##bab 6
"Tuan, saya belum menemukan keberadaan mereka," lapor salah satu bawahan Jonson dengan wajah penuh ketakutan. "Tapi saya punya kabar bagus, Tuan," lanjutnya dengan hati-hati.
Jonson yang sudah kesal karena kegagalan demi kegagalan yang dilakukan anak buahnya, menatap tajam. "Katakan! Jika kabar ini tidak memuaskan saya... maka kamu akan mati hari ini juga!" bentaknya dengan suara dingin, membuat bawahannya gemetar.
"Tenang, Tuan. Saya punya rencana yang pasti berhasil," ujar anak buahnya sambil mencoba meyakinkan Jonson. "Tuan masih ingat dengan Anita, kan? Sejauh yang saya tahu, Anita adalah wanita yang sangat disayangi oleh Jhos. Nah, besok dia akan pulang. Kita bisa menjadikannya sandera agar Jhos mau melepaskan Nisa untuk Anda. Bagaimana, Tuan?" jelasnya panjang lebar, berharap idenya dapat diterima.
Jonson mengangguk perlahan, tersenyum licik. "Hmm... ada benarnya juga ucapanmu. Baik, besok pagi jemput gadis itu dan bawa ke hadapanku. Aku akan membuat Jhos menderita... lumayan, bisa untuk hiburan."
Jonson tertawa kecil, membayangkan kekalahan Jhos yang sudah ada di depan mata. "Kau boleh mengenal aku, Jhos... tapi kau belum tahu siapa aku sepenuhnya. Dalam urusan wanita, jangan pernah coba-coba bersaing denganku," gumamnya dengan penuh rasa puas.
Dia sudah memiliki rencana matang untuk menyiksa Anita jika Jhos tidak mau melepaskan Nisa. Kini, Jonson merasa di atas angin, yakin bahwa kemenangan sudah di tangannya.
***
Di sebuah apartemen besar dengan lampu yang terang dan indah di ruang tamu dan ruang utama, di apartemen semewah itu hanya ada keheningan yang diiringi oleh suara jeritan kenikmatan di dalam sebuah kamar. Jhos dan Nisa sedang melampiaskan nafsu mereka satu sama lain.
"Jhos, hentikan aku masih sakit. Bukankah tadi malam Anda sudah mendapatkannya," Nisa emosi saat Jhos memeluknya dari belakang di dalam kamar mandi. Nisa baru saja selesai menghangatkan air untuk berendam, dan ketika dia melepas bajunya, ada sebuah tubuh yang tiba-tiba memeluknya dari belakang. Terkejut, Nisa langsung menepis tangan yang ingin memeluknya. Ketika dia mau membalikkan badan untuk mengomeli orang yang punya tangan, dia sudah keburu dicium bibirnya oleh orang itu.
"Hem... Jhos, apa yang Anda lakukan," jeritnya terkejut.
"Menikmati mu sayang, aku ingin merasakannya lagi," jawab Jhos dengan lembut sambil membisikkan di telinga Nisa. Bisikan dan nafas Jhos membuat Nisa geli.
"Paman, aku tidak mau, aku capek. Aku ingin tidur setelah mandi," tolak Nisa dengan keras sambil berusaha menahan ciuman panas Jhos.
"Bagaimana kalau kita mandi dulu, kemudian baru kamu tidur?" usul Jhos tidak menyerah dan tetap mencoba merayu Nisa.
"Paman, harap jauhkan tangan paman. Aku tidak ingin ini. Aku tidak mau mati," seru Nisa sambil meronta.
"Kenapa kamu harus mati? Malam tadi kamu juga begitu bersemangat, dan kamu tidak mati kan?" balas Jhos sambil tersenyum puas melihat reaksi Nisa.
"Tapi, paman, sakit. Aku tidak tahan. Kamu terlalu besar dan terlalu lama. Aku tidak bisa menandingi paman," keluh Nisa dengan wajah polosnya.
"Kamu sangat polos, Nisa. Tapi justru itu yang membuatku semakin menyukaimu. Percuma kamu meminta aku berhenti, jika dengan caramu itu justru membuatku semakin bersemangat," ujar Jhos sambil tertawa.
Astaga, mengapa kamu begitu polos, Nisa? Kejujuranmu membuatku semakin tergila-gila padamu. Aku semakin tak bisa mengendalikan gairahku...
Jhos terus memainkan jari-jarinya di seluruh tubuh Nisa, sampai akhirnya Nisa menyerah karena gairahnya telah melampaui kesadarannya.
"Drett... Drett..." Suara ponsel Jhos bergetar di dalam saku celananya, membuatnya sadar dan segera pergi untuk mengangkat panggilan tersebut. Ia meninggalkan Nisa yang masih terdiam di kamar mandi.
Nisa hanya bisa terpaku, seharusnya dia merasa lega karena panggilan itu telah menyelamatkannya dari "kebuasan" Jhos. Namun, anehnya, yang ia rasakan justru sebaliknya—perasaan hampa, seperti hidangan yang sudah siap disajikan tetapi dibiarkan begitu saja.
"Ada apa denganku? Kenapa sekarang aku malah menginginkannya? Seharusnya aku senang bisa terbebas, tapi kenapa tubuhku terasa panas dan tak bisa tenang? Tidak... aku harus bagaimana sekarang? Aku tak bisa menahannya lagi..."
Nisa berjalan mondar-mandir di dalam kamar mandi, mencoba menenangkan dirinya. Akhirnya, dia memutuskan untuk masuk ke dalam bathtub yang telah berisi air hangat sejak tadi, berharap sensasi panas di tubuhnya bisa mereda.
Jhos sebenarnya sengaja menyiksa Nisa secara perlahan. Setelah membangkitkan gairahnya, dia dengan sengaja meninggalkannya begitu saja. Dia ingin melihat bagaimana reaksi Nisa dan bagaimana cara gadis itu mengatasi gejolak yang telah dia bangkitkan.
Panggilan telepon yang diterima Jhos sebenarnya bukan sesuatu yang penting. Ia bisa saja tidak mengangkatnya, tetapi dia memilih melakukannya untuk mempermainkan Nisa lebih lama sebelum akhirnya dia "menerkamnya."
Di layar ponsel, nama Anita tertera jelas. Gadis itu menelepon untuk memberi kabar bahwa dia akan tiba di Kota Hua besok. Jhos sudah mengetahui rencana kedatangan Anita sebelumnya, tetapi dia tetap berpura-pura terkejut agar gadis yang sudah dianggap seperti adik itu merasa senang.
"Benarkah kamu akan datang besok? Astaga, aku sangat senang mendengar kabar ini! Aku akan menjemputmu lusa. Kamu tiba di sini jam berapa?" tanya Jhos dengan antusias pura-pura.
"Aku sampai lusa jam 7 pagi. Jemput aku ya, aku sangat merindukanmu, Jhos. Baiklah, aku harus istirahat sekarang, besok pagi aku punya penerbangan pertama," balas Anita dengan suara riang.
"Baiklah, aku akan menunggumu di Kota Hua dan menyambutmu, tuan putri," ucap Jhos sebelum menutup telepon dengan senyum kecil di wajahnya.
Dia sudah tahu alasan Anita datang ke Kota Hua. Gadis itu sebenarnya jarang bepergian karena ayahnya—seorang bos mafia terkenal di Amerika—selalu melarangnya pergi sendiri. Sebagai putri tunggal, ayahnya sangat protektif terhadapnya. Namun, Anita bukanlah tipe gadis yang mudah diatur, apalagi jika itu menyangkut Jhos—pria yang diam-diam dia cintai meskipun Jhos hanya menganggapnya sebagai adik. Anita yakin suatu saat nanti Jhos akan menyadari bahwa dia bukan sekadar seorang adik perempuan, melainkan calon istrinya.
Setelah menutup telepon, Jhos berbalik dan melangkah kembali ke kamar mandi. Dia melihat Nisa masih berendam di dalam bathtub dengan mata terpejam, menikmati sensasi air hangat di tubuhnya. Tanpa berkata apa-apa, Jhos mendekatinya, lalu membungkuk dan mengecup lembut lehernya dari belakang.
Maaf sayang..tadi aku mengangkat panggilan, kan kamu liat sendiri tadi," jawab jhos sambil tersenyum lalu melanjutkan gerakan tangannya ke arah dada besar Nisa.
"Alasan, bilang saja meninggal kan aku," Nisa tidak mau mengalah dia terus menyalahkan jhos.
"Oo..jadi tadi ada yang merasa di tinggalin ya, hehe.. baiklah jadi sekarang aku tidak akan meninggalkan kamu lagi, ayo kita lanjut," jhos langsung mengangkat tubuh Nisa keluar dari kamar mandi.
jhos mengangkat tubuh Nisa dan membawanya ke tempat tidur lalu membaringkannya, Nisa yang telanjang berbaring di depan jhos pun merasa malu, dengan wajah memerah Nisa berkata, "jhos kenapa kamu membawaku ke sini aku belum selesai mandi?,"
" Nanti kita mandi bersama setelah aku menyantap mu sayang," ucap jhos lalu membuka semua pakaiannya, Nisa melihat batang jhos yang sudah berdiri tegak pun langsung menutupi wajahnya menggunakan tangannya.
"Kenapa kamu menutupi wajahmu sayang?, Benda ini sekarang milikmu ayo nikmatilah," ucap jhos sambil menarik pinggang Nisa dan melebarkan kaki Nisa, jhos langsung mengarahkan kejantanannya ke arah selangkangan Nisa.
Nisa langsung memejamkan matanya di saat jhos akan memasuki dirinya, lima detik kemudian Nisa merasakan sesuatu yang keras dan besar memasuki dirinya, "akh...," Dia merintih kesakitan. ..bukankah dia berkata tidak akan sakit lagi tapi kenapa masih begitu sakit?..
"Sabar sayang sebentar lagi akan terasa enak," kata jhos karena melihat wajah Nisa yang terlihat sedang kesakitan, jhos langsung mencium bibir Nisa sambil tangannya menggenggam dada Nisa yang kepenuhan di genggamannya.
Jhos mulai menggerakkan tubuhnya pelan-pelan karena tidak mau melihat Nisa merasa kesakitan.
"Apa masih terasa sakit?," Tanya jhos yang melihat Nisa masih memejamkan matanya dengan paksa, mendengar ucapan jhos Nisa langsung membuka matanya dan memandang ke arah jhos, dia larut dalam pikirannya setelah menatap wajah jhos, ..kenapa aku sangat menikmatinya di saat jhos meniduri ku seperti ini, aku malah menginginkannya lebih cepat untuk gerakannya tapi aku malu..
melihat Nisa yang bengong jhos langsung menghentakkan pinggulnya ke depan dengan keras sampai membuat Nisa langsung sadar, " aukh.." Nisa langsung menarik leher jhos dan mendekatkan wajahnya ke wajah jhos lalu berbisik.
"Jhos..lebih cepat, aku menikmatinya," ucapnya di luar ke sandarannya karena di liputi oleh gairah. Jhos langsung tersenyum mendengar bisikan Nisa itu, jhos langsung melumat bibir Nisa dan menaikkan tempo gerakannya.
"Akh..jhos lebih cepat,"
"Baik sayang, kamu tenang saja semuanya milik kamu, aku mencintaimu." Setelah itu jhos sudah masuk ke dalam gairahnya dia sudah di luar kesadaran dan terus membalik tubuh Nisa dengan berbagai macam gaya, membuat Nisa sesekali berteriak kenikmatan.
Tiga jam akhirnya jhos berhenti menggerakkan pinggulnya karena sudah mencapai akhir dari pergelutannya itu, Nisa merasakan ada cairan hangat yang masuk ke dalam lubang kenikmatannya setelah itu dia tertidur lemas.
Pagi yang Sepi
Keesokan harinya, Jhos terbangun dari tidurnya dan segera bergegas menuju kamar mandi. Setelah bersiap-siap, dia langsung pergi untuk menjemput Anita di bandara.
Tak lama setelah kepergian Jhos, Nisa pun terbangun. Ia merentangkan tangannya, mencari keberadaan tubuh Jhos di sampingnya, namun tak merasakan apa-apa. Perlahan, ia membuka matanya dan mendapati ranjang di sebelahnya kosong.
Dengan cepat, Nisa bangkit dari tempat tidur, tetapi rasa pegal segera menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Sepertinya tadi malam aku yang terlalu posesif... Tapi, kenapa rasanya begitu nikmat sampai aku tidak sadar kalau tubuhku akan sepegal ini..." gumamnya dalam hati.
Nisa meraih kotak pil yang tersimpan di laci dekat tempat tidur. Dengan segera, dia menelan pil tersebut untuk mencegah kemungkinan kehamilan, mengingat tadi malam dia merasakan cairan hangat di dalam tubuhnya.
Setelah itu, Nisa berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Di depan cermin, matanya tertuju pada bekas ciuman yang tersebar di seluruh tubuhnya, terutama di sekitar dadanya. Bekas gigitan dan ciuman juga terlihat jelas di lehernya.
"Dasar galak," ucapnya sambil tersenyum kecil, mengingat ucapan Jhos saat mereka bercinta tadi malam—saat Jhos mengatakan bahwa dia mencintainya.
Namun, senyumnya perlahan memudar. Dia mencoba menepis pikiran itu.
"Mungkin dia hanya terbawa suasana... Sudahlah," gerutunya sambil menghela napas panjang, berusaha mengendalikan perasaannya.
Anita dalam Bahaya
Setibanya di bandara, Jhos duduk di dalam mobil sambil tersenyum sendiri, mengenang betapa besar jasa Anita dalam hidupnya. Dia bahkan rela mempertaruhkan nyawanya demi dirinya. Namun, sudah tiga jam berlalu, dan belum ada tanda-tanda kedatangan Anita.
Merasa khawatir, Jhos segera menyuruh salah satu bawahannya untuk menanyakan jadwal kedatangan pesawat dari Amerika. Tak lama kemudian, bawahannya kembali dengan kabar yang mengejutkan.
"Maaf, Tuan. Menurut petugas bandara, pesawat dari Amerika sudah mendarat empat jam yang lalu," lapor bawahannya dengan suara ragu.
Jhos langsung menyipitkan matanya, merasa ada yang tidak beres.
"Apa? Empat jam yang lalu? Kenapa Anita tidak menghubungiku? Jangan-jangan ini ulah Jonson..." pikirnya dalam hati.
Saat Jhos masih tenggelam dalam pikirannya, tiba-tiba ponselnya berdering. Dengan cepat, dia mengangkatnya.
"Halo?" jawabnya dengan suara tegang.
"Hai Jhos, apa kabar? Aku dengar kau sedang menunggu kedatangan Anita?" suara Jonson terdengar di seberang, penuh kepura-puraan.
"Aku tahu ini perbuatanmu! Di mana dia sekarang? Jangan bermain-main denganku, Jonson!" bentak Jhos, emosinya langsung memuncak.
"Haha... Tenang, Jhos. Aku tidak akan menyakitinya... asalkan kau menyerahkan Nisa padaku," ujar Jonson santai, seolah kemenangan sudah ada di tangannya.
"Jangan bermimpi, Jonson! Aku tidak akan pernah menyerahkannya padamu!" balas Jhos tegas.
"Baiklah kalau itu maumu. Tapi jangan berharap bisa melihat Anita dalam keadaan baik-baik saja," ancam Jonson dengan nada licik.
"Kau berani menyentuhnya, Jonson?! Aku akan mencarimu ke mana pun kau pergi!" teriak Jhos, amarahnya meluap.
"Hahaha... Aku akan menunggumu, Jhos. Bawakan aku Nisa!" Jonson berkata sebelum menutup telepon dengan tawa puas.
Sementara itu, di tempat lain, Anita duduk di samping Jonson. Dia mendengarkan seluruh percakapan antara mereka dengan hati yang diliputi kebingungan dan amarah.
"Kau dengar sendiri, kan, Anita? Jhos sekarang punya wanita lain. Dia merebutnya dariku!" ucap Jonson dengan nada licik, mencoba membakar emosi Anita.
Anita menggertakkan giginya dengan marah.
"Siapa wanita itu? Apa yang membuat Jhos berpaling dariku?" pikirnya dengan hati yang panas.
"Hai, bukan wanita itu yang salah. Justru Jhos yang merebutnya dariku," lanjut Jonson, berusaha menyakinkan Anita.
"Kamu tenang saja, Anita. Jhos pasti akan menyerahkan wanita itu kepadaku. Setelah itu, kau bebas melakukan apa pun yang kau mau dengannya," kata Jonson sambil tersenyum puas, bersandar di kursi kebesarannya.
"Kamu hanya perlu diam di sini untuk sementara sebagai sandera. Setelah Jhos menyerahkan gadis itu, kau bisa bebas," lanjutnya dengan nada santai.
Namun, Anita masih ragu.
"Jonson, kau yakin Jhos akan menyerahkan gadis itu? Dari yang kudengar tadi, dia sepertinya sangat sulit melepaskannya untukmu. Itu bukan sifat Jhos yang kukenal..." Anita termenung, mencoba memahami situasi ini.
"Siapa sebenarnya gadis itu? Apa kelebihannya sampai Jhos begitu keras kepala mempertahankannya, bahkan saat aku menjadi kan nya sandera?" pikirnya, semakin geram dengan situasi yang terjadi.
