
Ringkasan
Peringatan Konten Dewasa (+21) Joshua, seorang pria sukses yang dulunya memiliki hubungan stabil, mengalami perubahan drastis setelah ditinggalkan oleh kekasihnya yang selingkuh. Trauma tersebut memicu perilaku hiperseksualitas yang tidak terkontrol. Suatu hari, Joshua bertemu dengan seorang gadis kuliah yang polos dan cerah. Pertemuan ini membawa harapan baru: apakah gadis ini dapat membantu Joshua menemukan kembali dirinya yang sebenarnya dan menyembuhkan luka masa lalunya?
##bab 1 malam yang panas
Malam ini, Joshua benar-benar menikmati momen yang membara bersama seorang wanita yang begitu lincah di ranjang.
"Jooos... Aku sampaiiii... Akhhhhhh!" teriak wanita itu dengan napas tersengal, merasakan gelombang kenikmatan yang kini telah mencapai puncaknya untuk ketiga kalinya.
Wanita itu menatap Joshua dengan tatapan penuh gairah. "Kamu curang, Joss... Aku sudah keluar tiga kali, tapi kenapa kamu belum juga?" ucapnya manja, sementara Joshua masih dengan ritme yang stabil.
"Sabar, sayang... Aku juga sangat menikmatinya. Aku suka yang liar sepertimu," jawab Joshua seraya terus bergerak hingga akhirnya ia mencapai klimaksnya. "Akhhhh... mmm," desahnya, lalu ia turun dari tubuh wanita itu dan berbaring di sampingnya.
Keesokan paginya, Joshua meninggalkan wanita itu di kamar hotel bersama sejumlah uang sebagai bayarannya semalam. Ia segera melajukan mobil sport Ferrari-nya menuju kantornya dengan penuh percaya diri.
Di Kantor Joshua
Sesampainya di kantor, Joshua langsung masuk ke ruangannya dan duduk di kursi kebesarannya. Tak lama kemudian, sekretarisnya yang bertubuh langsing dan mengenakan pakaian ketat masuk ke dalam ruangan.
"Hmmm, ada apa sayang? Apa yang membuatmu ke sini?" tanya Joshua sambil dengan santai membelai bokong sekretarisnya.
"Tuan, siang nanti ada klien yang mengundang Anda makan siang di Hotel Hip Pix," lapor sang sekretaris dengan suara lembut.
"Hmm... apakah ada hal lain?" tanya Joshua sambil memperhatikan sekretarisnya dengan tatapan penuh selidik.
"Hanya itu, Tuan," jawab sekretarisnya sopan.
"Baiklah, kalau cuma itu. Nanti siang kamu temani saya, dan malamnya... aku ingin mencicipi tubuhmu sekali lagi," ucap Joshua sambil tersenyum nakal.
"Baiklah, terserah Tuan," jawab sekretarisnya, lalu berbalik menuju pintu.
Saat melihat sekretarisnya berbalik, Joshua tak bisa menahan diri dan memberikan pukulan pelan di bokongnya. Awalnya, ia ingin menikmati tubuh wanita itu pagi ini, terutama dengan pakaian ketat yang dikenakannya, namun Joshua memilih untuk menunda niatnya karena pekerjaannya yang masih menumpuk.
Bagi Joshua, saat berada di kantor, ia selalu serius dalam pekerjaannya. Baginya, waktu adalah uang, dan itu adalah prinsip yang selalu dipegangnya.
Makan Siang di Hotel Hip Pix
Setelah jam menunjukkan pukul 12 siang, Joshua memanggil sekretarisnya dan bersama-sama mereka berangkat menuju Hotel Hip Pix untuk menghadiri undangan makan siang dari kliennya.
Sesampainya di hotel, Joshua terpesona dengan pemandangan yang ada di sana. Banyak wanita cantik bertebaran di lobi hotel, membuatnya sulit untuk tetap fokus.
"Wah, semua di sini benar-benar menggoda," gumam Joshua sambil mempererat genggaman di pinggang ramping sekretarisnya.
Hotel Hip Pix memang dikenal sebagai tempat eksklusif yang menyediakan layanan hiburan bagi para pria kaya raya yang ingin mencari kesenangan.
Seorang pria muda yang merupakan bawahan kliennya menghampiri dan berkata, "Tuan Joshua, beliau sudah menunggu Anda di ruang VIP. Silakan ikuti saya."
Joshua hanya mengangguk, kemudian mengikuti pria tersebut menuju ruangan yang dimaksud.
Setibanya di depan pintu, bawahan klien itu membukakan pintu untuknya. Begitu pintu terbuka, Joshua langsung merasa jijik melihat pemandangan di dalam. Seorang pria paruh baya tengah duduk di sofa sambil memegang kepala seorang wanita yang berada di selangkangannya.
Joshua bergidik dalam hati. "Sudah tua tinggal menunggu ajal, tapi masih saja bergelimang dengan wanita," pikirnya sinis.
Begitu melihat Joshua datang, pria tua itu segera menyuruh wanita tersebut pergi.
"Hai, Tuan Joshua! Senang bisa bertemu kembali. Bagaimana kabarmu sekarang?" sapa pria tua yang dikenal sebagai Tuan Jax.
Joshua tersenyum tipis. "Saya baik-baik saja, Tuan Jax. Bagaimana dengan Anda?" tanyanya sopan.
"Sepertinya wanita yang bersamamu lumayan juga," ujar pria tua itu, sambil melirik sekretaris Joshua.
Mendengar ucapan tersebut, Joshua hanya tersenyum tipis, dalam hatinya ia bergumam, "Dasar tua bangka mata keranjang, mati saja kau."
"Ya, dia sekretaris saya," jawab Joshua akhirnya.
Setelah selesai makan dan membahas kerja sama bisnis dengan pria tua itu, Joshua kembali ke kantornya bersama sang sekretaris.
Sesampainya di kantor, sekretarisnya masuk ke dalam ruangan setelah dipanggil.
"Tuan Joshua, Anda memanggil saya?" tanyanya sopan.
Joshua menatapnya dengan tatapan tajam. "Apakah sudah ada teman tidur untuk saya malam ini?" tanyanya santai, seolah itu adalah rutinitas biasa.
Memang begitulah Joshua, setiap malam ia selalu mencari wanita cantik untuk menemani tidurnya. Namun, ia sangat pemilih—wanita yang pernah 'digunakan' orang lain terlalu banyak bukanlah tipenya.
"Tuan, malam ini sepertinya masih kosong," jawab sang sekretaris.
Joshua mengangguk pelan. "Baiklah, kalau begitu, seperti biasa, kamu yang jadi teman saya nanti malam. Siapkan dirimu," perintahnya sebelum kembali fokus pada pekerjaannya.
Kenangan Pahit yang Mengubah Joshua
Sepulangnya ke apartemen, Joshua langsung melepaskan pakaiannya dan masuk ke kamar mandi untuk berendam.
Sambil merendam tubuhnya, pikirannya melayang pada masa lalu. Joshua tidak selalu seperti ini. Dulu, ia adalah pria yang setia dan penuh kasih. Semua berubah sejak kekasih yang dicintainya berselingkuh dengan pria lain.
Hari itu, Joshua begitu bahagia. Sepulang kerja, ia mampir ke toko bunga untuk membeli buket mawar sebagai kejutan untuk kekasihnya, Lina. Namun, bukannya kejutan yang ia berikan, justru ia yang dikejutkan.
Saat membuka pintu apartemen Lina, matanya membelalak kaget—wanita yang sangat ia cintai sedang berpelukan mesra dengan pria lain dalam keadaan telanjang di ranjang mereka.
Tanpa berkata apa pun, Joshua menutup pintu dengan keras dan pergi. Hatinya hancur berkeping-keping.
"Dasar wanita murahan... bodohnya aku yang pernah mencintaimu," gumamnya dengan mata berkaca-kaca. "Kenapa aku begitu bodoh percaya padamu? Aku bersumpah, Lina, aku tidak akan pernah memaafkanmu!"
Sesampainya di apartemen, Joshua langsung membuang semua kenangan tentang Lina—foto-foto, baju pemberiannya, dan semua barang yang berhubungan dengannya. Ia tidak ingin menyisakan sedikit pun kenangan tentang wanita yang telah mengkhianatinya.
Sejak kejadian itu, Joshua berubah. Di kantor, ia menjadi pria yang dingin dan pendiam. Amarahnya sering meledak di ruangannya, membuat para pegawai, termasuk sekretarisnya, takut. Untuk melampiaskan rasa sakitnya, ia mulai mencari pelampiasan dengan wanita-wanita bayaran. Hingga akhirnya, ia pun berhasil merayu sekretarisnya untuk menjadi teman tidurnya.
Kembali ke Masa Kini
Joshua tersenyum getir mengingat semua kenangan pahit itu. Setelah merasa cukup berendam, ia mengambil handuk dan melilitkan di pinggangnya.
Keluar dari kamar mandi, ia terkejut melihat sekretarisnya sudah duduk di tepi tempat tidurnya, menunggunya.
"Sayang, sudah lama menunggu? Maaf, aku tidak tahu kalau kamu sudah di sini," ucap Joshua sambil berjalan mendekatinya.
Sekretarisnya tersenyum menggoda. "Tuan, apa kita bisa mulai sekarang?" tanyanya lembut, dengan tatapan penuh hasrat.
Joshua mengangguk pelan. "Langsung saja," balasnya dengan suara berat.
Mendengar persetujuannya, sang sekretaris segera berlutut di hadapan Joshua. Perlahan, ia membuka handuk yang melilit pinggangnya, lalu mulai mencium dan membelai tubuh Joshua dengan penuh gairah.
Joshua hanya bisa merintih, menikmati setiap sentuhan dari sekretarisnya. "Ahhh... kamu memang yang terbaik," gumamnya sambil menekan kepala wanita itu lebih dalam.
Tangannya pun bergerak cepat, meraih dan meremas lembut tubuh seksi di hadapannya, menikmati setiap inci keindahan yang kini menjadi miliknya.
Keesokan harinya, pada malam hari, Jhos pergi ke bar milik sahabatnya, Brian. Jhos menghubunginya untuk datang ke bar tersebut karena Brian memiliki banyak sekali minuman merek baru. Merasa penasaran, Jhos pun langsung pergi ke sana.
Saat Jhos berjalan masuk ke dalam bar, semua pengunjung langsung memperhatikannya. Namun, Jhos tidak mempedulikan mereka dan terus berjalan dengan langkah dingin, ditemani oleh dua bodyguardnya. Sesampainya di sana, Brian langsung menyambutnya dengan ramah.
“Halo Jhos, selamat datang di bar kebanggaanku. Silakan masuk, aku sudah menyiapkan kamar untukmu. Di sana ada Farhan dan Zidan,” sambut Brian.
Jhos hanya mengangguk ringan dan mengikuti Brian menuju kamar yang dimaksud. Di dalam kamar itu, terlihat kedua temannya, Farhan dan Zidan, sedang bersenang-senang dengan dua wanita. Melihat kedatangan Jhos, mereka langsung menyapanya.
“Wih, ada bos kita nih! Apa kabar, Jhos?” sapa mereka sambil bercanda dan masih sibuk dengan wanita di pangkuan mereka.
“Bisa gak kalian hentikan dulu aktivitas kalian? Saya jijik melihatnya,” ucap Jhos dengan nada dingin sambil berjalan menuju sofa kosong.
“Yaelah, seperti kau tidak pernah saja. Kau tidak bisa ya, melihat sahabatmu sedang bersenang-senang sebentar?” jawab Zidan santai sambil terus bermain dengan wanita itu.
Jhos tidak memperdulikan mereka dan langsung menuangkan anggur yang sudah disediakan untuknya.
Di kamar sebelah, seorang gadis bernama Nisa sedang menemani seorang CEO tampan bernama Jonson. Nisa sebenarnya sangat enggan berada di sana, namun karena dia membutuhkan biaya untuk kuliahnya yang belum terbayar, dia terpaksa melakukannya.
“Sayang, mendekatlah,” panggil Jonson dengan suara manja.
Mendengar panggilan itu, Nisa langsung mendekatinya dengan perasaan takut dan tidak nyaman. Jonson yang sudah terangsang menatap tubuh Nisa, terutama dadanya yang besar, langsung merasa nafsunya meningkat. Tanpa pikir panjang, dia menarik tubuh Nisa dan menindihnya di atas sofa.
“Apa yang kau lakukan?! Lepaskan aku!” teriak Nisa, terkejut dengan tindakan Jonson yang tiba-tiba.
“Tenang sayang, aku hanya ingin bersenang-senang dengan tubuhmu,” jawab Jonson sambil mulai menciumi lehernya.
“Lepaskan aku! Aku tidak mau!” teriak Nisa panik, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Jonson.
Namun, Jonson tidak peduli dan semakin agresif. “Percuma kamu berteriak, sayang. Di sini, teriakan seperti itu hanya akan dianggap sebagai kenikmatan.” Jonson mulai merobek baju Nisa hingga bra-nya terlihat.
Nisa yang ketakutan mulai mencari cara untuk melawan. Melihat botol anggur di dekatnya, dia langsung mengambilnya dan menghantamkan ke kepala Jonson. “Ting!” terdengar suara botol pecah, dan Nisa langsung berlari keluar kamar.
Jonson yang kesakitan langsung berteriak kepada anak buahnya, “Tangkap dia!”
Nisa berlari secepat mungkin, namun dua anak buah Jonson menghadangnya di lorong.
“Haha, mau lari ke mana kamu, cantik? Ayo kembali ke kamar, bos kami pasti akan puas denganmu,” kata mereka sambil tertawa.
Nisa panik, dia melihat pintu kamar yang terbuka di belakangnya dan langsung masuk ke dalam. Namun, dia langsung ditarik oleh anak buah Jonson yang mengejarnya.
“Lepaskan aku! Aku tidak mau! Tolong!” teriak Nisa ketakutan dan mulai menangis.
Kebetulan, di dalam kamar itu, Jhos sedang menikmati minumannya sambil merokok. Melihat seorang gadis masuk dengan wajah panik dan ketakutan, serta dua pria mengejarnya, Jhos langsung berdiri.
“Lepaskan,” ucap Jhos dengan nada dingin dan santai.
Kedua pria itu menatap Jhos dengan penuh kebingungan. “Hei bos, jangan ikut campur kalau tidak mau menyesal,” ucap salah satu dari mereka dengan angkuh.
Tanpa pikir panjang, Jhos langsung menghajar mereka dengan pukulan keras. “Buk! Buk!” terdengar suara pukulan bertubi-tubi.
“Jangan berani-berani berbicara seperti itu padaku!” ucap Jhos dingin, lalu menendang kepala mereka hingga pingsan.
Farhan dan Zidan yang melihat kejadian itu hanya bisa melongo, sedangkan Nisa yang merasa dirinya sudah diselamatkan langsung berhambur memeluk tubuh Jhos.
“Terima kasih, paman! Terima kasih,” ungkap Nisa sambil menangis di pelukan Jhos.
Jhos terkejut merasakan dada Nisa yang menempel di tubuhnya. Dia merasa tubuhnya mulai panas karena sensasi itu.
“Kenapa gadis ini memiliki dada sebesar ini? Pantas saja mereka ingin memperkosanya. Tapi, kenapa dia bisa berada di sini?” gumam Jhos dalam hati sambil berusaha mengendalikan pikirannya.
“Sekarang kamu sudah aman, gadis bodoh. Ayo ikut aku, aku antar kau pulang,” ucap Jhos dingin setelah berhasil mengendalikan dirinya.
Mendengar ajakan Jhos, Nisa langsung mengikuti langkahnya keluar kamar.
Farhan dan Zidan yang masih terkejut melihat Jhos pergi hanya bisa berkomentar, “Hei Jhos, kenapa cepat sekali pergi?”
“Aku ada urusan, aku pergi dulu,” jawab Jhos dengan nada dingin sambil berjalan pergi.
Di depan mobilnya, Jhos menyuruh Nisa masuk. Awalnya Nisa ragu, namun melihat wajah tampan Jhos yang telah menolongnya, dia akhirnya masuk ke dalam mobil.
“Paman, kita mau ke mana?” tanya Nisa dengan nada ragu.
“Temani saya makan dulu. Setelah itu, aku antar kamu pulang,” jawab Jhos singkat.
Nisa pun hanya mengangguk dan mengikuti arahan Jhos.
