Sosok Damian - 2
Mereka pun sarapan dalam diam sebelum akhirnya Damian berangkat untuk rapat penting bersama Jack dan Ashton.
________
Ashton berdiri bersandar di dinding ruang rapat dengan setelan pengawalnya. Fokusnya sama sekali tidak terbagi; matanya hanya tertuju pada Damian dan situasi di sekitarnya.
Setelah rapat selesai, Damian melangkah menuju mobil diikuti Jack dan Ashton. Sebagai pengawal pribadi, Ashton selalu mengambil tanggung jawab untuk menyetir.
Matahari sudah meninggi saat mereka meninggalkan gedung kantor. Di area parkir, Damian sedang sibuk dengan ponselnya tepat saat Ashton hendak membukakan pintu mobil untuknya. Tiba-tiba, Ashton menangkap kilatan titik merah di punggung Damian. Menyadari bahaya yang mengancam, Ashton bergerak secepat kilat mendorong Damian masuk ke dalam mobil dan membanting pintunya hingga tertutup rapat.
Karena mobil itu antipeluru, tembakan tersebut hanya menghantam kaca jendela. Ashton melihat penembak jitu bersembunyi di balkon gedung sebelah dan langsung berlari ke arah sana. Si penembak menyadari kehadirannya dan mengarahkan senjata ke Ashton. Keduanya menarik pelatuk secara bersamaan. Tembakan Ashton mengenai lengan lawan, sementara peluru si penembak yang seharusnya mengincar dada Ashton meleset dan mengenai kakinya.
Anak buah Damian yang lain segera berhamburan ke lokasi kejadian. Damian keluar dari mobil dengan wajah gelap saat melihat Ashton terluka. Jack bersama empat orang lainnya berlari mengejar penembak tersebut, namun saat sampai di sana, mereka hanya menemukan mayat yang tergeletak tak bernyawa.
Jack menendang mayat itu sambil mengumpat kasar.
Damian dan anak buahnya segera membawa Ashton ke rumah sakit pribadi milik mereka. Jack menyusul ke rumah sakit setelah mengurus mayat penembak dan membersihkan lokasi kejadian.
Damian berdiri di depan ruang operasi, sedang memberikan instruksi pada anak buahnya tentang serangan tadi. Saat melihat Jack datang, dia langsung bertanya dengan nada rendah yang menuntut.
"Siapa dia?"
"Dia seorang pembunuh bayaran. Seseorang menyewanya untuk membunuh Anda. Ashton sempat menembak lengannya, tapi saat kami sampai, seseorang sudah menembak kepalanya lebih dulu. Siapa pun yang ingin membunuh Anda sadar kalau rencana mereka gagal, jadi mereka menghabisi orang itu sebelum kita bisa menangkapnya," jawab Jack.
Kerutan di dahi Damian semakin dalam. Dia memiliki aliansi yang kuat dengan mafia negara lain, dan saat ini dia merasa tidak punya rival yang cukup berani untuk mencari masalah dengannya. Lalu siapa yang mencoba membunuhnya? Dia tidak habis pikir.
"Cari semua rekaman CCTV di area itu, Jack. Aku ingin tahu siapa yang berani menantangku. Temukan orangnya," perintah Damian telak. Jack mengangguk tegas, menjamin perintah itu akan dilaksanakan.
Saat mereka sedang bicara, dokter keluar dari ruang operasi.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Damian.
Meskipun dia adalah bos mafia yang jarang menunjukkan emosi atau rasa peduli, Damian selalu menjamin kesejahteraan anak buahnya. Dia memberikan fasilitas terbaik bagi mereka. Terlebih Ashton adalah pengawal kepercayaannya yang baru saja mempertaruhkan nyawa demi melindunginya. Damian menghormati loyalitas itu, karena itulah dia tetap menunggu di sana.
"Kondisinya stabil, Tuan Knight. Pelurunya sudah diangkat, tapi kakinya mengalami patah tulang. Dia butuh istirahat total setidaknya selama enam bulan. Itu sangat penting bagi pemulihannya. Kami sudah memindahkannya ke ruang perawatan, Anda bisa menjenguknya di sana. Dia akan sadar dalam satu jam ke depan."
Dokter menjelaskan dengan hati-hati. Damian mendengarkan setiap detail dengan ekspresi serius, lalu memberikan anggukan singkat sebagai tanda terima kasih.
_________
Satu jam kemudian, Ashton terbangun dengan kaki yang sudah terbalut gips. Damian dan Jack melangkah masuk ke ruang perawatan pribadinya. Meski kondisinya sedang tidak baik-baik saja, Ashton tetap menyapa bosnya dengan profesional, sama seperti biasanya. Hal itulah yang dikagumi Damian; apa pun situasinya, Ashton tidak pernah menunjukkan kelemahan di depan siapa pun. Dia memang dilatih untuk menjadi seperti itu.
"Bagaimana perasaanmu?"
Damian duduk di sofa, bersandar dengan suara dingin yang tetap datar tanpa kehangatan sedikit pun. Wajahnya serius, mengintimidasi seperti biasanya.
"Saya baik-baik saja, Bos. Apa Anda berhasil menangkapnya? Siapa orang itu?" tanya Ashton sambil menyandarkan punggungnya pada tiang ranjang.
"Dia sudah mati. Ada yang menyewanya untuk membunuh Bos, tapi sebelum kita sempat menangkapnya, seseorang sudah lebih dulu menghabisinya," jawab Jack yang duduk di pinggiran ranjang rumah sakit.
"Jangan khawatir, kami akan menemukannya. Tapi kau tidak bisa bekerja untuk enam bulan ke depan," ucap Damian tenang.
Ashton mengernyitkan dahi. "Saya tidak apa-apa, Bos. Ini bukan luka serius. Saya tidak bisa diam saja sementara orang yang menginginkan nyawa Anda masih berkeliaran bebas."
"Ini perintah, Ashton. Aku tidak sedang meminta pendapatmu," sahut Damian tajam.
Ashton terdiam lalu mengangguk. Apa pun yang terjadi, dia tidak bisa membantah perintah Damian. Itu adalah aturan mutlak. Bahkan jika Damian meminta nyawanya sekalipun, dia harus memberikannya. Hidup dan loyalitasnya hanya milik pria itu.
"Baik, Bos. Tapi saya mohon Anda segera mencari pengawal pengganti," saran Ashton. Damian hanya bergumam singkat menanggapi.
"Tenang saja, aku akan menghubungi agensi tempat kami mengambilmu dulu. Semoga mereka bisa memberikan pengawal sehebat dirimu, Ashton. Omong-omong, kau berada di kelas apa saat itu?" tanya Jack.
Sementara itu, Damian sebenarnya masih ragu apakah dia harus mengambil orang baru, karena baginya Ashton adalah pengawal yang sempurna.
"Saya petarung kelas B. Semua orang di agensi saya adalah petarung hebat, mereka tidak akan mengecewakan Anda, Bos," lapor Ashton pada Damian.
"Baiklah. Ini hanya untuk enam bulan sampai kau kembali pulih. Aku akan menghubungi agensimu untuk mencari pengawal baru," tegas Damian, dan Ashton mengangguk patuh.
Damian meninggalkan rumah sakit bersama Jack. Begitu masuk ke dalam mobil, dia langsung menghubungi Renzo, kepala agensi tempat Ashton berasal. Sebenarnya, hampir seluruh keluarganya—mulai dari sepupu hingga ayahnya—selalu mengambil pengawal dari sana. Damian yakin mereka akan mengirimkan petarung terbaik.
"Halo Renzo. Ya, aku baik. Ashton terluka, aku butuh pengawal pengganti selama enam bulan. Dan ingat, aku mau yang terbaik. Dia harus sudah sampai di sini dalam dua hari," perintah Damian singkat lalu langsung memutus sambungan telepon.
Dia menatap ke luar jendela, memandangi jalanan yang sepi sambil memikirkan kejadian hari ini. Ada dua hal yang mengusik pikirannya: pertama, dia sangat ingin menemukan siapa pengkhianat yang mencoba membunuhnya. Kedua, dia merasa frustrasi karena harus mengajari pengawal baru tentang aturan dunia mafia dari nol. Dia ragu apakah orang baru ini akan mampu bertarung dan melindunginya seberani Ashton.
Damian tidak pernah menyangka, bahwa pengawal baru ini nantinya akan mengubah seluruh jalan hidupnya....
