Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 1

Aku menghabiskan lima tahun menjadi ibu pengganti bagi keluarga suamiku. Aku melahirkan tiga putra untuk mereka. Lalu suatu hari, aku menemukan surat gugatan cerai di atas meja kerjanya—sudah ditandatangani.

Ibu mertuaku tersenyum kepadaku. "Tugasmu sudah selesai. Anak-anak itu sudah tidak membutuhkanmu lagi."

Namun, tidak satu pun dari mereka tahu siapa diriku yang sebenarnya.

Saat kami bertemu lagi di sidang hak asuh, aku duduk di sisi bangku yang diperuntukkan bagi hakim.

——

Pagi ketika aku menemukan surat gugatan cerai itu, sarapan sudah tersaji di atas meja.

Tiga anak laki-laki duduk berjajar. Ethan, lima tahun. Lucas, tiga tahun. Dan Noah kecil, baru berusia empat belas bulan, sedang menghancurkan pisang di kursi makannya.

Sejak pukul lima pagi aku sudah bangun untuk menyiapkan semuanya dari awal. Pancake untuk Ethan yang sangat pemilih soal makanan. Anggur yang dipotong kecil-kecil untuk Lucas agar tidak tersedak. Buah yang dilumatkan untuk Noah yang sedang tumbuh gigi.

Ibu mertuaku, Diane, duduk di ujung meja. Dia tidak pernah memasak. Tidak pernah mengganti popok. Namun, dia selalu punya pendapat tentang segala hal.

"Kamu terlalu banyak menambahkan gula ke pancake lagi. Apa kamu ingin gigi mereka cepat rusak?"

Aku tidak menjawab. Sejak lama aku belajar bahwa membalas perkataannya hanya akan membuat keadaan semakin buruk.

Suamiku, Carter, masuk sambil merapikan dasinya. Dia mengecup pipi ibunya. Mengacak rambut Ethan. Lalu berjalan melewatiku begitu saja untuk menuang kopi.

"Carter, aku perlu bicara soal jadwal kontrol Noah—"

"Bukan sekarang. Aku ada rapat."

"Jadwalnya sudah diubah tiga kali. Dia harus menerima imunisasinya."

"Kalau begitu, bawa saja dia. Untuk apa aku harus ikut?"

Diane tersenyum di balik cangkir tehnya.

Beginilah hidupku. Setiap hari.

Setelah Carter pergi, aku membersihkan dapur, memakaikan baju anak-anak, mengantar Ethan ke sekolah, membawa Lucas ke kelompok bermain, lalu mengantar Noah ke dokter—sendirian.

Baru setelah pulang dan masuk ke ruang kerja Carter untuk mencari kartu asuransi, aku melihat berkas-berkas itu.

"Permohonan Pembubaran Pernikahan."

Tanda tangan Carter. Bertanggal dua minggu yang lalu.

Tanganku tidak gemetar. Itu justru membuatku terkejut.

Aku membalik halaman demi halaman dengan perlahan. Dia menginginkan rumah ini. Dia menginginkan hak asuh penuh atas ketiga anak kami. Dia tidak memberiku apa pun—tidak ada nafkah, tidak ada pembagian harta.

Di bagian "Alasan Perceraian", pengacaranya menulis: "Perbedaan yang tidak dapat didamaikan."

Perbedaan yang tidak dapat didamaikan.

Cara yang terdengar sopan untuk mengatakan: Kami sudah mendapatkan apa yang kami butuhkan darimu.

Aku mendengar bunyi hak sepatu menghentak lantai kayu. Diane muncul di ambang pintu, bersandar pada kusennya dengan kedua tangan bersedekap.

"Oh. Jadi kamu sudah menemukannya."

Dia tidak tampak terkejut. Juga tidak tampak merasa bersalah.

"Aku sudah menyuruh Carter menyembunyikannya lebih baik, tapi sejujurnya aku senang kamu sudah tahu. Jadi semuanya akan lebih mudah."

Aku menatapnya. "Lebih mudah untuk apa?"

"Masa transisinya. Kami sudah mempekerjakan seorang pengasuh. Dia mulai bekerja hari Senin. Kamu bisa mulai berkemas akhir pekan ini."

Dia mengatakannya dengan nada yang sama seperti saat seseorang mengembalikan mobil sewaan. Terima kasih atas jasamu. Kami sudah tidak membutuhkanmu lagi.

"Itu anak-anakku."

Dia tertawa. Benar-benar tertawa.

"Anak-anakmu? Sayang, kamu dulu hanya seorang pelayan biasa ketika Carter bertemu denganmu. Semua yang dimiliki anak-anak itu—rumah ini, sekolah mereka, nama keluarga mereka—semuanya berasal dari Carter. Hakim mana yang akan memberikan hak asuh kepada seseorang yang tidak punya apa-apa?"

Aku kembali menunduk melihat berkas itu.

Hak asuh penuh diberikan kepada sang ayah.

"Kalian sudah merencanakan semua ini sejak awal."

Diane memiringkan kepalanya. "Kamu sehat, masih muda, dan punya gen yang bagus. Hanya itu yang kami butuhkan. Tiga cucu laki-laki. Bahkan hasilmu melebihi harapan. Awalnya kupikir kami harus mempertahankanmu sampai percobaan keempat."

Tenggorokanku terasa terbakar.

Bukan karena sedih.

Karena marah.

Noah kecil mulai menangis di lantai atas. Secara naluriah aku melangkah menuju sumber suara itu. Diane langsung menghalangi jalanku.

"Biarkan pengasuh yang mengurusnya."

"Belum ada pengasuh di sini."

"Kalau begitu biarkan saja dia menangis. Bayi memang menangis. Duduklah, Vivian. Mari kita bicarakan ini seperti orang dewasa."

Aku mendengar putraku menangis sejadi-jadinya, sementara wanita itu berdiri di hadapanku sambil tersenyum.

Ada sesuatu yang berubah dalam diriku.

Tembok yang kubangun selama lima tahun—kesabaran, kepatuhan, dan kebungkaman—retak lurus hingga ke dasarnya.

Namun aku tidak meledak.

Belum.

Karena Diane tidak tahu apa yang juga tidak diketahui Carter. Apa yang tidak pernah dicari tahu oleh siapa pun di keluarga ini.

Aku bukanlah seorang pelayan biasa.

Aku duduk perlahan dan melipat kedua tanganku.

"Baik. Mari kita bicarakan."

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel