1. Malam Kelam
"Apa-apaan ini Flara!" teriak Zaki dengan wajah yang sudah dipenuhi amarah.
Gadis yang di panggil Flara itu seketika menoleh ke arah pintu, berdiri sosok Zaki di sana. Pria yang akan menjadi suaminya esok hari. Dengan secepat kilat Flara berdiri dari ranjang dan menutupi tubuh polosnya dengan selimut tebal yang sebelumnya tergeletak di lantai.
Nafasnya terengah-engah, entah karena pergulatan bibir yang baru saja terjadi atau karena dirinya yang kepergok sedang mempoloskan diri dengan seorang pria.
"Zaki, aku ... Aku bisa jelaskan!"
Zaki tak menghiraukan kata-kata yang keluar dari mulut calon istrinya. Ia melangkah lebih masuk ke dalam kamar dan menghampiri pria yang masih duduk menatap dirinya. Dari wajah pria itu, tidak ada sama sekali gurat takut, penyesalan, panik atau reaksi lainnya. Ia menatap Zaki seakan tak terjadi apa-apa.
Sangat berbanding terbalik dengan Zakh yang emosinya sudah menggebu. Jika saja bisa Zaki bisa mengeluarkan tanduk di kepalanya, mungkin tanduk itu sudah keluar dari tempatnya.
Tanoa basa-basi atau berkata apapun laagi tiba-tiba
Bugh!
Satu bogeman dari Zaki berhasil membuat pria itu tersungkur ke ranjang. Terlihat sudut bibirnya yang sedikit mengeluarkan darah. Dengan percaya diri yang entah dari mana datangnya, pria yang hampir bercinta dengan Flara itu beranjak berdiri dengan tanpa sehelei benang pun. Ia mendekati Zaki dan melempar tatapan seolah ia menantang. Sementara Flara hanya melihat keduanya dengan rasa was-was.
'Ya Tuhan, bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana jika mereka bertengkar di sini?' batin Flara bingung, tangannya masih sibuk memegang erat ujung selimut yang menutupi dirinya.
Di detik berikutnya, ia sadar dengan kebodohannya, ia segera memakai pakaian yang entah di lempar ke mana oleh pria yang hampir bersenggama dengannya.
"Bajingan lo, Den!" umpat Zaki dengan mengeratkan giginya.
"Lo yang bajingan, brengsek, bangsat, teman laknat lo. Lo tahu, Flara mantan gue. Lo juga tahu, gue masih sayang dan berniat balik ke Flara. Tapi lo malah kasih undangan pernikahan lo sama cewek yang gue sayang. Bajingan mana lo sama gue?" Denan membalas ucapan Zaki dengan emosi yang meluap. Sangat berbeda dari beberapa menit yang lalu, di mana wajah Denan tak memperlihatkan reaksi apa-apa.
"Masih sayang lo bilang? Lo lupa penyebab kalian putus apa? Secara nggak langsung lo yang udah ngelepas Flara, lo sakiti dia, lu hancurkan hati dan hidupnya, lo pikir yang ada buat Flara waktu itu siapa? Gue! Cuman gue yang ada di samping dia dan buat dia bangkit lagi. Susah payah gue buat dia supaya seperti sekarang dan lo sekarang mau nidurin dia? Nggak punya otak, lo!"
Untuk yang kedua kalinya, Zaki kembali memberi pukulan di wajah Denan. Dan untuk kedua kalinya pula, Denan tersungkur dan kepalanya membentur tepian ranjang. Entah mengapa, Denan sama sekali tak berusaha untuk melawan atau setidaknya melindungi dirinya dari pukulan Zaki. Pria itu hanya pasrah saja mendapat pukulan bertubi-tubi dari Zaki. Entah rasa bersalah atau memang Zaki bukan lawannya? Entahlah.
Melihat Zaki yang sudah kesetanan, Flara segera memungut kembali pakainya dan memasangnya dengan cepat.
"Zaki, udah Zak. Aku mohon berhenti pukul dia. Zaki berhenti!" teriak Flara seraya berusaha menahan tangan kekasihnya itu.
Dengan tangan yang masih di udara, Zaki menatap tajam ke arah Flara. Entah apa yang ada dalam pikirannya, sangat nampak jika amarah sedang menguasai pikiran dan hati Zaki. Setan-setan dan para iblis berhasil menguasai hati dan pikiran pria itu. Dri sejak di jalan tadi, Zaki memang sudah menumpuk amarahnya.
Zaki lalu menatap Denan, teman dekat dari masa ia kuliah hingga sekarang. Emosinya kian memuncak saat melihat senyum tipis dari Denan. Sekali lagi, tangan Zaki mampir di wajah Denan, kali ini sudut matanyalah yang jadi sasaran.
"Zaki, udah dong, Sayang," pinta Flara melas dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Kamu belain, dia?" tanya Zaki menunjuk Denan yang masih tak berdaya duduk di lantai dengan bersandar ranjang.
"Nggak, nggak Sayang, aku nggak bela dia. Jangan kamu kotori tanganmu dengan memukuli dia seperti itu."
"Apa? Mengotori? Kamu lebih kotor dari aku, Flara. Pulang sekarang, kita selesaikan di rumah!" Zaki menyeret Flara keluar kamar dan membiarkan Denan dengan keadaan babak belur dan telanjang pula.
Dengan emosi yang tersisa, Zaki masih terus menggeret calon istrinya itu ke luar hotel. Entah kenapa ia merasa lorong di hotel ini terasa sangat panjang. Sementara Flara dengan kesusahan mengikuti langkah Zaki yang berjalan dengan cepat dan langkah lebar.
Begitu sampai di parkiran, Zaki dengan kasar mendorong Flara masuk ke mobilnya. Dengan kecepatan tinggi pula, mobil itu melesat menjauh dari hotel.
"Aku minta maaf, Zak. Aku melakukan ini kar..."
"Apa? Kamu masih sayang juga sama mantan kekasihmu itu? Kenapa nggak bilang? Harusnya kamu bilang sama aku kalau kamu masih ada rasa sama Denan. Aku nggak perlu susah payah buat bahagiakan kamu, dan memberikan apa yang tidak pernah Denan berikan padamu. Kamu lupa sama perjuangan aku dan gimana Denan mengkhianati kamu?"
"Bukan, bukan itu, Zak. Ada alasan lain yang kamu nggak tahu kenapa aku melakukan ini. Dengar aku dulu, dengar penjelasan aku. Aku melakukan ini de..."
"Sudahlah, Fla. Nggak perlu banyak alasan. Aku nggak mau dengar apapun alasan kamu. Karena sebaik apapun alasan kamu mau melakukan ini, ini tetap salah, tindakan kamu sama sekali nggak ada benarnya." Nada bicara Zaki sudah tak setinggi tadi, namun dari suaranya yang bergetar membuat Flara sadar bahwa kekasihnya itu sedang menahan tangis.
Flara merasa sangat bersalah, akhirnya ia diam dengan sejuta penyesalan dan kegundahan yang menyebar ke seluruh sel dalam tubuhnya. Hanya air mata yang menjadi perwakilan rasa hatinya saat ini.
'Seandainya saja kamu tahu aku melakukan ini buat kamu juga, Zak. Aku merusak diriku karena aku melindungi kamu. Kamu nggak tahu apa yang akan di lakukan Denan jika aku tidak menuruti apa yang dia mau. Percayalah, cinta ini buat kamu seutuhnya, tidak ada lagi nama siapapun di dalam hatiku selain kamu,' batin Flara dengan menundukkan kepala menahan tangis.
Air mata Flara bercucuran, namun sebanyak apapun ia mengeluarkan cairan bening itu, ia tahu dan sadar tidak akan bisa merubah apapun, kecuali ia menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi. Namun sayangnya, ia tak bisa seperti itu, karena ada orang-orang terdekatnya yang harus ia jaga keselamatannya.
"Udah nggak usah nangis dan menyesali apa yang sudah terjadi. Pernikahan kita akan tetap dilangsungkan," ujar Zaki yang berhasil membuat Flara mendongak seketika.
