Part 6
"shh.." Sheva terbangun. Ia memegangi kepalanya yang terasa sakit, begitupun tubuhnya yang terasa lemas. Pandangannya menyapu seisi kamar mencari keberadaan suaminya, namun tidak ia temukan.
Ceklek!
Mendengar suara pintu kamarnya terbuka, Sheva pun sontak langsung menoleh dan mendapati Kano yang tengah berjalan menghampiri nya dengan tangan yang membawa segelas air putih.
"Minum." Kano memberikan gelas tersebut dan langsung diterima oleh Sheva. Sheva meminum nya perlahan hingga sisa setengah.
Kano mengambil kembali gelas nya, lalu meletakkan gelas tersebut diatas nakas.
"Udah baikan?"
Sheva tersenyum menanggapi pertanyaan Kano. Walaupun terdengar dingin nan cuek, namun Sheva menganggap bahwa pertanyaan ini adalah sebuah perhatian kecil yang Kano berikan.
"U-Hoek..Hoek.." Sheva berlari menuju toilet, saat dirasa perutnya kembali mual.
"Hoek..Hoek.." Sheva sedikit membungkukkan tubuhnya, mengeluarkan sisa cairan dari mulutnya kedalam wastafel. Di belakangnya, sudah ada Kano yang kini tengah membantu Sheva dengan memijat belakang lehernya.
"Udah?"
Sheva mengangguk lemas.
Kano meraih lengan Sheva, membantunya berjalan. Perlahan Kano membaringkan tubuh Sheva diatas tempat tidur.
"Istirahat."
Selepas mengucapkan itu, Kano pun berbalik hendak pergi. Namun, belum sempat ia melahgkah, Sheva lebih dulu memegang tangannya.
"Di sini aja." Ujar Sheva memohon.
Kano tidak bisa menolak. Ia pun mengangguk mengiyakan. Setelahnya, ia duduk ditepi ranjang dengan tangan kanannya yang masih di genggam oleh Sheva.
Sheva sendiri, ia merasa bingung akan sifat Kano yang menurut nya berubah. Bahkan Kano sama sekali tidak menolak ketika ia menggenggam tangannya. Ada apa dengan Kano?
"Lo hamil."
Tubuh Sheva menegang saat telinganya mendengar dua kata yang mampu membuat hatinya berdesir hebat. Kepalanya perlahan mendongak, menatap Kano yang tengah menatap lurus ke depan.
"Ha-hamil?"
Kano mengangguk singkat.
"Eng-engga mungkin. Ka-kamu pasti bohong kan No?" Sheva menggelengkan kepalanya berulangkali, berharap ini adalah sebuah kebohongan yang Kano ucapkan.
"Ga."
"Eng-ngga mungkin hiks.." Sheva menangis. Pikirannya melayang teringatakan kejadian malam itu bersama Kano.
"Maaf."
"Ta-tapi, aku masih kuliah No. Aku ga mungkin berhenti kuliah hiks.."
"Gue ngerti." Di rengkuh nya tubuh Sheva ke dalam pelukannya. Dengan ragu, Kano mengusap lengan Sheva berusaha menenangkan.
"Lo masih bisa kuliah. Sekarang lo siap-siap."
"Ma-mau kemana?"
"Rumah mama."
Sheva melepas pelukannya, lalu menghapus air matanya.
"Gue tunggu di bawah."
Sheva akhirnya mengangguk. Ia membiarkan Kano pergi sedangkan dirinya tetap di dalam kamar untuk mengganti pakaiannya.
-----
Kano dan Sheva saat ini tengah berada diperjalanan menuju rumah orangtua Kano. Rintik hujan mengiringi perjalanan mereka. Siang tadi sewaktu mereka keluar dari apartemen, langit sudah mulai gelap. Bahkan, gerimis pun sudah mulai turun perlahan.
Sebuah senyuman terukir dibibir Sheva, saat matanya menangkap kedai penjual es-krim yang terletak di pinggir jalan dengan jarak yang cukup lumayan jauh.
"No, aku mau beli itu."
Kano memelankan laju mobilnya, lalu mengikuti arah yang ditunjuk oleh Sheva.
"Ice cream?"
Sheva mengangguk antusias, "Iya! Aku mau beli."
"Hujan."
"No, please. Aku mau.." Sheva menggerak-gerakkan lengan baju kano, dengan tatapan memelas.
"Ga."
"No, ayolah.."
"Oke." Kano teringat akan bayi yang ada dikandungan Sheva. Akhirnya Kano menghembuskan nafas pasrah sebelum menepikan mobilnya, tepat di depan kedai tersebut.
Sheva tersenyum mendengar jawaban Kano. Setelah Kano memberhentikan mobilnya, Sheva pun dengan terburu-buru langsung memegang handle pintu mobil. Namun, belum ia membukanya, Kano lebih dulu mencegahnya.
"Mau kemana?" Tanya Kano.
"Aku mau keluar."
"Lo buta?"
"Hah?"
"Hujan. Gue aja." Kano meraba jok belakang, mencari keberadaan payung disana. Setelah dapat apa yang ia cari, Kano pun segera keluar dari mobil lalu berjalan kearah kedai.
Sheva memainkan ponselnya sambil menunggu kedatangan Kano.
Selang beberapa menit, terdengar suara pintu mobil terbuka dan nampak-lah Kano dengan tangan kanan memegang payung dan tangan kiri memegang plastik berwarna putih.
Kano menyimpan kembali payungnya lalu memberikan plastik berisi es-krim tersebut pada Sheva. Dan Sheva, gadis itu tampak senang menerimanya dari Kano.
"Makasih No."
Kano mengangguk singkat. Setelahnya, ia pun mulai menyalakan kembali mesin mobilnya.
-----
"Assalamualaikum." Ujar Sheva dan Kano bersamaan, saat mereka memasuki rumah Rani dan Dafa.
"Wa'alaikumsalam sayang." Rani menyambut kedatangan putra dan menantunya dengan antusias.
"Ayo-ayo masuk." Lanjut Rani, seraya menggandeng lengan Sheva, membawa nya masuk menuju living room.
"Sudah datang ternyata." Dafa tersenyum hangat pada Sheva dan Kano.
Sheva dan Kano pun berjalan mendekati Dafa, mencium punggung tangannya bergantian.
"Duduk nak duduk."
Sheva mengangguk. Ia dan Kano duduk disatu sofa yang sama, berhadapan dengan Dafa dan Rani.
"Gimana perjalanan nya nak? Macet?" Tanya Rani pada putranya.
"Sedikit." Balas Kano, dan Rani hanya beroh-ria.
"Bener kamu hamil nak?" Dafa menatap menantunya, meminta jawaban.
Sheva mengangguk pelan, kemudian ia menunduk menatap perut nya yang masih rata.
"Papa seneng pas denger kabar dari mama kalo kamu hamil. Sebentar lagi, papa dan mama akan punya cucu."
Sheva dapat melihat jelas kebahagiaan dari wajah kedua mertuanya. Rani dan Dafa saling melempar senyuman seolah menggambarkan rasa bahagia nya melalui sebuah senyuman tersebut.
Dafa mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Dan ternyata, sesuatu itu adalah sebuah kunci. Dafa meraih tangan Kano, menaruh kunci tersebut ditangan putranya.
"Ini hadiah dari papa."
"Hadiah apa?"
"Rumah. Besok, papa beritahu alamatnya dan kamu bisa langsung pindah."
"Ru-rumah?" Tanya Sheva.
"Iya sayang. Itu hadiah dari mama dan papa." Balas Rani, sambil tersenyum.
Entah harus bagaimana lagi Sheva bersyukur pada Tuhan karena memiliki seorang mertua yang sangat menyayangi nya. Sheva tersenyum menatap Kano, Rani, dan Dafa bergantian.
