Part 7
Pagi ini Kano dan Sheva sudah bersiap-siap untuk pergi ke rumah baru mereka. Semalam, Sheva sudah membereskan semua baju miliknya dan juga baju milik suaminya, sehingga pagi ini ia tidak kerepotan untuk mempersiapkannya lagi.
"Masuk." Kano membukakan pintu mobil untuk Sheva, dan Sheva pun dengan senang hati langsung memasuki mobil Kano. Sedangkan Kano, lelaki itu berjalan memutari mobilnya lalu masuk melalui pintu kemudi.
Dengan perlahan mobil yang dikendarai oleh Kano keluar dari area parkiran apartemen. Beruntung jalanan tidak begitu macet pagi ini, jadi mereka bisa lebih cepat sampai di rumah baru mereka.
"Papa udah kirim alamatnya?" Tanya Sheva.
Kano mengangguk, tanpa menoleh kearah Sheva.
"Dari apartemen kamu apa masih jauh lagi?"
Kano mengangguk kembali.
"Jawab dong No, masa cuma ngangguk-ngangguk doang."
"Hm."
"Sekali nya jawab, pasti singkat." Gumam Sheva, yang malah masih bisa terdengar oleh Kano.
"No, berhenti deh di depan sana." Kano mengikuti arah tunjuk Sheva, yang ternyata menunjuk sebuah toko...penjual kelinci?
"Ngapain?"
"Itu kelinci nya kayaknya lucu, aku mau liat No. Please berhenti didepan sana."
Astaga. Jangan bilang jika nanti Sheva akan membeli kelinci itu? Perasaan Kano seketika menjadi tidak enak. Kano meramalkan do'a dalam hati, berharap bahwa Sheva tidak akan membeli kelinci itu.
"Ga."
"No, please.."
"Ga."
"No, hiks,, please.."
Kano refleks menoleh ke samping, dan mendapati Sheva yang sudah meneteskan air matanya. Kenapa wanita itu jadi sensitif begini?
"Huft.. Oke!"
"Yeyyy makasih. Ayo cepet pinggirin mobilnya." Kata Sheva sambil menghapus air matanya.
Sementara Kano hanya mampu enggelengkan kepalanya melihat sifat Sheva yang menurut nya sangat kekanak-kanakan.
"Ayo No turun." Sheva dengan cepat membuka pintu mobil Kano dan berjalan dengan terburu-buru menghampiri toko tersebut.
Kano seketika melongo. Ia ditinggalkan?
Kano pun dengan malas keluar dari mobilnya lalu menyusul Sheva memasuki toko.
"Mas! Itu, aku mau liat yang warna putih." Sheva menunjuk kelinci berwarna putih yang masih berada didalam kandang.
Penjual kelinci itu mengangguk menuruti kemauan Sheva. Ia pun mengambil kelinci itu, lalu memberikannya pada Sheva.
Sheva berlari kearah Kano yang tengah berdiri di ambang pintu sambil menggendong kelinci itu.
"Kano!"
Kano sontak menoleh ketika ia mendengar suara Sheva memanggil namanya. Matanya langsungmengarah pada seekor binatang berwarna putih yang berada ditangan Sheva.
"Liat deh, kelinci nya lucu kan?" Sheva mengangkat kelinci itu, tepat didepan wajah Kano. Dan Kano, dengan refleks ia pun langsung memalingkan wajah nya.
"Jauhin!"
"Ih, kenapa No? Kan lucu tau." Sheva pun menurunkan kembali kelinci itu. Tangannya mengelus kepala kelinci itu dengan sayang.
"Kamu takut sama kelinci?" Tanya Sheva sambil memicingkan matanya kearah Kano.
"Ga! Balikin sana."
"Ih orang aku mau beli. Ya ya ya beliin ya.."
Kano membulat matanya. Sudah ia duga, pasti Sheva akan meminta ia untuk membelikan kelinci itu.
"Ga! Balikin sekarang."
"Kano, please.. Aku mau rawat dia No.."
"Gue bilang ga."
"Kan-"
"BALIKIN!"
Mata Sheva mulai berkaca-kaca ketika Kano membentak nya. Ia pun membalikkan tubuhnya, dan berjalan lemas untuk memberikan kelinci itu kepada pemiliknya.
Sheva berjalan keluar melewati Kano. Ia tidak masuk kedalam mobil Kano, melainkan berjalan menyusuri jalanan sambil berurai air mata.
Kano sendiri yang melihat itu hanya mampu menggeram kesal. Apa mungkin ini hormon ibu hamil? Dan apa mungkin Sheva sedang ngidam?
Kano berlari menghampiri Sheva yang sudah berjalan lumayan jauh. Dengan cepat ia mencekal tangan Sheva ketika tubuhnya dan tubuh Sheva sudah dalam jarak yang cukup dekat.
"Lepas!"
Sheva meronta, meminta untuk segera dilepaskan.
"Kita pulang."
"Engga! Aku mau pulang sendiri!"
"Tau alamatnya?"
Damn!
Pertanyaan Kano, mampu membuat Sheva bungkam.
"Pulang." Kano menarik tangan Sheva pelan.
"AKU BILANG ENGGA! KAMU JAHAT NO! AKU MINTA KELINCI, ITU KARENA KEMAUAN ANAK KAMU! ANAK KAMU YANG MINTA hiks.." Sheva menghempaskan tangan Kano. Ia tidak memperdulikan semua orang yang kini tengah melihat kearah nya dan juga Kano.
Kano diam, menatap Sheva yang menunduk dengan punggung bergetar hebat. Ia mendekati Sheva lalu mendekap tubuhnya erat.
"Hiks..Hiks.. lepas!"
"Kita beli."
"Engga!"
Kano melonggarkan pelukannya kemudian menatap Sheva.
"Hapus air mata lo, kita beli kelinci itu."
Sheva menghapus airmatanya. Bibirnya, perlahan menyunggingkan sebuah senyuman.
"Bener?" Tanya nya memastikan.
Kano hanya mengangguk sambil menghela nafas.
"Ayo!" Sheva menarik tangan Kano dengan bersemangat. Mereka berdua berjalan kembali menuju toko penjual kelinci itu.
-----
Kano memberhentikan mobilnya di sebuah halaman luas rumah baru nya. Ia dan Sheva baru saja sampai dirumah baru mereka.
Kano menoleh ke samping dan mendapati Sheva yang sudah tertidur dengan kepala miring menghadap kaca mobil. Mungkin, Sheva kelelahan akibat perjalanan yang cukup jauh.
Tok!Tok!
Kano tersadar, dan langsung menoleh ke kaca mobilnya yang diketuk oleh seseorang. Ia pun menurunkan kaca mobilnya.
"Maaf den, saya pak Adi tukang kebun di rumah ini. Apa aden, den Kano putra bapak Dafa?"
Kano mengangguk.
Kemudian Tatapan pak Adi mengarah pada seorang wanita disamping Kano yang tengah tertidur.
"Apa itu, istri den Kano?"
Kano mengangguk lagi.
"Aden bawa saja istri aden ke dalam. Biar koper bapak yang bawa den."
Kano mengangguk. Ia pun keluar dari mobil lalu memberikan kunci mobilnya pada pak Adi. Sedangkan dirinya berjalan menuju pintu samping kemudi untuk menggendong Sheva membawa nya kedalam.
"makasih pak." Ujar Kano, dengan Sheva yang sudah berada di gendongan nya.
"Sama-sama den."
