(2) WRENLY HIGH SCHOOL
3 Tahun Kemudian
Saat ini Velly kecil sudah beranjak remaja. Tubuh menjulang Velly tengah berdiri didepan bangunan bertingkat yang akan menjadi SMA dirinya mengarungi ilmu nanti.
Hanya anak-anak pejabat dan 2 orang anak berprestasi yang mampu mendapat beasiswa saja yang bisa masuk ke yayasan ini.
Dan Velly menjadi salah satu anak yang beruntung itu karena bisa mendapatkan beasiswa seperti keinginannya sedari kecil. Dulu Velly sangat ingin masuk ke sekolah ini karena dirinyaa ingin melanjutkan cita-cita menjadi arsitek terkenal dikemudian hari.
Lulusan disekolah ini bisa dengan mudah memasuki perguruan ternama mau dalam atau luar negeri. Dari dulu Velly tak suka membanggakan kekayaan orang tua nya. Karena itu dari dulu dirinya selalu giat dalam belajar untuk mendapatkan nilai yang memuaskan disekolahnya.
Terbukti dari Velly yang bisa menjadi salah satu pemerima beasiswa disekolah yang diidam-idamkan banyak kalangan. Wrenly High School, sekolah yang saat ini menjadi sekolah yang akan Velly naungi beberapa tahun kedepan.
Disekolah ini semua siswa akan tinggal diasrama yang sudah lengkap dengan segala fasilitasnya. Wajar saja sekolah disini harus merogoh kocek begitu dalam mengingat segala fasilitas yang diberi begitu lengkap.
Velly bersyukur sempat meminta pengemis yang ditemuinya dulu untuk tinggal dirumahnya. Jadi saat dirinya harus diasram menjadi tak terbebani dengan keadaan rumah.
Vero, anak anak dari sang pengemis juga sudah masuk sekolah dasar dengan biaya ditanggung oleh Velly sepenuhnya.
Velly langsung bergegas membawa barang-barang bawaannya ke kamar yang sudah diberitahu saat daftar ulang kemarin. Tak lupa Velly mengambil kunci kamarnya dibagian administrasi.
"Wahh luas banget. Nyaman lagi" Velly meninggalkan kopernya disebelah sofa. Kaki jenjangnya melangkah mengitari seisi kamar.
Terdapat sebuah kamar lengkap dengan kamar mandi. Mini ruang tamu yang langsung terhubung dengan dapur sederhana.
"Beres-beres dulu kali ya. 1 jam lagi kan harus ngumpul di aula" Gumam Velly mulai menata barang bawaannya.
Memang disana sudah dilengkapi dengan segala fasilitas sedari elektronik dan non elektronik. Perlengkapan yang tersedia juga bagus-bagus.
****************
Velly memilih duduk dipojokan. Dirinya datang ke aula seorang diri karena belum menemukan teman atau lebih tepatnya tidak akan memiliki teman. Karena dari isu-isu yang beredar, anak beasiswa akan dikucilkan disini..
"Hey" Velly sedikit kaget saat menerima tepukan dipundaknya. Velly dengan cepat menoleh pandangannya. Dirinya menemukan seorang gadis cantik dengan seragam yang sama dengan yang dipakainya.
"Boleh duduk?" Tanya orang tersebut menunjuk kursi kosong disebelah Velly. Velly hanya bisa mengangguk dengan senyum yang terpatri diwajahnya.
"Gallexa Athena A, panggil Lexa aja" Orang tersebut mengulurkan tangan nya kearah Velly. Velly sempat takjub dengan orang itu.
Seorang gadis dengan paras bak ratu. Mata bulat dengan iris berwana abun. Pipi tirus dengan bibir tipis merah alami. Rambut cola sepunggung yang dibiarkan terurai. Tubuh ramping dengan kaki jenjang. Sempurna, sulit untuk mencari sedikit saja kekurangan.
"Michiavelly Blenda Lamont, Velly" Velly membalas uluran tangan Lexa setelah sadar dari ketakjubannya. "Kok lo engga gabung sama yang lain?"Tanya Lexa karena melihat Velly duduk dipojokan seorang diri.
"Segan, aku kan cuma anak beasiswa" Jawab Velly sedikit canggung. "Sama dong, gue juga anak beasiswa" Seru Lexa sambil tersenyum.
Velly sempat terkejut mendengar bahwa Lexa juga anak beasiswa. Karena dari awal Velly berfikir bahwa Lexa adalah anak pejabat ternama.
"Wahhh, serius kamu juga anak beasiswa? Aku kira kamu anak jalur umum" Antusias Velly merasa menemukan teman sejalur. Tanpa Velly sadari Lexa sempat menegang sebelum kembali rileks. "Hehe. Iya aku anak beasiswa juga kok" Lexa menjawab dengan sedikit gugup.
"Eh itu pemilik yayasan udah datang. Mending kita dengarin arahannya yuk" Lexa langsung mengalihkan Velly yang akan kembali bertanya. Akhirnya Velly memilih memendam rasa penasarannya.
*************
Disebuah bandara terdapat 4 orang lelaki dan 2 orang perempuan baru saja mendarat ditanah kelahiran mereka. Dengan masing-masing koper ditangan, mereka melangkah dengan santai menuju mobil jemputan.
Sudah banyak awak media yang menanti kedatangan mereka didepan bandara. Wajar saja, mereka adalah kalangan anak pejabat-pejabat tinggi yang sangat berpengaruh dikota tersebut.
"Nanti kalian berdua mau dikamar asrama seperti Lexa atau dipenthouse bareng kita?" Deon Wrenly Lemuel atau yang biasa disapa Deon bertanya kepada 2 perempuan yang sedang menggandeng tangan pasangan masing-masing.
Deon adalah anak tunggal dari Tezro Lemuel dan Ferlyza Lemuel. Laki-laki tampan dengan tinggi 180, kulit kuning langsat, rahang tegas, hidung bengir, iris mata biru, alis tebal, bulu mata lentik, proposi badan yang pas, perut six pack.
Ketampanan yang terlampau mendukuung menjadikan Deon sebagai incaran dari banyak gadis-gadis diluar sana.
Mereka baru saja mendarat dari Negara yang berbeda. Mereka pulang karena harus menyambung sekolah disini.
Usia mereka saat ini sudah menginjak 17 tahun. Kenapa mereka baru masuk SMA? Jawabannya karena setelah tamat SMP 2 tahun lalu, mereka ber-7 dibimbing untuk mengikuti sekolah bisnis terlebih dahulu. Karena mereka semua akan terjun kedunia bisnis kedepannya.
Bahkan sekarang saja mereka sudah beberapa kali ikut mengurus urusan bisnis milik keluarga. Wajah-wajah mereka tak urung bersilweran dimajalah, televisi atau sosial media.
"Kita diasram aja deh, kasian Lexa engga ada temennya nanti" Seru salah satu perempuan bernama Aretha Zaileen Alverdo. Gadis cantik keturunan Jerman Indonesia yang sangat mempesona. Salah 1 model yang sudah banyak jam terbangnya.
"Iya, kasian selama ini liat Lexa engga pernah dapat temen yang benar-benar tulus" Imbuh Taletha Quirin Zeroun. Gadis cantik keturunan Indonesia Turki. Banyak dikagumi oleh kaum adam diluar sana. Salah 1 designer muda ternama.
"Uuhhh sayang aku perhatian banget sih sama calon adik iparnya" Ujaran cowok bernama Gallen Athenio Abercio sambil mencubit gemas pipi sang kekasih. Gallen adalah kembaran Lexa, tapi tak banyak yang tau karna Lexa tak suka dikenal oleh banyak orang.
Gallen yang paling narsis dari yang lain, paling suka tebar pesona walau sudah memiliki pacar cantik seperti Taletha. Untung saja pacarnya tidak pencemburu dan mudah emosian.
"Mulai deh alaynya" Cibir Ervin Lezard Delbaro. Ervin selalu kesal dengan tingkah sahabatnya yang satu itu. Cowok cool satu ini selalu menyiapkan kesabaran yang besar untuk sahabat menghadapi Gallen.
"Udah deh, sambung entar aja. Buruan, kasian cewek gue sendirian diasrama" Galileo Yozzagi Alcander menengahi perdebatan yang akan terjadi dimulai. Leo adalah pacar Lexa.
Mereka semua terkenal dengan jiwa-jiwa dingin kecuali Gallen yang memang lebih petakilan. Sebenarnya aslinya mereka ramah dengan para keluarga dan para sahabatnya.
Tapi dari mereka semua Deon lah yang paling tak tersentuh dan kurang tertarik dengan dunia percintaan. Karena menurutnya dunia percintaan adalah dunia yang bisa merusak segala urusan kerjaannya. Makanya predikat jomblo belum lepas dari dirinya sampai sekarang.
Mereka telah tiba dipintu keluar bandara. Disana sudah berjejer rapi para bodyguard mereka. Satu persatu bodyguard pribadi mereka menuntun mereka melewati massa yang semakin ramai. Sudah sepperti buronan saja.
Hal seperti ini sudah sering mereka alami. Sunglasses, masker dan topi tak pernah lepas dari mereka. Salah 1 cara agar media tak mudah memotret wajah mereka.
Setelah mereka tiba dimobil masing-masing. Mobil mereka melaju meninggalkan bandara. 3 mobil mereka diiringi dengan 3 mobil bodyguard didepan dan belakang mobil yang mereka tumpangi.
Kalau dilihat mereka sudah seperti orang penting saja. Padahal aslinya mereka adalah anak pejabat bukan pejabat aslinya.
Kehidupan seperti ini sudah dari kecil mereka naungi. Jadi mereka sudah sangat terbiasa dengan para bodyguard dimana pun mereka berada. Karena bagi mereka itu lebih aman dari pada berkeliaran seorang diri.
Mereka memiliki bodyguard lebih dari 10 orang per orang. Itu semua dilakukan demi keamanan mereka. Karena bisa saja disetiap tempat banyak yang mengincar nyawa mereka mengingat kedudukan orang tua mereka dan juga pekerjaan mereka.
