Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

RYAN EMOSI

Ryan memandang dua orang petugas keamanan itu dengan santai dan tidak ada rasa takut sama sekali. “Mau apa kalian? Apa kalian akan mengusirku dari sini? Kalau kalian sampai berani menyentuh tubuhku akan kubuat kalian menderita di jalanan dan tidak akan ada seorang pun yang menerima kalian bekerja!”

Dirinya diam sebentar menunggu reaksi dari kedua orang petugas keamanan tersebut. “Bagus! Kalian memahami apa yang kukatakan. Pemilik kelab malam ini saudara sepupuku, katakan kepadanya kalau Ryan merasa kecewa dengan pelayanan yang ada!”

Usai mengatakan hal itu Ryan berjalan keluar dari ruang VIP tersebut. Petugas keamanan yang tadi terlihat garang, membiarkan saja Ryan melewati mereka.

Keduanya memang teringat dengan wajah Ryan. Dan mereka memang mengenalinya sebagai saudara dari pemilik kelab malam ini.

Daripada bermasalah dengan sepupu bos, lebih baik mereka bersikap cuek saja. Toh, wanita yang tadi menjerit itu tidak mengalami luka sedikitpun juga dan pakaian, serta penampilannya pun tidak berantakkan.

Begitu berada di luar Ryan berjalan menuju parkiran dan sopir pribadinya dengan sigap membukakan pintu untuk dirinya. Begitu sudah duduk dengan nyaman di dalam mobil, mobil pun meluncur menuju jalanan.

“Antarkan saya ke apartemen sekretaris saya tadi!” perintah Ryan kepada sopir pribadinya. Dan dijawab anggukan kepala oleh sopir tersebut.

Ryan membayangkan wajah terkejut Karin, ketika melihat kedatangannya nanti.

Dan ia tidak peduli, kalau kedatangannya membangunkan Karin dari tidurnya.

Mobil pun berhenti di basement apartemen Karin, sebelum keluar dari dalam mobil. Ryan memerintahkan kepada sopirnya untuk pergi saja.

Keluar dari dalam mobil Ryan berjalan memasuki gedung apartemen Karin. Dan meskipun ia tidak mengantarkan Karin sampai ke apartemennya. Ia mengetahui di mana tepatnya Karin tinggal.

Sesampainya ia di depan pintu apartemen Karin di tekannya bel pintu secara berulangkali, dengan tidak sabaran.

Karin yang sudah tidur menjadi terbangun, karena suara berisik yang berasal dari bel pintunya. “Siapa yang malam-malam begini? Mana tidak sabaran!” omel Karin bicara sendiri.

Ia tidak langsung membuka pintu, melainkan diintipnya terlebih dahulu melalui lubang pengaman yang ada pada pintu. Begitu melihat siapa orangnya yang berdiri di depan pintu apartemen. Mata Karin melotot tidak percaya.

“Mau apa pak Ryan malam-malam ke sini?” batin Karin.

Dilepaskannya rantai pengaman pada pintu, lalu diputarnya kunci pintu apartemen. Dibukanya sedikit pintu tersebut dan ia melongokka kepalanya ke balik pintu.

“Ada apa, Bapak datang ke sini malam-malam?” tanya Karin.

“Buka pintunya, Karin! Dan biarkan saya masuk!” perintah Ryan.

“Ini apartemen saya dan hari sudah larut malam. Terserah saya, siapa yang boleh bertamu ke apartemen saya!” sahut Karin.

Mata Ryan menyorot tajam Karin. “Kamu berani menolak saya masuk ke apartemenmu?”

Mengetahui, kalau bosnya menjadi marah, setelah mendengar penuturannya. Karin pun melunak. “Maaf, Pak! Saya bukannya bermaksud tidak sopan, hanya saja saya sudah lelah sekali untuk menerima tamu. Saya ingin beristirahat!”

“Buka pintunya! Dan biarkan saya masuk Karin, atau tetanggamu keluar apartemen untuk mengetahui apa yang terjadi?” ancam Ryan.

Dengan berat hati dan rasa terpaksa. Karin pun membuka lebar pintu apartemennya dan membiarkan Ryan untuk masuk.

Tanpa dipersilakan oleh Karin, Ryan bersikap seakan dirinya sudah terbiasa bertandang ke apartemen tersebut. Ia duduk dengan nyamannya merebahkan badan di sofa ruang tamu Karin.

Melihatnya Karin menjadi tidak habis pikir, dengan apa yang dilakukan oleh bosnya itu. “Kenapa Bapak justru rebahan di ruang tamu saya? Bapak tidak sopan sekali!”

“Diamlah, Karin! Kepalaku sedang sakit dan aku mau tidur. Bangunkan aku pagi-pagi, sekali. Dan kuperingatkan kepadamu, untuk mengunci pintu kamarmu, karena aku tidak bertanggung jawab, dengan apa yang kulakukan, kalau kamu tidak menguncinya!”

Karin melongo tidak percaya, dengan mulut yang terbuka. Ia tahu, kalau bosnya sudah tidak bisa dibantah lagi, dengan apa yang sudah menjadi keputusannya.

Begitu masuk ke dalam kamar, Karin dengan cepat menutup pintu dan tidak lupa menguncinya. Berada di atas tempat tidurnya kembali kantuk tidak juga kembali hadir.

Diambilnya buku dan mulai membaca, agar kantuk kembali hadir. Lama kelamaan ia pun tidak tahan lagi, untuk membuka matanya.

Dimatikannya lampu dan ia pun tidur tanpa cahaya. Karin memejamkan mata, lalu ia tidur dengan nyenyak.

Tidur Karin kembali diganggu dengan suara ketukan berulangkali di depan pintu kamarnya.

‘Ya, Tuhan! Apa lagi mau pria itu? Kalau aku bangun kesiangan besok dan terlambat masuk kerja. Ia pasti akan memarahiku lagi!’ gerutu Karin dalam hati.

“Ada, apa Pak? Saya mengantuk dan saya baru saja bisa memejamkan mata,” sahut Karin dari balik pintu yang tertutup.

Dalam hatinya Karin menambahkan, kalau kehadiran Ryan di apartemennya hanya mengganggu saja.

“Karin, aku tidak bisa tidur! Sofa itu terlalu sempit dan pendek untuk tubuhku! Ijinkan aku tidur di ranjangmu, aku janji hanya akan memelukmu saja dan tidak akan melakukan yang lainnya!” bujuk Ryan.

“Oh, Tidak! Kesalahan ada pada Bapak, yang datang secara tiba-tiba di apartemen saya. Bapak bisa pulang saja dan kembali ke tempar tidur Bapak yang nyaman dan empuk!” sahut Karin.

“Iya, Karin! Aku maunya kamu yang menemaniku tidur. Kesalahan ada pada dirimu, yang membuatku tidak bisa melupakan daya tarik dan pesonamu!” jawab Ryan.

Karin menepuk pelan keningnya dan ditariknya napas lalu dihembuskannya dengan kuat. ‘Kalau begini terus, alamat lama aku baru bisa tidur,’ batin Karin.

Dengan malas-malasan Karin pun turun dari atas tempat tidur dan berjalan ke arah pintu kamarnya. Diputar anak kunci, yang menempel di lubang kunci. Dibukanya pintu lebar-lebar.

Karin disambut wajah lelah Ryan dan mulut yang menguap, sebelum Karin sempat mencegah. Ryan sudah masuk saja ke dalam kamarnya dan merebahkan diri di atas tempat tidur Karin.

Melihat Karin yang hanya berdiri diam di depan pintu dan memberikan tatapan tidak suka kepadanya. Ryan hanya mengedikkan bahunya saja.

“Pilihan ada padamu, Karin! Apakah kamu akan tidur bersamaku? Ataukah kamu lebih memilih keluar dari kamar ini dan melewatkan kesempatan berharga tidur dalam pelukanku!”

“Hah! Kesempatan berharga? Saya lebih memilih untuk melewatkannya, Pak!” sahut Karin.

Ia pun berjalan menuju lemari pakaian yang besar dan mengambil selimut bersih, juga bantal cadangan. Ia lalu keluar dari dalam kamarnya dan berjalan menuju sofa.

Dibaringkannya badannya di sofa tersebut. ‘Kenapa juga, aku yang harus terusir dari kamarku sendiri? Benar-benar hebat bos ku,’ gerutu Karin. Dengan mudahnya Karin pun tertidur.

Begitupun dengan Ryan, ia juga tidur. Menjelang subuh Ryan terbangun dari tidurnya, untuk menuntaskan kegiatan alamiahnya. Setelah selesai ia berjalan keluar dari dalam kamar Karin.

Sesampainya ia di tempat Karin sedang tidur diperhatikannya wanita itu. ‘Damai sekali ia tidurnya! Ketika tidur tanpa mengenakan make up pun ia tetap terlihat cantik,’ gumam Ryan.

Dibopongnya Karin ke arah kamar. Ryan berhenti sebentar ketika Ryan bergerak gelisah dalam tidurnya. Namun, begitu dirasanya Karin sudah tenang kembali Ryan pun melanjutkan langkahnya.

Ia membaringkan Karin di atas tempat tidur, setelahnya ia menyusul Karin dengan berbaring di samping wanita itu.

“Kau pasti lebih menyukai tidur dalam pelukanku,” ucap Ryan pelan.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel