BAB 2. HUJAN TIDAK BISA MENEMBUS API
Derasnya hujan malam itu tak menyurutkan niat Ethan untuk melangkah. Melewati beberapa restoran, bar dengan kaca jendela besar yang memantulkan penampilan kacaunya.
Jaket lusuh yang menempel di tubuhnya sudah tak sanggup lagi menahan air. Kini sekujur tubuhnya basah, tapi air dingin itu sama sekali tak membuatnya terusik. Setiap langkah kakinya di atas trotoar itu seperti membawa tekad yang kuat. Hatinya sudah mengeras, dan Ethan merasa waktu lima tahun itu harus dibayar setimpal.
Meskipun bayangan dari pesta itu masih menari di kepalanya. Juga tawa tamu-tamu yang sombong, serta tatapan jijik mereka. Dan Iris, dengan mata yang dulu ia hafal setiap kedipnya, kini bahkan tak mau menatap balik.
Ia berjalan terus, dengan isi kepala yang sibuk menolak kekalahan. Lima tahun lalu, ia keluar dari mobil sportnya dengan setelan Armi. Kini ia bahkan tak punya sepatu tanpa bolong. Ironi ini terasa begitu sempurna malam itu.
Akhirnya, Ethan menemukan sebuah motel murah, yang akan menjadi tempat tinggalnya beberapa waktu ke depan, berada di antara gedung-gedung tua dan lorong gelap yang berbau alkohol basi. Lampu neon bertuliskan nama motel itu berkedip lemah, sama seperti dirinya, tak berdaya.
Ethan menatap papan itu, lalu mendesah. “Rumah baru, huh?”
Ia masuk, memberi isyarat singkat pada seorang penjaga tua yang tampak terkantuk-kantuk. Lelaki tua itu hanya mengangguk, tidak bertanya apa pun. Mungkin juga percuma bertanya, cukup berikan uangnya dan Ethan akan mendapatkan tempat untuk bermalam tanpa kehujanan.
Ethan tiba di kamar nomor 12.
Dindingnya lembab, jendelanya retak, setidaknya suara tetesan air dari kamar mandi mungkin bisa jadi lagu pengantar tidur. Ethan menyalakan lampu kecil di meja, kemudian duduk di ranjang yang berdecit, dan menatap ke luar jendela.
New York tampak kejam malam itu. Tapi memang begitulah kota itu sejak awal atau ia hanya lupa karena dulu selalu melihatnya dari penthouse.
Tangannya gemetar saat membuka sebuah tas kecil. Di dalamnya, ada sebuah kotak logam berwarna perak. Kotak itu sudah berkarat di pinggirannya, tapi ia tahu bahwa benda itu adalah satu-satunya warisan nyata dari ayahnya. Barang yang sempat dititipkan oleh orang kepercayaan ayahnya saat ia mendekam di penjara, dan kini ikut bebas bersamanya.
Ia mulai membuka kuncinya pelan. Di dalam, hanya ada tiga buah benda.
Sebuah flashdisk hitam, kartu nama bank asing, dan secarik kertas yang menguning dengan tulisan tangan ayahnya yang tegas.
“Hubungi dia. Deighton tidak pernah benar-benar kalah.”
Cukup lama Ethan menatap tulisan itu. Ia baca berulang-ulang. Tinta yang sudah pudar, tapi maknanya tetap hidup. “Ayah selalu tahu, ya,” gumamnya pelan. “Ayah tahu aku akan sampai pada titik ini.”
Ia mengeluarkan laptop tua dari dalam tas ransel. Barang yang sempat ia beli beberapa saat lalu dengan sisa uang hasil kerja serabutan di penjara. Layarnya retak di sudut, baterainya nyaris mati, tapi masih cukup untuk dinyalakan dan ia harus menggunakannya secepat mungkin. Sebelum benda itu mati total.
Dengan penuh hati-hati, ia colokkan flashdisk itu ke port. Layar berkedip, lalu muncul folder berisi puluhan file terenkripsi. Ethan menatapnya penuh curiga, lalu membuka salah satu.
Butuh waktu beberapa menit untuk sistem membukanya, mungkin karena laptop itu sudah cukup tua. Ketika data akhirnya muncul, matanya melebar.
Deretan daftar panjang saham perusahaan asing tertera.
Nama “E. Deighton” tertulis di banyak dokumen kepemilikan.
Perusahaan-perusahaan kecil yang dulu pernah mereka dirikan bersama, jauh sebelum Marcus Cross muncul dan merusak segalanya.
“Jadi, tidak semuanya benar-benar hilang?” gumamnya pelan, senyum tipis muncul di wajahnya. “Pintar sekali, Ayah.”
Setelah terdiam cukup lama dan meyakini sesuatu, ia memutar kursi lapuknya, menatap langit malam di balik kaca jendela yang basah.
Tiba-tiba bayangan masa lalu melintas. Saat Iris tertawa di taman atap rumahnya, rambutnya yang panjang bergelombang meliuk-liuk diterpa angin. Hal yang paling Ethan sukai, dulu.
Saat itu Iris pernah berkata, “Aku tahu orang baik seperti apa kamu, Ethan.” Dengan tatapan mata yang selalu penuh keyakinan. “Bahkan jika dunia sekalipun menyalahkanmu, aku tetap memilihmu.”
Ethan menutup matanya. Suara itu menghantam jantungnya seperti pukulan kuat. Kini, kata-kata itu justru seperti ejekan. Ia pernah percaya bahwa cinta bisa menyelamatkan segalanya. Nyatanya, cinta justru menenggelamkannya ke dasar jurang paling dalam.
Ia membuka mata lagi, menatap pantulan dirinya sendiri di kaca. “Kau sudah cukup bodoh, Ethan,” katanya lirih. “Sekarang berhenti berharap.”
Ethan menatap sebuah telepon motel usang di atas meja. Kemudian bergerak ke arahnya dan segera menekan beberapa angka. Telepon tersambung beberapa detik kemudian dan suara serak terdengar.
“Halo?”
Etham diam, ragu.
Suara berat pria di seberang sana berkata, “Tuan Deighton?”
Ethan menegang. “Siapa ini?”
“Nama saya tidak penting. Jika Anda menghubungi nomor ini, itu artinya Anda telah membaca surat ayah Anda. Saya telah menunggu selama lima tahun. Saya punya sesuatu untuk Anda. Jangan khawatir, saya akan menemukan Anda.”
Sebelum Ethan sempat menjawab, sambungan sudah terputus. Hanya suara hujan di luar yang tersisa.
Ia masih menatap telepon itu, baru meletakannya pelan. Jantungnya masih berdetak kuat.
“Ayah, benar-benar masih punya orang di luar sana.”
“Ayah, ayah benar. Deighton tidak kalah.”
Dalam hening, ia menyalakan sebatang rokok, yang pertama setelah bertahun-tahun. Asapnya melingkar di udara sempit kamar, bercampur dengan bau lembab di ruangan.
“Marcus Cross,” ucapnya pelan, seolah berbicara langsung pada bayangan musuhnya. “Kau pikir aku akan mati di penjara. Tapi aku masih di sini.”
Ia mengambil kartu nama bank asing dari kotak logam dan membaliknya. Di belakangnya tertulis sebuah alamat, dan kode akses bank yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
“Begitu, ya, Ayah,” ujarnya sambil menghembuskan asap. “Terima kasih, karena tinggalkan aku sesuatu untuk memulai kembali.”
Ia kembali ke meja, menatap daftar perusahaan di layar. Ada satu yang menarik perhatiannya.
Sebuah nama perusahaan Ltd, dengan kepemilikan saham mayoritas masih atas nama “E. Deighton.”
Senyumnya mengembang pelan.
“Bukan uang, tapi pintu,” bisiknya. “Dan aku tahu ke mana pintu ini akan kubuka.”
Sesekali pikirannya kembali ke pesta tadi.
Marcus yang menghinanya. Iris yang diam dan menunduk. Dan para tamu yang menatapnya seperti serangga yang harus diinjak mati.
Ia memejamkan mata sejenak. Lima tahun di penjara mengajarinya dua hal. Menahan amarah dan mengenali waktu yang tepat untuk menyerang. Saat membuka mata kembali, ia berdiri, menatap keluar jendela ke arah gedung-gedung yang menjulang seperti raksasa. Lampu-lampu kota memantul di matanya yang dingin tapi hidup.
“Lima tahun mereka hidup tenang,” ujarnya pelan, nyaris berbisik. “Tapi mulai malam ini, hutang itu mulai ditagih.”
