Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4. Siapa Bianca?

Matahari menyelinap masuk dari balik tirai lusuh berwarna cokelat dengan bercak kotoran yang hampir memenuhi seluruh tirai. Seorang wanita tertidur pulas di atas ranjang kecil yang terlalu keras, ranjang dengan dipan kayu itu tergeletak di sudut ruang menempel dengan tembok yang dipenuhi sarang laba-laba.

Matahari semakin terik, mengusik tidur seorang wanita yang tubuhnya ditutupi selimut tipis. Dia membuka mata, lalu melenguh panjang—dinginnya udara pagi hari membuat dia ingin kembali memejamkan mata. Pandangannya lurus—menatap langit-langit kamar yang jauh dari kata bersih, dia menghela napas.

"Kayaknya gue udah harus beresin kandang babi ini, ini udah bukan rumah manusia lagi, tapi kandang babi," ujarnya setengah sadar.

Menguap lebar, Bianca mengubah posisi perlahan menyebabkan ranjang kayu itu berdecit keras—suara yang sudah Bianca kenali selama beberapa tahun ini. Dia menyandarkan tubuhnya, setengah pada dipan kayu, setengah lagi pada dinding. Wanita itu kembali menguap, kali ini dia menutup mulutnya yang menguap lebar—mata Bianca ikut terpejam perlahan.

"Sial, ngantuk banget efek nangis semalaman."

Iya, mata wanita itu bengkak dan sembab dengan hidung kemerahan. Bianca menghela napas panjang, wanita itu mengusap matanya yang berair dengan punggung tangan. Dia menarik napas panjang, kepala Bianca lantas menunduk—melihat area selangkangan yang terasa perih setelah pergumulan panas dirinya dengan Baron semalam di rumah ini.

"Sshhh sial, sakit banget. Gue bolos aja deh," batin Bianca seraya meringis kecil.

Tangan Bianca bergerak liar, mengambil ponsel miliknya yang tergeletak di meja kecil dekat ranjang. Dia mengambil ponsel miliknya, bukan ponsel baru, melainkan ponsel lama Denga retakan di layarnya—ponsel yang dahulu Bianca beli saat mendapatkan juara pertama satu angkatan saat sekolah menengah atas. Menarik napas panjang, Bianca mencari nama seseorang, lalu menekan ikon panggilan dan berakhir menempelkan ponselnya di kening.

"Hallo," sapa suara di seberang sana.

Bianca menyengir dengan wajah mengantuk. "Lu bisa ke rumah nggak, Lin? Kayaknya gue bentar lagi demam, deh," kata Bianca dengan suara lemah yang dibuat-buat.

"Hah? Demam? Perasaan kemarin lu fine aja dah, kenapa bisa demam coba?" Suara penasaran di seberang sana membuat Bianca meringis kecil, dia yakin sang sahabat tengah mengerutkan kening sekarang.

"Iya, sakit mana ada yang tau coba? Buruan ya, bawain bubur sama obat, pusing gue, jujur," ujar Bianca lantas mematikan ponselnya.

Wanita itu tampak tak peduli jika seseorang di seberang sana menggerutu kesal dan menatap sebal layar ponselnya, dia justru membaringkan tubuh perlahan di ranjang yang kembali menimbulkan suara decitan ranjang yang keras dan berisik. Bianca memejamkan mata perlahan.

"Hidup gue genrenya apa sih? Kok gini banget? ONS-lah, ternyata partner semalam bos gue. Mau ditaruh di mana muka gue? Mana orangnya sangean! Lengkap banget penderitaan gue." Maura mendengus kecil. "Baron ... dari nama aja udah keliatan cowok red flag," lanjutnya.

Bianca memejamkan mata, wanita itu melipat tangan di atas perut. Kemarin dia sudah meminum obat pencegah kehamilan, sedikitnya dirinya merasa lega. Menurut Bianca, tidak akan ada drama kebobolan.

"Kalau sampe hamil, nanti kayak drama pendek China sama novel di aplikasi bayar pake koin lagi," gerutu Bianca seraya mengelus perut ratanya. "Huh! Hidup gue pake ada kejadian aneh segala, tapi ya enak sih ternyata."

Saat mata Bianca akan terpejam sepenuhnya dan kembali tertidur, suara pintu yang diketuk tak sabaran membuat wanita itu kembali membuka mata. Dia segera mengubah posisi menjadi duduk, lalu turun dari ranjang. Bianca melangkah cepat menuju pintu, dia tidak ingin membuat sang sahabat menunggu terlalu lama.

"Lama banget, sih." Alin menggerutu seraya mendorong tubuh Bianca agar dia memiliki akses untuk masuk, perempuan itu langsung duduk di sofa usang yang berada di ruang keluarga.

"Ini obatmu, diminum." Alin mendongak, matanya memicing ketika melihat Bianca berjalan santai ke arahnya. "Nggak kayak orang sakit, lu boongin gue, ya, Bi?!" sentaknya dengan nada naik satu oktaf.

Bianca menyengir, dia meringis pelan. "Hehe ... kapan-kapan gue ceritain, ya! Sekarang gue butuh rehat dan lu boleh pulang!" jawab Bianca dengan wajah tanpa dosa.

Alin mendelik sebal, dia melepas sandal strappy miliknya dan melemparnya ke arah Bianca. "Kurang ajar lu, Bianca! Gue relain ke apotek dan lu malah nggak tau diri!" sembur Alin.

"Ya udah, sih, maaf," cetus Bianca tanpa merasa bersalah.

Alin menghela napas. Dia menyandarkan punggungnya ke sofa, matanya terpejam perlahan—dia mencoba mengatur napas dan menenangkan diri. Menghadapi Bianca memang membutuhkan energi besar dan kesabaran ekstra.

"Duduk terus sarapan! Gue udah beliin bubur dan lu harus makan meski nggak suka, itu sebagai sanksi karena repotin gue pagi ini," titah Alin dengan tegas.

Bahu Bianca menurun, wajahnya merubah menjadi ekspresi jijik yang dia tahan. Matanya melirik enggan plastik yang di dalamnya berisi makanan dengan tekstur lembek itu.

"Siapa sih yang nyiptain bubur? Kayak nggak ada makanan lebih enak!" protes Bianca seraya menghentakkan kaki ke lantai.

***

Bima berdiri dengan tubuh tegap, pandangan yang fokus kepada Baron yang tengah membaca data tentang Bianca. Pandangan Bima menelisik sang atasan, sedangkan ekspresi Baron begitu serius padahal hanya membaca biografi mengenai Bianca.

"Bianca Ramons, 25 tahun, lulusan akuntasi SMK Darma Persada." Baron mendongak, dia menatap serius sang sekretaris. "Kamu yakin hanya ini data dirinya? Ini lebih banyak hal-hal dasar," kata pria itu.

Bima mengangguk cepat. "Benar, Pak. Orang tua Bianca meninggal karena kecelakaan dan sekarang dia tinggal sendiri," jelas Bima.

Meletakkan dokumen itu, Baron mengangguk kecil. Dia menyandarkan punggungnya di kursi kebesaran miliknya, pria itu memandang sang sekretaris dengan intens.

"Menurut kamu Bianca bagaimana?" tanya Baron dengan nada rendah dan senyuman kecil.

"Bianca?" ulang Bima dengan nada heran. "Cantik, kocak, lucu, anaknya kelihatan ekstrovert," lanjutnya sembari menimang-nimang.

"Liar," bisik Baron di dalam hati menambahkan.

Pria itu tersenyum kecil, kepala Baron lantas menunduk—bayangan seliar apa Bianca di atas dirinya kembali berputar. Baron menyatukan kedua tangannya di depan perut, senyumannya semakin lebar kala telingannya mendengar suara desahan erotis Bianca yang berputar di dalam kepala.

Sementara itu, Baron memandang heran sang atasan, sikap aneh Baron belakangan ini berhasil membuat dirinya merinding setengah mati.

"Pak Bos kenapa, sih? Kesambet jurig di mana?"

***

Pemakaman, adalah tempat yang menyeramkan bagi sebagian orang dan tempat yang begitu memilukan. Energi di sekitar tak secerah toko bunga, tetapi suram dan tak ada kehidupan secara kasat mata.

Para peziarah datang dengan luka yang tak pernah sembuh, mereka hadir dengan kerinduan yang begitu mendalam. Sebagian lagi datang dengan putus asa—berharap cepat menyusul mereka yang lebih dulu pergi.

Seorang wanita turun dari taxi online yang dia pesan, dengan pakaian dan masker serba hitam dia melangkah masuk. Langkahnya berat, matanya sembab—ada sisa tangis di sana. Kacamata hitam wanita itu bertengger di atas kepala, dia terus melangkah meskipun langkahnya berat dan lunglai.

Langkah kaki wanita itu terhenti di dua makam yang berdampingan. Dia berjongkok, air matanya jatuh tanpa diminta—tangan wanita itu mengusap batu nisan itu bergantian.

"Ayah, Bunda, Caca kangen kalian," bisiknya pelan bertepatan dengan angin berembus.

Bianca menghapus air matanya, dia memaksakan senyuman terbaiknya. Wanita itu menunduk, menggigit bibir dengan bahu bergetar. Di umurnya yang terlalu muda, dia justru harus kehilangan penopang dalam hidupnya dan sekarang wanita itu harus banting tulang untuk menghidupi dirinya.

"Udah hampir lima tahun Caca sendirian di sini, Caca kangen banget sama kalian. Caca pengen dipeluk kalian setiap kali dunia Caca runtuh." Suara Bianca getir, nadanya lirih dan sedikit bergetar.

Napasnya tersengal, dada wanita itu berat. Bianca, wanita itu mencoba tenang, tetapi rasa sakit yang menjalar di hatinya tak bisa dia bohongi. Bianca mengambil tanah pemakaman, dia menggenggam tanah itu kuat, mata wanita itu berkilat tajam—ada amarah yang tersimpan di matanya. Napas Bianca memberat, wanita itu melonggarkan kepalan tangannya, membiarkan tanah berjatuhan di atas makam sang ibu.

Memejamkan mata beberapa saat, Bianca kembali membuka mata. Sorot matanya berubah sendu dan kosong. Dia terkekeh miris, kepalanya terasa berat. Menundukkan kepala, Bianca mengusap gundukan tanah sang ayah dengan pandangan kosong. Aura wanita itu suram, keceriannya selama ini seakan topeng yang dia pakai untuk membohongi dunia.

"Dunia jahat, Yah. Anak Ayah capek, maaf. Maaf kemarin aku kecewain kalian, harusnya aku lebih bisa jaga diri. Pasti kalian kecewa di atas sana, ya?" Bibir Bianca bergetar, air matanya kembali jatuh.

Menghela napas, dia tersenyum manis. Bianca mencium batu nisan kedua orang tuanya bergantian, wanita itu lantas berdiri. Dia menurunkan kacamata hitamnya, bibirnya tersenyum sendu—lukanya seakan bicara tanpa bisa dihentikan lagi.

Menahan napas sejenak, Bianca menghapus jejak air matanya. "Yah, Bun. Aku pulang dulu, ya. Udah sore, bahagia di sana."

Memutar tubuh, Bianca berjalan dengan wajah datar. Langkah wanita itu tak lagi berat, melainkan tegas dan penuh perhitungan. Entah apa yang ada di pikiran Bianca, tetapi dia terus menunjukkan ekspresi berbeda setiap detik, seakan topeng yang dia gunakan tak hanya satu.

Ponsel Bianca berdenting, wanita itu tersenyum sinis mendapati pesan dari seseorang.

087667+: Data diri Anda dilacak.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel