Ingin jalan-jalan
Selesai mandi Johan masuk kedalam kamar, ia lalu memakai kaos oblong berwarna biru dan memakai celana kolor pendek. Setelah menyisir rambut ia duduk di ruang tengah dan menyalakan televisi.
‘’Han! Han!’’ suara seorang perempuan memanggil.
Johan berjalan menuju ke pintu dan membukanya, ‘’ceklek’’, ia melihat perempuan memakai kaos putih dan rok sebatas lutut saja, perempuan itu sudah berdiri di depannya.
Johan melihat wanita itu dari ujung kaki sampai ke ujung rambut, perempuan itu juga menatap Johan. ‘’kenapa kamu memandangiku seperti itu?’’ Tanya wanita tersebut.
‘’Eh..itu..ada apa kamu teriak-teriak memanggilku?’’ Jawab Johan.
‘’Kamu di panggil ibuku’’ Kata wanita itu masih dengan tatapan risih.
‘’Emang ibumu kenapa?’’ Johan bertanya lagi.
‘’Katanya ada yang rusak’’ Jawab wanita tersebut.
‘’Rusak? Emang ibumu rusak apanya?’’ Johan bingung.
‘’Bukan ibuku yang rusak, tapi mesin jahitnya yang rusak’’ Wanita itu berkata sambil memanyunkan bibirnya.
‘’Kirain ibu kamu yang rusak, hehehe..’’ Balas Johan cengengesan.
‘’Ih..nyebelin banget sih kamu, ayo buruan!’’ Kata wanita itu cemberut.
‘’Jangan marah Tan, nanti cepet tua loh’’ Kata Johan kepada wanita itu yang ternyata adalah Intan.
‘’Emang gue pikirin! Ayo cepat!’’ Ucap Intan sedikit emosi.
‘’Aku ambil peralatan dulu’’ Johan masuk kedalam setelah mengucapkan kata tersebut.
Johan kembali menemui Intan sambil membawa peralatan tempurnya, ‘’ayo’’. Mereka berdua berjalan kaki karena rumahnya Intan tak begitu jauh, setelah lima menit akhirnya mereka berdua sampai.
Johan masuk mengikuti Intan dari belakang, ‘’bu, ini mas Johan sudah datang’’ Intan berkata kepada ibunya yang sedang duduk di ruang tengah.
‘’Kebetulan kamu sudah datang, Han tolong angkat galon itu ke sana’’ Kata bu Maryam sambil menunjuk kearah galon yang berada di lantai.
‘’Hah? Baiklah’’ Johan mengangkat galon itu dan menaruh ke tempat yang di tunjuk oleh bu Maryam.
‘’Sudah bu, oh iya katanya mesin jahitnya rusak?’’ Johan berkata setelah menaruh galon tersebut.
‘’Kata siapa mesin jahitku rusak?’’ Tanya bu Maryam.
‘’Loh, tadi Intan bilang begitu bu’’ Jawab Johan bingung.
‘’Kamu kena prank tuh, tadi ibu juga kena, katanya kamu akan datang ke sini untuk membantu ibu’’ Kata bu Maryam sambil tersenyum.
‘’Uwalah, jadi Intan ngerjain aku sama ibu?’’ Ucap Johan bertanya.
‘’Betul, kita berdua jadi korbannya’’ Jawab bu maryam.
‘’Sekarang dia ada dimana bu?’’ Tanya Johan lagi.
‘’Palingan ada di kamarnya tuh’’ jawab bu Maryam.
Johan langsung berjalan menuju ke kamarnya Intan, karena pintu kamar tidak di kunci Johan pun langsung masuk dan menjewer telinganya Intan.
‘’Auwh..sakit’’ rengek Intan sambil meringis.
‘’Kamu harus di kasih hukuman karena sudah mengerjai aku sama ibu’’ Kata Johan sambil terus menjewer telinganya Intan.
‘’Sakit mas, lepaskan dong!’’ ucap Intan.
‘’Gak, aku gak akan lepasin sebelum kamu minta maaf’’ Jawab Johan.
‘’Iya, iya maaf’’ kata Intan.
Johan pun melepaskan telinga perempuan itu lalu Intan langsung memukul perutnya Johan, ‘’bugh’’ dan langsung berlari ‘’rasakan tuh, hahaha..’’.
‘’Awas yah kamu’’ Ucap Johan sambil mengejar Intan.
‘’Tangkap aku kalau bisa, we..we..’’ Kata Intan meledek sambil menjulurkan lidahnya.
‘’Kalau ketangkep akan aku plintir telingamu’’ Balas Johan sambil terus mengejar perempuan tersebut.
Bu Maryam yang melihat pertengkaran itu hanya senyum-senyum saja karena mereka berdua sudah terbiasa seperti itu bagaikan adik dan kakak.
‘’Bu, mas Johan nakal nih’’ Intan mengadu kepada ibunya.
‘’Jangan di belain bu, biar aku kasih hukuman supaya jera’’ Sahut Johan dan terus mengejar Intan.
---------
Semenjak Ayahnya meninggal satu tahun yang lalu, Intan kurang kasih sayang dari orang tuanya, semenjak Intan kecil ia selalu meminta seorang kakak namun hal itu tak mungkin di penuhi oleh orang tuanya.
Intan berlari lagi masuk kedalam kamar dan di kejar oleh Johan, perempuan itu naik ke atas ranjang sambil menghindar karena Johan hendak menangkapnya, ‘’we..gak kena’’ ucap Intan meledek.
Johan langsung memegangi kakinya Intan, ‘’ketangkep kamu’’ ucap lelaki itu. Intan berusaha berontak tapi gak bisa dan akhirnya jatuh menindihi Johan, ‘’brugh..’’.
‘’Auwh sakit, Tan!’’ ucap Johan karena tertimpa tubuhnya Intan yang berada diatasnya, jidat mereka saling berbenturan.
‘’Emang kamu saja yang sakit, aku juga sakit tau’’ Balas Intan sambil memegang jidatnya.
Intan hendak bangun dari atas tubuhnya Johan, ‘’eits mau kemana? kamu belum di kasih hukuman mau main lari saja’’ ucap Johan lalu menarik Intan lagi kedalam pelukannya.
‘’Emang kamu mau kasih hukuman apa?’’ Kata Intan sambil menjawil hidungnya Johan.
‘’Hukuman apa yah?’’ Balas Johan pura-pura berfikir sambil terus memeluk perempuan itu.
Intan merasakan burungnya Johan bergerak-gerak di dalam sangkarnya yang ingin keluar, ‘’mas, burung kamu bisa diem gak sih’’ kata Intan lalu mencubit pipi lelaki yang masih berada di bawahnya.
‘’Jangan keras-keras nanti ibu dengar’’ Kata Johan sambil menempelkan jari telunjuk ke bibirnya Intan.
‘’Emang kenapa kalau ibu denger?’’ Tanya Intan dengan lugunya.
‘’Aku malu lah, gimana sih kamu’’ Jawab Johan lalu menjawil hidungnya Intan.
‘’Bu, buru..’’ sebelum Intan selesai mengatakan, Johan langsung membungkam mulut perempuan itu dengan tangan.
‘’Diem bisa gak sih?’’ Kata Johan.
‘’Seharusnya yang di suruh diem itu burung kamu mas, bukan aku’’ Balas Intan sambil memanyunkan bibirnya.
‘’Tuh, burungnya bergerak lagi bikin gei tau’’ Intan berkata karena merasakan burung lelaki itu terus bergerak-gerak.
‘’Di belai sama kamu dong biar burungku bisa diem’’ Ucap Johan sambil tersenyum.
‘’Masa aku, belai aja sendiri gak usah menyuruhku’’ Balas Intan sambil menonyor jidatnya Johan.
Johan lalu membuka ponselnya dan memutar video xxx lalu memperlihatkan kepada Intan, ‘’di belai seperti ini biar burungku tenang’’ kata Johan sambil menunjukkan video tersebut.
‘’Ih..mas, kok kamu punya video seperti itu sih’’ Balas Intan sambil menutup mata dengan tangan namun sesekali ia mengintip di balik celah jarinya.
‘’Gak usah di tutupin mata kamu, lihat dong biar kamu tau’’ Kata Johan sambil melepaskan tangannya Intan yang sedang menutupi mata.
Beberapa menit Intan melihat video tersebut lalu memejamkan matanya, ‘’sudahlah mas, matikan saja’’ ucap Intan sambil bangkit dan berjalan keluar dari kamarnya.
‘’Mau kemana Tan?’’ Tanya Johan yang melihat perempuan itu berjalan keluar kamar.
‘’Cari angin!’’ Jawab Intan agak keras.
Johan memasukkan ponselnya ke saku lalu mengikuti Intan yang berjalan ke ruang tamu, mereka duduk berdampingan sambil memandang keluar rumah.
‘’Mas, ke pantai yuk lihat sunset?’’ Ucap Intan yang ingin menikmati indahnya sunset.
‘’Baru jam empat sore Tan, masih lama’’ Jawab Johan sambil melihat jam di tangannya.
‘’Ya kita jalan-jalan dulu sambil ninggu sunset muncul mas’’ Kata Intan lagi. ‘’ayolah mas’’ rengek Intan.
‘’Baiklah, kita pamit dulu sama ibu’’ Jawab Johan.
Setelah berpamitan dengan bu Maryam mereka berdua naik sepeda motor menuju ke pantai. Menikmati indahnya sore hari dan angin yang spoy-spoy.
Beberapa menit akhirnya mereka sampai, Johan memarkirkan sepeda motornya lalu mereka berjalan menelusuri pinggiran pantai layaknya orang berpacaran.
‘’Mas kesana yuk’’ Intan berkata sambil menunjuk ke batu karang yang berada dekat laut.
‘’Ayo, nanti kita lihat sunsetnya dari sana aja’’ Balas Johan lalu menggandeng tangannya Intan.
*BERSAMBUNG*
