Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 6: Nonton

#####

Kami makan dengan diam, sesekali aku melirik tingkahnya. Sungguh menggemaskan.

Cara makannya yang belepotan, sungguh membuat tanganku gatal, hingga refleks aku mengambil tisu dan mengelap sudut bibirnya.

Jika biasanya adegan seperti ini akan berakhir pada mata saling menatap. Maka tidak untuk kisahku kali ini.

Plak!

Benar, tanganku di tampar sebelum tisu yang kupegang mendarat pada bibir yang menggiurkan itu. Eh

Tak ada ucapan menyalahkan atau semacamnya, hanya tatapan tajam dari mata jernihnya. Sungguh lucu dan ... menggemaskan.

Ia sama sekali tak membahas akan mantan yang tiba-tiba datang. Membuat hati merasa sedikit lega, setidaknya aku tak terlalu merasa bersalah dengan adanya masa lalu.

Meski ketika melihat semua tingkah menggemaskannya, aku merasa begitu berdosa. Dia yang masih suci tak tersentuh, harus mendapatkan aku, yang mungkin tanganku sudah kotor dengan berbagai bakteri bernama mantan.

Selesai menyantap hidangan, kami beranjak. Waktu penayangan tiket film yang kami beli masih satu jam lagi diputar.

Masih cukup waktu jika digunakan untuk berjalan-jalan. Mungkin sekedar mentraktir barang branded.

Bukankah wanita memang suka barang seperti itu?

Namun ternyata salah. Dia tak seperti wanita yang aku ketahui sebelumnya. Bahkan jika dibandingkan dengan adikku, ia begitu jauh berbeda.

Para wanita akan dengan semangat menghampiri toko-toko dengan brand ternama, dan akan menguras dompetku.

Menunjuk ini itu meminta di bayari. Yang katanya limited edition, atau dengan alasan lainnya agar aku mau membelikan.

Jika karena tak punya uang, aku rasa tidak. Keluarga Alyah juga bukan dari kalangan menengah ke bawah.

Wanita bernama Alyah itu memang sangat berbeda. Ia sama sekali tak tertarik dengan toko-toko yang aku tunjuk. Toko-toko yang ketika para mantan melewatinya, pasti akan masuk dan merengek, termasuk Anin.

Pikirku mungkin dia malu, atau sungkan jika meminta barang mahal padaku. Dengan panjang lebar berbicara akhirnya ia mau memasuki salah satu toko tas.

Ada banyak barang gemerlap di sana. Dengan harga yang minimal sudah delapan digit. Aku sudah paham dengan harga-harga itu.

Dan ketika aku menunjuk salah satu yang paling bagus di sana ...

“Aku nggak cocok sama tas kek gitu. Abang memangnya nggak lihat penampilan aku? Pakai kemeja, rok jeans masak pakai tas kayak gini, kan sayang nanti tasnya turun tahta”

Astaga! Mendengar kalimat itu aku hanya bisa tersenyum. Benar, meski barang yang ia kenakan juga bermerek, namun rasanya tak begitu cocok dengan tas yang aku pilihkan.

Ternyata memaksa dia masuk ke dalam toko tas juga tak ada gunanya. Tak ada satu pun barang yang ia beli. Degan alasan sudah punya banyak, atau punya yang lebih bagus, dan yah ... Uangku utuh, hahahah.

Dan anehnya, saat melihat supermarket ia begitu semangat. Tak seperti saat memasuki toko tas, yang bahkan melangkahkan kaki saja terasa enggan.

Kini Alyah begitu bersemangat memasuki supermarket itu. Aku hanya mengikutinya yang berjalan menyusuri lorong dengan gembira. Sembari mendorong troli dan memasukkan makanan ringan beraneka ragam.

Bahkan lupa, jika sebentar lagi akan menonton film yang bahkan ia sendiri yang memilih.

“Kenapa harus film seperti ini? Kenapa nggak horor atau romantis misalnya?” Tanyaku saat dia dengan seenak jidat menentukan film tanpa bertanya padaku.

Dengan mulut yang masih mengunyah, bahkan pipi yang berbalut jilbab abu-abu itu menggembung.

“Tak ada yang spesial dari film yang kamu sebutkan itu” Bahkan ia berucap tanpa menatapku.

Gila! Masih ada wanita seperti ini. Jika dengan mantan, maka akan menggandeng mesra dan bergelayut manja pada tanganku.

Sedang dia? Hanya ingin membantu mengelap sudut bibirnya yang belepotan saja ditampik dengan kasar.

“Kenapa? Bukannya kalau cewek lebih suka film romantis. Atau, kalau tidak film horor”

“Benarkah?” Sungguh. Papa benar-benar mencarikan wanita yang sangat unik untukku.

“Ya! Biar ada kesempatan buat memeluk pria yang datang bersamanya.”

“Ye! Itu mah Abang yang pingin.” Dia tertawa dengan riangnya. Kenapa baru hari ini aku bertemu dengan dia, Tuhan?! Sungguh menggemaskan!

“Udah berapa puluh wanita yang Abang ajak nonton? Abang juga gitu? Pilih film romantis agar bisa nyuri kesempatan?”

Selain Anin, sepertinya Alyah akan menjadi wanita keduanya yang akan selalu membuat aku gelagapan dengan kata-katanya. Bahkan Alyah lebih serem lagi.

Yang di bahas mantan oi! Mantan!

Pengucapannya selalu tenang, seperti tak ada masalah dengan apa yang ia ucapkan. Seperti tak ada rasa cemburu yang sedang menjalari hari.

Tapi kenapa malah ekspresi itu yang selalu membuat aku kewalahan.

Tak terasa waktu menonton sudah tiba. Belanjaan yang begitu banyaknya sudah juga dititipkan terlebih dahulu.

Setelah lampu redup, adegan saling tembak langsung berputar. Memberikan kesan menakutkan dengan adanya pembunuhan brutal yang terjadi.

Dengan dibumbui romansa seorang laki-laki yang terpisahkan oleh tugas yang dibebankan kepadanya hingga harus berpisah dengan sanga kekasih. Meninggalkan perempuan dengan rasa takut kehilangan yang begitu menghantui.

Waktu kian berlalu begitu cepat. Adegan demi adegan sudah terlewati. Tak ada adegan yang benar-benar membuat tegang, namun pada bagian akhir itu, justru malah membuat panas dingin.

Berbeda dengan Alyah, yang memang sedari tadi berteriak ketika adegan baku tembak terjadi. Reaksi yang selalu refleks ia lakukan seraya menutup matanya.

Padahal yang kuinginkan, dia memelukku dengan erat karena merasa ketakutan. Sayangnya, Alyah bukan wanita seperti itu. Dan aku hanya menelan kekecewaan.

‘Grep’

Refleks aku menutup matanya ketika adegan semi dewasa itu muncul. Dalam layar lebar itu, terlihat sepasang kekasih sedang bercumbu mesra.

Ahs, aku jadi pingin.

“Abang, ih!” Alyah berusaha melepaskan tanganku yang merekat erat pada sepasang matanya. Namun tak kubiarkan lepas begitu saja.

“Kamu masih belum boleh lihat yang ini!” Ucapku menegaskan. Meski mungkin, sebelumnya sudah melihat sebelum sempat tangan ini mendarat.

Setelah ucapanku itu, akhirnya ia diam.

“Terus, maksudnya?! Abang saja lihat, kenapa aku nggak boleh” Jiah, nyindir ceritanya. Ucapannya memang tenang, namun berhasil membuat aku gelagapan.

Bagaimana tidak, aku memang sedang menonton adegan itu. Sudah cukup dewasa, namun sama sekali belum pernah melakukannya.

“Siapa bilang aku nonton? Aku lagi lihatin kamu lho”

Dia terlihat mencebikkan bibirnya, mungkin tak percaya dengan yang aku ucapkan. Hahaha

Meski matanya aku tutup, tapi tangan dan mulutnya masih terus bekerja sama. Tangan mengambil camilan, mulut bagian mengunyah.

Lucu, satu katanya tepat untuk dirinya. Jika cantik akan ada yang lebih cantik dari dia, namun ia begitu menggemaskan.

Wajahnya pun Natural, tak ada polesan perona atau semacamnya yang menghiasi wajahnya. Namun itulah yang membuat aku begitu menyukai dia, bahkan dari saat pertama kali bertemu dengannya.

“Mau langsung pulang?” Film sudah benar-benar berakhir ketika adegan ciuman itu selesai. Happy ending mungkin menjadi cerita yang lumrah dalam dunia perfilman.

Lalu akankah ceritaku dengan dia juga akan memiliki akhir yang bahagia? Seperti film yang baru saja diputar.

Namun ending bahagia juga harus juga harus dengan perjuangan yang setara pula. Dan kini ... Mungkin adalah saatnya aku berjuang mendapatkan ending bahagia itu.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel