Pindah
Ellena, sayang ngak sama mama?"
"Sayang ma."
"Seandainya ada mama baru dirumah ini, Ellena suka ngak."
"Suka ma, jadi rumah kita rame pasti seru." ucap bocah yang belum mengerti apa-apa tersebut kegirangan, sehingga membuat tangis Kasandra kembali pecah, hatinya terasa hancur lebur dengan penuturan putri kecilnya.
"Aku benci kamu, benci sekali Ravela. aku berjanji akan membuat hidup mu seperti dineraka. karena sudah merebut dan menghancurkan kebahagiaan rumahtangga ku." gumam Kasandra seraya mengepalkan tangannya.
Hati perempuan manapun pasti akan terluka, jika harus berbagi cinta dengan perempuan lain. apapun alasannya poligami tidak akan membuat suatu hubungan menjadi sehat, namun sebaliknya yang bahkan bisa merusak kinerja jantung dan hati bagi perempuan yang tersakiti.
Sepanjang perjalanan, pikiran Nick menjadi tidak menentu. tidak pernah terniat sedikitpun dihatinya untuk mengkhianati janji suci pernikahan nya dengan Kasandra. bahkan mereka berdua begitu mencintai semenjak menempuh pendidikan dari SMA bahkan kuliah bareng di Australia dengan jurusan yang sama, agar mereka selalu bisa bersama-sama. namun waktu yang cukup lama itu tidak membuat kedua orang tua Nick bersedia menerima Kasandra, bahkan mereka terus berusaha memisahkan dan mencarikan jodoh yang sesuai keinginan mereka.
***
Ami yang semula tengah menghadiri rapat besar pemegang saham, langsung mewakilkan ke Billy yang merupakan asistennya, mengingat urusan perjodohan Ravela dan Nick jauh lebih penting dari segalanya.
Pagi ini, mama Ami langsung turun tangan untuk menjemput calon menantu kesayangannya. dia tersenyum lembut begitu melihat raut kesedihan yang masih terpancar dari wajah cantik gadis tersebut.
Ravela, sabar dan kuatlah nak. mulai sekarang kamu tidak sendirian sayang, ada mama, papa dan Nick yang menyayangi mu." terdengar suara lembut mama Ami mengusap rambut Ravela, seraya membujuknya untuk pindah dan tinggal bersama mereka karena besok sore pernikahan akan segera dilangsungkan.
"Tante Ami hu... hu... aku tidak punya siapa-siapa lagi." Ucap Ravela memeluk sahabat dari mamanya, yang merupakan ibu dari Nick calon suaminya.
"Belajar ikhlas lah nak, Tante mengerti perasaan mu." Bujuk Ami lembut.
"Bawa barang-barang mu seperlunya saja, karena semuanya sudah tersedia dirumah Tante ataupun dirumah calon suamimu." ucap Ami, sehingga Ravela mulai berkemas seperlunya saja, tidak lupa dia membawa foto keluarga nya, Ravela sudah mengikhlaskan kepergian orang-orang terdekat yang sangat dicintainya.
Tidak pernah terbayangkan oleh Ravela, sekarang dia hidup sendirian tanpa seorang pun anggota keluarga terdekatnya lagi. saat ini hanya Tante Ami yang sangat peduli padanya. sedangkan bibi Darti tidak bisa ikut, mengingat rumah besar keluarga Ravela tidak mungkin dibiarkan kosong begitu saja.
Tidak begitu lama, mereka telah sampai dirumah baru yang akan Ravela tempati sementara, sampai Nick membawanya pindah kerumah nya setelah mereka sah sebagai pasangan suami istri.
"Ravela, ini kamar mu nak." tunjuk Ami.
Ravela memandang kamar mewah yang dipenuhi dengan perabotan dan barang-barang mahal, namun semua itu tidak membuatnya bisa tersenyum, melainkan rasa bimbang. mama Ami memperlakukan nya dengan baik karena mengharapkan dirinya untuk segera menjadi menantu mereka.
"Aku tidak mempunyai pilihan lain, mudah-mudahan ini yang terbaik. atau malah sebaliknya kesengsaraan akan menghampiri hidup ku." gumam Ravela sedih.
Diluar, mobil Nick melaju kencang memasuki gerbang utama, nampak pria itu turun dengan tergesa-gesa memasuki perkarangan rumah. tujuannya saat ini berharap keluarga besarnya membatalkan niat mereka, meskipun itu terdengar mustahil.
