Bab 7: Mau Ketemu Calon Mertua
#####
_Tidak ada perjalanan yang seluruhnya mulus. Ada masanya terjalnya jalan menghiasi langkah menuju esok. Namun yakinlah semua takdir akan berjalan dengan baik jika kita melaluinya dengan bersyukur_
[Oke, aku tunggu, besok jangan lupa kabari, takut tiba-tiba aku amnesia, wkwkw]
Jawab Alyah pada ajakan Genta. Setelah sesi perkenalan lewat jalan berdua, sepertinya ia ingin perkenalan yang lebih.
Menggunakan alasan bahwa Mamanya ingin bertemu dengan calon menantu. Nampaknya hal tersebut berhasil meluluhkan Hati Anin Yang sebelum tak ingin pergi.
[wkwkwkwk, bercandanya besok saja pas di rumah. Bercanda lewat chat nggak begitu menyenangkan, nggak bisa lihat ekspresimu yang sedang tertawa]
Ada senyum yang terbit dari bibir tipis milik gadis yang rambutnya sedang terurai sebahu itu. Rambut lurusnya sedang tak dibalut dengan kerudung karena memang sedang di dalam kamar.
Entah sadar atau tidak, tapi sepertinya gadis bernama Alyah itu sudah diam-diam menyimpan nama seseorang dalam hatinya.
Seseorang yang bahkan dengan mulutnya ia katakan benci. Seseorang yang bahkan masih terasa asing baginya, namun mampu membersitkan senyum hanya dengan membaca pesan-pesan darinya saja.
Tak ada obrolan lagi yang terjadi antara mereka lewat per pesanan yang sebelumnya mereka lakukan.
Hening menyambut malam itu. Setelah makan memang Alyah langsung masuk ke kamar, tak ingin terjebak dengan obrolan-obrolan ringan yang nantinya berujung pada hubungan ia dan Genta yang apakah sudah layak di bawa ke jenjang pernikahan.
Zaila teman satu-satunya di fakultas terus saja menanyakan siapa laki-laki yang waktu itu menjemputku. Ahs, aku masih tak bisa menjelaskan siapa laki-laki yang baru saja berkirim pesan denganku ini.
Masak iya, langsung aku katakan kalau dia calon suamiku. Bahkan aku saja masih kaget dengan status itu, apalagi Zaila?
Rasanya tak ada yang perlu aku jelaskan sebelum semuanya jelas. Bahkan masih belum ada lamaran resmi atau cincin yang mengikat.
Waktu begitu cepat berlalu, bahkan dalam mimpiku saja sudah sibuk mencari pakaian yang sekiranya cocok digunakan saat akan bertemu calon mertua, eh.
Aneh ... Kenapa bahkan dalam mimpiku seantusias itu untuk bertemu dengan calon mertua.
“Ma! nanti bang Genta mau jemput aku katanya” Aku mendekat ke arah Mama yang sedang memasak untuk sarapan, di waktu yang masih terbilang sangat pagi.
Di keluarga ini memang memiliki orang yang biasa membantu pekerjaan rumah tapi tidak soal memasak. Kata Ayah tidak ada yang bisa masak seenak masakan Mama jadi Mama tetap menjadi koki di dalam rumah ini.
“Mau diajak ke mana memang?” Pertanyaan itu Mama lontarkan tanpa menoleh ke arahku dan tetap fokus dengan kangkung yang sedang ia siangi
“Enggak tahu, katanya Mamanya yang suruh”
“Tante Ayumi?” Ah, ya bahkan aku sudah lupa dengan nama mama bang Genta.
Salah satu kelemahanku memang, tidak mudah mengingat nama seseorang. Apalagi jika hanya pernah bertemu satu kali.
Tapi aneh, ... Jika soal bang Genta, bahkan aku langsung hafal nama lengkapnya, Genta Mackenzie, hahaha.
“Ohw, ya sudah. Nanti kalau ketemu tante Ayumi yang sopan, jangan bertingkah konyol seperti saat sedang di rumah. Dan ya, jangan nyanyi-nyanyi keras!”
Astaga! Pagi-pagi sudah mendapatkan ceramah.
“Ah, Mama! Aku kalau soal itu juga tahu Ma, enggak akan juga nyanyi-nyanyi di sana!”
Jika hanya berhenti di situ saja ceramah berlangsung, maka kalian salah.
Masih banyak wejangan lain yang kalau di sambung mungkin sudah mirip kereta dengan dua belas gerbong. Ayah juga tak kalah semangat memberikan nasihat.
Bahkan sampai acara makan di mulai pun masih tentang itu obrolannya. Jangan tanya tentang Adik tak punya akhlak bernama Agus, ia terus memberikan gambaran-gambaran betapa jahatnya calon ibu mertua, meski aku tidak percaya tapi ada rasa sedikit waspada, huft.
Beberapa saat setelah sarapan selesai, bang Genta datang. Ia dengan sabar menungguku yang bahkan belum sempat mengganti baju.
Meski pada dasarnya aku tak memiliki dres mewah atau semacamnya, namun setidaknya tidak berpakaian ala rumahan saat akan bertemu calon mertua bukan?
“Kenapa dalam beberapa hari ini pesanku tak sedikit pun di jawab Al! Apakah aku telah tak sadar sudah membuat kesalahan? Jangankan dibalas, centang dua saja tak kunjung kau buat biru!”
Gila nggak sih, baru saja masuk ke mobil setelah berpamit ria, tapi langsung dihadiahi dengan rentetan pertanyaan.
Sebuah kekaguman akan mobil Ferrarinya kini telah sirna. Berganti dengan rasa jengkel yang menggelayut.
Soal pertanyaan bang Genta, ... Aku memang sedikit enggan berbalas pesan dengannya.
Setela pertanyaan Ayah di meja makan kala itu, pertanyaan akan sudah siapkah aku untuk menikah dengan laki-laki yang kini tengah menunggu jawaban dariku itu.
Sengaja tak kubuka pesannya, aku terlalu enggan. Bahkan jika kali ini dia tak memakai alasan Tante, mungkin aku masih tak ingin menjalin komunikasi dengannya.
Entahlah sepertinya hanya tak ingin terlalu memberi harapan pada orang yang tidak aku harapkan kehadirannya. Walau ternyata sudah datang pada waktu yang tak kuminta.
“Dengan aku membalas pesan, memang apa yang akan terjadi selanjutnya?! Dan kenapa begitu memedulikan tentangku!” Jawabku sedikit lesu, sedang ia tak jadi menjalankan mobil yang sudah ia nyalakan mesinnya
“Karena aku khawatir Al!” huft jawaban macam apa itu. Sama sekali jawaban yang tidak aku harapkan.
Lamaran waktu itu memang aku terima, tapi bukankah belum ada yang spesial di antara kita? Jari-jariku pun masih melompong tak ada satu pun kilauan ketika terkena bias cahaya.
“Khawatir tentang apa? Bukankah belum ada yang sepesial di antara kita. Bukankah hubungan kita ini berlandaskan dari saling di paksa” Biarlah dikatakan judes, jutek atau sebagainya, sementara tak masalah.
“Bukan tidak ada yang sepesial di antara kita, Al! Mungkin kamu saja yang belum memiliki rasa sepesial untukku. Tapi kamu sudah menjadi orang yang sepesial dalam hatiku Al. Sejak hari itu, sejak pertama kita bertemu!”
Setengas itukah perasaannya padaku?
Setelahnya hanya deru mobil yang siap meninggalkan pekarangan rumah.
Aku tak lagi bicara, buat apa? Tak ada yang perlu dibicarakan lagi. Hanya akan memantik amarah diantara kita. Meski rasa bersalah tiba-tiba menelusup dalam hati.
Sedangkal inikah pikiranku?
“Maaf...” Hanya kata itu yang mampu aku ucapkan.
“Tak perlu meminta maaf Al, aku maklum hal itu. Tapi aku mohon besok-besok jawab pesanku.
Sesingkat apa pun itu, sesenggang waktumu, itu sudah membuat hatiku lega, dan tak berpikir macam-macam”
Mendengar suaranya yang melemah, aku semakin merasa bersalah. Kenapa dengan pikiranku dan hatiku?! Kapa akhir-akhir sering plin-plan, huft.
“Akan aku usahakan Bang” kuselipkan senyum termanis untuk mengakhiri ucapanku.
Tubuhnya condong, mengarah padaku. Waaaaa! Bang Genta mau cium kah! Sumpah grogi!
“Kenapa tegang? Aku cuma mau pasangin sabuk pengaman. Kalau yang lain, nanti kalau udah nikah”
Sumpah malu gaes! Malu dengan pikiran sendiri.
