa gerombolan pengunjung, agak siang datang, menggelar tikar di bawah pohon dekat pantai.
Caca tampak asik membuat istana pasir, pakaianya basah setengah badan. Di sampingnya, Mas Reza terlihat menerima telepon.
Pria pembuat debar itu terlihat melambaikan tangan, tak lama dua wanita datang dengan pakaian modis.
What? Jantung kembali bergeser dari posisinya, kali ini seperti gong ditabuh keras.
Mbak Rita!
Cuaca yang tadi panas-panas melow, sontak berubah pengap. Air mata pun mulai runtuh, memikirkan kemungkinan mereka hari ini, di tempat seperti ...? Jangan-jangan ...? Janjian? Atau ... ? Mereka punya rencana ...?
Ah! Kepalaku penuh praduga.
Mas Reza tampak tak lepas mengawasiku, kualihkan bola mata dari pemandangan yang membuat jantung bagai tertancap ribuan panah.
Aku mengeluarkan ponsel saat dering telepon panggilan video terdengar, sekaligus membuyarkan konsentrasiku. Oma !
"Assalamu alaikum, Oma. Zahrah rindu!" seruku meloloskan air mata yang sedari tadi mendesak, setelah memandang Oma di layar.
Ya, air mata rindu pada Oma dan air mata sesak karena putranya.
"Kamu baik-baik aja, kan, Zahrah? tiba-tiba aja Oma. mengkhawatirkan kalian."
Aku semakin terisak mendengar kalimat Oma. Lekat memandangi ibu mertuaku di layar HP, wanita umur kepala lima itu, selalu tahu keadaan diri ini, meski jauh.
"Semua baik-baik, kok, Oma. Cuma ..., Zahrah rindu!"
Buru-buru kuhapus air mata dengan punggung tangan, berusaha menutupi kegalauan.
Sedang di balik layar, Oma terkekeh. Alangkah haru rasanya punya mertua seperti beliau, sedangkan di luar sana banyak rumah tangga hancur gara-gara mertua.
"Mana Caca? Reza?"
Oma mengalihkan pembicaraan. Aku spontan mencari dua sosok itu di tengah keramaian. Sudah tak ada, tempatnya diganti orang lain.
"Kami di sini, Oma!"
Mas Reza tiba-tiba muncul sambil menggendong Caca dari samping, dengan tawa renyah.
Caca langsung memeluk leherku dan Mas Reza mencium pipiku sekilas, sontak aku berbalik ke arahnya, ia tersenyum melambai ke layar ponsel.
Sekuat tenaga kutahan debaran aneh itu lagi sambil tersenyum, jangan sampai benar-benar merusak kerja jantungku, pun agar Oma yakin, kalau kami benar baik-baik saja.
Lama berbincang, sampai Caca memutar ponsel unutk memperlihatkan suasana pantai pada Oma. Sedang aku sesekali meraba pipi, sibuk memaknai perlakuan Mas Reza.
Apakah ciuman itu murni karena kemauannya? Atau hanya acting saja depan Oma?
Argh! Debaran jantung ini terasah entah, untuk menjawab teka-teki itu.
Jam menunjuk angka sepuluh, ketika kami berkemas pulang. Selesai membersihkan badan Caca di toilet umum dan mengganti pakaiannya, sosok pria dengan suara tak asing menyapa.
"Kamu, Za, kan? Zahrah Maulidia? Yang diberi gelar si bisu saking pendiamnya? Putri sulung Pak Bagus? " Pria itu melipat dahi sambil mengingat.
"Iyya. Anda siapa?" tatapku menyelidik dengan mengerutkan Alis.
Seseorang menyebut nama lengkap, gelar, dan nama bapakku.
"Ya, Allah, Za, lima tahun baru bertemu, wajarlah lupa! Aku Danar, Za, Danar yang ...." Ucapannya terhenti sambil melirik Mas Reza, "kakak kelas, sekaligus tetangga kampung kamu?" lanjutnya.
"Oo ... ingat, ingat, gimana kabar tante?"
Aku menjawab, lalu cepat menunduk, menatap ke bawah sambil melirik Mas Reza yang memainkan HP. Nampak wajahnya merah, mungkin efek di bawah matahari tadi.
"Beliau sudah dipanggil dua tahun lalu," jawab Mas Danar sedih ketika aku tanyakan ibunya.
"Innalillah ... sabar, ya?" Mas Danar mengangguk.
"Eh, kenalin. Ini suamiku." Kutunjuk Mas Reza. Mereka berjabat tangan.
"Yang ini, putri kami."
Caca menyentuh punggung tangan Mas Danar, tanda takzim kepada orang yang lebih tua.
Mas Danar mengusap-usap kepalanya, "Cantik!" ucapnya diiringi senyum.
"Aku permisi duluan, Za, Mas."
Mas Danar menunjuk segerombolan orang melambai padanya. Kami pun mengangguk ramah. Pria yang tak jauh tingginya Mas Reza itu pamit dengan menangkupkan tangan ke depan dada. Aku pun melakukan hal sama.
Perjalanan pulang, Caca tertidur memeluk boneka kesayangannya. Lelah lari ke sana-ke mari di pantai. Sementara aku melirik Mas Reza yang fokus menyetir, tampak wajahnya datar saja ketika ada lelaki yang mendekatiku, seperti Mas Danar tadi.
Ataukah, hanya aku saja yang cemburu apabila ia dekat sama wanita lain? Apa lagi sama mantanya?
***
"Za, Maafkan aku. Ta'aruf ini tak bisa dilanjutkan!" Suara Mas Danar di balik telepon.
"Iya," jawabku singkat.
"Buat bapak-ibu, tolong sampaikan sembah sujud maafku kepada beliau, atas pembatalan ta'aruf ini."
"Iyya," jawabku sama.
"Aku berangkat besok ke kota, melanjutkan S2, Za. Aku ...." Dia mendesah panjang, "Tunggu aku...!" Dia menggantung kalimatnya.
Aku tak langsung menjawab, dan sedang berfikir lama, desahan nafasnya terdengar gelisah.
"Maaf, Mas, menunggu seseorang yang belum tentu jodoh. Menurut Zahrah, seperti menanti hujan di tengah kemarau." Intonasiku pelan tapi tegas.
"Kita jalani saja, Mas! Nggak usah saling menghalangi. Kelahiran, rezeki, jodoh, dan maut, Allah sudah tentukan sebelum kita lahir ke dunia," ujarku selanjutnya meniru bahasa bapak ketika beliau mewanti-wanti pembatalan ta'aruf ini.
Mas Danar terdengar menghela napas panjang, bergetar.
"Zahrah harap, nggak perlu saling menghubungi seperti ini. Karena, kita tidak tahu cara kerja setan." Pelan aku memilih kalimat, untuk menjaga perasaanya.
Aku menutup telepon, setelah Mas Danar menjawab dari seberang.
Sama sekali kami tidak menyesali ataupun menyalahkan ibu Mas Danar menolak melanjutkan ta'aruf ajuan putranya kepadaku, karena memang perbedaan strata sosial terlalu jauh.
Aku dan Mas Danar bukanlah teman dekat, sahabat, apalagi sepasang kekasih. Meski masih ada hubungan kekerabatan.
Kami teman satu angkot, yang kebetulan satu arah, satu sekolah. Itupun, apa bila motor Mas Danar Masuk bengkel.
Mas Danar datang ta'aruf kerumah lima tahun setelah meninggallkan masa seragam putih-abu-abu. Pada saat itu, ia telah mnyelesaikan S1-nya, juga sudah jadi salah satu staf pengajar di tempat kami menimba ilmu yang sama.
Berfikir untuk kuliah seperti Mas Danar, jauh dari anganku. Tamat di tingkatan menengah atas saja amat disyukuri.
Ikut kerja sebagai karyawan di rumah laundry milik keluarga dari ibu adalah kegiatan mengasyikkan buatku. Sebahagian hasilnya, bantu biaya ke tiga adik yang masih sekolah.
Aku dan keluarga tak pernah mengira Mas Danar datang ta'aruf ke rumah. Melihat ia punya niat baik. Keluarga tak menghalangi.
Ya, walau pada akhirnya, ending sudah terbaca melalui judul.
