Bab 3: Dia Akan Mati
Setelah kematiannya, jiwa Evelyn terus mengembara tanpa tujuan, melayang di antara dunia fana dan alam yang tak terlihat. Ia tidak dapat memasuki siklus reinkarnasi, seolah-olah ada kekuatan yang menahannya di ambang kehampaan. Hingga akhirnya, pada saat tertentu, ia merasakan suatu tarikan kuat—sebuah kekuatan tak terlihat yang secara paksa menariknya kembali.
Kembali ke tubuhnya.
Mengingat hal itu, tangan Evelyn perlahan mengepal.
Setengah jam kemudian, sebuah mobil mewah berhenti di depan sebuah rumah bergaya siheyuan—bangunan tradisional dengan halaman tertutup yang sarat akan nuansa kuno.
“Ny. muda, Tuan muda ada di lantai atas. Silakan,” ujar kepala pelayan dengan sikap hormat, sambil mengulurkan tangan memberi isyarat.
Evelyn hanya mengangguk pelan, lalu melangkah masuk seorang diri.
Bangunan itu tampak tua dan bersejarah. Aroma kayu tua dan dupa samar bercampur di udara, menciptakan suasana yang terasa berat dan menekan. Ia berjalan melewati ruang tamu, matanya menyapu berbagai benda antik yang tertata rapi—setiap sudut rumah mencerminkan kekayaan dan kekuasaan pemiliknya.
Tanpa ragu, ia langsung menaiki tangga menuju lantai atas.
Begitu melangkah masuk ke ruangan di atas, pandangannya langsung tertuju pada sosok pria yang berdiri membelakanginya.
Tubuhnya tinggi dan tegap.
Cahaya matahari dari jendela menyelimuti sosoknya, membuat wajahnya tidak terlihat jelas. Namun, dari postur dan aura yang terpancar, jelas bahwa pria itu bukan orang biasa. Ada tekanan tak kasat mata yang memenuhi ruangan, seolah-olah kehadirannya saja sudah cukup untuk membuat orang lain merasa tertekan.
“Apakah Anda Julian Lockhart?” tanya Evelyn dengan suara rendah.
Pria itu perlahan berbalik.
Sepasang mata hitamnya yang dalam menatapnya dengan dingin—dingin tanpa sedikit pun kehangatan. Tatapan itu tajam, seperti pisau yang mampu menembus lapisan terluar seseorang.
Beberapa saat kemudian, ia menarik kembali pandangannya.
Cara ia memandang Evelyn seolah-olah sedang melihat orang asing yang tidak memiliki arti apa pun baginya.
Ia hanya mengangguk ringan, sebagai bentuk kesopanan.
Namun, bahkan tanpa melakukan apa pun, aura dominan yang dimilikinya sudah cukup membuat orang sulit bernapas.
Ia menatap Evelyn dari atas ke bawah, memperhatikan gadis di hadapannya yang tampak tenang dan tak tergoyahkan.
“Pernikahan untuk menolak bala ini adalah obsesi kakek saya,” ujarnya dengan suara rendah dan serak. “Anda tidak perlu terlalu memikirkannya. Kita tidak akan mendaftarkan pernikahan secara resmi, juga tidak akan mengadakan upacara. Setelah saya meninggal, Anda bebas pergi.”
Ucapan itu membuat Evelyn sedikit terkejut.
Sebenarnya, ia tidak memiliki banyak informasi tentang pria ini.
Di kehidupan sebelumnya, ia sudah meninggal sebelum sempat bertemu dengannya.
Yang ia ketahui hanyalah bahwa pria ini berusia dua puluh delapan tahun, merupakan pemimpin Keluarga Lockhart, dan menderita penyakit yang tidak dapat disembuhkan.
Selain itu, tidak ada informasi lain yang dapat diakses publik.
Ia seperti bayangan di puncak kekuasaan—tak terlihat, namun mengendalikan segalanya.
Belum sempat Evelyn menjawab, pria itu tiba-tiba terbatuk beberapa kali.
Tubuhnya tetap berdiri tegak, tetapi aroma darah mulai menyebar di udara. Bahkan aroma dupa yang menyala di sudut ruangan tidak mampu menutupi bau amis tersebut.
“Ny. muda, silakan kembali ke kamar terlebih dahulu,” kata kepala pelayan yang segera mendekat, memberi isyarat agar ia menjauh.
Namun, mata Evelyn menyipit.
Tatapannya tertuju pada tubuh pria itu.
Ia melangkah maju, melewati kepala pelayan, dan mendekat tanpa ragu.
Semakin dekat, bau darah semakin kuat.
Padahal pria itu tidak memuntahkan darah, tetapi aroma tersebut begitu pekat, seolah-olah darah itu akan meledak keluar kapan saja.
Pria itu merasakan tatapannya.
Dengan wibawa yang tak perlu ditunjukkan, ia meliriknya dengan dingin.
“Kembali ke kamar Anda,” katanya singkat.
Ia berbalik, hendak pergi.
Langkahnya terlihat tergesa dan sedikit tidak stabil.
Saat ia melewati Evelyn, gadis itu tiba-tiba mengulurkan tangan dan menggenggam lengannya.
Tubuh pria itu langsung menegang.
Ia berusaha melepaskan diri, tetapi Evelyn justru membalikkan posisi dan menahannya dengan kuat. Tangannya bergerak cepat, mencengkeram kerah bajunya, lalu menariknya dengan kuat.
“Brak!”
Kain kemeja itu robek.
Kulit berwarna perunggu langsung terlihat.
Semua orang yang menyaksikan kejadian itu terkejut, bahkan kepala pelayan sampai membelalakkan mata.
Tidak pernah ada yang berani mendekati Julian, apalagi menyentuhnya seperti itu.
Namun Evelyn melakukannya tanpa ragu, dan begitu cepat hingga tidak ada yang sempat menghentikannya.
“Apa yang Anda lakukan?” tanya pria itu, sambil mencengkeram pergelangan tangannya.
Pergelangan tangan Evelyn terpegang erat.
Namun pandangannya tidak berpaling.
Ia menatap kulit pria itu dengan saksama.
Di bawah kulit yang tampak normal, seolah-olah ada sesuatu yang bergerak—sesuatu yang berusaha keluar.
Pembuluh darahnya tampak seperti bergejolak hebat, seakan hendak meledak. Kulitnya sesekali tampak terangkat, seperti ada tekanan dari dalam.
Ia dapat merasakan bahwa di dalam tubuh pria itu, sel dan darahnya saling bertabrakan, menciptakan kerusakan dari dalam.
Rasa sakit yang dialami pria itu pasti seperti ribuan jarum yang menusuk seluruh tubuhnya secara bersamaan—menghancurkan kulit, merusak daging, dan perlahan menggerogoti hidupnya.
“Ugh…” pria itu mengerang pelan, wajahnya seketika pucat.
Ia mengepalkan tangan, menahan rasa sakit yang luar biasa.
Namun ia tetap memberi perintah dengan suara serak, “Bawa dia kembali ke kamar.”
“Baik!” kepala pelayan segera bergerak.
Namun sebelum mereka sempat menyentuhnya, Evelyn tiba-tiba mengangkat tangan.
Ujung jarinya yang ramping menyentuh dada pria itu.
Gerakannya perlahan, seolah sedang menggambar sesuatu—atau mungkin… menggoda.
Namun dalam sekejap, ia mendorongnya dengan keras.
Tubuh pria itu langsung membeku.
Sensasi yang aneh menjalar dari titik sentuhan itu—seperti aliran listrik yang menyebar ke seluruh tubuhnya.
Pembuluh darah yang sebelumnya bergejolak tiba-tiba tertahan.
Darah yang hendak meledak justru membeku, lalu berbalik arah.
Jantungnya berkontraksi hebat.
“Puh!”
Ia memuntahkan seteguk darah.
Darah hitam mengalir dari sudut bibirnya, bau busuk memenuhi udara.
Namun setelah itu—
Rasa sakit yang sebelumnya luar biasa… perlahan menghilang.
Tubuhnya yang hampir mencapai batas kehancuran mendadak kembali tenang.
Ia terhuyung sedikit, lalu menatap tubuhnya sendiri.
Kulitnya… tetap utuh.
Tidak ada ledakan pembuluh darah.
Tidak ada luka terbuka.
Tidak seperti biasanya, di mana seluruh tubuhnya akan terkoyak dan dipenuhi darah.
Kini, selain darah yang baru saja dimuntahkan, tubuhnya tampak normal.
Ini… belum pernah terjadi sebelumnya.
Ia mengangkat kepala dengan cepat, menatap Evelyn dengan penuh keterkejutan.
Tatapannya berubah—tidak lagi sekadar dingin, tetapi dipenuhi rasa ingin tahu yang dalam.
Evelyn menarik kembali tangannya, lalu menatapnya sejenak.
“Aku dengar kamu akan segera mati,” katanya santai. “Ternyata memang benar.”
Ia mengeluarkan sapu tangan, membersihkan ujung jarinya, lalu menatapnya kembali.
“Namun, seperti yang kamu katakan, kakekmu hanya ingin aku datang untuk ‘menolak bala’. Kamu juga tidak berniat menikah denganku. Kebetulan, aku juga tidak berniat menikah.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada ringan namun pasti:
“Jika perkiraanku tidak salah, dokter sudah memberimu vonis terakhir—kamu tidak akan hidup lebih dari satu bulan.”
Ia menatap langsung ke matanya.
“Bagaimana kalau kita bekerja sama?”
“Aku akan memastikan kamu tidak mati dalam satu bulan ke depan. Sebagai gantinya, setelah itu, kamu harus melepaskanku.”
Nada bicaranya santai, namun mengandung keyakinan yang sulit untuk diabaikan.
Julian menyipitkan mata.
“...Kamu bisa menjamin aku hidup lebih dari satu bulan?”
“Ya,” jawab Evelyn tanpa ragu.
Ia mengangkat tangannya, menyentuh sudut bibir pria itu, lalu menghapus sisa darah yang menempel. Setelah itu, ia mendekatkannya ke hidung dan menghirup aromanya.
“Kamu hanya keracunan terlalu dalam. Kondisimu memang sudah parah, tapi bukan berarti kamu akan mati seketika.”
Ia membuang sapu tangan itu ke tempat sampah.
“Aku bisa membuatmu hidup satu bulan lebih lama.”
