Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 5. Aki-Aki

"Pak, sate satu porsi pakai lontong, ya!"

Itu teriakan milik Bianca, wanita itu tengah berada di kedai sate yang ada di pinggir trotoar. Dia mencari tempat duduk yang dekat dengan gerobak sate, Bianca melirik sekitarnya yang cukup ramai. Sate langganan selama lima tahun ini memang tak pernah benar-benar sepi.

Bianca menyandarkan tubuhnya pada kursi, dia memejamkan mata. Kepala wanita itu mendadak terasa berat, bayangan dirinya bergumul dengan sang atasan kembali berputar. Bianca menahan napas sejenak, sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang—rasa bersalah itu kembali muncul, rasa yang menghantam dada Bianca dengan begitu keras.

"Kenapa semakin dewasa dunia semakin kejam ya?" batin Bianca.

Bianca membuka mata, kepala wanita itu mengadah menatap langit. Di tengah keramaian kota Jakarta, Bianca justru merasa dirinya terkurung dalam ruang gelap yang hanya ada dirinya. Suara deru motor terdengar samar dan suara sekitar pun terasa diredam oleh isi kepala wanita itu.

"Neng, ini satenya," ucap seorang pria paruh baya seraya meletakkan sepiring sate dengan lontong.

Bianca langsung menegakkan tubuh, dia menatap pria itu dengan senyuman manis di wajahnya. "Terima kasih, Pak," ujar Bianca.

Pria paruh baya itu tersenyum hangat, lalu meninggalkan Bianca. Sementara itu, Bianca mulai makan dengan perlahan. Saat mulutnya sibuk mengunyah, isi kepala Bianca justru terlalu berisik seolah tidak memberikan sedikit pun ketenangan untuk dirinya.

"Makan sate berasa makan tusuknya," gumam Bianca setelah menelan sate dan lontong yang telah dia kunyah.

Setelah 20 menit makan, Bianca akhirnya menyelesaikan makan malamnya. Wanita itu lantas berdiri, dia menghampiri penjual sate dan memberikan uang 20 ribu sebagai bayaran atas sate dan air minum yang dia ambil.

Bianca melangkah meninggal gerai sate ayam itu, dia melangkah dengan perlahan. Kedua tangan Bianca masuk ke dalam saku jaket yang dia kenakan, dinginnya cuaca malam hari berhasil membuat tubuh Bianca menggigil kedinginan.

Sorot lampu mobil membuat Bianca menghentikan langkah, kening wanita itu berkerut mendapati sebuah mobil mewah mendekat ke arahnya. Namun, di saat bersamaan jantung Bianca juga berdetak kencang—perasaan tak karuan menghantui dirinya, Bianca meremas ujung jaket yang dia kenakan, ada perasaan tak enak yang tiba-tiba saja membuat dirinya gelisah.

Mobil itu berhenti tepat di hadapannya membuat Bianca mau tak mau harus menghentikan langkah juga. Bianca berdiri mematung, dia menanti orang yang akan keluar dari mobil itu. Sampai satu suara mampu membuat bulu kuduk Bianca merinding, wanita itu bahkan melangkah mundur tanpa sadar.

"Bianca," panggilnya dengan suara rendah.

"Pa—pak Baron?!" seru Bianca dengan mata membulat sempurna.

"Kamu ngapain malam-malam di jalan?" Baron melangkah dengan santai mendekati Bianca, sedangkan Bianca tampak gelagapan berusaha menghindari sang atasan.

"Ya, ya ini jalan umum, Pak. Sebebas saya, dong? Lagian Bapak kepo amat!" ketus Bianca.

Baron menghela napas panjang, dia mencoba menggapai tangan Bianca. Akan tetapi, Bianca lebih dahulu menghindar dari Baron membuat Baron mengembuskan napas panjang.

"Ayo saya antar pulang," kata Baron dengan suara lembut.

Bianca menatap lekat Baron, lantas kepala wanita itu menggeleng perlahan. "Nggak perlu, Pak. Saya bisa sendiri. Bapak pulang aja," usirnya.

"Kalau gue pulang sama nih aki-aki yang ada nanti adegan dewasa lagi, ogah gue!" ujar Bianca di dalam hati.

"Kenapa kamu menolak?" tanya Baron dengan heran.

Bianca menarik napas panjang, lalu mengembuskan perlahan. "Kalau pulang sama Pak Baron yang ada enak-enak lagi nanti!" ceplos Bianca dengan santai.

"Astaga, mulut kamu, Bianca!" tegur Bima dengan mata melotot, pria yang sedari tadi menyimak di dalam mobil memutuskan untuk membuka suara.

Bianca mengedikkan bahu tak peduli, dia beralih menatap Baron dengan intens. Wanita mengarahkan jari tengahnya ke arah Baron yang membuat Bima tersentak dan gelagapan.

"Fuck u, Pak!" ucap Bianca, lalu berlalu dengan santai. Dia mengangkat tinggi tangan kirinya. "Kata saya aki-aki kayak Bapak buruan nikah deh! Biar gak asal coblos anak orang," celetuknya lantang.

Bima langsung menoleh, menatap Baron yang justru tersenyum membuatnya meringis ketakutan.

"Ini bos kerasukan, ya?" batin Bima.

Bima berdeham pelan. "Mari masuk, Pak. Kita harus pulang sebelum nona Aurellia marah," kata Bima mencoba menarik kembali kesadaran sang atasan.

"Baik." Namun, pandangan Baron tak lepas dari Bianca yang perlahan menjauh di tengah keramaian jalanan Ibu kota.

***

Pagi itu, ruang 204 Fakultas Ekonomi terasa seperti arena kecil bagi calon pebisnis muda. Cahaya matahari menembus tirai krem, menyorot wajah-wajah yang masih setengah mengantuk tapi berusaha terlihat siap. Layar proyektor sudah menyala, menampilkan slide bertuliskan: “Business Strategy: When to Take Risks.”

Dosen mereka, Pak Adrian, menepuk tangan dua kali. “Oke, sebelum kita mulai bahas teori, kita warming up dulu. Saya kasih kuis ringan, sepuluh poin buat kelompok yang jawab paling cepat.”

Suara kursi bergeser serentak. Mahasiswa langsung saling pandang—antara panik, semangat, dan pura-pura tenang.

“Siap, Pak!” teriak seorang mahasiswa di baris depan, pura-pura percaya diri sambil meneguk kopi dingin yang sudah basi.

Pak Adrian tersenyum tipis, penuh jebakan. “Pertanyaan pertama,” katanya, berjalan pelan di depan kelas. “Kalau kamu punya dua opsi: ekspansi pasar ke luar negeri atau diversifikasi produk baru, tapi modalmu terbatas—mana yang kamu pilih dan kenapa?”

Suara-suara langsung bermunculan.

“Ekspansi, Pak! Karena peluang pasar luar negeri lebih luas!”

“Diversifikasi, Pak! Karena risiko lebih kecil kalau gagal di satu lini!”

Dosen mengangkat alis. “Oke… dua jawaban berbeda. Sekarang, siapa yang bisa kasih reasoning paling masuk akal?”

Seorang mahasiswi bernama Livia mengangkat tangan pelan, tapi matanya tajam. “Kalau modal terbatas, ekspansi keluar negeri itu bunuh diri, Pak. Kita nggak cuma butuh uang, tapi juga networking dan pemahaman kultur. Jadi diversifikasi produk lebih realistis buat mempertahankan cash flow.”

Ruangan hening sejenak. Pak Adrian tersenyum. “Bagus. Logika jalan, strategi jalan. Sepuluh poin buat kelompok Livia.”

Sorak kecil terdengar dari pojok kanan kelas, sementara kelompok lain langsung mengeluh pelan. “Ah, curang, Liv. Kamu pasti baca materinya semalam,” goda salah satu teman sekelas.

Dosen kemudian lanjut, “Oke, pertanyaan kedua—dan yang ini tricky. Kalau pesaingmu menurunkan harga, apa kamu harus ikut nurunin juga?”

Suasana mendadak riuh.

“Enggak, Pak!”

“Ikutin aja, Pak, biar nggak ditinggal pasar!”

“Gantung segmen, Pak!”

Pak Adrian tertawa kecil. “Lihat? Ini baru kelas manajemen bisnis. Penuh debat, penuh strategi, dan penuh kopi.”

Beberapa mahasiswa tertawa, suasana mencair. Kelas itu pun berubah dari ruang belajar biasa menjadi simulasi dunia bisnis sesungguhnya—penuh tekanan kecil, keputusan cepat, dan strategi yang bisa mengubah segalanya.

Di luar, matahari makin tinggi, tapi di dalam, ambisi, rasa ingin tahu, dan semangat bersaing justru semakin menyala. Namun, itu tidak berlaku bagi Bianca yang sedari tadi melamun dan mengabaikan riuhnya suasana kelas. Wanita itu tenggelam dalam pikirannya sendiri.

"Bianca, Bianca!"

Panggilan itu tak juga menyadarkan Bianca, sampai sebuah tepukan dari teman sebelahnya berhasil membuat Bianca tersentak. Dia menoleh linglung, wajahnya tampak seperti orang bodoh.

"Ha? Kenapa?" tanyanya panik.

"Lu dipanggil Pak Adrian dari tadi, lu kenapa? Ada masalah?" jawab Amel khawatir.

Bianca menggeleng, dia tersenyum tipis, lantas menghadap ke depan. "Maaf, Pak. Saya lagi kurang enak badan, saya janji tidak akan saya ulangi."

Pak Adrian menghela napas, dia meminta semua kembali fokus. Sementara Bianca, menghela napas lega.

***

"Pak, saya sudah mencari data Bianca lagi, tapi saya tidak mendapatkan data apa pun soal Bianca, kecuali—"

"Kecuali?" potong Bastian tak sabaran.

"Kecuali dia mahasiswi fakultas ekonomi, jurusan manajemen Bisnis." Bima menunduk, siap menerima amukan dari atasannya.

Baron berdecak sebal. Pria itu mengebrak meja kerjanya membuat Bima tersentak dan memejamkan mata. Dia berdiri, pria itu menatap tajam Bima.

"Cari tau soal Bianca, dia cuman wanita miskin, datanya tidak mungkin sesusah itu didapat!"

"Mungkin aja, Pak. Bisa aja ada yang lindungin data dia," sahut Bima.

"Kamu cukup menuruti perintah saya jika tidak mau dipecat, Bima!" Baron berdecak malas. Dia kembali duduk di tempatnya. "Lagi pula, Bianca bukan orang penting, pasti datanya ada. Kamu saja yang tidak becus."

Bima mengangkat kepala, dia menatap segan Bastian. "Maaf, Pak. Saya akan cari kembali, kalau begitu saya permisi."

Sesuai kepergian Bima, Baron mengetuk-ngetuk mejanya. Pikirannya melayang pada Bianca, hari ini wanita itu ke kantor sesuai kuliah dan Baron tak sabar menanti kehadiran wanita itu.

"Bianca, kamu cukup menarik saat berada di bawah kendali saya."

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel