Pustaka
Bahasa Indonesia

Guarding The Devil

87.0K · Baru update
Mahantika Nareswari
73
Bab
51
View
9.0
Rating

Ringkasan

​"Aku mau tubuhmu, Rose..." ​Ucapnya sambil bersandar santai di kursi kerjanya. Mata abu-abu Rose langsung membelalak mendengar kalimat blak-blakan itu. ​"Aku bukan pelacurmu, Bos..." ​Rose berusaha menjaga ekspresi wajahnya tetap datar, tak ingin menunjukkan emosi apa pun di depan pria itu. ​"Aku tahu. Mari kita buat kesepakatan. Kamu kasih apa yang aku mau, dan imbalannya, aku akan kasih apa yang paling kamu inginkan... Kasih tahu aku, Rose. Apa yang kamu mau?" ​Rose hanya menatap wajah pria itu yang tengah menyeringai licik. "Aku mau... kebebasan." ​Jawaban itu seketika mengubah seringai di wajahnya menjadi ekspresi syok. ​Damian Knight, seorang bos mafia yang dingin dan kejam, menginginkan wanita berpendirian kuat untuk menjadi miliknya. Namun saat ia menemukannya, ia sadar bahwa memiliki wanita itu hampir mustahil. Apa yang akan dia lakukan demi mencicipi 'buah terlarang' ini? Akankah dia berhasil memilikinya, atau Rose akan tetap menolak tunduk padanya? ​Bagaimana reaksi Damian saat sikap dingin Rose menginjak-injak egonya berkali-kali? Selamat datang dalam perjalanan dua jiwa yang kelam...

RomansaRevengeIblis

Sosok Damian - 1

Sinar mentari pagi menerobos jendela yang terbuka, menyentuh wajahnya. Dia mengerang pelan, lalu bangkit dari ranjang dalam keadaan tanpa busana menuju kamar mandi. Tubuh tinggi tegapnya tampak berkilau di bawah cahaya pagi; rambutnya berantakan namun maskulin, dan otot-ototnya yang keras menonjol di setiap gerakan.

Di bawah pancuran, dia membiarkan air hangat membasuh tubuhnya, merilekskan otot yang kaku. Setelah selesai, dia melangkah ke dalam walk-in closet. Dia mengenakan setelan jas hitam pekat yang membungkus tubuh sempurnanya. Semua jasnya gelap, segelap jiwanya yang tanpa celah.

Pria itu berdiri di depan cermin, tampak luar biasa. Jas gelapnya membalut tubuh kekarnya dengan sempurna, sementara rambut hitam legamnya kini sudah tertata rapi. Dia mengenakan sepatu kulit hitam mengkilap, dan yang terakhir—namun tak kalah penting—sebuah pistol terselip di pinggangnya.

Begitu keluar dari lemari pakaian, mata biru gelapnya langsung tertuju pada wanita yang masih meringkuk di atas ranjangnya. Seketika, tatapan itu berubah menjadi lebih dingin, seolah-olah suhu di ruangan itu turun drastis.

Wanita itu seharusnya sudah menghilang begitu urusan mereka selesai. Baginya, wanita itu tak lebih dari sekadar alat untuk memuaskan kebutuhan biologis. Kehadirannya yang masih ada di sana adalah sebuah gangguan.

Tepat saat dia hendak membangunkannya, wanita itu menggeliat dan terbangun. Si wanita menatap pria luar biasa tampan di hadapannya yang sedang berdiri dengan tangan di saku. Tatapan wanita itu penuh gairah, memindai rahang tegas dengan jambang tipis, mata biru yang dalam, dan bibir yang menggoda. Dia sedang memuja fisik pria itu, namun terlalu buta untuk melihat aura kematian dan kebencian yang terpancar dari tatapan Damian.

Wanita itu bangkit tanpa rasa malu, memamerkan tubuh polosnya. Dia memberikan senyum menggoda, berharap akan ada ronde kedua, namun wajah pria itu tetap datar dengan rahang yang mengeras.

"Kenapa kau masih di sini? Keluar."

Suaranya rendah, tajam, dan tidak menerima bantahan. Wanita itu tersentak, merasa terintimidasi oleh hawa dingin yang tiba-tiba menusuk.

"M-maksudmu apa? Aku kan..."

Damian mengangkat telapak tangannya di depan wajah wanita itu. Sebuah isyarat mutlak untuk diam.

"Aku tahu. Keluar sekarang. Jack akan memberikan uangmu."

"Apa? Maaf ya, aku bukan pelacur!" wanita itu mendengus, mencoba mempertahankan harga diri.

"Aku pikir kau memang wanita murahan. Oke, siapa pun namamu, segera tinggalkan kamar ini sekarang."

Kata-katanya sangat merendahkan, tapi wanita itu malah nekat melangkah mendekat. Dia mencoba menyentuh dada Damian dengan manja, namun dengan gerakan secepat kilat, Damian mencengkeram pergelangan tangannya dengan tekanan yang menyakitkan.

"Aku ke sini bukan demi uang, Damian Knight. Aku menginginkanmu. Kalau kau izinkan, aku bisa memuaskanmu lagi seperti semalam. Kau sangat menikmatinya, kan?" bisiknya mencoba merayu.

Damian menatapnya dengan raut wajah yang sangat jijik.

"Pergi."

Hanya satu kata, namun sarat akan ancaman. Tapi wanita itu tetap bersikeras. Dia mencoba cara lain; matanya mulai berkaca-kaca. Dia pikir menangis di depan pria ini akan berhasil, tapi dia tidak sadar bahwa itu adalah kesalahan terbesar.

"Aku pikir kau menyukaiku... makanya kau mengajakku pulang semalam," ucapnya dengan suara bergetar dan air mata mulai jatuh.

Begitu melihat air mata itu, Damian langsung mencengkeram lehernya dan membantingnya ke dinding. Kepala wanita itu terbentur keras hingga dia mengerang kesakitan. Saat dia melihat wajah marah Damian dan rahangnya yang bergemulung, semua godaan tadi hilang, berganti dengan rasa takut yang luar biasa.

"Dengarkan aku, pelacur si*alan. Jangan pernah tunjukkan air mata busukmu di hadapanku. Aku benci wanita yang menangis dan berlagak seperti malaikat polos. Wanita sepertimu hanya tahu cara mengemis pada pria kaya demi status. Aku tidak memintamu datang, kau yang merangkak padaku. Sekarang aku sudah selesai, ambil uangnya dan enyah sebelum aku kehilangan kesabaran. Kau sudah merusak pagiku, bersyukurlah aku belum mencabut nyawamu."

Damian mengempaskan tubuh wanita itu ke lantai dengan kasar. Wanita itu memunguti pakaiannya sambil gemetar hebat dan terisak ketakutan.

Mendengar suara tangis itu, Damian menggeram rendah, seperti predator yang terganggu. Dia sangat membenci kelemahan.

Begitu selesai berpakaian, wanita itu buru-buru lari keluar dari kamar.

"Benar-benar makhluk lemah," gumam Damian dingin.

Jack sedang berada di ruang tamu menuju ruang makan karena sudah hampir waktunya sarapan. Jack adalah pria berusia akhir dua puluhan dengan tubuh tinggi tegap, mata dan rambut hitam. Dia tampan tapi sama bahayanya dengan Damian; dia juga suka membunuh dan menyiksa, tapi pribadinya lebih ramah dan santai, beda jauh dengan Damian yang selalu kaku dan disiplin. Jack adalah tangan kanan, sahabat, sekaligus orang kepercayaan Damian.

Dia melihat wanita tadi keluar dari arah kamar Damian sambil menangis sesenggukan. Jack hanya menggeleng sambil tertawa kecil, lalu mencegatnya.

"Permisi, kau lupa mengambil uangmu."

"Tidak! Aku bukan pelacur, bre*ngsek!" teriak wanita itu histeris.

"Terserah. Tapi jangan berteriak di hadapanku kalau kau masih sayang nyawa. Sekarang, pergi dari sini."

Ancaman itu cukup untuk membuat si wanita lari sekuat tenaga keluar dari mansion mewah tersebut.

Jack masuk ke ruang makan di mana Lilly dan Ashton sudah duduk. Damian belum muncul. Jack menarik kursi dan duduk di samping Ashton.

"Pagi, semuanya," sapa Jack.

"Pagi, Jack," jawab Ashton. Ashton adalah pengawal pribadi Damian yang selalu ikut ke mana pun. Melindungi Damian adalah tujuan hidupnya. Dia tinggi tapi tidak terlalu kekar; tubuhnya lebih ramping karena dia ahli bela diri dan sangat kuat. Sangat profesional dalam pekerjaannya.

"Pagi," jawab Lilly dengan nada ogah-ogahan.

Jack memutar bola matanya. Lilly adalah seorang hacker. Dia mengumpulkan semua informasi yang Damian butuhkan tentang rival atau mitra bisnis. Dia wanita berambut merah yang cantik dengan mata hijau dan bentuk tubuh yang bagus. Dia sangat hebat dalam pekerjaannya, itulah alasan Damian mempekerjakannya, tapi dia dan Jack tidak pernah akur. Mereka selalu berantem setiap ada kesempatan, persis seperti Tom dan Jerry.

Tak lama, Damian masuk ke ruang makan. Semua orang menyapanya, dan dia hanya membalas dengan anggukan tegas lalu duduk di kursi utama.

"Sepertinya kau baru saja menghancurkan hati seseorang lagi," goda Jack sambil menyeringai. Damian tidak menyahut, fokus pada ketenangannya yang baru kembali.

"Kenapa kau begitu membenci wanita lemah, Damian? Jangan bilang kau sedang mencari sosok Wonder Woman untuk jadi istrimu," ejek Jack lagi.

"Diam, Jack. Mood-ku sedang berantakan gara-gara wanita tadi. Dan ya, aku tidak butuh Wonder Woman, tapi setidaknya dia harus punya nyali untuk berdiri sendiri. Bukan seperti kebanyakan wanita yang hobi menangis untuk hal sepele dan merasa paling rapuh sedunia. Aku sangat benci tipe seperti itu," geram Damian, membuat yang lain menelan ludah.

"Pria saja gemetar menghadapimu, apalagi wanita. Kurasa wanita yang berani menantangmu belum lahir di dunia ini. Aku hanya bisa mendoakan nasib istrimu nanti," Jack terkekeh sambil menggelengkan kepala.

"Kau beruntung karena kau ahli dalam pekerjaanmu, Jack. Hanya itu yang menahanku untuk tidak merobek tenggorokanmu sekarang," sahut Damian tajam. Jack hanya nyengir, sudah terbiasa dengan ancaman bosnya.