Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB 1_PERJANJIAN PERNIKAHAN

"Saya terima nikahnya Diandra Safaluna binti Nasron Kamal dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang 300 juta rupiah, tunai."

Setelah beberapa saat hening, akhirnya suara riuh dari para saksi dan tamu undangan terdengar menggema memenuhi gedung mewah hotel De Luxurious. Jelas aku bahagia. Aku telah membuktikan kepada siapapun bahwa Sayudha Wistara bisa melamar seorang wanita bercadar dengan mahar yang fantastis. Semua mengatakan bahwa mereka begitu penasaran dengan wajah istriku. Pastilah cantik. Namun aku tidak peduli. Aku tak perlu melihatnya sebab aku sebenarnya tidak berselera. 

Kekasihku sesungguhnya adalah Ayu Ruminang adalah wanita yang paling cantik di mataku. Sesuai namanya, dia begitu lembut dan penuh kehangatan. Aku akan menikahinya nanti secara siri setelah 2 tahun menikahi Luna.

"Aku tahu, kau tak setuju dengan perjodohan ini. Aku tak permasalahkan. Aku hanya memintamu untuk menerimanya saja, " ucap Luna dengan nada yang begitu tegas, pasti. 

"Apa Mba jatuh cinta padaku setelah pertemuan ke-dua ini? "

"Kau bisa berpikir apa saja, " ucapnya dingin. 

Aku tahu, pesonaku sebagai casanova memang tidak akan pernah pudar oleh waktu. Sejak masih SMP aku memang lelaki tertampan di kelasku, itu kata Kokom Si Gendut yang sekarang justru jadi brandmanager di perusahaanku. Aku suka dengan caranya memujiku, tak masalah dengan ukuran tubuhnya yang hampir memenuhi kantorku. 

Sudahlah, lupakan Kokom. Sejujurnya, aku merasa gadis bercadar itu aneh bagiku. Ketika aku berbicara empat mata dengannya. Ia seperti memberikanku penawaran. Pastilah dia merasa akan rugi jika tak mendapatkan laki-laki tampan dan berkarir cemerlang ini. 

"Sejujurnya, aku sudah memiliki kekasih, Mbak, " kataku mencoba menolak.

Aku masih ragu, walau kakekku menawarkanku 2 hektar kebun durian dan sebuah apartemen mewah sebagai kado pernikahanku. Pria tua pelit itu tiba-tiba menjadi sangat dermawan padaku. Entah apa tujuan sebenarnya selain alasan memberikannya cucu. 

Aku sudah mencoba merayunya, mungkin saja dia bisa luluh. Tapi semua laki-laki tua di bumi ini keras kepala dan tak terkecuali kakekku, Adelard Ibrahim, pengusaha properti Living With Me yang memiliki banyak perusahaan. 

Entah apa rencana Tuhan, aku pun menyanggupi pernikahan ini. Ibuku, ayahku mendukung bahkan seperti memaksaku. Semua ancaman yang menakutkan mereka guyurkan, membuatku takut dan sempat frustasi, tapi...

"Tak masalah kamu punya kekasih, sebab aku juga tak mengharapkan menjadi istrimu selamanya. Cukup 3 tahun saja, " tawar wanita bercadar hitam itu.

Gaun hitamnya menutupi seluruh tubuhnya. Hanya matanya saja yang bisa kulihat, itupun aku seperti segan. Entah aura apa yang di bawa wanita itu. 

"Pernikahan bukan untuk main-main, Mbak," timpalku. 

"Anggap saja kau sedang menolongku, " ujarnya lagi. 

"Menolong bagaimana, Mbak? " tanyaku. 

Dia hanya diam. Sepertinya dia tak suka dengan pertanyaanku. Aku benar-benar bingung. 

"2 tahun saja, bagaimana? " tawarku. 

"Baik, " jawabnya cepat. 

Setelah itu, aku tak pernah lagi berbicara apapun dengannya walaupun kami bertemu kembali saat diskusi keluarga. Dia sangat dingin melebihi es. Sebagai calon suami, aku sebenarnya ingin melihat wajahnya saat itu tapi melihat sikapnya,aku jadi enggan. Aku bahkan seperti tak ingin mencari masalah dengan memintanya membuka cadarnya padahal aku berhak. 

Malam ini, entah apa yang akan aku bicarakan, lakukan dan harapkan dalam pernikahan yang sedang aku jalani. Kepalaku pusing bagai habis mengitari bumi 7 kali, berat. Memikirkan, apakah semua akan berjalan sesuai rencana? Belum lagi aku harus menyiapkan banyak amunisi untuk merayu Ayu. Sebenarnya tak sulit, namun rekeningku terancam kurus kering jika terlalu mengikuti maunya. 

Di malam pertama... 

"Apa kau ingin kita melakukannya malam ini?" tanya Luna dengan tatapan tajamnya.

Tolooong....! Kenapa aku selalu menciut dengan mata itu. Mata bulat besar, tajam dengan hiasan bulu mata yang lentik. Seperti warna coklat dan hijau menyatu, begitu bersinar. Bahkan sebagai suami, aku tak berani bertanya, apa itu asli? 

"Aa?? Ehmmm... Anu... Itu, begini... "

Aku tak tahu harus merespon bagaimana.

"Aku akan membuka cadarku dan seluruh kain ini jika kau mau, " tawarnya. 

Kenapa dia harus menyertakan kalimat 'jika kau mau', memangnya aku saja yang punya nafsu?! Dia kira aku lelaki apa? Tak akan. Aku tak akan menyerah padanya dengan mudah. Gengsi. 

"Apa Mbak memerlukannya? " tanyaku seolah aku tak menginginkannya. 

Dia hanya diam. Sama sekali tak menjawabku. Hati kecilku menginginkan dia mengatakan 'iya' atau setidaknya mengangguk. Biar bagaimana pun, aku laki-laki dewasa yang normal. Apalagi status kami adalah suami istri. Aku cukup bersabar menunggu. 

Dengan tatapan dinginnya, wanita yang baru saja kusahkan itu berjalan, mendekat. Sial! Jantungku seperti akan mencolos keluar. Dekat lebih dekat lagi. Rasanya aku seperti akan menikmati syurga. Namun seketika harapanku hempas. Dia melenggang melewatiku, menyisakan aroma parfum yang begitu lembut menyeruak dari guratan helaian kainnya. Sebelum dia keluar, ia membalikkan badannya menatapku. 

"Aku akan tidur di kamar samping, Mas, " ucapnya. 

Wow!! Wanita... 

Aku hanya mengangguk dengan memasang senyum sedemikian rupa. Dia wanita bercadar, mestilah tahu, kewajiban seorang istri. Mestilah bertanya, mengapa dia malah seperti hanya aku saja yang mau. Ya walau pun pernikahan ini akan berakhir, tapi akad yang tadi pagi aku ucapkan bukan main-main. Andai dia tahu, aku bahkan merasakan beban bumi ini seperti semuanya terpangku padaku. Lalu ketika kata 'sah!!' dari hadirin riuh rentak, serasa lepas semua beban itu. Lega. 

Kuletakkan ponsel yang sedari tadi tak berhenti bergetar. Siapa lagi kalau bukan Ayu. Dia mengancam akan bunuh diri. Aku makin dibuat uring-uringan. Tak mungkin aku meninggalkan rumah, badanku terasa letih dan aku benar-benar sedang tidak bersemangat. Lagipula, akan terlihat aneh jika seorang pengantin pria pergi dari rumah di malam pengantinnya. Aku menghembuskan nafas kuat-kuat. 

"Oh ya, apa tadi aku salah mendengar? Dia panggil aku apa? Mas?! " gumamku sendirian menatap langit-langit. Mengapa terdengar sangat hangat di telingaku. Aah... 

Gadis bercadar itu membuatku makin penasaran. Kucoba memejamkan mata namun mataku seperti sedang mencari sesuatu. Ingin melihat sesuatu. Aku bangkit dengan cepat. 

"Malam ini, setidaknya aku harus tahu seperti apa wajahnya!" 

POV 3

Sedang di sisi lain, Luna segera mengunci pintu, melucuti kain putih penutup dirinya lalu menghempaskannya begitu saja. Rambut lurus sedikit curly di bagian bawah, hitam berkilau terhentak indah. Sama sekali ia tak memandang cermin sekedar untuk untuk mengagumi kecantikannya sebagai pengantin. Segera ia mengeluarkan laptop. Dengan cekatan, jari-jarinya mengetik sesuatu. Tak lama, sebuah pesan datang. 

'Senjata-senjata sudah dikumpulkan di hutan utara. Ada 10 orang yang menjaga. Tinggal menunggu perintah, boss!'

Bibir merah muda nan ranum itu menyeringai seperti puas. Jari jemarinya kembali mengetik. 

'Musnahkan!!!'

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel