Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

11. Diseret Keluar

Firas kembali fokus menatap layar ponselnya mendengar pertanyaan Anggi. Ia penasaran jawaban apa yang akan ia dengar dari mulut Prita.

"Perasaan lo sama Om Firas gimana, Ta?" tanya Anggi.

"Gue ngga ada perasaan apa-apa, Nggi, tapi ngga tau nanti," sahut Prita tidak berpikir apa yang akan terjadi pada perasaannya nanti.

"Emang lo ngga ada gelenyar-gelenyar aneh gitu pas deket-deket sama Om Firas. Secara dia 'kan ganteng. Dulu aja pas pertama lo liat Pak Irsyad lo bilang gitu," tanya Anggi penasaran.

"Ngga ada, Anggi. Om Firas sama Pak Irsyad itu beda," sahut Prita membeda-bedakan.

"Apa bedanya? 'Kan dia sama-sama ganteng?" tanya Anggi lagi. Ia paling menyukai laki-laki dengan paras tampan.

Firas terkejut mendengar jawaban Prita. Mata dan telinganya terbuka lebar penasaran dengan jawaban apa yang akan keluar dari mulut Prita.

"Cih! Apanya yang beda? Paling ngga ada apa-apanya dibandingkan denganku," cibir Firas menatap layar ponselnya.

"Bedanya itu di saat pertama kali gue ketemu sama mereka berdua. Kalo aja posisi mereka dibalik. Pak Irsyad di posisi Om Firas dan Om Firas di posisi Pak Irsyad. Mungkin orang yang bakal gue sukai itu Om Firas bukan Pak Irsyad" jelas Prita menerawang pertemuan pertamanya dengan Firasdan Irsyad.

"Emang pertemuan pertama lo sama Om Firas kaya gimana?" tanya Anggi penasaran.

"Ya gitu, gue dipaksa nikah sama dia. Sedangkan waktu ketemu pak Irsyad--" sahut Prita menerawang ke masa lalunya ketika pertama kali bertemu dengan Pak Irsyad.

Ia menyangga dagunya dengan kedua tangannya. Kemudian, ia mulai mengingat betapa tampannya Pak Irsyad waktu itu.

***

Waktu itu, Prita terlambat berangkat ke sekolah. Ketika ia sedang berlari karena terburu-buru. Tiba-tiba, seseorang muncul di depannya. Kemudian ia menabrak seseorang itu hingga jatuh tersungkur. Hampir saja bibir mereka bersentuhan.

Prita menatap wajah tampan seseorang itu tanpa berkedip. Hingga membuat seseorang itu menjadi risih. Sementara posisi mereka berdua, seseorang itu dengan posisi terlentang dan Prita yang berada di atasnya. Membuat seseorang itu tidak nyaman. Ia mengayunkan tangannya di depan wajah Prita agar Prita tersadar dan bangkit dari posisinya.

"Maaf, maaf aku ngga sengaja." Prita bergegas bangkit dan meninggalkan seseorang itu.

Kemudian, ketika ia sampai di kelas dan baru saja duduk. Wali kelas datang dengan sosok seseorang yang ia tabrak tadi. Wali kelas memperkenalkan seseorang itu sebagai guru bahasa Inggris yang baru. Dan seseorang itu bernama Irsyad Bernal. Seketika, Prita merasakan gelenyar aneh di hatinya. Itulah saat pertama Prita jatuh cinta pada Pak Irsyad.

***

"Woy! Lagi mikirin apa lo senyam-senyum sendiri? Pasti lagi mikirin Pak Irsyad, yah?" kata Anggi.

Pertanyaan Anggi sontak membuat Firas penasaran. Apalagi dengan melihat wajah Prita yang bersemu merah.

Firas tidak bisa konsentrasi dalam bekerja. Ia sibuk memikirkan Prita yang mungkin masih memiliki perasaan terhadap Pak Irsyad. Apalagi mengingat wajahnya yang memerah ketika Anggi membahas masalah pria itu.

Karena tidak bisa fokus, akhirnya Firas memutuskan untuk pulang ke rumah dan memang hari ini tidak ada pekerjaan penting di perusahaan.

Ia menghubungi Prita, menanyakan apakah Anggi masih ada di rumah. Karena ia berencana untuk mengajak mereka berdua jalan-jalan. Sekaligus menggantikan hari, di mana acara berbelanja Prita yang gagal karena ulahnya waktu itu.

[Halo. Anggi masih ada di rumah ngga, Ta?]

[Masih. Kenapa Om?] Di balik telepon, Prita sedang mengernyitkan dahinya karena penasaran.

[Kamu jadi belanja baju ngga? Kalo mau, sebentar lagi aku pulang. Sekalian ajak Anggi belanja biar kamu ada temen. Jadi 'kan enak kalo rame.]

[Wah, boleh tuh. Ya udah, Om Firas buruan pulangnya. Biar aku sama Anggi siap-siap dulu. 'Kan pas tuh, Om Firas sampe rumah aku sama Anggi udah rapi.]

[Oke. Sekarang aku jalan pulang, yah]

[Om Firas ati-ati. Jangan lupa siapin duit yang banyak buat kita belanja. Aku ngga mau loh yah diseret keluar gara-gara ngga punya duit.]

[Tenang aja. Mau kamu belanja seisi mall juga duit aku ngga akan berkurang.]

[Mulai nih sombongnya. Udah ah aku mau mandi.]

[Mandi bareng aja, yuk. Mau ngga?]

[Ogah. Dasar om-om mesum.] Prita mematikan teleponnya. Sedangkan Firas hanya tersenyum mengingat kata-kata yang ia ucapkan barusan.

Ia bergegas merapikan berkas yang ada di meja. Kemudian, ia langsung menuju basement dan melajukan mobilnya pulang ke rumah.

Firas tidak tahu dengan rencananya mengajak Prita dan Anggi jalan-jalan, akan menimbulkan suatu masalah bagi Prita.

Sampai di rumah, Prita dan Anggi sudah menunggunya di depan pintu. Firas bergegas membukakan pintu mobil agar Prita dan Anggi cepat-cepat masuk ke dalam. Setelah itu, ia menginjak pedal gas dan melintasi padatnya jalanan sore hari.

"Om Firas jam segini ngajak jalan emang kerjaannya udah selese?" tanya Prita.

"Hehehe, udah," sahut Firas tersenyum kikuk.

Padahal ia tidak bisa fokus bekerja karena memikirkan Prita dan Pak Irsyad.

"Oh gitu," sahut Prita mengangguk-anggukkan kepalanya.

Prita menoleh ke belakang dan mengedipkan sebelah matanya pada Anggi. Entah rencana apa yang sudah mereka siapkan.

"Om! Beliin aku baju juga, yah?" kata Anggi mengerjap-erjapkan matanya.

"Iyah, Anggi. Kamu boleh ambil apa aja yang kamu suka," sahut Firas mengulas senyuman.

"Iyah, Nggi. Om Firas ini 'kan horang kaya. Mau beli sebanyak apa pun, ngga bakal bisa buat uangnya berkurang. Ya ngga, Om?" timpal Prita tersenyum menyeringai.

Sepertinya Prita dan Anggi sudah bersekongkol untuk menghambur-hamburkan uang Firas. Tapi sayangnya, sebanyak apa pun Prita mencoba menghamburkan. Uang Firas tidak akan pernah habis.

Mendengar ucapan Prita, Firas hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia sudah paham bagaimana tabiat istri kecilnya itu. Yah, walaupun baru beberapa hari mengenalnya.

Empat puluh lima menit berlalu, mereka sudah sampai di sebuah departemen store milik Firas. Semua kalangan, dari kelas menengah ke atas dan menengah ke bawah memenuhi area departemen store.

Prita dan Anggi sangat antusias hingga melupakan Firas yang ada di sampingnya. Mereka berdua sibuk mencoba baju, tas, sepatu, hingga aksesoris. Firas tersenyum menatap Prita yang tidak ada habisnya tertawa.

"Ada apa denganku? Kenapa rasanya aku pernah mengalami hal semacam ini?" Firas menyentuh dadanya yang berdetak kencang.

Kemudian, ia kembali memperhatikan Prita yang sedang sibuk di depan cermin. Tiba-tiba ia melihat Prita berjalan mendekat ke arahnya.

"Menurut Om Firas bagusan yang mana? Yang ini apa yang ini?" tanya Prita sambil menunjukkan dress berwarna pink dan biru langit yang ada di kedua tangannya.

Firas nampak berpikir dengan tangan kiri yang ia lipat di dada. Dan tangan kanan yang menyentuh dagunya. "Dua-duanya bagus, kok. Kamu ambil aja semuanya," sahut Firas.

Ia merasa apa pun yang Prita pakai akan terlihat bagus di tubuhnya. Karena memang Prita terlahir dengan wajah yang cantik dan tubuh yang indah.

"Bener nih, Om?" tanya Prita memastikan.

"Iyah," sahut Firas tersenyum sambil mengangguk.

"Makasih Om," kata Prita melompat mengalungkan tangannya di leher Firas kemudian ia mengecup pipi Firas singkat.

Prita tidak sadar dengan apa yang telah ia lakukan. Ia juga tidak sadar bahwa musuh di sekolahnya telah melihat adegan yang ia buat bersama Firas.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel