Part 3
Matahari pagi menyusup masuk melalui sela-sela tirai kamar, membuat sang-empu nya merasa terusik. Sheva, wanita itu menggeliat dan mulai membuka matanya saat dirasa sebuah tangan besar dan kekar memeluk pinggangnya erat. Ia juga merasakan hembusan nafas seseorang terasa mengenai wajahnya.
"AKKHHHH!!"
Sheva sontak berteriak mendapati wajah Kano yang sudah ada didepan wajahnya. Dan ternyata yang memeluk nya juga Kano.
Sheva menghempaskan tangan Kano yang bertengger dipinggang nya. Ia menggeser sedikit tubuhnya menjauh dari Kano.
Kano perlahan membuka matanya. Ia terkejut bukan main ketika mendapati Sheva yang kini tengah menangis memeluk dirinya sendiri.
Kano meringis saat kepala nya terasa pusing. Ia ingat sekarang, dengan apa yang dilakukannya kepada Sheva semalam.
"Shev-"
"Hiks..hiks.."
Kano beringsut mendekati Sheva yang masih menangis. Dengan ragu ia meraih kepala Sheva kemudian disandarkan didada nya.
"Maaf."
Hanya itu yang mampu keluar dari mulut Kano. Ia merutuki dirinya sendiri. Pikirannya melayang teringat akan kejadian semalam.
"Hiks.. Lepas!"
Semakin Sheva meronta, semakin kuat pula Kano memeluknya.
"Lepasin!" Tangan Sheva memukul kuat dada Kano. Namun, seperti nya lelaki itu tak merasa sakit sedikitpun. Kano masih enggan melepas pelukannya. Bahkan sesekali tangannya pun mengusap punggung Sheva yang tampak bergetar karena terisak.
"Gue minta maaf."
"Aku bilang lepas!"
"Oke." Kano melepas pelukannya. "Jangan lihat sini." Lanjut Kano, membuat Sheva langsung memalingkan wajahnya.
Kano segera meraih celana panjangnya yang tergeletak di lantai lalu mengenakan nya. Setelah selesai mengenakan celana panjangnya, Kano pun menoleh ke samping lebih tepatnya pada Sheva. Kano menghembuskan nafasnya kasar saat matanya menangkap punggung Sheva yang bergetar kembali. Astaga, apa Sheva menangis lagi?
"Gue bantu."
Kano segera menggendong Sheva, membantunya ke toilet.
-----
Sheva menatap nanar sprei putih itu yang terdapat bercak darah. Tangannya perlahan terangkat memegang lehernya, yang malah membuat ia langsung meringis.
Saking fokusnya Sheva menatap sprei, sampai ia tidak menyadari kedatangan Kano yang baru saja keluar dari toilet.
Kano sendiri yang tengah sibuk mengusap rambutnya dengan handuk, mengalihkan pandangan kearah Sheva.
"Sarapan."
Sheva langsung tersadar dari lamunannya dan langsung menoleh ke sumber suara.
"Tapi aku gak masak-"
"Delivery."
Setelah mengucapkan kata tersebut Kano melempar asal handuk nya diatas sofa lalu berjalan keluar kamar.
Sheva menghembuskan nafasnya pelan. Ia mengangkat sprei, dan mengambil handuk yang tadi Kano lempar. Sebelum Sheva turun ke bawah, ia merendam sprei nya terlebih dahulu. Ia juga menyimpan handuk milik Kano ditempat biasa Kano menyimpan nya. Setelah selesai, baru lah ia keluar kamar untuk menyusul Kano dibawah.
"M-maaf lama." Ujar Sheva, ketika dirinya sudah berada di samping Kano.
"Hm."
Sheva menarik kursi makan di samping Kano.
"Makan."
Sheva mengangguk. Lalu, mulai menyantap sarapan yang Kano beli.
Disela-sela menyantap sarapannya, Kano diam-diam memicingkan matanya menatap Sheva. Tanpa sengaja matanya menangkap luka-luka kecil yang terdapat pada leher Sheva. Astaga, itu kan bekas ulahnya semalam.
Tok! Tok! Tok!
Sheva dan Kano sama-sama mendongak, hingga tatapan keduanya bertemu.
"Biar aku aja." Sheva beranjak, lalu berjalan meninggalkan Kano.
Ceklek!
Sheva membuka pintu apartemen Kano. Ia tersenyum, saat mengetahui bahwa yang datang adalah nama mertua nya.
"Mama." Sheva mencium punggung tangan Rani.
"Hai sayang, mama ganggu ya pagi-pagi kesini?"
"Eh, engga kok mah. Ayo mah, masuk."
Rani mengangguk. Ia berjalan memasuki apartemen putranya, sedangkan Sheva menutup kembali pintunya.
"Assalamualaikum."
Kano menoleh ke belakang saat ia mendengar suara mama nya. Ia pun beranjak, lalu mencium punggung tangan Rani.
"Wa'alaikumsalam."
"Mama ganggu acara sarapan kalian engga nih?" Tanya Rani, sedikit menggoda.
"Engga mah." Balas Kano dan Sheva bersamaan. Kano dan Sheva saling pandang. Lalu sedetik kemudian, Sheva pun menunduk karena malu.
"Samaan yah." Rani terkikik geli melihat tingkah putra dan menantunya.
"Loh, sayang, leher kamu kenapa?" Rani membulatkan matanya terkejut. Ia menggeser rambut Sheva yang sedikit menutupi luka-luka kecil di lehernya,
Mampus! Kano dan Sheva sama-sama menggerutu dalam hati.
"Eng-"
"Oh, mama tau, mama tau." Rani tersenyum menggoda menatap keduanya. Ia mengerti. Ah, biasa, masalah pengantin baru!
"Anak mama sudah dewasa." Rani berbisik pada Kano, yang malah masih bisa terdengar oleh Sheva. Sheva menunduk saat dirasa pipinya memanas.
"Mm.. Mah, ayo duduk dulu." Ujar Sheva.
"Oh, engga usah sayang. Mama sampai lupa tujuan mama kesini mau apa." Rani menjeda. Ia terkekeh pelan. "Mama mau ajakin kamu belanja buat keperluan sehari-hari, mau?"
Sheva tidak menjawab ucapan Rani, melainkan menoleh kearah Kano.
"Boleh?" Tanya Sheva, yang akhirnya malah di tanggapi oleh sebuah anggukan dari Kano.
"Tuh boleh sama suami kamu. Jadi, kita berangkat sekarang?"
"I..iya mah. Tapi, Sheva ganti baju dulu yah?"
"Iya sayang, mama tunggu di sofa yah."
Sheva mengangguk, lalu permisi pada Kano dan Rani untuk mengganti pakaiannya dilantai atas.
"Ayo duduk mah." Kata Kano.
Kano mempersilahkan Rani untuk berjalan lebih dulu menuju sofa. Ia dan Rani duduk disatu sofa yang sama, menunggu kedatangan Sheva.
"No."
Kano menoleh kearah Rani, dengan alis yang terangkat.
"Kamu jangan dingin-dingin lah sama istri kamu, kasihan dia."
Kano diam. Ia tidak menjawab ucapan mamanya.
"It's okey, kalo kamu dingin ke mama atau papa, kita enggak masalah. Karena apa? Karena kita sudah terbiasa dengan sifat kamu yang seperti ini. Sedangkan Sheva? Dia belum terbiasa. Bisa-bisa, dia engga nyaman dengan sifat kamu yang dingin kayak gini. Ubah lah nak sifat kamu. Coba ubah jadi lebih hangat sedikit pada Sheva. Apa bisa?"
"Kano gatau."
"Mah."
Rani mengurungkan niatnya untuk berbicara kembali ketika ia mendengar suara Sheva.
Rani dan Kano menoleh ke sumber suara secara bersamaan, dan mendapati Sheva yang sudah siap dengan pakaian yang berbeda dari yang tadi.
"Ya sudah, mama dan Sheva pergi dulu." Ujar Rani sambil beranjak.
"Aku pergi dulu." Sheva mencium punggung tangan Kano. Sedangkan Kano, ia mencium punggung tangan mama nya.
