
Ringkasan
"Pada pesta ulang tahun suamiku, dia menendangku begitu keras hingga aku kehilangan bayi kami. Saudaraku sendiri berdiri di samping, tatapannya dingin, lalu meludah, ""Kamu pantas menerimanya!"" Kemudian mereka menjebakku dan melemparkanku ke penjara. Tiga tahun di balik jeruji—anakku hilang, rahimku diangkat, bahkan ginjal terakhirku dipukuli sampai gagal. Pada hari aku dibebaskan, mereka berlutut di hadapanku dan memohon agar aku pulang. Namun aku tak lagi punya rumah—yang tersisa hanyalah tubuh di ambang runtuh dan hati yang lebih dingin dari neraka. Kali ini—giliran mereka tak punya tempat untuk lari."
Bab 1
Pada pesta ulang tahun suamiku, dia menendangku begitu keras hingga aku kehilangan bayi kami.
Saudaraku sendiri berdiri di samping, tatapannya dingin, lalu meludah, "Kamu pantas menerimanya!"
Kemudian mereka menjebakku dan melemparkanku ke penjara.
Tiga tahun di balik jeruji—anakku hilang, rahimku diangkat, bahkan ginjal terakhirku dipukuli sampai gagal.
Pada hari aku dibebaskan, mereka berlutut di hadapanku dan memohon agar aku pulang.
Namun aku tak lagi punya rumah—yang tersisa hanyalah tubuh di ambang runtuh dan hati yang lebih dingin dari neraka.
Kali ini—giliran mereka tak punya tempat untuk lari.
...
Gelas-gelas sampanye berkilau di bawah lampu kristal, tetapi yang kulihat hanya tangan Vivienne yang terawat sempurna menekan pipinya.
"Aku dipukul!" suara Vivienne bergetar dengan ketepatan teatrikal. "Aria benar-benar menamparku!"
Perutku yang hamil tujuh bulan terasa seperti timah ketika setiap pasang mata di aula pesta beralih kepadaku.
"Aku tidak—" aku mulai berkata, tetapi Damien sudah bergerak.
"Jangan berbohong!" wajahnya terdistorsi oleh amarah yang belum pernah kulihat. "Semua orang melihatnya!"
"Damien, tolong, bayinya—"
Kakinya menghantam perutku sebelum aku sempat menyelesaikan kalimat.
Rasa sakit meledak di perutku seperti kaca yang pecah.
Aku ambruk ke lantai marmer, tanganku secara naluriah melingkari perutku. "Bayinya! Damien, tolong, bayinya!"
Satu tendangan lagi mendarat di sisiku, lalu satu lagi.
"Kamu membuat Vivienne kehilangan bayinya!" suara Damien terdengar seakan dari bawah air. "Kamu tidak pantas memiliki milikmu!"
Cairan hangat menggenang di bawahku, merembes melalui gaun perakku.
Darah.
Begitu banyak darah.
"Tolong aku," bisikku, meraih ke arah kerumunan wajah-wajah yang membeku. "Seseorang, tolong..."
Damien menggenggam tangan Vivienne, matanya sedingin baja musim dingin. "Ayo pergi. Dia hanya bersandiwara."
"Tunggu!" aku menjerit, penglihatanku mengabur. "Jangan tinggalkan aku!"
Pintu aula pesta tertutup dengan dentuman keras.
Salju berterbangan melalui pintu teras yang terbuka, mendarat di wajahku seperti air mata beku.
Ponselku entah di mana di dalam tas kecilku, di tempat yang tak bisa kuraih.
Lampu-lampu kristal di atas mulai meredup, atau mungkin itu hanya perasaanku saja.
Bayinya. Tolong, Tuhan, selamatkan bayiku.
Jariku mencakar marmer, meninggalkan guratan merah.
Musik telah berhenti, tetapi aku masih mendengar tawa Vivienne bergema di telingaku.
Segalanya terasa dingin.
Begitu dingin.
Lampu-lampu kristal di atas mengabur menjadi bintang-bintang.
Seseorang berteriak, tetapi suaranya terasa jauh, teredam.
Apakah itu aku?
"Panggil ambulans!" teriak sebuah suara dari kejauhan.
Namun Damien sudah pergi.
Aku mencoba bergerak, mencoba merangkak menuju pintu, tetapi tubuhku tak merespons.
Gaun perak itu—yang kupilih berminggu-minggu, yang kata Damien membuatku tampak cantik—kini hancur.
Warna merah merekah di kainnya seperti mawar.
Bayiku.
Anak laki-lakiku.
Kami akan menamainya Ethan.
Baru bulan lalu, Damien dan aku mengecat kamar bayi dengan biru pucat, tangannya menutupi tanganku pada rol cat, bibirnya menempel di pelipisku.
"Anak kita," bisiknya. "Keluarga kecil kita yang sempurna."
Kapan semuanya menjadi begitu salah?
Kapan mata suamiku berubah dingin?
Kapan cintanya menjelma menjadi kekerasan?
Sebuah wajah muncul di atasku—salah satu pelayan, ekspresinya tampak ketakutan.
"Tetaplah bersamaku, Nyonya. Bantuan sedang datang."
Namun aku bisa merasakan diriku tergelincir.
Rasa sakit kini memudar, digantikan oleh kebas.
Mungkin itu lebih buruk.
Aku memikirkan orang tuaku, yang telah meninggal dua puluh tahun lalu, dan bertanya-tanya apakah aku akan bertemu mereka segera.
Akankah mereka kecewa dengan pilihan-pilihan yang kubuat?
Akankah mereka mengerti mengapa aku mencintai seorang pria yang bisa melakukan ini?
"Damien..." bisikku untuk terakhir kalinya, meski dia tak bisa mendengarku.
Meski dia telah meninggalkanku di sini untuk mati.
Wajah pelayan itu memudar.
Marmer dingin di bawahku menghilang.
Segalanya menghilang.
Dan pada momen terakhir kesadaranku, aku menyadari sesuatu yang menghancurkanku lebih dari tendangan mana pun: aku masih mencintainya.
Bahkan sekarang.
Bahkan setelah segalanya.
Aku masih mencintai pria yang sedang membunuhku.
Kegelapan menelan pikiran itu bersama segala yang lain.
