Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3

Betty keluar dari rumah dengan mengenakan dress batik bercorak warna cerah. Dress itu menampilkan lekuk tubuhnya yang besar penuh gumpalan lemak sebab tampak tidak muat. Bibir dengan gincu warna merah menyala, wajah putih bertabur bedak tebal terlihat tidak senada dengan kulit leher sawo matangnya. Farid yang tengah duduk di atas motor matiknya berdecak jijik kala melihat tampilan istrinya yang terlihat norak.

“Maaf lama dandannya, Mas,” kata Betty tersenyum seraya menghampiri Farid.

Helem sudah terpasang di kepala, kemudian Betty mendudukan dirinya di atas motor dengan posisi menyamping. Motor yang ditumpangi pun hampir bergoyang hebat karena menopang beban berat tubuh Betty yang jumbo.

‘Body kek gajah sih!’ cibir Farid dalam hati sambil mensetarter motornya, lalu melaju lambat membelah jalanan.

Laju motor tiba-tiba berhenti di sebuah minimarket tak jauh dari lokasi hajatan. Betty mengerutkan dahi heran. “Ko berhenti, Mas? Mau belanja dulu?”

“Nggak. Aku mau kamu turun dulu.” Farid berucap tanpa menoleh ke belakang.

“Baiklah,” kata Betty menuruti perintah Farid.

Farid menatap Betty lalu berkata, “Bet, kamu diem di sini dulu ya. Kita berangkatnya pisah-pisah.”

Betty merasa heran dengan keputusan Farid. “Kenapa kita nggak berangkat bareng aja, Mas?” Bodoh dan polos. Begitulah diri Betty. Ia hanya tidak menyadari bahwa perlakuan Farid yang ingin datang ke pesta pernikahan sendirian menandakan bahwa Farid memang tidak ingin berdampingan bersamanya. Alasannya? Gengsi dan malu. Namun, Betty tidak menyadari hal itu.

“Kamu turuti aja perintah aku. Kalau aku suruh kamu tunggu di sini, ya jalani aja.” Farid berujar datar.

Akhirnya Betty harus menuruti keinginan Farid dengan pasrah. Maklum, saking cintanya pada Farid, Betty rela-rela saja. Farid kembali memacu motor Vario-nya dengan cepat, meninggalkan Betty yang mematung di tempat.

Hanya butuh waktu beberapa menit Farid sampai ke lokasi. Suara gemuruh lagu dari speaker terdengar nyaring. Memarkirkan motor, farid kemudian masuk ke area tenda hajatan yang cantik dengan dekorasi warna merah muda dipenuhi bunga-bunga. Farid naik ke atas pelaminan. Saling lempar senyum kala Rama—sahabat Farid—menyadari kehadirannya. Keduanya pun saling bersalaman.

“Selamat atas pernikahannya ya, Rama,” ucap Farid dengan senyuman.

“Makasih, Bro.”

Sementara Mila, sang mempelai wanita celingak-celinguk mencari seseorang. Sebelah alisnya terangkat heran menatap Farid. “Mana Betty? Ko nggak ada?”

Farid menggaruk pelipis kanannya yang tak gatal. “Anu ... Betty ... ada urusan sebentar. Nanti dia datang ko,” balas Farid berdusta.

“Oh, kirain aku kalian berangkat bareng,” kata Mila yang dibalas senyum tipis Farid.

Setelah berbincang singkat, Farid segera menuju area perasmanan dan mengantri. Lantas, mendudukan diri di kursi tak jauh dari panggung hiburan yang tengah memainkan musik dangdut.

Di saat Farid tengah asyik menyantap makanan, tiba-tiba tiga orang pria datang mendudukan diri di sampingnya. Seorang dari mereka menepuk pundak Farid, reflek ia menoleh.

“Gimana kabarnya?” tanya pria tersebut dengan cengiran lebar.

“Hendro, Rizki, Hari ...” Farid tertegun. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan teman satu kelasnya yang lain. Ketiganya jauh merantau ke luar kota.

“Haha, lama ya tidak bertemu,” cetus Hendro dengan senyum ramah.

Farid hanya mengangguk kaku. “Iya. Hmm, kabarku baik-baik saja. Kalian?”

“Alhamdulillah ... kabar kami baik-baik saja, Rid.”

“Hendro, kapan kamu balik ke Jogja?”

“Kemarin malam. Oh iya, kamu kuliah di mana?”

Farid menunduk minder. “Aku nggak kuliah,” ucapnya pelan sambil melanjutkan menyantap makanan.

“Terus kamu kerja apa?” tanya Hari.

“Ojek online.”

Sebenarnya Farid merasa minder jika harus menceritakan tentang pekerjaan. Di saat teman-teman SMA satu gengnya punya karir yang cemerlang, ia harus rela menikah dengan orang yang tak diinginkan olehnya. Baginya, menikah dengan Betty adalah malapetaka. Kuliah pun percuma, kedua orang tua tak punya biaya. Ketiganya membulatkan bibir tak menyangka, saling pandang satu sama lain. “Oooh ...”

“Eh, aku dengar dari Rama, katanya kamu udah nikah ya. Ko nggak ngundang-ngundang kita sih, Rid?” tanya Hari. Farid terdiam. Bingung harus bilang apa.

“Betty nggak dibawa, Rid?” celetuk Rizki sambil cengengesan.

Mendengar itu Hendro dan Hari menoleh bingung pada Rizki. “Ko si Betty dibawa-bawa sih, Ki?” tanya Hendro.

Rizki nyengir lebar, mendelik pada Farid. “Betty kan istrinya Farid.”

“Whaat?!” pekik Hendro kaget. Sontak Hendro dan Hari mengalihkan tatapan heran pada Farid. Keduanya tampak menganga.

Tidak tahan dengan perbincangan itu, Farid segera beranjak dari tempat duduk, lalu meletakan piring bekas makannya sembarang. “Aku pamit dulu ya. Harus cepet pulang, soalnya ada kepentingan.”

“Lha, kenapa buru-buru? Kita kan belum lama ngobrol." Hendro menahan lengan Farid supaya tetap duduk dan bernostalgia bersama. Mumpung ada kesempatan, Hendro sungguh dibuat penasaran dengan kehidupan Farid yang tidak disangka-sangka bisa menikah dengan Betty. Farid hanya tersenyum tipis, lalu menepis cengkraman Hendro di lengannya. Buru-buru ia melengos pergi dengan rasa malu yang membuncah di dada. Setelah kepergian Farid, ketiganya pun melanjutkan kembali obrolan.

“Ki, beneran apa yang kamu omongin itu? Si Betty cap badak istrinya Farid?” tanya Hendro pada Rizki.

Rizki cengengesan. “Iya, kata si Rama.”

“Haha, ko bisa sih? Si Betty itu kan bahan bully-an kita. Ko mau banget ya si Farid nikahi si gembrot itu?” Hendro cekikikan. Ia mengeluarkan sebungkus rokok dan korek api dari sakunya, lalu mengepulkan asap rokok itu ke udara.

“Tau deh, kata si Rama sih dijodohin sama bapaknya. Usia pernikahan mereka udah hampir tiga tahun.” Rizki menjelaskan, tangannya menarik sebatang rokok milik Hendro. "Minta satu ya, Dro."

“Berarti selang setahun kelulusan SMA kita dong ya? Terus mereka sudah punya anak?” tanya Hari ingin tahu.

Rizki menjawab, “Iya udah. Perempuan, usianya satu setengah tahun.”

Hendro tersenyum lebar. Merasa lucu, sebab pikirannya melanglang buana ke hal yang konyol. “Farid yang malang. Nggak kebayang, pasti setiap malam si Farid sesak napas ditimpa sama si Betty. Hahaha ...,” ujar Hendro yang diikuti gelak tawa ketiganya.

Di sisi lain, Farid menghentikan laju motor di depan minimarket tempat Betty menunggunya sedari tadi.

“Kamu jalan kaki aja ya ke senanya. Lagian deket ko dari sini. Oh iya, jangan lama-lama. Aku nggak suka nunggu lama!” ketus Farid.

“Baik, Mas." Betty memberikan tersenyum kecut. Ada rasa penasaran sekaligus kecewa di hatinya. Mengapa ia tidak bisa datang bersama dengan sang suami? Namun, Betty mencoba menghempaskan pikiran negatif itu. Terkesiap Betty bangkit dari tempat duduk, lalu berjalan cepat menuju lokasi hajatan di bawah terik matahari yang menyengat.

***

Betty menepuk pundak Farid yang tengah berbaring memunggunginya. “Mas?”

Mengeram kesal, Farid mendelik malas pada istrinya. “Ada apa?”

Betty tersenyum lebar, sesekali mengulum bibir. “Anu ... aku ... lagi pengen,” ungkap Betty malu-malu.

“Cape!”

Termangu. Menghela napas, Betty harus menelan kekecewaan setelah mendapat penolakan dari sang suami untuk ke sekian kalinya. Di saat ia sedang berhasrat untuk bercinta, Farid malah enggan. Beribu alasan selalu dilontarkan. Ingin rasanya Betty memaksa, tapi tak tega. Terpaksa Betty harus meredam keinginannya yang menggebu.

Betty meringsut ke bawah. Menggelar kasur lipat di lantai. Sudah dua setengah tahun ia tidur pisah ranjang. Meskipun masih dalam satu kamar. Farid tidur di atas ranjang bersama Nita, sementara Betty di bawah dengan hanya beralaskan kasur tipis. Sempit. Begitulah alasan Farid menyuruh Betty untuk tidur di lantai.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel