Bab 5: Ia Ingin Memanfaatkan Keadaan
Menjelang kematiannya pada kehidupan sebelumnya, kondisi mental Evelyn telah berada di titik yang sangat buruk. Ia menderita depresi berat hingga tidak dapat tidur siang maupun malam. Setiap hari baginya terasa seperti siksaan tanpa akhir—pikiran yang terus berputar, emosi yang tak terkendali, serta rasa putus asa yang menggerogoti dirinya sedikit demi sedikit.
Mengingat semua itu, jari-jarinya tanpa sadar mengepal erat ponsel di tangannya, seolah ingin meremukkannya hingga hancur.
Suara di ujung telepon masih terus berbicara, bahkan terdengar semakin keras.
“Aku hanya memintamu menggantikan pernikahan selama satu bulan, bukan menyuruhmu mati! Kenapa kamu harus memperlakukan dia seperti itu?” suara Nathaniel terdengar penuh tekanan. “Apa hanya karena dia anak angkat dan dianggap menghalangi jalanmu, jadi kamu ingin menindasnya?”
Nada suaranya terdengar seperti sedang menghakimi, seolah ia berada di posisi yang paling benar.
“Bukankah aku sudah berjanji? Setelah kamu menikah menggantikan dia, dan pria itu meninggal, aku akan bersedia menjadi pacarmu. Apa lagi yang kamu tidak puas?” lanjutnya, dengan nada kesal yang tidak lagi ia sembunyikan.
Jelas terlihat bahwa ia begitu marah hingga bahkan lupa mempertahankan citra tenangnya yang selama ini ia bangun.
“Pff—”
Evelyn tidak dapat menahan tawa.
Tawa itu bukanlah tawa bahagia, melainkan penuh ejekan dan ironi.
Di matanya, pria ini tidak lebih dari seorang badut yang melompat-lompat di atas panggung, mengira dirinya penting.
Ia benar-benar tidak habis pikir—bagaimana dulu ia bisa menyukai orang seperti ini?
Hampir saja ia menjadi seseorang yang rela merendahkan diri, hanya untuk mendapatkan perhatian darinya.
Dan lebih parahnya lagi, ia pernah begitu mudah dipengaruhi oleh sikap dan kata-katanya.
“Kenapa kamu tertawa?” tanya Nathaniel dengan nada kesal.
Evelyn berdiri, berjalan menuju jendela. Ia memandang ke luar, melihat taman yang tertata rapi di halaman dalam, sementara tangannya dengan santai memainkan daun tanaman hias di dekat jendela.
“Menurutmu kamu itu siapa?” katanya dengan suara dingin. “Apa yang membuatmu berpikir aku rela menikah hanya demi dirimu?”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang semakin tajam.
“Siapa yang memberimu kepercayaan diri untuk berpikir bahwa aku menyukaimu?”
“Dan sekarang, kamu sedang menggangguku. Mengerti?”
Setiap kata yang diucapkannya terdengar jelas, tanpa emosi berlebihan, namun justru itulah yang membuatnya terasa lebih menusuk.
Di ujung telepon, Nathaniel terdiam sejenak, seolah tidak menyangka akan mendengar jawaban seperti itu.
Namun sebelum ia sempat merespons, Evelyn melanjutkan:
“Kamu bilang akan menjadi pacarku setelah dia meninggal?” ia tertawa pelan. “Menurutmu kamu ini siapa? Sekarang aku adalah nyonya muda dari Keluarga Lockhart—setidaknya secara status. Dan kamu? Apa yang kamu miliki?”
Ia menoleh sedikit, menatap bayangannya sendiri di kaca jendela.
“Kamu berpikir, setelah aku menjadi janda, aku akan memiliki banyak harta. Lalu kamu tinggal mendekat, menjalin hubungan denganku, dan perlahan menguasai semuanya?”
Ia tersenyum tipis.
“Pada akhirnya, kamu yang diuntungkan, dan aku kehilangan segalanya?”
Kata-katanya begitu tajam hingga membuat Nathaniel di ujung telepon hampir tersedak karena marah.
“Apa yang kamu bicarakan?!” bentaknya. “Apa kamu pikir aku orang yang mengejar uang?”
Nada suaranya berubah menjadi lebih keras, bahkan terdengar seperti ancaman.
“Evelyn, kamu benar-benar membuatku kecewa. Kalau kamu terus berpikir seperti ini, aku tidak akan mempertimbangkan untuk bersamamu lagi.”
Ancaman itu, yang dulu mungkin akan membuat Evelyn panik dan gelisah, kini justru terdengar seperti lelucon.
Sebaliknya, hal itu justru membangkitkan rasa ingin mengejek dalam dirinya.
“Kalau begitu, itu benar-benar kabar baik,” jawabnya santai. “Tolong berhenti menghubungiku.”
Ia melanjutkan dengan nada penuh sindiran:
“Bukankah kamu ingin melindungi Amelia? Pergilah padanya sekarang. Lihat saja apakah dia mau menerimamu.”
Ia terkekeh pelan.
“Dasar pengejar tanpa harga diri.”
Ucapan itu membuat Nathaniel benar-benar terdiam.
Ia tidak menyangka bahwa Evelyn yang dulu begitu penurut kini berubah drastis.
Dulu, setiap kali ia berbicara, Evelyn akan langsung menurut. Ia tidak pernah berani membantah.
Namun sekarang—
Ia seperti menjadi orang yang berbeda.
Dadanya naik turun karena emosi.
Namun pada akhirnya, ia masih mencoba menahan diri.
“Evelyn, aku akan memberimu satu kesempatan lagi,” katanya dengan nada menekan.
Evelyn langsung memotong.
“Tidak perlu,” jawabnya dingin. “Orang sepertimu, bahkan jika diberikan kepadaku, aku tidak akan menginginkannya.”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan:
“Jangan ganggu aku lagi. Kalau tidak, aku akan membongkarmu.”
Tanpa menunggu balasan, ia langsung menutup telepon.
Ia menatap layar ponselnya sejenak, lalu membuka rekaman yang secara otomatis aktif saat panggilan tadi dimulai.
Tanpa ragu, ia menyimpannya ke penyimpanan cloud, lalu membuat cadangan di emailnya.
“Hmm…”
Ia mengerutkan kening, lalu mengusap pelipisnya.
Mengingat dirinya di kehidupan sebelumnya, ia hanya bisa menghela napas.
Betapa bodohnya ia dahulu—dikendalikan oleh orang-orang seperti itu, hingga akhirnya kehilangan segalanya, termasuk nyawanya.
“Tok, tok, tok.”
Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu.
Evelyn segera menenangkan ekspresinya, lalu berjalan ke arah pintu dan membukanya.
Di luar, berdiri seorang pria tinggi.
Julian.
Ia tampak telah mandi dan berganti pakaian. Kini ia mengenakan pakaian rumah berwarna hitam yang sederhana, dengan aroma segar seperti daun mint yang samar tercium darinya. Bau darah yang sebelumnya begitu kuat kini telah sepenuhnya hilang.
Ia berdiri di sana, menatapnya dari atas dengan tatapan dalam.
“Julian? Ada keperluan?” tanya Evelyn, sedikit terkejut.
Tatapan pria itu begitu tajam, seolah ingin menembus pikirannya.
Namun Evelyn tidak menghindar.
Ia mengangkat dagunya sedikit, menatap balik tanpa rasa takut.
Pria itu mengangkat alisnya sedikit.
Melihat keberanian dalam mata gadis itu, sudut bibirnya tanpa sadar terangkat.
Ia tidak menyangka bahwa gadis ini sama sekali tidak gentar di hadapannya.
“Kamu hanya melihat sekilas, tetapi bisa mengetahui bahwa aku diracuni,” katanya dengan suara rendah. “Bagaimana kamu tahu cara menekan racun itu?”
Nada suaranya tenang, tetapi mengandung tekanan yang jelas.
Evelyn tersenyum ringan.
Ia memutar tubuhnya sedikit, memberi isyarat agar pria itu masuk.
Julian melangkah masuk.
Aroma samar dari tubuhnya ikut menyebar, menciptakan suasana yang aneh namun tidak mengganggu.
Evelyn berdiri santai, lalu mengikat rambutnya dengan gerakan yang tidak terburu-buru.
“Tidak sulit,” katanya. “Aku belajar pengobatan tradisional.”
Ia melanjutkan dengan nada ringan:
“Guruku adalah seorang praktisi Tao sekaligus ahli pengobatan tradisional. Sejak usia tiga tahun, aku sudah belajar darinya selama tujuh belas tahun.”
Julian sedikit terkejut.
Tujuh belas tahun?
Itu berarti hampir seluruh hidupnya dihabiskan untuk belajar.
“Bau darah di tubuhmu terlalu kuat,” lanjut Evelyn. “Meskipun pembuluh darahmu belum pecah, aromanya tetap bisa tercium dari luar. Selain itu, ada aroma lain yang tidak biasa—itulah sebabnya aku menyimpulkan bahwa kamu diracuni.”
Nada suaranya tenang, tanpa sedikit pun keraguan.
Baginya, hal itu adalah sesuatu yang wajar.
Julian menatapnya dengan lebih serius.
“Kamu bisa menyembuhkannya?” tanyanya.
Evelyn menggeleng ringan.
“Menyembuhkan atau tidak, itu hal yang berbeda,” jawabnya. “Namun aku bisa menekannya dalam jangka pendek. Aku bisa memastikan kamu hidup setidaknya satu bulan… bahkan mungkin hingga setengah tahun.”
Ucapan itu membuat Julian terdiam.
Dokter terbaik pun tidak berani memberikan jaminan seperti itu.
Namun gadis di hadapannya mengatakannya dengan begitu santai.
Dan setelah apa yang terjadi tadi—
Ia tidak bisa sepenuhnya meragukannya.
Harapan.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasakan secercah harapan untuk tetap hidup.
Tangannya sedikit mengepal, ujung jarinya memucat karena tekanan, meskipun ia berusaha menyembunyikannya.
“Apa syaratmu?” tanyanya.
Evelyn melangkah mundur setengah langkah, bersandar ringan pada meja di belakangnya. Tangannya terlipat di depan dada, sementara ia menatapnya dengan tenang.
“Anggap saja kamu berutang padaku satu budi,” katanya. “Sebagai gantinya, bantu aku mencari beberapa bahan obat.”
Ia berjalan ke meja, mengambil kertas dan pena, lalu menuliskan daftar dengan cepat.
Tulisan tangannya mengalir dengan kuat dan tegas, seolah memiliki kehidupan sendiri.
Ia menyerahkan kertas itu padanya.
Julian menatap tulisan tersebut, sedikit terkejut.
Tulisan itu tidak terlihat seperti tulisan seorang gadis muda biasa.
Ada kekuatan dan karakter di dalamnya.
“Baik,” katanya akhirnya, sambil menggenggam daftar tersebut.
Ia tidak tahu apakah gadis ini benar-benar memiliki kemampuan luar biasa, atau hanya berpura-pura.
Namun semua itu bisa segera diketahui.
Cukup dengan memeriksa daftar bahan obat tersebut—
Ia akan mendapatkan jawabannya.
