BAB 3. ORANG YANG MENUNGGU LIMA TAHUN
Pagi hari yang membeku, Ethan terbangun bukan dengan rasa hancur seperti dulu, tapi dengan kesadaran dan tujuan baru.
Meskipun hanya bisa terpejam kurang dari satu jam saja, Ethan harus bergegas, seseorang di luar sana telah menunggu dirinya atas permintaan ayahnya. Rasa sakit semalam telah menempa semangatnya untuk tak lagi berdiam diri.
Ia mandi dengan air dingin yang bahkan motel itu tidak bisa panaskan, tapi baginya situasi ini bukan hal baru. Ketika masih di penjara, ia bahkan sering dibiarkan berdiri di lapangan sementara salju turun.
Sambil menggigil, Ethan bergegas memakai pakaian yang bahkan masih setengah basah.
Ia menyempatkan sejenak untuk mengecek laptopnya, kemudian mendengus. “Untung kau masih menyala, kalau tidak, setelah ini kau akan berakhir di tong sampah,” ujarnya sedikit geli, seperti sedang berbicara dengan teman. Setidaknya, benda itu yang saat ini membantunya menemukan harga dirinya.
Setelah yakin tak ada barang yang tertinggal, ia lalu keluar menuju kota.
Ethan masih berjalan kaki, meskipun ada cukup uang untuk naik angkutan umum. Pagi itu, ia sedang bersemangat dengan tujuannya. Pria semalam yang berbicara dengannya, satu-satunya kunci untuk membuka pintu masa depannya, setelah semua keterpurukan.
Namun, Ethan berhenti sejenak. “Tapi bagaimana dan di mana aku bisa bertemu dengan orang itu? Sial, nomor ponselnya juga sudah mati. Tak mungkin dia main-main denganku, kan?”
Meskipun ada sedikit keraguan pada pria semalam, tetapi Ethan percaya pada ayahnya.
“Lagipula dia bilang akan menemukanku, kalau begitu kita lihat saja,” gumamnya, lalu melanjutkan perjalanan.
Sialnya, tiap kali melihat pasangan kekasih yang secara kebetulan berpapasan dengannya, wajah Iris kembali muncul di dalam isi kepalanya. Menandakan besarnya rasa sakit yang ia rasakan, seperti kumpulan bom yang kapan saja bisa meledak dan mungkin akan menghancurkan setiap keping otaknya, jika tidak cepat dijinakkan.
Ethan menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
“Pergilah Iris!” teriaknya dalam hati, seolah berteriak pada bayangan Iris di dalam kepalanya.
Ethan mencoba untuk kembali fokus.
Saat ini, tujuannya adalah memeriksa perusahaan yang masih mencantumkan namanya sebagai pemilik resmi. Seperti yang sudah ia lihat di dalam data drive semalam, Ethan tidak kalah. Ia memang belum punya uang, belum juga punya kekuatan, tapi setidaknya ia punya satu hal yang tak dimiliki oleh Marcus, yakni akses hukum yang belum terhapus.
Setelah berjalan kaki sejauh beberapa blok dari motelnya, Ethan memutuskan untuk berhenti setelah menemukan sebuah tempat santai yang agak sepi. Namun, tempat itu cocok untuknya.
Di sebuah kedai kopi kecil dekat kawasan bisnis Manhattan, Ethan duduk di sudut ruangan sambil mempelajari dokumen digital dari flashdisk. Segelas Americano murah yang panas, cukup untuk menghangatkan lambungnya. Ethan memilih tidak sarapan, itu karena di dalam saku jaketnya hanya tersisa dua lembar uang sepuluh dolar yang lembab. Dan ia harus berhemat.
Ethan mulai sibuk di depan layar laptop tua itu, sementara asap kopi yang tersisa setengah terus mengepul di udara. Kedua mata tajamnya fokus pada layar, di sekitarnya ada beberapa pria berjaket lusuh, tetapi kering dan hangat, duduk masing-masing di kursi mereka. Sama seperti dirinya, menikmati segelas kopi panas murah untuk memulai hari ini.
Satu hal yang berbeda dari Ethan adalah hanya dirinya saja yang datang untuk membuka laptop. Membuat beberapa pria cukup heran melihatnya.
Bahkan ada juga yang sempat bercanda dengan mengatakan, “Hei, anak muda. Sepertinya kau salah tempat sarapan, restoran di ujung jalan lebih cocok untuk orang kantoran.”
“Orang kantoran mana ada yang berpakaian seperti pengemis. Hahaha!” seru seseorang lain, menyindir.
Namun, bibir Ethan terkatup rapat tapi lirikan singkat darinya seolah berkata, “Urus saja urusan kalian sendiri.”
Suara tawa di sekitarnya sama sekali tak dipedulikan. Bagi Ethan, penghinaan sudah makanan sehari-hari baginya.
Ketika masih berada di penjara, dia sudah cukup puas bertarung fisik dengan para pembully.
Belum lagi ketika dirinya kerap dijadikan target nafsu dari gerombolan pria penyuka sesama jenis, tentu saja Ethan tak ingin hanya tinggal diam. Hingga semua pertarungan itu memberikan banyak kekuatan pada fisiknya.
Beberapa menit berlalu, ketika Ethan baru saja menandai perusahaan pertama yang akan ia kunjungi, Deighton & Miles Trading Ltd., seorang pria berjas hitam mendekat, berdiri tanpa memesan minuman. Pria itu tidak memperkenalkan diri, hanya meletakkan kartu identitas elegan di meja. Di kartunya tertulis, “Graham Alder–Chief Legal Advisor, Deighton Group.”
Beberapa pria yang melihat itu kembali berbisik-bisik. “Apa lagi sekarang? Datang orang kaya berpakaian mahal ke kedai kita?”
“Apakah aku tidak salah lihat? Hari ini sebenarnya hari apa?”
“Apakah mereka sedang bermain film?”
Kemunculan Ethan dengan sebuah laptop saja sudah cukup mengusik para pekerja buruh bangunan di dalam kedai itu. Sekarang, muncul lagi satu orang pria dengan setelan Armi.
Saat seseorang dari mereka menengok keluar pintu, ia langsung berteriak, “Astaga, lihat mobil panjang itu!”
Suara berisik penuh kekaguman pun tak terhindar. Namun, sama sekali tak membuat Ethan dan pria bersamanya merasa terusik.
Ethan mendongak, menatap Graham tajam dengan wajah yang sama sekali tak ramah. Ia selalu curiga pada siapapun manusia yang ditemuinya.
Tanpa basa-basi, Graham berkata pelan agar hanya Ethan saja yang dapat mendengar, “Tuan Ethan Deighton, saya menerima perintah dari ayah Anda lima tahun lalu. Beliau berkata, saat Anda bebas, saya harus menjadi orang pertama yang menemui Anda.”
Ethan masih menatapnya, menyadari bahwa pria itu ternyata adalah pria yang semalam berbicara di telepon dengannya. Ia kenal dari suaranya.
“Kau benar-benar menemukanku,” ujar Ethan dengan nada datar. Jujur saja, ia masih tidak percaya, apakah pria itu mengenalnya? Sejauh yang Ethan ingat, wajah itu belum pernah ia lihat sebelumnya.
“Tentu saja, Tuan. Kekuatan keluarga Deighton bukanlah hal yang bisa dibayangkan oleh orang biasa,” jawab pria itu dengan penuh wibawa, sedikit melirik ke arah kerumunan pria yang terus memuji limusin miliknya.
Kemudian, ia melanjutkan, “Dan saya datang membawa sesuatu, hak penuh Anda yang belum dicabut. Termasuk satu perusahaan yang Tuan Marcus Cross tidak pernah tahu keberadaannya.”
“Bajingan itu,” gumam Ethan. Matanya memerah, rahangnya mengeras, kepalan tangannya mengerat. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi, menahan gelombang emosi yang naik, hanya dengan mendengar nama Marcus.
Dengan hati-hati Graham meletakkan sebuah amplop besar di hadapan Ethan. Kemudian berkata, “Ini bukan hanya perusahaan yang tersisa, Tuan. Ini adalah senjata yang ayah Anda siapkan untuk menghancurkan Cross Group. Sayangnya, ayah Anda belum sempat membalas kala itu. Sekarang, saya menunggu perintah pertama Anda.”
Ethan membukanya tanpa ragu, segera membaca dengan teliti dan wajahnya langsung berubah.
