Pustaka
Bahasa Indonesia

CINTA SETELAH BERCERAI

164.0K · Tamat
Ely Arsad
134
Bab
5.0K
View
9.0
Rating

Ringkasan

Sandi Arifin mengalami kebutaan pasca kecelakaan bersama ayahnya. Ibunya enggan merawatnya, membiarkannya terlantar di rumah sakit. Amelia Rahman, gadis berusia enam belas tahun, setia merawat Sandi sampai ia bisa melihat kembali, dengan menyumbangkan korneanya. Namun, setelah Sandi bisa melihat kembali, Amelia menjadi wanita yang paling dibencinya. Kenapa? Adakah kesalahpahaman di antara keduanya?

Mengandung Diluar NikahPerceraianWanita CantikRomansaBillionaireSweetSalah PahamKeluargaIstriCLBK

Bab 1. Ayo bercerai.

"Tolong, Mas, kumohon. Pulanglah denganku untuk merayakan hari ulang tahun pernikahan kita. Hari ini adalah ulang tahun pernikahan kita yang ke empat!" Amelia Rahman, wanita berusia dua puluh lima tahun yang kala itu mengenakan gamis dan hijab warna tosca, memohon kepada Sandi Arifin, suaminya, di sebuah kafe. Ditariknya ujung kemeja Sandi.

Sandi Arifin begitu mendengar permohonannya, dia berdiri dan hendak berlalu pergi dengan raut wajah yang muram. Sandi tidak menghiraukan permohonan Amel.

"Aku tak ingin pulang bersamamu untuk merayakan apa yang kau sebut ulang tahun pernikahan. Pernikahan di antara kita, bukan keinginanku. Kalau saja kau tak menjebakku di malam itu, pernikahan ini tak akan pernah terjadi. Ambil ini dan rayakanlah sendiri." Setelah menyelesaikan kata-katanya, Sandi segera meninggalkan kafe, setelah sebelumnya melemparkan selembar kartu ATM ke meja kafe.

"Mas!" Amelia mencoba meraih ujung kemeja Sandi dengan panik. "Apakah kamu percaya padaku kalau bukan aku yang menjebakmu malam itu, meskipun aku memiliki perasaan terhadapmu?"

Mendengar kata-kata Amel, langkah Sandi terhenti sejenak. Tanpa menoleh ke arah Amelia, Sandi membalas dengan cibiran, "Apa kau mempercayai perkataanmu sendiri? Bukankah yang kamu inginkan dariku adalah hartaku? Itulah kenapa kamu menjebakku."

'Karena aku memang tak pernah melakukan hal itu. Andai saja kau ingat apa yang sebenarnya terjadi, kau pasti akan mengerti segalanya. Sayangnya kau sudah melupakan masa lalu. Jadi, tak peduli sebanyak apapun aku menjelaskannya padamu, kau hanya akan menganggapnya sebuah sebuah kebohongan dan berpikir aku yang melakukan semua itu,' pikir Amel dengan bahunya meluruh karena merasa kalah dan lelah.

Meskipun begitu, Amelia masih ingin mencoba untuk yang terakhir kalinya.

"Mas-," sebelum Amel bisa melontarkan kata-katanya, ponselnya menyalakan notifikasi untuk sebuah pemberitahuan. Dibukanya aplikasi hijau di ponselnya dan melihat foto seorang pria dengan seorang wanita yang sedang bergandengan tangan dengan mesra. Pria di foto itu adalah Sandi, suaminya. Dan wanita itu, tak lain adalah sahabat Amel di kampung. Melisa Hapsari. Beberapa foto terkirim di aplikasi hijau milik Amelia.

'Hah, bukankah ini pulau Bali? Dan mas Sandi beberapa waktu lalu pergi ke pulau Dewata, bahkan tanpa berpamitan denganku? Mas Sandi pergi dengan Melisa? Apakah mas Sandi berselingkuh dari pernikahan ini? Aku tak menolak andai dipoligami, namun aku tak akan menyetujui sebuah perselingkuhan!' Pikir Amelia.

Dalam sepersekian detik, Amelia akhirnya mengambil keputusan. "Kita bercerai saja." Saat Amel mengatakan hal tersebut, dia melepaskan ujung baju Sandi.

Mendengar perkataan Amelia, Sandi berbalik dan menatapnya dengan heran. Selain itu, dia tidak percaya bahwa Amel akan mengatakan kata-kata seperti itu terhadap dirinya. Padahal baru saja Amel memohon kepada Sandi untuk merayakan hari ulang tahun pernikahan mereka.

Namun Sandi menyadari bahwa Amel adalah orang yang cerdas dan penuh perhitungan. Dalam pikirnya Amel adalah seorang wanita yang licik, tidak mungkin dia menyerah begitu saja.

"Kata sandinya adalah tanggal lahirmu." Setelah memberitahu kata sandi kartunya, Sandi meninggalkan Amel sendirian di cafe.

Setelah Sandi pergi, Amel melihat kartu ATM itu dan tersenyum pahit. 'Aku sudah menghabiskan empat tahun hidupku untuk mencoba membuktikan bahwa aku mencintainya apa adanya, bukan karena uangnya atau gelar sebagai nyonya Arifin. Selain itu aku bahkan memberinya waktu lima belas hari untuk memilih antara keluarganya atau orang yang dia cintai. Pada akhirnya, aku kehilangan segalanya meskipun aku sudah berusaha sekeras mungkin untuk mendapatkan cintanya. Namun, aku tidak akan ragu untuk melupakannya ketika waktunya sudah tiba nanti!'

Setelah memikirkan hal ini, Amel bergegas keluar dari cafe kemudian menemui Sandi yang sudah duduk di balik kemudi. "Aku benar-benar ingin bercerai. Aku tidak akan mengambil satu rupiah pun dari keluargamu dan pergi tanpa mengambil apapun. Besok aku akan mengajukan perceraian pernikahan kita. Assalamualaikum."

"Yakin kamu ingin bercerai denganku? Sadarkah kamu dengan kedudukanmu sebelum bertindak seperti wanita gila? Memangnya siapa kamu sebelum menikah denganku?" kata Sandi dengan kesal dan mencemooh. Sandi bergegas menyalakan mesin mobilnya dan berlalu dari cafe.

Amelia tahu bahwa Sandi seperti keluarga Arifin yang lainnya, yang mengira bahwa Amelia tidak akan dapat bertahan hidup tanpa Sandi karena Amelia tidak berpendidikan, bukan dari kalangan keluarga yang berada dan tidak memiliki pekerjaan.

"Jangan khawatir, aku sadar siapa aku. Dan lagi, kakek juga sudah meninggal. Jadi, sudah tidak ada yang menghalangi kita untuk bercerai." lirih Amelia. Tubuh Amelia menjadi lemas. Dia bersandar ke dinding cafe dengan sambill terengah-engah. Apa yang baru saja dia lakukan itu membuatnya menderita karena dia terbiasa tunduk di hadapan Sandi.

Air mata mengalir di pipinya dan dia menyekanya. Meskipun dia ingin segera memutuskan hubungan dengan Sandi, dia masih merasa sakit hati. Bagaimanapun, Sandi adalah seorang yang Amel cintai hampir selama sepuluh tahun.

Setelah mendapat kekuatannya, Amel menghela nafas dan berdiri. Melihat bayangannya di kaca cafe dan mengejek dirinya sendiri.

'Ini adalah kegagalan terbesarku dalam hidup karena sudah menyia-nyiakan waktu selama empat tahun lima belas hari untuk membuktikan pada diriku sendiri bahwa seorang Sandi suatu saat akan mencintaiku,' pikir Amel.

Amel mengambil selulernya, kemudian mengetik beberapa pesan kepada seseorang.

Keesokan harinya dengan memakai gamis warna hitam dan jilbab warna senada, pagi-pagi sekali Amel pergi ke kantor pengadilan agama. Jam menunjukkan masih pukul delapan pagi. Sudah terlihat beberapa orang yang sudah datang mengantri untuk mendaftarkan perceraian dan juga terjadwal menjalankan sidang perceraian di hari itu.

"Melia!" Sebuah panggilan keras membuat Amelia menoleh.

Safitri. Sahabatnya ternyata sudah datang terlebih dahulu ke kantor pengadilan agama.

"Assalamualaikum, Mel," sapa Safitri.

"Wa'alaikumussalam, Fit." Keduanya saling bersalaman selayaknya sahabat.

"Gimana? Apa sudah bulat dengan keputusanmu, Mel?"

Amelia mengangguk. "Iya, Fit. Keputusanku sudah bulat. Sepertinya sia-sia saja aku bertahan dan pertaruhkan jiwa raga. Ibarat mengejar ombak. Semakin aku terseret dalam gelombangnya, semakin akan tenggelam. Sudah waktunya bagiku untuk keluar dari arusnya, sebelum aku akhirnya akan benar-benar tenggelam. Sebelumnya, aku berpikir akan bisa membuat suamiku jatuh cinta kepadaku sebagaimana aku yang mencintainya dengan tulus. Terlebih ada Kirana di tengah-tengah kami. Ternyata tidak."

"Bagus. Ini baru sahabatku yang ku kenal dahulu," Safitri menepuk-nepuk pundak Amelia. "Kalau begitu, ayo kita temui temanku yang pengacara. Sepertinya dia sudah datang."

Keduanya bergegas melangkah ke arah parkiran untuk menemui pengacara yang sudah dihubungi oleh Safitri.

'apa aku akan tetap mengambil keputusan gegabah itu, jika aku sudah tahu bagaimana akhir ceritanya dari awal?' renung Amelia sambil berjalan mengikuti dua orang di depannya.

Sambil merenung, Amelia mengulurkan tangannya dan menyentuh mata kirinya. Tidak ada yang tahu bahwa Amelia sudah tidak bisa melihat sesuatu dengan mata kirinya lagi, termasuk sahabatnya, Safitri.

"KTP sama surat nikahnya apakah dibawa, mbak Amel?" Tanya Pak Bagas, sang pengacara.

Amelia segera membuka tas, kemudian mengambil KTP dan surat nikah. Lalu menyerahkannya kepada Pak Bagas. "Ini, pak."

Pak Bagas segera mendaftarkan gugatan perceraian Amelia terhadap Sandi.

"Sekarang kita pulang. Mbak Amelia tinggal menunggu panggilan sidang. Beberapa bukti perselingkuhan pak Sandi Arifin akan kita tampilkan nanti saat sidang. Memang sih, hasil sidang tidak akan keluar dalam waktu cepat. Minimal dalam waktu tiga bulan sudah ada putusan dan surat akta cerai. Saya harap mbak Amelia bisa sabar menunggu. Dan masalah putri kalian, Kirana Afifah Rahman, jangan khawatir. Insha Allah kita akan mendapatkan hak asuh atasnya," pak Bagas meyakinkan Amelia.

"Sandi tidak ada hak atas Kirana, Mel. Meski dia orang tua kandungnya," Safitri menimpali.

Amelia mengangguk. "Aku tahu. Lagipula, aku tak berharap putriku jatuh ke tangan mereka. Aku hanya penasaran, siapa yang mencoba menjebak mas Sandi malam itu. Dan kenapa bisa justru aku yang menjadi korbannya."

Nasab anaknya adalah ibunya, karena kehamilan yang terjadi di luar kehendak Amelia maupun Sandi.

******

Malam itu adalah malam yang nahas bagi Amelia. Sandi yang tengah dalam pengaruh sildenafil. Sandi berpikir Amelia menjebaknya dengan obat tersebut. Karena di saat itu, Sandi menjalin hubungan dengan Melisa. Namun hubungan mereka tidak mendapat restu dari eyang Saiful Arifin.

Eyang Saiful Arifin kemudian menikahkan Sandi dengan Amelia setelah kasus malam itu tertangkap paparazzi.

Namun, di luar pernikahan terpaksa itu, Amelia jatuh cinta kepada Sandi sejak usianya masih enam belas tahun. Tepatnya, sejak dia menolong pemuda itu. Pemuda yang menangis kebingungan karena dibuang oleh ibu kandungnya sendiri setelah kecelakaan yang merenggut ayahnya dan dirinya yang kala itu masih berusia enam belas tahun mengalami kebutaan. Ibunya beranggapan kalau kematian ayahnya adalah karena Sandi.

****

Ketiganya berpencar setelah urusan selesai. Safitri bersama dengan Amelia, berkendara menuju pinggiran kota Jakarta. Menuju sebuah pesantren di kawasan Mega Mendung, Bogor, untuk menjenguk Kirana Afifah Rahman.

"Apakah kamu akan menjelaskan kepada Kirana tentang perceraian kalian, Mel?" Tanya Safitri memecah kesunyian selama di perjalanan.

"Dia masih terlalu kecil untuk mengetahui urusan orang dewasa, Fitri. Tapi aku akan memberitahukan secara perlahan. Bagaimanapun juga, Kirana tidak dekat dengan ayahnya dan keluarga mas Sandi. Itulah salah satu alasan kenapa aku memasukkan dia ke pesantren. Tidak baik bagi psikis seorang anak melihat ibunya setiap hari diperlakukan semena-mena."

"Aku mengerti, Mel. Bersabarlah menanti hari kebebasanmu. Kamu sudah terlalu banyak berjasa untuk keluarga suamimu. Kalau saja, empat tahun lalu kamu tidak membantu mereka, keluarga Arifin tak akan pernah menjadi pengusaha sukses seperti sekarang. Sayangnya, apa yang kamu lakukan tak pernah mereka hargai. Kecuali oleh eyang Saiful," tandas Safitri.

"Aku membantu mereka dengan ikhlas, Fitri. Bukan karena perasaanku. Bahkan andai aku tak memiliki rasa terhadapnya, aku pun tetap akan membantunya. Banyak kemelut yang dihadapi mereka saat itu. Dan bisa-bisa mas Sandi dipenjara karena dianggap terlibat kasus skandal penggelapan pajak yang dilakukan oleh Melisa dan manajemennya, meskipun aku yakin mas Sandi tidak tahu-menahu masalah tersebut. Bagaimanapun juga, mereka berdua adalah sahabatku."