Mengingatkannya pada seseorang
Simon berdiri mematung di hadapan Damian setelah menyerahkan berkas Rose. Damian membaca setiap kata dengan sangat teliti, dan ia merasa sangat terkesan. Keterampilan dan bakat gadis ini benar-benar luar biasa.
PETARUNG KELAS A
Nama: Rose (26 tahun)
Golongan Darah: O+ | Tanggal Lahir: 5 Maret 1994
Tinggi: 173 cm | Berat: 56 kg
Riwayat Penyakit: Tidak ada
Keahlian: Bela diri, Memanah, Menembak, Anggar/Pedang, Lempar Lembing.
Bahasa: Inggris, Rusia, Arab, Spanyol, Belanda, Urdu, Mandarin, Jepang, Indonesia.
Keahlian Lain: Berenang, Berkuda, Menari, Mengemudi Motor dan Mobil.
Riwayat: Bergabung dengan sekolah pelatihan sejak usia 5 tahun.
Latar Belakang: Yatim piatu, tidak ada informasi keluarga.
Catatan: Menyelesaikan setiap misi dengan sukses, juga bertugas sebagai pelatih di Akademi pelatihan R. Salah satu petarung terbaik agensi R. Sangat ahli dalam Bela Diri dan Pembu*nuhan.
Damian meletakkan kembali berkas itu ke meja dan menatap Simon yang tampak kebingungan di depannya.
"Bos, apa Anda yakin? Maksud saya... pengawal wanita?" Simon mengutarakan isi pikirannya dengan ragu.
"Memangnya kenapa kalau dia wanita? Dia sudah membuktikan kemampuannya dan dia salah satu petarung terbaik dari agensi R. Dia adalah petarung Kelas A, sementara Ashton hanya Kelas B, Simon. Dia sangat ahli, bahkan kau pun tidak akan sanggup menang melawannya," tegas Damian.
Mata Simon membelalak mendengar kata "Kelas A".
Ia sudah sering bertarung dengan Ashton saat latihan dan tidak pernah sekalipun menang. Jika melawan Kelas B saja ia tidak sanggup, maka mustahil baginya untuk menang melawan Kelas A.
"Tapi kita tidak bisa memercayainya. Bagaimana jika dia mengkhianati kita?"
Damian mengatupkan rahangnya mendengar itu, lalu menghujam Simon dengan tatapan mata yang penuh amarah.
"Jangan berani-berani mengatur apa yang harus dan tidak harus kulakukan, atau kau ingin aku mengingatkan siapa bos di sini?!"
Simon menelan ludah dengan gugup. "Sa... saya minta maaf, Bos."
"Keluar!"
Damian membentak dengan keras, dan Simon segera berlari meninggalkan ruangan kantor tersebut.
"Hei bro, kenapa serius sekali?"
Jack masuk ke dalam ruangan kantor dengan senyum lebar di wajahnya.
"Sudah kau jelaskan semuanya padanya?" tanya Damian sambil menyesap wiskinya sedikit.
"Sudah! Dan jujur saja, dia benar-benar tangguh. Aku terkesan. Maksudku, dia terlihat begitu polos dan tidak berbahaya, aku sama sekali tidak menyangka dia bisa bertarung sehebat itu." jawab Jack sambil menuangkan segelas Scotch untuk dirinya sendiri.
"Tentu saja, dia petarung Kelas A," sahut Damian singkat.
Jack tersedak minumannya saat mendengar ucapan Damian.
"Shit, apa? Kelas A?" tanyanya terperangah.
"Bro, petarung dari kelas itu sangat berbahaya. Ashton pernah bercerita padaku tentang mereka. Dia sendiri sudah mencoba berkali-kali masuk kelas itu tapi selalu gagal. Sangat sulit untuk menjadi Kelas A. Mereka dilatih untuk menjadi pemb*unuh bayaran, melewati pelatihan yang sangat berat dan intens. Mereka tidak menunjukkan emosi apa pun, persis seperti robot. Jadi, itu sebabnya dia bersikap dingin saat aku mengantarnya berkeliling tadi."
Jack menceritakan semuanya kepada Damian, yang saat itu hanya menatap kosong ke arah gelasnya.
"Sikap seperti apa maksudmu?"
"Tanpa ekspresi, seperti robot. Dan aku bahkan tidak melihat ada kekaguman atau emosi apa pun di matanya saat dia menatapmu. Matanya kosong. Maksudku, ini hal baru bagiku. Aku terbiasa melihat wanita memuja-mujamu dan mencoba menggoda dirimu, tapi dia bahkan tidak berkedip. Dia juga tidak takut atau gugup sama sekali saat kau menyuruhnya bertarung."
"Dia bahkan tidak tersenyum sedikit pun saat aku melontarkan lelucon di ruang tamu tadi," Jack mengerucutkan bibirnya seperti anak kecil, membuat Damian memutar bola mata melihat tingkahnya.
"Oh, dan sialnya lagi, dia bahkan tidak bergeming saat aku mengancamnya. Dia menjawab dengan sangat tenang bahwa dia akan melindungimu dengan nyawanya sendiri. Benar-benar hebat, Bos."
"Dia bilang apa?" Damian mengalihkan pandangannya dari gelas yang sudah kosong ke arah Jack.
"Dia bilang, dia akan melindungimu dengan nyawanya sendiri," ulang Jack sambil menelan habis minumannya.
Damian mengembuskan napas panjang lalu berdiri. Sambil memasukkan tangan ke dalam saku, ia berdiri di dekat jendela besar dan menatap taman di luar.
"Ada apa, Damian?" Jack meletakkan tangannya di bahu lebar Damian.
"Mata abu-abunya... mengingatkanku padanya." Suara Damian terdengar penuh kesedihan.
"Siapa?" tanya Jack bingung.
"Isabella..."
Mata Jack langsung tertuju pada Damian secepat kilat saat mendengar nama itu terucap dari mulut sahabatnya.
