Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Tentang Rose (ll)

​Saat ia sedang mengemas pakaian dan barang-barang keperlunnya, Rose merasakan kehadiran seseorang di belakangnya.

​"Sudah berapa kali kukatakan, Jackson, ketuk pintu sebelum masuk ke kamarku..." ucap Rose tanpa menoleh. Ia mengunci tasnya dan meletakkannya di lantai.

​"Tuhan saja yang tahu bagaimana kau selalu bisa merasakanku di belakangmu tanpa menoleh sedikit pun. Padahal kali ini aku sudah berusaha masuk tanpa suara," sahut Jackson dengan wajah kecewa.

Jackson adalah pria berusia 26 tahun, seumuran dengan Rose. Renzo mengadopsi Rose dan Jackson di saat yang bersamaan ketika mereka berusia 5 tahun. Sejak saat itu mereka berlatih bersama, namun Rose berhasil menjadi Kelas A sementara Jackson masih di Kelas B.

​"Ya, kau sudah melakukannya dengan cukup baik, tapi aroma parfum khasmu selalu mengkhianatimu," jawab Rose sambil mengenakan hoodie hitam di atas tank top-nya. Ia memilih pakaian yang nyaman untuk perjalanan jauh.

​"Cerdas... Ngomong-ngomong, kudengar kau akan pergi selama enam bulan."

Jackson duduk di tempat tidur Rose. Rose membalasnya dengan anggukan singkat.

​"Begini, aku ingin mengatakan sesuatu sebelum kau pergi. Ini penting..." ucap Jackson serius. Rose menatapnya dan memberi isyarat agar ia melanjutkan.

​"Aku tidak tahu bagaimana reaksimu, tapi aku sudah menunggu sangat lama untuk ini. Aku mencari saat yang tepat, tapi kau tiba-tiba pergi, jadi aku tidak punya pilihan selain mengatakannya... Bahwa... Aku... Aku..."

Jackson terbata-bata. Rose menyipitkan mata saat melihat dahi Jackson berkeringat, tangannya sedikit gemetar, dan ia terus-menerus menelan ludah.

​"Aku tidak punya banyak waktu, Jackson. Bicara saja," ucap Rose sambil melirik jam tangannya.

​Jackson bangkit dari tempat tidur. Berdiri di hadapan Rose, ia menggenggam tangan wanita itu. Rose mengerutkan kening melihat tindakan itu, namun tidak berkomentar.

​Jackson menarik napas dalam dan berkata, "Aku menyukaimu, Rose... Bukan sebagai teman, tapi lebih dari itu."

​Rose menatapnya selama satu menit dengan wajah dingin yang tanpa ekspresi. Ia menarik tangannya dari genggaman Jackson dan berkata, "Kau tidak seharusnya memiliki perasaan itu, Jackson. Kau tahu hal-hal semacam ini tidak ada di dunia kita. Kita tidak diizinkan menunjukkan emosi apa pun. Itu tidak baik bagi kita maupun pekerjaan kita."

​Rose berbicara dengan nada dingin yang biasa. Apa pun yang dikatakan Jackson, hatinya tidak bergetar sedikit pun. Ia berdiri di sana seolah teman masa kecilnya itu tidak baru saja menyatakan cinta padanya.

​"Pekerjaan apa yang kau bicarakan? Membunuh orang demi uang? Kau selalu bicara soal aturan dan disiplin, aku menghargai itu. Aku senang kau menjadi petarung Kelas A dan aku pun sedang berusaha keras. Tapi tidakkah kau pikir kita juga berhak bahagia, tertawa, dan menikmati hidup seperti orang normal? Meskipun kita pembunuh, kita tetap manusia. Kita punya hak untuk mengungkapkan emosi, kita punya hak untuk menangis, Rose. Renzo hanya memanfaatkan keahlian kita untuk keuntungannya sendiri, untuk mencari uang. Kita bisa melarikan diri dari tempat ini dan membangun dunia baru kita sendiri."

​Jackson mencoba mengubah pemikiran Rose, namun Rose menggelengkan kepala.

​"Ya, lari dari sini, lalu Renzo akan menyewa setiap pembunuh di Akademi ini untuk mencari dan membunuhmu. Apa kau ingin menghabiskan seumur hidupmu dalam ketakutan bahwa kapan pun Renzo bisa datang dan membunuhmu serta orang yang kau cintai? Apa kau lupa apa yang terjadi pada Andrew saat dia melarikan diri? Kau tahu sendiri bagaimana Renzo membunuhnya karena melanggar aturan. Kau pikir kau bisa hidup tenang setelah melarikan diri dari tempat ini? Mungkin kau berpikir begitu, Jackson, tapi aku tidak. Semua orang yang kita bunuh demi uang bukanlah orang baik, kita tidak membunuh orang yang tidak bersalah. Mereka kalau bukan kriminal, ya pejabat atau politikus korup. Dan aku tidak ingin menjadi bahagia atau merasakan emosi apa pun. Emosi akan menghancurkanmu. Dan sebelum kau menjelekkan Renzo, ingatlah bahwa kau berdiri di sini dalam keadaan hidup karena dia. Keahlian apa pun yang kau punya adalah karena dia. Dia mengadopsi kita, itu sebabnya kita ada di sini. Jika tidak, mungkin kita sudah mati atau mengemis di jalanan. Kau tahu betul bagaimana dunia ini memperlakukan anak-anak yang dibuang. Kita beruntung berakhir di sini dan bukan di rumah pelacuran. Emosi dan perasaan tidak ada dalam duniaku, Jackson. Terutama cinta, itu tidak lebih dari sekadar membuang-buang waktu..."

​Jawaban dingin Rose menghancurkan hati Jackson.

​"Cinta itu ada di duniamu, Rose. Bedanya, kau belajar menyembunyikannya dengan sempurna. Aku tahu kau peduli dan merasakan emosi sepertiku, tapi kau tidak menunjukkannya pada siapa pun. Aku tidak menyalahkanmu karena aku tahu kenapa kau jadi begini. Ini karena ibumu, kan?"

Jackson mencoba mencari jejak emosi di mata abu-abu yang dingin itu, namun tetap saja dia tidak dapat menemukan apa pun di sana.

​"Aku tidak punya ibu, Jackson. Aku anak yatim piatu. Dan kau salah, aku tidak merasakan kebahagiaan, tidak merasakan apa pun. Seharusnya kau juga begitu. Semakin kau mencoba merasakan sesuatu, akan semakin menyakitkan saat kau harus membunuh seseorang dalam tugasmu."

​Kata-kata Rose mematahkan semangat Jackson, namun ia tidak menunjukkannya. Ia mencoba bersikap dingin seperti Rose dan mengangguk.

​"Ya, kau benar. Kau harus pergi sekarang atau kau akan terlambat... Dan satu hal lagi, Rose. Aku akan berdoa agar seseorang datang ke hidupmu dan membuatmu jatuh cinta padanya. Saat itu, kau akan mengerti arti dari emosi dan perasaan. Itu perasaan yang indah, Rose. Itu akan mengubahmu. Dan sehebat apa pun kau menyembunyikan emosimu dari dunia, kau akan kalah di hadapannya. Cinta akan mengubahmu menjadi lebih baik..."

​Rose tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia mengambil barang bawaannya dan meninggalkan kamar itu tanpa menoleh sedikit pun pada teman masa kecilnya. Jackson merasa sakit hati, namun ia berusaha mengabaikannya.

​"Aku tahu kau memiliki perasaan, Rose. Hanya saja kau terlalu hebat dalam menyembunyikannya di balik topeng dingin dan tanpa emosi itu," ucap Jackson pada dirinya sendiri sambil meninggalkan kamar Rose yang kini kosong.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel