
Ringkasan
"Mommymu benar, kita tak akan pernah bisa bersatu. Karena sujudmu tak pernah bisa menyatu dengan genggam tanganku"-Michiavelly Blenda Lamont"Aku tak pernah peduli dengan itu. Karena aku yakin, Tuhanku telah menulis cerita indah untuk kita. Dan aku yakin, kita akan bersatu diamin yang sama"-Deon Wrenly Lemuel
(1) MASA KELAM
Ceklek
Pintu utama sebuah rumah besar terbuka dari luar. Muncul lah sepasang suami istri dengan senyum bahagia terpatri diwajah masing-masing.
Senyum mereka luntur berganti ekspresi menegang saat mata mereka menelisik keadaan rumah yang begitu berantakan.
Barang-barang sudah berserakan bukan lagi pada tempatnya. Bahkan yang paling menarik perhatian adalah darah segar yang bercecer dihampari sepenghujung lantai. Bau amis menyeruak pada seisi ruangan.
Darah yang berceceran tadi ternyata adalah darah para pekerja dirumah mereka yang sudah tewas tak bernyawa tergeletak mengenaskan dibeberapa tempat.
Panik, takut, sedih bercampur menjadi satu melihat kekacauan yang tercipta. Mereka belum mampu mencerna semuanya dengan baik.
DORR
DORR
"Akhh" Tanpa mereka sadari. Satu peluru melesat tanpa dkperkirakan. Peluru tersebut bersarang tepat dilengan atas sang pria.
Keadaan yang begitu kacau membuat mereka tak mampu fokus pada satu titik. Bahkan mereka tak menemukan dari mana asal tembakan tadi.
Darah segar mulai mengalir dari tangan sebelah kanan lelaki paruh baya tadi. Ia tak mengetahui kalau rumahnya sudah dimasuki oleh 3 orang perampok.
Ia berusaha melindungi sang istri agar tidak menjadi korban juga seperti dirinya. Sang istri sudah menangis didalam dekapannya dengan tubuh bergetar. "Pi rumah kita hiks.. Kenapa Pi?" Sang istri bertanya dengan air mata yang terus mengucur deras.
"Mami tenang, Papi akan ngelindungi Mami. Kita keluar perlahan ya" Menuntun istrinya untuk kembali keluar bergerak secara perlahan.
"Pi Velly Pi" Seakan teringat sang anak semata wayangnya yang belum terlihat sedari tadi. Mereka berhenti berjalan dan mengedarkan pandangan mereka ke seluruh penjuru rumah. Rasa khawatir kembali menyeruak didalam hati.
Tepat sudut ruangan, dibalik kain jendela. Duduk seorang gadis kecil dengan memeluk lututnya sambil menangis tanpa suara. Wajahnya tersirat ketakutan yang teramat melihat situasi rumah yang sudah berantakan.
Mereka berjalan kembali ingin mendekati gadis kecil itu. "JANGAN BERGERAK!!" Teriakan nyaring menggema seantoro ruangan. Mereka tak sadar kalau sedari tadi tengah diawasi.
DORRR
Kembali terdengar satu tembakan yang mampu memekakkan telinga. "Akhh" Naas, peluru itu tepat sasaran. Peluru itu menancap dengan cepat dipunggung pria paruh baya tersebut.
Seakan tak sanggup menahan sakit lagi. Lelaki itu langsung jatuh tekapar dilantai. Sang istri ikut terduduk disisian sang suami melihat keadaan sang suami sudah jauh dari kata baik.
"Pi, tahan Pi. Kita harus nyelamatin anak kita Pi" Derai air mata terus berlinang membuat sungai kecil dipipi wanita paruh baya tersebut.
DORR
"Akhh" Nasib buruk, sang istri ikut tertembak. Wanita itu langsung terkulai tak sadarkan diri karena peluru yang melesat tepat tertancap dibagian dada kanannya.
Para perampok sudah berlari ketingkat 2 rumah setelah puas dengan harta yang didapat dari lantai 1. Mereka juga sudah merasa aman karena tak ada lagi yang bisa berkutik.
"Papiiiii...... Mamiiiiii.... " Histeris gadis kecil yang sefar tadi merhatikan mereka dari balik kain jendela disudut ruangan. Gadis kecil 12 tahun itu berlari kearah kedua orang tuanya yang sudah tergeletak dengan simbahan darah segar yang terus mengalir.
"Papi... hiks.. sama mami engga akan tinggali Velly kan hiks?" Gadis kecil itu berlutut disebelah pria paruh baya yang dipanggilnya Papi.
"Sayang. Ka..mu-akhh.." Perkataan lelaki itu terputus karena rasa nyeri pada bagian tembakannya.
Lelaki paruh baya tersebut menarik nafas panjamg walau sulit. "Ambil ini untuk kehidupan kamu. Hahh!! Maafin Papi dan Mami karena sudah tidak bisa menjaga kamu lagi " Lelaki itu puas setelah mengeluarkan kata-katanya walau terlampau sulit karena harus tersendat-sendat.
Sebuah dompet tebal dengan berbagai kartu tabungan diserahkan dengan tangan bergetar. Gadis kecil itu mengambil dengan ragu dompet tersebut dengan tatapan nanar. Matanya sudah basah dan membengkak.
"Kamu harus uhuk... uhuk.. Kuat. Engh.. Ingat Hahh!! Tuhan selalu uhuk.. Bersamamu Velly" Lelaki paruh baya itu berbicara dengan sisa tenaga yang dimilikinya. Rasa sakit dan nafas tersendat mengiringi pembicaraannya.
Sedangkan istrinya sudah terbujur kaku tak bernyawa disebelah. Dengan susah payah lelaki paruh baya itu mengangkat kepalanya.
Cup
Satu kecupan sayang mendarat dipipi gadis kecil itu sebelum lelaki yang dipanggilnya Papi kembali merebahkan kepala pada ubin dengan mata perlahan menutup.
"MAMIIIIII... PAPIIIII...." Ruangan sang anak dengan linangan air mata tak kunjung berhenti. Tubuhnya merunduk diantara kedua orang tuanya yang sudah tidak bernyawa. Beberapa kecupan ditinggalkan pada sisi-sisi wajah kedua orang tuanya yang sudah tak bernyawa lagi.
'Tuhan, semoga Papi dan Mami selalu bahagia bersamamu' Pinta dengan penuh kesungguhan si gadis dalam hati.
Gadis kecil yang sudah mengerti situasi itu menegakkan tubuhnya. Kakinya berlari kecil ke arah telfon rumah. Sepertinya para perampok meninggalkan satu bomerang untuk mereka sendiri.
Jari lentiknya menekan beberapa nomor yang pernah diajarkan gurunya disekolah.
Siapa sangka nomor yang dihubunginya adalah nomor pihak kepolisian. Terlahir dengan otak yang pintar tidak menyulitkan gadis bernama Velly tersebut menginformasikan apa yang terjadi dirumahnya.
Sejujurnya sedari tadi dirinya ingin menggunakan telfon rumah. Tetapi Velly kecil belum bisa keluar dari persembunyiannya karena pria-pria bebadan besar dengan pakaian serba hitam itu masih ber dilantai 1.
Tak sampai 15 menit, rumah itu dikepung oleh pihak kepolisian. Para perampok yang panik tak dapat lagi mencari jalan keluar untuk kabur. Mereka berakhir dalam ringkusan polisi.
Para tim kesehatan yang datang bersama pihak kepolisian langsung mengurus beberapa manusia yang tergeletak tanpa nyawa disana. Terdapat 7 korban tak bernyawa termasuk kedua Tuan rumah.
"Adek jangan nangis lagi ya. Sekarang ikut Kakak ke kantor. Biar orang tua kamu diurus sama tim kesehatan dulu" Polisi wanita yang berusaha menenangkan Velly kecil membawa Velly kemobil polisi.
**********
2 batu nisan dengan tanah yang masih basah menjadi saksi bisu Velly kecil measakan sakitnya kehilangan kedua orang tuanya dalam waktu bersamaan.
Velly kecil tak sendiri dihamparan makam yang terlampau luas disana. Velly dikawal dua polisi wanita disisi kanan dan kirinya.
Velly kecil bertekuk lutut diantara kedua makam dengan kedua tangan saling menggenggam. 'Papi sama mami tenang-tenang ya disisi Tuhan. Tuhan pasti kasih Papi dan Mami kebahagiaan disana. Tuhan juga pasti kasih Velly kekuatan dan kebahagiaan disini. Velly selalu sayang Papi dan Mami seperti Tuhan sayang kepada kalian' Velly kecil mengakhiri do'anya dengan tersenyum.
Walau terlahir dengan limpahan manjaan dan kasih sayang. Velly kecil selalu ditanamkan peringai yang kuat dan harus bisa mandiri. Itu ditanankan kedua orang tuanya karena Velly besar sebagai anak tunggal. Ternyata ajaran itu kini berfungsi dengan baik.
Setelah dirasa cukup, Velly kecil meminta wanita-wanita berseragam polisi itu mengantarnya kembali ke rumah. Keadaan rumah sudah lebih baik walau garis polisi masih terpasang diluar sana. Kakinya membawa langkah Velly ke kamar kedua orang tuanya.
Michiavelly Blenda Lamont, Gadis kecil berumur 12 tahun kini harus menjalani hidup sebatang kara. Tiada sanak saudara karena orang tuanya sama-sama anak tunggal. Dirumah sebesar ini Ia tak yakin bisa hidup sendiri. Tapi karena pesan sang Papi Ia akan berjuang untuk kehidupan kedepan.
Memejamkan matanya, semua bayangan masa kecil yang penuh kebahagiaan bersama kedua orang tuanya berputar bagai sebuah film. Setetes air mata diikuti tetesan lain berlinang berbanding terbalik dengan bibirnya menyunggingkan senyuman.
Semuan canda tawa kedua orang tuanya kembali terlintas dalam benaknya. Memang dari kecil Velly selalu mendapatkan kebahagiaan penuh dari kedua orang tua nya. Baru kali ini ia menangis mengingat kedua orang tua nya.
***********
Tak terasa sudah 2 minggu berlalu sejak kepergian kedua orang tua nya. Kini rumah Velly tak lagi dikelilingi garis polisi. Saat dihari-hari pertama Velly kecil sempat ditemani oleh 2 polisi wanita. Sekarang sudah tidak lagi.
Perampok yang telah merenggut nyawa-nyawa orang dirumahnya juga sudah dijatuhkan hukuman seumur hidup. Walau berbeda, kini kehidupan Velly semakin membaik.
Para tetangga dan satpam komplek turut sedih dengan kejadian yang menimpa keluarga Velly. Mereka juga turut andil memantau kehidupan Velly. Karena itu juga pihak kepolisian mengizinkan Velly tetap tinggal dirumahnya.
Kedua orang tua Velly yang begitu ramah dan dermawan menjadikan Velly selalu dapat perhatian baik dari para tetangga. Mereka juga sering memberikan Velly makanan mengingat Velly yang tak mungkin memasak dirumah.
Walau hidup dikalangan perumahan mewah. Tapi para tetangga Velly masih hidup bersosial. Velly tak pernah lupa untuk bersyukur karena Tuhan memberinya hidup dikelilingi orang-orang baik.
Velly kecil berjalan keluar rumah berniat mengambil makanan yang dipesannya lewat aplikasi online.
Tak sengaja matanya menangkap dua sosok pengemis dipinggiran jalan sebrang kawasan perumahannya. Memang dari pos satpam rumah Velly hanya berjarak 2 rumah saja. Jadi kalau dari rumahnya masih mudah melihat jalan raya.
Hati kecil Velly terketuk melihat 2 sosok didepan sana. Seorang wanita paruh baya dan seorang anak lelaki duduk dengan sebuah wadah didepannya.
Kaki kecilnya melangkah ingin mendekati 2 orang tersebut. "Neng Velly mau kemana?" Langkah Velly terhenti tepat didepan pos satpam. Disana berdiri seorang satpam yang tadi melemparkan pertanyaan untuk Velly.
Velly tersenyum lebar memandang satpam yang memang sudah mengenal keluarga Velly dengan baik. "Mau kedepan bentar Pak satpam" Seru Velly dengan ceria.
Pak satpam ikut tersenyum menular dari senyuman Velly. Siapa saja dikomplek ini suka salut dengan Velly yang begitu kuat dibalik masalahnya yang begitu berat.
"Hati-hati ya neng, kalau butuh bantuan panggil Pak satpam ya" Tutur satpam ramah. "Siap Pak!! Velly lanjut dulu ya" Velly kembali melangkah keluar komplek.
Velly celingukan ke kanan dan kiri diujung tempat penyebrangan khusus pejalan kaki. Setelah dirasa aman, Velly kecil dengan girang menyebrangkan dirinya pada tempat tujuan.
Kaki Velly berhenti tepat disebelah 2 sosok yang tadi menarik perhatiannya. Avel mengambil posisi berjongkok. "Bibi, apakah kalian sudah makan?" Pertanyaan Velly lontarkan.
Pengemis beserta sang anak menolehkan pandangan saat mendengar sebuah suara yang begitu dekat dengan mereka. Ternyata disebelah mereka sudah ada seorang gadis kecil dengan wajah begitu ceria.
"Belum neng. Bibi belum dapat uang daru tadi" Jawaban lesu terdengar dari wanita paruh baya itu. Bibir Velly melengkung kebawah ikut merasa sedih.
"Bibi sama adiknya mau ikut tinggal sama Velly engga?" Sang pengemis sempat terkejut sembelum menggelengkan kepalanya. Dirinya merasa kalau gadis kecil disebelah hanya asal berbicara. Namanya juga anak-anak.
"Engga usah neng, biar Bibi sama anak Bibi disini aja" Tolak wanita paruh baya tersebut berusaha selembut mungkin agar tidak menyakiti hati yang mendengar.
"Velly tinggal sendirian dirumah. Papi, Mami dan para pekerja dirumah Velly udah meninggal dua minggu yang lalu dibunuh perampok. Jadi Velly dirumah kesepian. Velly liat Bibi orang baik, makanya Velly mau ajak Bibi sama adiknya tinggal bareng Velly" Jelas Velly dengan mata berkaca-kaca.
Hati pengemis tersebut tersentuh mendengar kisah pilu dari anak sekecil Velly. Sang pengemis juga tidak menemukan titik kebohongan dimata Velly.
"Yaudah, Bibi mau tinggal dengan neng Velly. Nanti izinin Bibi untuk bantu bersih-bersih dirumah neng Velly ya" Seru pengemis sambil mengusap lembut surai Velly. Velly menganggukkan kepalanya senang.
