Pustaka
Bahasa Indonesia

Got a Husband

64.0K · Ongoing
Yuwen Aqsa
53
Bab
57.0K
View
9.0
Rating

Ringkasan

Kisah cinta Audy yang mempunyai suami bocah. Bahkan suaminya masih duduk di bangku SMA kelas 12.“Lo tau nggak kenapa Tuhan mengharamkan pacaran?” aku menggeleng, menatapnya mencari tau. “Karna akan menimbulkan maksiat, dan yang paling penting. Bikin lo sakit hati. Udah diperingatin, jangan pacaran. Masih aja pacaran. Giliran sakit ati, nanya sama Tuhan. Ya Tuhan salah gue apa? Kenapa engkau kasih cobaan seperti ini. Pck, pck, pck ... siapa yang bego coba?”Elang Prakosa, lelaki polos, jatuh cinta pada pandangan pertama.simak kisahnya ya gaes,

Pengantin PenggantiPresdirRomansaPernikahanIstriTuan MudaSweet

penghianatan

Menyakitkan bukan, saat sebuah kepercayaan itu disalah gunakan? Menerimanya dengan ikhlas, ah itu nggak mudah.

**

Aku dan Lina berlari kecil masuk KUA kampung Lina. Hari ini adalah hari pernikahan adik kandung Lina, namanya Luna. Seminggu yang lalu ia menjadi korban pemerkosaan, pelaku dipaksa untuk menikahi Luna hari ini.

Lina adalah sahabatku sejak masuk kerja di pabrik. Kami sering berbagi dalam hal apapun. Saat ini kami datang terlambat karna bangun kesiangan.

Aku dan Lina duduk dibagian paling belakang. Para saksi dari pihak perempuan dan lelaki sudah berada didalam gedung KUA.

“Kita mulai acara akhad nikahnya ya.” Baru saja aku mendudukkan pantat, acara inti sudah dimulai.

“Saudara Arlianto Subastian.”

Deg!

Mendengar nama kekasihku disebut, hati mendadak berdesir. Linapun menatapku mencari tau sesuatu, hingga kami saling bertatapan.

“Saya.” Sahut seorang lelaki.

Suara yang sangat kukenal. Suara yang sudah sangat melekat ditelingaku. Ya, itu suara Lianku, kekasihku. Lelaki yang kupacari selama lima tahun ini. Lelaki yang dua bulan lalu melamarku. Lelaki yang akan menikahiku lima hari lagi. Apakah memang Lian yang sudah berjabatan tangan dengan wali hakim itu?

Ah iya, Luna dinikahkan oleh wali hakim, karna dia tak lagi memiliki wali lelaki untuk menikahkannya.

“Saya nikah dan kawinkan engkau dengan putriku yang bernama Arumi Luna Ashar binti Arman dengan maskawin cincin 10 gram dan uang senilai 20 juta dibayar tunai."

"Saya terima nikah dan kawinnya Arumi Luna Ashar binti Arman dengan maskawin tersebut dibayar tunai.” Dengan lantang suara lelaki itu mengucapkannya.

“Bagaimana para saksi? Sah?”

“SAAHH!” sahutan dari semua orang yang ada didalam ruangan.

“Alkhamdulilah,”

semuanya menengadahkan kedua tangan untuk memanjatkan doa. Pikiranku sudah tak menentu, hatiku tak bisa tenang. Nama yang sama, suara yang sangat mirip. Semua ini membuat tubuhku memanas. Menginginkan acara ini agar cepat selesai. Setelah sepersekian detik, lantunan doa sudah selesai. Lanjut pemasangan cincin kedua mempelai.

Aku berusaha melirik dari celah-celah orang yang duduk didepanku, tapi aku tak bisa melihat apapun. Aku sabar menunggu hingga acaranya selesai.

Dan tibalah saat semua orang menjabat tangan mempelai untuk memberi ucapan selamat. Lina menggandeng tanganku.

“Lo tenang dulu Dy, semoga itu bukan Lian.” Dia elus lenganku. Namun, semuanya tak membuat hati merasa tenang.

Kami berdua melangkah maju untuk mengucapkan selamat pada Luna. Kakiku berhenti melangkah. Ada segumpal rasa yang ingin meledak dari dalam dada. Tubuhku terkunci, lemas seluruh persendian. Kututup mulut yang membulat dengan kedua telapak tangan. Air mata mulai menetes tak tertahankan.

“Nak Audy,” ucap pak Edo. Papanya Lian, orang yang mengucapkan lamaran Lian untukku dua bulan yang lalu.

Aku tak merespon ucapan itu. Tatapanku tertuju pada sang mempelai pria. Lian berdiri disamping Luna dengan texudo silver yang sebulan lalu dia pilih denganku. Dan Luna, dengan kebaya warna silver, ada banyak payet mewah dibagian depannya. Kebaya yang aku fiting bersama Lian sebulan yang lalu. Sekarang melekat dengan indah di tubuh Luna.

“Jadi ini acara trah keluarga yang kamu maksud Li?” ucapku dengan suara serak. Bahkan dengan sangat sulit aku mengatakan ini. Ya, dua hari yang lalu dia pamit ada acara keluarga di Jakarta. Ternyata dia membohongiku.

Lian mendekat. “Aku bisa jelaskan semua ini sayang.”

Aku menggelengkan kepalaku dengan sangat frustasi. Kupaksakan kaki mundur, kemudian berlari sekuat tenaga menjauhi gedung itu.

“Audy! Audy! Tunggu, aku akan menjelaskan semuanya.” Teriakan Lian terdengar sangat nyaring. Dia mengejarku,

tapi tak lagi kupedulikan. Aku saat ini sedang tak ingin mendengar apapun. Aku tak ingin melihatnya. Berlari sambil sibuk mengusap pipi dan ingus yang sudah tak bisa kukondisikan. Pasti mascara ini sudah meleleh dan mataku sudah mirip burung hantu.

“Audy, dengerin dulu penjelasanku. Pliis berhenti!” teriaknya lagi.

Aku masuk ke semak-semak, kebun para warga setempat. Bersembunyi diantara semak itu. Sialnya, Lian masih mengikutiku, beruntung dia tak melihat. Dia berhenti di pinggir jalan.

“Audy! Pliis keluar, kamu harus denger semuanya. Semua nggak kaya’ yang kamu kira sayang,” ucapnya dengan nafas yang terdengar ngos ngosan. Dia capek berlari. Akupun sama.

Aku menangis dalam diam, menggigit bibir bawahku agar isakku tak terdengar. Semua terasa sangat menyakitkan. Kupukuli dada berkali-kali, agar sesak ini tak menghimpit paru-paru.

“Lian, besok kamu jelaskan ke Audy. Sekarang ayo balik dulu. Keluarga istrimu menunggu.” Aku melihat mas Rein menghampiri Lian. Dia kakak iparnya Lian.

“Tapi aku nggak mau Audy salah paham kak. Aku harus jelasin semuanya. Kakak tau aku nggak suka sama cewek itu.”

“Iya kakak tau, kita bicarakan lagi besok. Sekarang kita balik dulu.”

Mas Rein menyeret Lian yang masih nggak mau pergi. Dengan paksaan, akhirnya Lian pergi menurut. Aku langsung duduk ditanah. Melepas wedges yang sedari tadi kugunakan. Menyandarkan tubuh ini dipohon jambu. Kembali menangis tergugu. Berharap dengan tangis ini, rasa sesak didada segera hilang.

“Huhuhuhu......kenapa ini terjadi padaku ya Tuhan. Hiks hiks hiks.” Keluhku.

Setelah lama menangis, aku mulai berdiri mukuli pohon jambu yang tak bersalah untuk melampiaskan rasa sakit ini.

“Kamu jahat Li! Kamu jahat! Kamu tega! Hiks hiks..”

Bhuuk! Bhukk!

Kembali kupukul pohon jambu ini dengan wedges yang kupegang. Tak begitu lama, terdengar suara berisik dari atas. Tepatnya dari atas pohon jambu yang menjadi amukanku.

Ragu, aku mendongakkan kepala, ternyata diatas sana ada rumah tawon pesva segede kepala. Tanpa menunggu lagi, aku berlari sekuat tenaga. Sialnya si tawon mengejar.

Bbyyuurr!

Aku nyebur di sungai terdekat. Menenggelamkan seluruh tubuh kedalam air. Saat sudah tak terdengar suara berisik tawon itu, aku muncul dipermukaan air.

“Aarrgg!” kupukul air dengan sangat kesal.

Menutup wajah dengan kedua tangan, lalu kubiarkan tubuh ini hanyut terbawa arus. Aku tak bisa lagi berfikir normal, ini sakit. Sangat menyakitkan. Apa yang akan kukatakan pada kedua orangtuaku. Dengan undangan yang sudah tersebar dan souverin sudah kupesan. Catering juga sudah fix dengan pembayaran separuh.

Wahai air, tolong bawalah tubuh ini jauh dari duniaku yang kejam. Aku nggak sanggup menghadapi keluargaku. Tolong aku Tuhan.

Tubuhku terapung berjalan sesuai air mengalir, aku tetap diam menikmatinya. Hingga sekitar beberapa meter, blouse brukat yang kugunakan tersangkut ranting pohon yang tumbang. Terpaksa aku harus bergerak menapakkan kaki didasar, melepaskan jeratan si ranting dan kembali menghanyutkan diri. Sialnya, kakiku terjerat sesuatu.