Bab 09
Hari sudah menjelang sore Nesya baru saja terbangun karena merasakan lelah sehabis pergulatannya dengan Rehan, Nesya bangun dari tempat tidurnya menujj kamar mandi untuk membersihkan diri. Beberapa menit kemudian Nesya keluar dengan menggunakan kimono dan sambil mengeringkan rambutnya jam juga sidah menunjukkan pukul 06.00 kirang dan sebentar lagi waktunya magrib, Nesya pun membangungkan Rehan dan segera untuk membersihkan diri.
Rehan terbangun dan menyungingkan senyumnya lalu mencium kening Nesya dengan lembut, lalu setelah iti dirinya berjalan menuju kamar mandi sedangkan Nesya masih sibuk mengeringkan rambutnya. Setelah selesai dengan mengeringkan rambutnya dirinya memakai bajunya kembali dan dia keluar balkon melihat Kota Jakarta dari atas apartemen milik Rehan.
Nesya merentangkan kedua tangannya sambil menghirup udara sore menjelang malam, cuaca hari ini memang lagi cerah dan awan di langit yang berwarna keorenan semakin menghilang karena semakin malam. Sungguh damai hidup ini jika kita menjalaninya dengan iklas apa lagi kita hidup di dunia ini hanya sekali. Namun tidak dengan Nesya menjalani hidupnya dengan menempuh jalan yang salah dan malah menjatuhkan dirinya dengan dosa yang mungkin tuhan tak akan memaafkannya.
“Kamu sedang apa sayang di sini?” tanya Rehan yang memeluknya dari belakang, sedangkan Nesya masih asik memejamkan matanya dan menghirup udara lalu mengeluarkannya dengan perlahan.
Nesya membuka matanya dan tersenyum.”Hanya mencari angin segar, cuaca hari ini sangat cerah ya,” ucap Nesya.
“Emmm … kamu kita turun kebawah untuk jalan-jalan sambil cari makan untuk makan malam kita?” tanya Rehan yang masih memeluk Nesya dari belakang sambil mencium tengkuk Nesya.
“Ayo kita turun, aku muak di dalam apartemen,” ucap Nesya.
“Kenapa sayang? Lagian tadi kita juga sedang olahraga di sini,” ucap Rehan menjahili Nesya.
“Sudahlah jangan berkata seperti itu Re,” ucap Nesya dan Rehan hanya tertawa saja melihat muka Nesya yang sudah seperti kepeting rebus.
Nesya membalikkan badannya dan masuk kedalam untuk mencari minum karena merasakan tenggorokannya yang sangat kering, Nesya berjalan kearah dapur dan membuka kulkas mengambil sebotol minum air dingin lalu membukanya dan meminumnya hingga habis.
“Rupanya kamu sedang haus sayang sampai air di botol kamu habiskan, sayang gimana kalau kamu tinggal di sini saja,” ucap Rehan.
“Aku nggak mau Re, di sini aku nggak ada temannya dan aku hanya di apartemen bosan aku nggak ada kerjaan juga, lalu gimana nanti jika orang tua kamu tahu ada wanita yang tinggal di apartemen kamu,” ucap Nesya.
“Kalau begitu biar kamu nggak bosan kamu bisa jalan keluar sayang nanti aku kasih kamu kartu kredit dan juga atm dan satu lagi kamu nggak perlu khawatir jika orang tua aku tahu lagian orang tua aku nggak tahu jika aku membeli apartemen di sini, please ya sayang kamu mau kan. Jadi kalau aku kangen sama kamu bisa berkunjung kesini kapan saja,” ucap Rehan.
“Re apa kamu menganggap aku sebagai sugar babby atau pacar?” tanya Nesya.
“Sayang dengar aku, kamu itu pacar aku jadi kamu jangan bicara seperti itu lagi, aku melakukan ini semua karena aku sangat mencintaimu sayang,” ucap Rehan dengan tulus.
“Apa yang kamu bicarakan bisa aku percaya Re dan kamu juga tahu swndiri jika aku sering berbohong padamu. Apa kamu juga masih mencintaiku Re,” ucap Nesya.
“Dengarkan aku sayang, aku nggak peduli dengan itu semua yang terpenting aku sangat mencintajmu,” ucap Rehan lalu mendekati Nesya dan memeluknya dengan erat.
Mereka saling berpelukkan, setelah itu Rehan mengajak Nesya untuk turun kebawah mencari makan dan setelah itu jalan di taman yang tersedia di area apartemen ini. Apartemen yang di beli Rehan adalah apartemen yang telah tersedia lengkap mulai dari mall, supermarket dan tempat yang lainnya dan harga apartemen ini juga sangat mahal.
Nesya sudah berada di kos’nya kembali dengan tadi pagi di antarkan oleh Rehan sebelum berangkat ke kantor, Rehan ada kerjaan mendadak yang harus ia selesaikan sekarang juga. Nesya masuk ke dalam kos dan menaruh tasnya di kasur dan Nesya berjalan menuju kulkas mengambil minum, Nesya lagi-lagi harus sendiri lagi nggak ada teman yang menemaninya, Nesya masih memikirkan apa yang di tawarkan oleh Rehan kepadanya dirinya masih bingung antara iya dan tidak.
Nesya berjalan mendekati ranjangnya dan merebahkan badanya, Nesya sangat bosan jika begini terus dirinya ingin seperti yang lainnya bisa bekerja dan kumpul bersama dengan temannya namun Rehan melaranngya untuk pergi bekerja. Dirinya berada di bawah kendali Rehan untuk saat ini Nesya bergantung pada Rehan yang terkadang dirinya takut membantah apa yang dikatakan Rehan dan emosi Rehan yang kadang sukah marah saat Nesya ketahuan dengan pria lain yang padahal hanya sebatas teman saja.
“Nesya apa kamu ada di dalam, ini aku Anna,” teriak Anna dari luar tetangga kos Nesya yang jarang pulang kos dan akan pulang ke kos hanya untuk beberapa hari saja, Nesya mengenalnya juga belum lama, Anna juga orangnya sangat menyenangkan dan juga baik, royal kepada siapapun itu.
Nesya membukakan pintu dan tersenyum kepada Anna begitu juga dengan Anna, Nesya mengajak Anna masuk kedalam dan menyuruh Anna untuk duduk tak lupa juga menawarkan minuman. Nesya membawa minuman dingin serta camilan ringan dan meyuguhkannya kepada Anna dan Anna tersenyum lalu mengucapkan terima kasih.
“Kak Anna tumben baru muncul kemana aja jarang pulang?” tanya Nesya memulai obrolan kali ini.
“Iya aku baru aja pulang, kamu nggak bosan apa di kos’an muluk?” tanya Anna.
“Aku juga baru saja ada di kos kak,” ucap Nesya.
“Di jemput pacar ya pasti?” tanya Anna dengan senyum manisnya.
Nesya pun hanya mengangguk tersenyum malu-malu dan Anna hanya biasa saja dan malah menertawakan Nesya yang seperti itu.
“Enak ya Nes jadi kamu, kamu nggak harus mikir cari uang sedangkan aku harus kerja,” ucap Anna.
“Ada nggak enaknya juga kak, malah aku pengen banget kerja seperti kakak bisa cari uang sendiri tanpa di kasih orang lain,” ucap Nesya.
Anna menepuk punggung Anna dan tersenyum sebentar, sebenarnya kehidupan Anna tak baik-baik saja apalagi pekerjaan yang ia jalankan bukanlah kerjaan yang halal.
“Hidup di Kota Jakarta memanglah keras Nes, apa pun yang sekarang kamu nikmati ini jalani saja dulu. Aku tahu jika kehidupan di dunia ini tak ada yang baik-baik saja apa lagi jika berbicara tentang dosa tak akan ada habinya Nes,” ucap Anna.
Lagi-lagi Nesya hanya mengangguk mengerti apa yang di ucapkan Anna, sebenarnya Nesya tujuan awalnya bukan begini melainkan dirinya ingin pergi jauh dan bukan tinggal di Kota Jakarta seperti sekarang ini.
“Nes gimana nanti siang kita jalan, aku bosan kalau sudah sampai di kos’an,” ucap Anna.
“Ayo kak aku juga ingin cari udara segar di luar,” ucap Nesya.
Setelah mereka mengabiskan waktu beberapa jam Anna berpamitan kembali ke kosnya untuk istirahat sebentar sebelum mereka pergi, tak lupa juga Anna mengingatkan kempada Nesya untuk lebih menikmati hidupnya dan jangan terlalu beroikir keras jika itu hanya akan membuatnya sakit.
