Bab 5
"Aria." Suara Damien mampu membekukan api. "Vivienne ingin berbicara denganmu."
Wajah Vivienne adalah topeng kepedulian lembut yang penuh pengorbanan. "Aku datang untuk memberitahumu bahwa aku memaafkanmu. Aku tahu kamu tidak berniat menyakitiku."
Tawa muncul dari suatu tempat yang gelap di dalam diriku.
Bunyi itu membuat mereka berdua tersentak.
"Kamu ingin aku meminta maaf," kataku, suaraku tetap tenang meski amarah membuncah di dadaku. "Atas sesuatu yang tidak kulakukan."
"Berhenti berbohong!" Damien melangkah lebih dekat, tinjunya mengepal di sisi tubuhnya. "Semua orang di pesta itu melihatmu! Ada puluhan saksi!"
"Saksi bayaran?" Aku menatap matanya, mencari sisa-sisa pria yang pernah kucintai. "Seperti mereka yang mengatakan aku mendorongnya menuruni tangga tahun lalu?"
"Beraninya kamu—"
"Damien, tolong." Tangan Vivienne di lengannya lembut, waktunya sempurna. "Jangan membuat dirimu marah. Aku baik-baik saja, sungguh. Dia tidak bisa menyakitiku lagi."
Namun mata Vivienne menceritakan kisah yang berbeda.
Mata itu berkilau oleh kemenangan, kepuasan, dan kegembiraan murni menyaksikan kehancuranku.
"Baik." Aku memaksa diriku duduk, setiap otot menjerit menolak. "Kamu ingin permintaan maaf?"
Selang kateter tertarik saat aku mengayunkan kakiku ke sisi ranjang.
Telapak kakiku yang telanjang menyentuh lantai rumah sakit yang dingin.
"Apa yang kamu lakukan?" tuntut Damien.
"Memberikan apa yang kamu inginkan."
Lututku menghantam lantai dengan bunyi keras yang bergema di ruangan.
Rasa sakit di perutku sangat menyiksa, sayatan operasi tertarik dan terbakar.
"Aku minta maaf," kataku, setiap kata terasa seperti racun. "Aku minta maaf atas segala hal yang kamu pikir telah kulakukan."
Senyum Vivienne melebar ketika dia melangkah mendekat, memposisikan dirinya tepat di hadapanku.
"Itu lebih baik," katanya manis. "Lihat? Tidak terlalu sulit, bukan?"
Lalu lututnya menekan perutku.
Tepat di tempat sayatan itu berada.
Tepat di tempat mereka membedahku untuk mengeluarkan bayiku yang telah mati dan menghancurkan rahimku.
Rasa nyeri yang menyengat merobekku.
Aku tak bisa bernapas, tak bisa berteriak, tak bisa melakukan apa pun selain merasakan tubuhku tercabik kembali.
"Oh!" Vivienne melompat mundur dengan ketepatan teatrikal yang sempurna. "Maaf sekali! Aku tidak melihat—Ya Tuhan, itu kantong kateter?"
Tawanya lembut, merdu, dirancang agar terdengar canggung.
Namun aku mendengar kekejaman di baliknya.
"Betapa memalukan bagimu," lanjutnya, cukup keras agar para perawat yang melintas di lorong mendengar. "Kasihan sekali."
Bibir Damien melengkung saat dia menatapku. "Selalu berperan sebagai korban. Kamu memang sangat pandai melakukannya."
Aku tetap berlutut, tak mampu bergerak, menyaksikan darah merembes menembus gaun rumah sakitku.
"Kami menunggu laporan rutin tentang tur permintaan maafmu," kata Vivienne sambil merangkul lengan Damien. "Lucas punya daftar panjang orang-orang yang perlu kamu datangi untuk menebus kesalahan."
Mereka meninggalkanku di sana.
Berlutut di lantai.
Berdarah.
Hancur.
Seorang perawat menemukanku sepuluh menit kemudian dan membantuku kembali ke ranjang, wajahnya profesional dan kosong saat dia mengganti perban serta menyesuaikan kateterku.
Dia tidak bertanya apa yang terjadi.
Mungkin dia tidak peduli.
Mungkin dia telah melihat terlalu banyak tragedi di lorong-lorong ini hingga menjadi kebal.
Saat dia pergi, aku menatap langit-langit dan merasakan sesuatu di dalam diriku berubah.
Bagian yang lembut—bagian yang masih berharap, masih percaya, masih mencintai—akhirnya mati.
Ia tidak mati dengan drama atau air mata.
Ia mati diam-diam, seperti lilin yang padam.
Dan di tempatnya, sesuatu yang dingin dan keras menetap di dadaku.
Aku selesai.
Selesai memohon.
Selesai berharap.
Selesai mencintai orang-orang yang memandangku tak lebih dari sasaran yang mudah.
Tujuh hari kemudian, ketika akhirnya mereka memulangkanku tanpa tempat tujuan dan tanpa siapa pun untuk dihubungi, aku check-in ke sebuah motel murah dengan sisa terakhir tabunganku.
Aku tidak tahu bahwa Damien dan Lucas telah memasang jebakan mereka.
Aku tidak tahu bahwa yang terburuk masih akan datang.
Aku tidak tahu bahwa tepat enam belas jam kemudian, polisi akan mengetuk pintuku dengan borgol dan tuduhan.
Aku hanya tahu bahwa aku harus bertahan hidup.
Satu hari lagi.
Satu jam lagi.
Satu tarikan napas lagi.
Bahkan jika aku tak lagi tahu alasannya.
