Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

2. Awal Neraka Dunia

Mata Flara masih menatap lekat wajah Zaki yang sedang fokus menatap jalanan. Ia sedang menerka-nerka apakah yang ia dengar tadi hanyalah halusinasi semata atau Zaki memang mengatakannya.

Melihat wajah Zaki yang tidak mengekspresikan apa-apa membuat lidahnya tak tahun untuk berucap.

"Kamu serius? Aku nggak salah dengar, Zak?" tanya Flara meyakinkan pendengarannya.

"Nggak. Semuanya udah di persiapkan dengan matang. Nggak mungkin aku mempermalukan keluargaku sendiri. Kamu, kan tahu, harga diri Papa adalah segalanya." Zaki menjawab tanpa menoleh pada lawan bicaranya, tatapannya masih ia fokuskan pada jalanan yang nampak mulai lengang karena harus sudah tengah malam.

"Jadi kamu nikahi aku karena menjaga harga diri papa kamu?" tanya Flara yang merubah wajahnya menjadi sendu.

Zaki menoleh ke arah Flara sejenak lalu kembali fokus pada aspal mulus tanpa bruntus. Di tengah heningnya malam dan sepinya jalanan ditambah suasana dingin, sedingin sikap Zaki pada Flara, mereka masih diam tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Suasana dingin yang menusuk hingga tulang, nyatanya tak mampu membuat keduanya untuk saling menghangatkan meskipun hanya dengan sentuhan tangan. Justru suasana dingin ini sangat mewakili perasaan Zaki yang seketika membeku karena kesalahan fatal sang kekasih.

"Kamu maafin aku, kan? Aku tadi belum melakukan apapun, Zak. Aku memang sudah tak memakai apapun, tapi sungguh aktivitasku dengan Denan tak seperti yang kamu kira." Flara masih mencoba untuk bernegosiasi agar mendapatkan maaf dari calon suaminya.

"Nggak usah dibahas lagi, aku muak. Sudah sampai, turun!" titah Zaki masih dengan suara yang dingin.

Flara tak kunjung turun, ia masih berharap Zaki sedang bercanda kali ini. Ia tahu, Zaki adalah orang yang baik, ia pria yang sabar selama ini menghadapi tingkah Flara yang sering kekanak-kanakan. Tapi, apakah kesalahan yang Flara lakukan sekarang adalah kesalahan dan sifat anak-anak?

Entahlah, tapi, yang Flara tahu, Zaki tak pernah bisa marah terlalu lama dengannya. Apapun kesalahannya, pasti Zaki akan melupakannya. Ya, setidaknya itulah yang diyakini oleh Flara. Gadis dua puluh lima tahun yang beberapa tahun terakhir sudah dibahagiakan oleh Zaki.

"Turun, Flara! Ini sudah malam, nggak enak di lihat orang. Nanti dikiranya aku pria hina yang membawa anak gadis hingga tengah malam."

"Kan biasanya kamu yang bukain pintu, Zak."

"Mulai sekarang jangan manja! Lagi pula kamu kayak nggak tahu malu, ya. Kamu berharap aku memperlakukan kamu seperti ratu setelah apa yang terjadi? Itu memang keinginanku sebelum perbuatan hina kamu itu kamu lakukan di belakangku. Mungkin kamu tadi tidak melakukannya, tapi tidak ada yang menjamin kalau kamu tidak melakukannya sebelum hari ini." Tatapan yang Zaki lempar masih sama dinginnya.

"Zaki, aku udah..."

"Cukup! Turun sekarang sebelum tanganku yang bertindak!" kata Zaki dengan emosi yang kembali membuncah. Tatapan yang lebih tajam dari yang tadi ia lempar pada gadis yang kini sudah hampir meneteskan air mata. Namun, nampaknya Zaki tidak lagi luluh dengan air mata yang dahulu membuat hatinya teriris perih.

Tak sanggup menahan lajunya air mata yang sejak tadi menumpuk, Flara dengan segera turun dari mobil dan berlari ke dalam rumah. Tangisnya pecah begitu ia melempar tubuhnya di atas ranjang.

"Seandainya kamu tahu aku melakukan ini buat kamu dan keluarga kamu, aku rela merendahkan harga diriku karena kamu, pasti kamu akan berterima kasih padaku, Zaki!" Flara meluapkan emosinya dengan melempar semua barang yang berada di kamarnya. Tidak ada satupun barang yang selamat dari tangan Flara.

***

Pukul sembilan pagi, Flara sudah sudah siap dengan acara sakralnya. Dengan kebaya pilihan Zaki, gadis itu nampak cantik dan anggun meski dengan mata yang sembab karena menangis semalaman.

Dengan hati yang gundah, dan kegalauan yang merajai hati dan pikirannya, Flara berjalan diapit oleh kedua orangtuanya untuk menuju ke tempat akad. Jika wanita lainnya sangat bahagia di hari pernikahannya dan menunjukkan senyum kebahagiaan, yang terjadi pada Flara adalah hal yang sebaliknya. Bibirnya memang melengkungkan senyuman termanis, tapi itu hanya untuk menutupi hatinya yang terluka.

Meski bersusah hati, Flara berusaha untuk terlihat bahagia. Ia menyembunyikan lukanya di balik topeng yang sekarang ia pasang.

"Kamu cantik," kata Zaki yang sejak tadi menatap Flara tanpa berkedip.

"Terima kasih," jawab Flara dengan gugup.

Gadis itu tak tahu, bagaimana perasaan Zaki sekarang terhadapnya. Ia merasa cinta Zaki terhadapnya tetaplah ada, tapi amarah dan kekecewaan nampaknya sering mengingatkan dirinya akan malam itu. Jika sudah begitu, Zaki akan menampakkan wajah dinginnya.

Seperti saat ini, setelah memuji Flara cantik, ia seketika ingat jika gadis yang berada di dekatnya ini sudah mengecewakanya. Raut wajahnya berubah seketika.

SAH

Setelah satu kata itu terdengar, Flara dan Zaki melakukan ritual seperti sepasang pengantin pada umumnya.

"Jangan pasang muka melasmu di sini. Tampakkan kebahagiaan seperti wanita-wanita lainnya saat menikah. Biar apa kamu sedih dan menunduk begitu? Supaya ada yang bertanya padamu? Lalu kamu menjelaskan bahwa kamu kemarin melakukan zina?" tanya Zaki di telinga Flara.

Zaki berkata seperti itu dengan menggenggam tangan Flara. Hal itu ia lakukan hanya untuk memanipulasi orang yang melihat mereka.

"Mas, kamu sekarang suamiku dan aku istrimu. Bisakah kita tutup masalah itu? Biarkan aku memberimu penjelasan lalu kamu berhak untuk menentukan sikapmu terhadapku. Apa yang kamu lihat belum tentu kenyataan yang sebenarnya."

"Penjelasan apa? Penjelasan kalau kamu masih cinta juga dengannya?"

"Terserah kamu saja, tapi yang jelas aku tidak punya perasaan apapun sama dia."

Perdebatan yang di lakukan dengan suara berbisik itu akhirnya selesai juga. Mereka turun dari pelaminan untuk makan siang dan istirahat, karena malam nanti mereka akan kembali merayakan resepsi.

Selama istirahat, pasangan pengantin baru ini hanya diam saja, sibuk dengan pikiran masing-masing. Flara yang awalnya berusaha berkomunikasi dengan suaminya kini juga diam, sekeras apapun ia berusaha, sekeras itu juga Zaki mengacuhkannya.

Pukul delapan malam, mereka sudah berada di pelaminan kembali. Menyalami satu persatu tamu udangan yang hadir. Baik dari temam kedua mempelai atau para tamu kedua orang tua.

"Selamat menempuh hidup baru, cepat dapat momongan ya," ucap salah satu sahabat Flara.

"Iya, makasih doanya. Bahagia juga untukmu."

Tanpa mereka sadari, sepasang mata milik Denan sedang menatap jalang kedua manusia yang berada di pelaminan. Tatapan yang tajam dan dingin seakan menyiratkan kebencian yang dalam.

"Berbahagialah kau sekarang. Nikmati bahagiamu selagi masih bisa mengukir senyum di bibirmu. Jika waktumu sudah datang, aku pastikan bibirmu hanya mampu memohon pengampunan dariku," ucap Denan pelan dengan senyum yang tak dapat di artikan oleh mata.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel