Bab 1
Fitria, seorang gadis kampung yang masih berumur 18 tahun. memiliki tubuh yang mungil, mata bulat dan rambut panjang ikal terurai indah, kulit kuning langsat, dengan senyum yang indah, ditambah lesung pipi yang menambah kecantikannya.
Dipagi yang dingin dan berembun, kicau burung yang merdu membangunkanku.
Aku masih ingin menikmati empuknya kasurku, tetapi semua buyar ketika teriakan Mona menggema ditelingaku. Mona adalah ibuku.
"Fitria!! Bangun Nak! ada kabar bagus untukmu!"
Masih dalam mengumpulkan nyawa, aku bertanya dengan penasaran, tetapi tidak mendapatkan jawaban mengenai kabar bahagia itu. Ibu memberiku syarat, aku harus melakukan semua rutinitas pagiku dari mandi dan lainnya. Karena katanya nanti tidak akan ada yang menyukaiku karena jorok dan bau. Padahal kalaupun seperti ini, tetap akan ada yang menyukaiku, Toh aku cantik.
Ibu selalu saja membahas tentang jodoh dan perkawinan, seolah aku udah mau nikah aja. Aku kan belum mau nikah dengan siapapun saat ini.
Selesai melakukan rutinitas, aku kemeja makan untuk sarapan dengan semuanya sebelum kabar bahagia itu aku dengar.
"Tia, tadi paman Adi telpon ibu, paman kasih tau ibu kalau Tia lulus di Universitas Handayani."
Universitas Handayani adalah Universitas yang di impikan banyak remaja, yang baru akan memasuki bangku perkuliahan. Universitas Handayani memiliki dosen yang hebat dan sudah di akui lulusannya berkualitas, bekerja di dalam bahkan diluar Negeri juga Sarana dan Prasarana yang lengkap.
"Beneran Bu!? Ibu nggak becanda kan?" tanyaku sedikit kaget, antara percaya dan tidak dengan ucapan ibu.
"Iya sayang. Tia lulus berkat kerja keras Tia selama ini. Jadi gak sia-sia kan perjuangan Tia? " jawab ibu dengan senyum kebanggaan.
"Alhamdulillah, Tia senang banget Bu. Tia sudah tidak sabar ingin pergi ke kampus," ucap riangku sambil memeluk ibuku.
Aku senang sekali bisa masuk ke Universitas Handayani, bisa meraih impianku. membanggakan ayah dan ibu,'batin ku bahagia.
"Jadi Tia pengen cepat-cepat ninggalin ayah sama ibu?" ucap Nedi (ayah Tia) dengan wajah yang tidak bisa ditebak antara sedih dan bahagia.
"Bukan gitu yah, kampus itukan kampus impian Tia, masuknya juga susah, tapi Tia berhasil. Tia bersyukur sekali, " jelas ku pada ayah, ayah merasa sedih karena harus ditinggal anak semata wayangnya.
"Iya, Ayah cuma becanda Tia sayang," ucap ayah dengan senyum ikhlas tapi tak rela, terlihat dari raut wajahnya yang belum siap untuk melepaskan.
Pagi itupun menjadi pagi yang bahagia tetapi juga sedih, dan suasana haru terus berlanjut sampai akhirnya mereka bertiga berpelukan.
'Sebentar lagi aku akan pergi mengejar impianku. Entah kapan lagi aku bisa memeluk mereka seperti ini.' batinku
****
Tia mempersiapkan semua perlengkapannya.
Saatnya Tia untuk pergi.
Pamit haru, bahagia dan sedih bercampur aduk.
Serasa waktu sangatlah singkat, sekarang tiba waktunya aku berangkat, jam sudah menunjukkan pukul 04:05.
'aku harus cepat, sebentar lagi Bus akan datang.'Tia bicara sendiri sembari bergegas menyiapkan barang bawaannya.
Jarak rumah Tia menuju kampus lumayan jauh, bisa menghabiskan waktu sekitar 7 jam perjalanan. jadi Tia sengaja berangkat subuh agar ia sampai dikampus tepat pada waktunya. Tidak terlalu siang.
Aku langsung berpamitan dan tangis kami pecah tak terkecuali Ayah, yang terlihat tidak rela. Tetapi Tia harus tetap pergi demi menempuh pendidikannya dan membanggakan orang tuanya.
Mobil mulai meninggalkan kampung halamanku, tanpa sadar air mataku terus jatuh membasahi pipi. Aku tidak tahu kehidupan baru seperti apa yang akan aku jalani nantinya.
Ternyata,sejak tadi ada sepasang mata yang tengah asik memperhatikanku, bagaikan menonton sinetron.
'dasar orang aneh,' umpatku dalam hati ketika melihatnya memperhatikanku.
"Kasian, bajumu basah!" ucapnya dengan nada mengejek.
'Pura-pura ngak dengar aja deh' batinku tidak peduli.
"Woii!!" Lelaki itu mencolek tanganku.
"Apaan sih?" celetuk ku jengkel.
Bagiku, tidak penting meladeni orang seperti itu.
"Yang sopan dong, jangan asal colek aja!!" tegas ku dengan wajah datar.
"Maaf, cuma ngasih tau, bajumu basah!" ucapnya tanpa rasa bersalah.
"Basah bisa kering lagi, yang punya baju aku, kenapa kamu yang sibuk? " balas ku ketus karena merasa kesal.
"hahhahahhaaa." lelaki itu tertawa dengan puasnya.
Entah apa yang lucu, apa mungkin selera humornya yang bermasalah? cowok aneh! ucap ku sedikit berbisik
"Kamu lucu juga ya," ucap lelaki itu terus tertawa.
"orang lagi sedih, kok lucu? " ketusku.
"Iya, iya maaf, boleh kenalan nggak?"
Aku memandang lelaki itu dengan seksama.
"Bilang aja daritadi kalo kamu mau kenalan, ngapain pake basa basi, sok-sok bilang bajuku basah! " Aku dengan kepedeanku.
"Namaku Azis, kamu?"
"Fitria, biasa dipanggil Tia, " balasku seadanya.
"Ke kota ngapain?"
"kuliah."
"Sama berarti, kamu kuliah dimana? siapa tau kita jodoh, hehe. "
"Apaan sih. "
"Sama maksudnya. "
"Universitas Handayani," ucap ku lagi.
"Tuh kan kita jodoh lagi," goda Azis
"Seneng banget ya?"
"Iya dong istriku."
"Apaan sih!"
"Becanda."
Pertemuan singkat itu membuatku merasa akrab, seperti sudah mengenal azis sejak lama.
dia orang yang lucu dan bisa membuat nyaman. Tidak terasa kami sudah sampai tujuan. Azis orangnya humoris, enak di ajak ngobrol. Azis jadi teman pertamaku di kampus, azis pria manis, kulit sawo matang dan tubuh ideal, kalo dilihat-lihat kayaknya playboy cap gayung juga, hehehe, gumamku cekikikan
