Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Awal berdirinya geng Dragon

Sore itu datang tanpa hujan, tapi langit menggantung rendah seperti menahan beban yang terlalu lama. Auriga tidak langsung pulang setelah bel terakhir berbunyi. Ia berjalan menyusuri jalan belakang sekolah—jalur sempit yang jarang dipilih siswa lain karena sepi dan sedikit rusak.

Ia menyukai tempat-tempat seperti itu. Tidak banyak orang bertanya. Tidak ada kewajiban untuk terlihat baik-baik saja.

Auriga berhenti di sebuah bangunan tua yang sudah lama tidak dipakai. Dindingnya penuh coretan, sebagian pudar, sebagian baru. Di depan bangunan itu, beberapa motor terparkir sembarangan.

Ia tidak berniat mendekat. Tapi suara seseorang membuat langkahnya tertahan.

“Kalau mau liat, liat aja. Nggak usah ngumpet.”

Auriga menoleh.

Seorang cowok berdiri bersandar pada motor hitamnya. Posturnya tegap, bahunya lebar, rambutnya sedikit berantakan tapi rapi dengan caranya sendiri. Tatapannya tajam, bukan galak—lebih seperti orang yang terlalu sering waspada.

Auriga tidak langsung menjawab. Ia melangkah maju satu langkah. “Bukan ngumpet.”

Cowok itu mengangkat alis tipis. “Terus?”

“Lewat.”

“Hm.” Cowok itu tersenyum kecil, miring. “Jarang ada yang lewat sini.”

Auriga mengangkat bahu. “Aku jarang milih jalan rame.”

Cowok itu menatapnya beberapa detik lebih lama dari yang perlu. Seolah sedang menilai, bukan menghakimi.

“Nama gue Alkael,” katanya akhirnya. “Alkael Radewa.”

Auriga mengangguk singkat. “Auriga.”

“Sendirian?” tanya Alkael.

Auriga menoleh ke sekeliling. “Kelihatan, kan.”

Alkael tertawa pelan. Bukan tawa mengejek. Lebih seperti pengakuan. “Iya juga.”

Angin sore bertiup, membawa bau aspal dan debu. Auriga hendak melangkah pergi, tapi suara Alkael menahannya lagi.

“Lo anak sekolah sini?”

Auriga berhenti. “Iya.”

“Kelas berapa?”

“Sebelas.”

Alkael mengangguk pelan. “Pantes.”

“Pantes apa?”

“Kelihatan capeknya bukan capek belajar.”

Kalimat itu jatuh pelan, tapi tepat. Auriga menoleh cepat. “Lo kenal gue?”

“Nggak,” jawab Alkael jujur. “Tapi gue kenal tampang orang yang males pulang.”

Auriga terdiam.

Ia tidak membantah. Tidak juga mengiyakan. Tapi diamnya cukup memberi jawaban.

Alkael meluruskan badan. “Lo mau duduk?”

Auriga ragu sejenak. “Di sini?”

“Iya. Nggak ada yang gigit.”

Auriga akhirnya duduk di beton rendah dekat dinding. Alkael ikut duduk, menjaga jarak. Tidak terlalu dekat. Tidak sok akrab.

“Rumah lo ribut?” tanya Alkael, nadanya datar.

Auriga menghembuskan napas. “Sunyi.”

Alkael mengangguk pelan. “Sunyi juga bisa ribut.”

Kalimat itu membuat Auriga menoleh. Untuk pertama kalinya, ia menatap Alkael benar-benar.

“Rumah gue,” lanjut Alkael, “isinya suara, tapi kosong.”

Auriga tidak bertanya lebih jauh. Ia tidak perlu. Ada hal-hal yang tidak perlu dijelaskan panjang-panjang untuk dimengerti.

Beberapa detik mereka duduk tanpa bicara.

“Lo sering ke sini?” tanya Auriga akhirnya.

“Sering,” jawab Alkael. “Tempat aman. Nggak ada yang sok ngatur.”

“Aman dari apa?”

“Aman dari pura-pura.”

Auriga menunduk, menatap ujung sepatunya. “Kenapa gue?”

Alkael menoleh. “Kenapa apa?”

“Kenapa lo ngajak gue duduk?”

Alkael diam sejenak, lalu berkata jujur, “Karena lo nggak keliatan pengin jadi siapa-siapa.”

Auriga mengerutkan kening. “Maksudnya?”

“Banyak orang pengin kelihatan kuat, jago, berani. Lo nggak.” Alkael meliriknya. “Lo cuma pengin bertahan.”

Kata itu menusuk tanpa luka.

“Iya,” jawab Auriga pelan.

Alkael tersenyum tipis. “Itu cukup.”

Auriga menoleh lagi. “Cukup buat apa?”

Alkael berdiri, menepuk debu di celananya. “Buat mulai sesuatu.”

“Apa?”

Alkael tidak langsung menjawab. Ia meraih rokok, lalu mengurungkan niatnya. Disimpannya kembali.

“Buat bikin tempat,” katanya akhirnya. “Buat orang-orang yang nggak punya rumah buat pulang.”

Auriga berdiri ikut berdiri. “Lo lagi ngajak gue masuk geng?”

Alkael menatapnya lurus. “Belum.”

“Terus?”

“Gue cuma lagi kenal lo.”

Auriga mengangguk. “Oke.”

“Kalau besok lo lewat sini lagi,” lanjut Alkael, “mungkin ada orang lain.”

“Kalau gue nggak lewat?”

Alkael mengangkat bahu. “Berarti belum waktunya.”

Auriga melangkah mundur. “Nama tempatnya?”

Alkael tersenyum kecil. “Belum ada.”

Auriga mengangguk pelan. Ia berbalik pergi, tapi berhenti satu langkah dari sana.

“Alkael.”

“Iya?”

“Kenapa lo mulai?”

Alkael terdiam. Lama. Lalu menjawab dengan suara rendah, “Karena kalau nggak, gue bisa jadi lebih rusak dari orang tua gue.”

Auriga tidak berkata apa-apa lagi.

Ia melanjutkan langkahnya, meninggalkan bangunan tua itu. Tapi langkahnya terasa berbeda. Lebih berat. Lebih sadar.

Di belakangnya, Alkael menatap punggung Auriga sampai sosok itu menghilang di tikungan.

Untuk pertama kalinya setelah lama, Auriga merasa seperti baru saja membuka pintu yang tidak ia tahu keberadaannya.

Auriga kembali ke tempat itu dua hari kemudian.

Bukan karena janji. Lebih karena rasa penasaran yang tidak berisik, tapi menetap. Bangunan tua itu masih sama—dinding kusam, bau debu, dan coretan yang tidak semua punya makna. Tapi kali ini, suasananya berbeda.

Ada lebih banyak motor.

Auriga berhenti beberapa langkah dari pintu terbuka. Di dalam, suara orang berbicara terdengar rendah, tidak riuh, tidak juga tegang. Ia belum masuk sepenuhnya ketika suara yang familiar terdengar.

“Masuk aja.”

Alkael berdiri di dekat dinding, tangan disilangkan di dada. Tatapannya menyapu Auriga cepat, lalu kembali netral. Tidak ada senyum berlebihan. Tidak ada ekspresi terkejut.

Seolah Auriga memang sudah diperhitungkan akan datang.

“Gue kira lo cuma ngomong,” kata Auriga pelan sambil melangkah masuk.

“Gue jarang ngomong kosong,” jawab Alkael.

Di dalam ruangan itu ada dua cowok lain. Salah satunya bertubuh tinggi dengan rahang tegas dan tatapan tajam—ia duduk di atas meja, kaki satu menapak lantai. Satunya lagi duduk di kursi plastik, bahunya santai, tapi matanya awas.

“Ini Auriga,” kata Alkael singkat. “Anak sekolah.”

Yang di atas meja mendengus kecil. “Masih bocah.”

Alkael meliriknya sekilas. “Jangan sotoy.”

Nada suaranya rendah. Tapi cukup untuk membuat cowok itu diam. Auriga menangkapnya—bukan karena Alkael keras, tapi karena ucapannya tidak pernah perlu diulang.

“Duduk,” kata Alkael ke Auriga.

Auriga duduk di beton rendah, posisi yang sama seperti pertemuan pertama. Ia memperhatikan bagaimana Alkael berdiri di tengah ruangan tanpa benar-benar mengambil posisi pusat. Tapi semua mata, tanpa sadar, mengarah ke sana.

“Gue nggak maksa siapa pun ada di sini,” kata Alkael membuka suara. “Kalau lo datang, itu pilihan.”

Cowok di kursi plastik menyandarkan punggung. “Kayak biasa, Kael.”

Alkael mengangguk. “Iya. Kayak biasa.”

Auriga memperhatikan detail kecil itu—Alkael tidak pernah memotong pembicaraan dengan emosi. Ia menunggu. Mengizinkan orang lain bicara. Tapi saat ia berbicara, ruangan seolah otomatis tenang.

“Lo tinggal di mana?” tanya Alkael ke Auriga.

“Dekat sini.”

“Rumah?”

Auriga mengangguk.

“Orang tua lengkap?”

Auriga terdiam sepersekian detik. “Lengkap.”

Alkael menatapnya. “Tapi?”

“Tapi nggak pernah bareng.”

Alkael tidak terlihat terkejut. Ia hanya mengangguk pelan, seperti mencatat sesuatu di kepalanya.

“Di sini,” lanjut Alkael, “nggak ada yang dinilai dari keluarga. Nama belakang, harta, atau cerita orang tua. Yang penting satu.”

“Apa?” tanya Auriga.

“Lo bisa jaga diri lo sendiri. Dan nggak nyeret orang lain ke masalah lo.”

Cowok yang tadi di atas meja tertawa kecil. “Berat amat.”

Alkael menoleh. “Kalau lo pengin main-main, pintu di sana.”

Cowok itu terdiam. Turun dari meja tanpa komentar.

Auriga menyadari satu hal yang jelas: Alkael tidak perlu meninggikan suara untuk menguasai keadaan. Ia cukup tahu kapan harus bicara, dan kapan harus berhenti.

“Kenapa lo ngumpulin orang-orang di sini?” tanya Auriga akhirnya.

Alkael menatapnya cukup lama. Lalu menjawab, “Karena kalau sendiri, orang kayak kita gampang hilang arah.”

“Terus rame-rame bikin rusuh?”

Alkael menggeleng. “Justru kebalik.”

Ia berjalan mendekat, duduk di seberang Auriga. Jarak mereka cukup dekat untuk bicara tanpa meninggi, cukup jauh untuk tidak terasa mengintimidasi.

“Gue nggak butuh geng buat pamer,” kata Alkael pelan. “Gue butuh lingkar yang saling nutupin punggung. Kalau dunia dorong kita ke pinggir, kita nggak jatuh sendirian.”

Auriga merasakan dadanya menghangat aneh. Bukan karena setuju sepenuhnya, tapi karena kalimat itu terdengar jujur.

“Lo pemimpinnya?” tanya Auriga.

Alkael tersenyum kecil. “Gue bukan bos.”

“Terus?”

“Gue cuma yang pertama mutusin buat berhenti pura-pura kuat sendirian.”

Ruangan kembali sunyi. Cowok di kursi plastik menghela napas. “Makanya gue masih di sini.”

Auriga menoleh padanya, lalu kembali ke Alkael. “Kalau gue masuk… aturannya apa?”

Alkael berdiri. “Belum ada aturan.”

Auriga mengerutkan kening.

“Karena kita belum jadi apa-apa,” lanjut Alkael. “Masih saling lihat. Masih saling timbang.”

“Dan kalau gue nggak cocok?”

“Pintu selalu kebuka.”

Jawaban itu sederhana. Tapi justru membuat Auriga merasa tidak dijebak.

Di luar, matahari mulai turun. Cahaya jingga masuk lewat celah dinding, memantul di lantai berdebu.

Auriga berdiri. “Gue nggak janji apa-apa.”

Alkael mengangguk. “Gue juga nggak minta janji.”

Mereka saling pandang sebentar—dua orang dengan luka berbeda, tapi arah yang mulai sejajar.

Saat Auriga melangkah keluar, Alkael bersuara lagi, “Rig.”

Auriga menoleh.

“Kalau lo balik lagi,” kata Alkael, “berarti lo siap jadi bagian dari sesuatu. Kecil dulu, tapi nyata.”

Auriga mengangguk pelan. “Kita liat aja.”

Ia pergi tanpa menoleh lagi. Tapi di dalam kepalanya, satu hal sudah jelas:

Alkael Radewa bukan tipe orang yang banyak bicara tentang masa depan.

Tapi saat ia berdiri di satu tempat, orang-orang memilih berhenti dan mendengarkan.

Dan tanpa disadari Auriga,

itulah awal dari pengaruh yang kelak membentuk Dragon.

Pertemuan berikutnya tidak datang dengan suasana yang sama.

Auriga baru saja duduk ketika pintu bangunan tua itu dibuka dengan suara keras. Langkah kaki menghantam lantai tanpa ragu, diikuti suara napas berat yang tidak disembunyikan.

“Gila, panas banget.”

Seorang cowok masuk tanpa permisi. Seragam sekolahnya kusut, dasinya sudah dilepas, kancing atas terbuka. Rambutnya berantakan, wajahnya keras—bukan karena galak, tapi karena terlalu sering menahan sesuatu.

Alkael tidak menoleh. “Kalau mau masuk, masuk. Kalau mau ribut, keluar.”

Cowok itu berhenti tepat di tengah ruangan. “Santai aja, Kael.”

“Geron,” kata Alkael datar. “Tutup pintu.”

Geron Albian mendengus, tapi tetap menutup pintu. Ia melempar tasnya ke lantai, lalu duduk di kursi plastik yang sama seperti pertemuan sebelumnya.

Auriga memperhatikannya. Geron bukan tipe yang bisa diam lama. Tubuhnya selalu bergerak—kaki bergoyang, jari mengetuk lutut.

“Ini bocah baru?” tanya Geron sambil menatap Auriga tanpa basa-basi.

Auriga menoleh. “Auriga.”

Geron mengangguk cepat. “Geron.”

“Udah,” potong Alkael. “Nggak perlu adu tatap.”

Geron mendecak. “Gue cuma kenalan.”

“Cara lo bukan kenalan,” balas Alkael.

Ruangan kembali sunyi. Tapi bukan sunyi nyaman—lebih seperti udara yang siap meledak.

Geron bersandar. “Gue males muter-muter. Ngapain sih kita ngumpul begini? Kalau cuma buat curhat doang, gue bisa di warung kopi.”

Auriga menegakkan punggung. Ia tidak suka nada itu, tapi memilih diam.

Alkael menatap Geron lurus. “Kalau lo ngerasa buang waktu, pintu masih di sana.”

Geron tertawa pendek. “Lo selalu bilang gitu.”

“Karena selalu relevan.”

Geron mengusap wajahnya kasar. “Gue capek, Kael. Di rumah ribut. Di luar orang nyuruh gue kuat. Terus gue ke sini… disuruh tenang.”

Nada suaranya naik. Emosinya tidak rapi.

“Gue nggak pernah minta lo tenang,” jawab Alkael pelan. “Gue cuma minta lo nggak ngerusak ruangan.”

“Ruangan?” Geron berdiri. “Ini cuma bangunan busuk!”

Auriga refleks berdiri setengah. “Hei.”

Geron menoleh cepat. “Apa?”

Auriga menahan napas. “Lo marah ke tempat yang salah.”

Geron menatapnya tajam. “Lo tau apa?”

Auriga terdiam sejenak, lalu menjawab jujur, “Gue tau rasanya pengin teriak, tapi nggak ada yang denger.”

Kalimat itu menghentikan Geron. Tidak lama. Tapi cukup.

Alkael melangkah maju, berdiri di antara mereka. “Geron. Duduk.”

Nada itu tidak tinggi. Tidak mengancam. Tapi penuh kendali.

Geron menatap Alkael lama, lalu duduk kembali dengan kasar. Kursi berderit.

“Gue nggak halus,” kata Geron, suaranya lebih rendah. “Gue ngomong apa adanya.”

“Kejujuran tanpa kontrol cuma jadi senjata,” jawab Alkael.

Geron tertawa pahit. “Terus lo maunya apa?”

Alkael menatapnya. “Gue mau lo jujur tanpa nyakitin orang yang sama-sama luka.”

Ruangan hening. Bahkan suara angin di luar terdengar jelas.

Geron menghembuskan napas panjang. “Gue cuma… nggak mau jadi kayak bokap gue.”

Auriga menoleh. Kalimat itu keluar tanpa amarah. Hanya lelah.

“Setiap kali gue marah,” lanjut Geron, “gue ngerasa muka gue makin mirip dia.”

Alkael tidak langsung menjawab. Ia duduk di hadapan Geron. “Makanya lo di sini.”

Geron menatap lantai. “Gue takut kalau sendirian, gue salah langkah.”

Auriga duduk kembali. Ia menyadari sesuatu: Geron bukan keras—ia rapuh dan tidak tahu cara menahan diri.

“Lo bukan satu-satunya,” kata Auriga pelan.

Geron menoleh. “Iya?”

Auriga mengangguk. “Makanya gue balik.”

Geron terdiam. Lalu menghela napas pendek. “Ya udah.”

Ia menatap Alkael. “Tapi gue nggak janji bakal jadi kalem.”

Alkael mengangguk. “Gue juga nggak minta.”

Geron menyeringai kecil. “Asal lo tau, gue bakal jujur terus.”

“Selama lo tanggung jawab,” balas Alkael.

Geron mengangguk. “Deal.”

Pertemuan itu tidak berakhir dengan tawa. Tapi ada sesuatu yang bergeser.

Auriga melihatnya jelas:

Alkael adalah penyeimbang.

Geron adalah api.

Dan api, kalau diarahkan dengan benar,

tidak selalu menghancurkan—

kadang justru menghangatkan.

Pertemuan berikutnya terjadi menjelang malam.

Langit sudah gelap ketika Auriga tiba di bangunan tua itu. Lampu kecil di dalam menyala redup, cukup untuk membuat bayangan orang-orang terlihat di dinding kusam. Alkael sudah ada di sana, berdiri sambil menyandarkan punggung ke tembok. Geron duduk di lantai, punggungnya bersandar pada kaki meja, ekspresinya lebih tenang dari biasanya.

Dua sosok baru berdiri dekat pintu.

Yang pertama bertubuh ramping, tinggi, dengan sorot mata tajam yang seolah selalu menghitung sesuatu. Seragamnya rapi, bahkan di kondisi seperti ini. Rambutnya hitam, tersisir rapi. Ia tidak banyak bergerak, tapi kehadirannya terasa penuh.

Yang satunya lagi bertolak belakang.

Ia bersandar santai di kusen pintu, senyum tipis tergantung di bibirnya. Jaket tipis menutupi seragam, tas diselempangkan sembarangan. Tatapannya hangat, nyaris malas, tapi matanya menyimpan kewaspadaan.

“Ini Reano,” kata Alkael menunjuk cowok pertama. “Reano Aksaraga.”

Reano mengangguk singkat. “Panggil Re.”

“Yang satu lagi,” lanjut Alkael, “Angkasa Nalandra.”

Angkasa mengangkat dua jari. “Gas.”

Geron mendengus kecil. “Santai amat.”

Angkasa tersenyum. “Hidup udah ribet, Bro. Ngapain ditambah?”

Auriga memperhatikan mereka berdua. Dua karakter yang langsung terasa berbeda, tapi tidak bertabrakan.

“Kalian udah tau kenapa ke sini?” tanya Alkael.

Reano menjawab lebih dulu. “Bukan buat nongkrong.”

Alkael mengangguk. “Bagus.”

Angkasa menimpali, “Tapi nongkrong bonus, kan?”

Geron tertawa kecil. Untuk pertama kalinya, tawanya terdengar ringan.

Auriga duduk di sudut, memperhatikan tanpa banyak bicara. Ia melihat bagaimana Reano berdiri agak menjauh, matanya menyapu ruangan—mencatat pintu, jendela, jarak. Sementara Angkasa justru mendekat, duduk di lantai dengan santai.

“Jadi,” kata Angkasa sambil menyilangkan kaki, “ini tempat curhat nasional?”

Reano meliriknya. “Jangan meremehkan.”

“Gue nggak meremehkan,” balas Angkasa. “Gue nyoba ngeringanin.”

Alkael memotong, “Kita nggak cari citra. Yang di sini cuma orang-orang yang nggak pengin sendirian lagi.”

Reano menatap Alkael lurus. “Aturan?”

“Belum ada,” jawab Alkael.

Reano mengangguk pelan. “Berarti fleksibel. Tapi rentan.”

Geron menoleh. “Lo ribet.”

“Gue realistis,” balas Reano dingin.

Angkasa terkekeh. “Tenang. Selama nggak saling injek, aman.”

Auriga akhirnya bersuara. “Kalian tau satu sama lain?”

Reano menggeleng. “Nggak.”

Angkasa mengangkat bahu. “Sekarang tau.”

Hening sejenak.

Reano menatap Auriga. “Lo yang paling muda?”

Auriga mengangguk. “Mungkin.”

“Lo kelihatan nggak banyak bicara,” lanjut Reano.

“Dia ngomong kalau perlu,” kata Alkael.

Reano mengangguk. “Itu lebih berguna.”

Angkasa menoleh ke Auriga. “Lo pendiem, tapi keliatan mikir.”

Auriga tersenyum tipis. “Mungkin.”

Angkasa tersenyum lebih lebar. “Sip. Kita butuh yang mikir.”

Alkael melangkah ke tengah. “Nggak ada yang wajib cerita hari ini. Tapi satu hal harus jelas—yang di sini, berdiri sejajar.”

Reano mengangguk. “Tanpa hierarki?”

“Tanpa pamer hierarki,” koreksi Alkael.

Geron mendecak pelan. “Tapi tetep ada yang ngarahin.”

Alkael tidak menyangkal. “Iya.”

Reano menatap Alkael. “Dan lo yang ngarahin.”

Bukan pertanyaan. Pernyataan.

Alkael mengangguk. “Selama gue bisa.”

Angkasa menepuk tangan pelan. “Oke. Gue suka kejujurannya.”

Auriga menatap lingkar kecil itu. Lima orang dengan latar berbeda, luka berbeda, tapi alasan yang serupa—mencari tempat untuk tidak jatuh sendirian.

Ia menyadari sesuatu yang pelan tapi pasti:

Reano akan jadi otak.

Geron tetap api.

Angkasa penyeimbang.

Dan Alkael—porosnya.

Sementara dirinya?

Auriga belum tahu.

Pertemuan itu berakhir tanpa deklarasi besar. Tidak ada nama. Tidak ada janji tertulis. Tapi saat mereka berpisah, satu hal sudah tertanam:

lingkar ini mulai lengkap.

Dan dari kelengkapan itulah,

sesuatu yang lebih besar sedang perlahan terbentuk—

tanpa mereka sadari, Dragon sedang menumbuhkan sayapnya.

Hari itu, bangunan tua sudah terasa penuh. Tujuh orang kini berkumpul, masing-masing membawa aura dan luka sendiri. Auriga duduk di sudut, mata mengikuti gerakan mereka—Geron yang mudah terbakar, Reano yang selalu menghitung langkah, Angkasa yang santai tapi waspada, Alkael yang diam tapi menguasai ruang.

Suara langkah berat terdengar dari luar pintu. Semua menoleh. Seorang cowok memasuki ruangan dengan langkah tenang, berbeda dari Geron yang ribut dan Angkasa yang santai. Rambutnya hitam pekat, rapi, sorot matanya hangat tapi jelas—mata yang sering memikirkan orang lain sebelum dirinya sendiri.

“Ini Geril,” kata Alkael singkat. “Geril Abricha Nur Huda.”

Geril mengangguk pelan ke semua orang. “Assalamualaikum,” suaranya tenang, tidak dipaksakan.

“Waalaikumsalam,” balas sebagian dari mereka. Tidak semua biasa menanggapi salam, tapi ada rasa hormat dalam keheningan itu.

Auriga merasakan energi berbeda. Geril bukan tipe yang mencari perhatian, tapi kehadirannya langsung menenangkan ruang. Seperti udara dingin yang masuk ke ruang panas tanpa memadamkan api, hanya menyeimbangkan.

“Lo baru?” tanya Geron, masih terdengar sedikit curiga.

Geril tersenyum tipis. “Iya. Tapi gue bukan buat ribut. Gue di sini buat… biar kalian nggak kehilangan arah.”

Alkael mengangguk. “Gue pikir kita butuh itu.”

“Lo maksudnya?” tanya Reano, tatapannya tajam tapi penasaran.

Geril duduk di lantai, menyilangkan kaki. “Kadang kita semua terlalu fokus sama diri sendiri. Marah, frustrasi, takut. Gue nggak bilang lo harus berubah, tapi gue bisa bantu lo inget—kenapa kita di sini. Supaya nggak nyesel ke diri sendiri nanti.”

Auriga menelan pelan. Suara itu sederhana, tapi terasa seperti anchor. Sesuatu yang bisa menahan mereka agar tidak hanyut ke sisi gelap masing-masing.

Angkasa tersenyum ke Geril. “Berasa guru agama.”

Geril mengangkat tangan. “Gue nggak ngajar. Gue cuma ngingetin. Kalau lo nggak mau denger… ya silakan.” Nada santai, tapi jelas tidak bisa diabaikan.

Geron menghela napas. “Lumayan juga lo. Bisa nahan gue nggak meledak tiap saat.”

Geril menatapnya lembut. “Nggak ngeredam, cuma bikin lo sadar ledakannya nggak selalu perlu keluar sekarang.”

Reano mengangguk pelan. “Gue bisa terima itu. Efisien.”

Auriga memperhatikan cara Geril berbicara: tidak memerintah, tidak menghakimi, hanya menawarkan perspektif yang menenangkan—sesuatu yang Dragon butuhkan saat api dan logika mulai bertabrakan.

Alkael berdiri di tengah. “Gue senang lo ada di sini, Geril. Lo bakal ngerasain sendiri kenapa kadang kita ribut. Tapi gue percaya, lo bisa bikin semua tetap seimbang.”

Geril tersenyum tipis. “Kalau gue gagal, kalian bisa nuduh gue. Tapi gue janji bakal coba.”

Auriga duduk menunduk sebentar, lalu menatap ke Geril. Ada ketenangan yang membuatnya merasa aman. Bukan karena orang itu hebat atau dominan, tapi karena kehadirannya membuat kesadaran muncul: ada tempat di mana marah, lelah, atau sunyi tidak perlu dikubur sendiri.

Mereka semua hening beberapa detik, menyadari sesuatu: Dragon bukan hanya soal kekuatan, bukan soal keberanian fisik, tapi soal mampu berdiri bersama meski setiap orang membawa luka sendiri.

Geril membuka tasnya, mengeluarkan botol air mineral, dan menawarkannya kepada yang dekat. Tanpa paksaan, semua mengambilnya. Hal kecil itu terasa simbolis—kepercayaan, penerimaan, dan awal dari rasa aman.

Auriga tersenyum tipis. Dalam hatinya, ia tahu:

dengan Geril di lingkar ini, api Geron tidak akan terlalu liar, logika Reano tetap tajam tanpa dingin sepenuhnya, dan bahkan ia sendiri bisa belajar sedikit demi sedikit untuk menahan diri.

Bangunan tua itu kini tidak hanya menjadi tempat berkumpul—

tapi rumah kecil bagi mereka yang terlalu sering kehilangan rumah.

Minggu berikutnya, bangunan tua itu mulai hidup.

Auriga datang lebih awal dari biasanya, duduk di sudut favoritnya. Beton dingin, debu tipis di lantai, dan coretan di dinding—semuanya terasa seperti ruang yang aman. Tidak ada tawa berlebihan, tidak ada sorak, hanya perasaan bahwa tempat ini milik mereka, sekadar untuk beberapa jam di sore hari.

Tak lama, satu per satu anggota Dragon datang.

Alkael datang pertama, seperti biasanya, diam tapi memerintah tanpa kata. Ia berdiri di tengah ruangan, menatap sekeliling, memastikan semuanya aman dan nyaman. Geron masuk terakhir, tertawa keras, melempar komentar pedas ke Angkasa yang sudah duduk santai di lantai. Angkasa membalas dengan senyum malas, tapi mata tetap awas. Reano masuk dengan langkah tenang, memperhatikan detail—pintu, jendela, posisi orang. Fattah, yang baru muncul, tersenyum lembut dan langsung duduk di dekat Geril, berbagi botol air.

Auriga memperhatikan pola itu. Setiap orang punya tempat dan peran tanpa diatur secara formal. Alkael menguasai ruang, Geron energi yang sulit dibendung, Reano analisis, Angkasa santai, Fattah penyeimbang, Geril moral dan penenang. Dan ia sendiri—Auriga—diam-diam belajar membaca situasi.

“Mulai rutin, ya,” kata Alkael setelah semua hadir. Suaranya rendah, tapi setiap kata terasa tegas. “Hari ini bukan soal rencana besar. Cuma kumpul. Lalu besok lagi, dan besoknya lagi.”

Geron menepuk meja plastik. “Cuma kumpul? Gue bisa di warung juga, Kael.”

“Kalau di warung nggak ada yang peduli lo nggak stress,” jawab Alkael, nada datar tapi tepat sasaran.

Auriga tersenyum tipis. Ia menyadari, dragon kecil ini bukan hanya soal proteksi. Ada sesuatu yang lebih: perasaan punya ruang untuk bertahan.

Angkasa membuka topik ringan. “Eh, gue bawa makanan ringan.” Ia menyebarkan bungkus kecil ke seluruh anggota. “Biar nggak cuma debat serius doang.”

Fattah mengambil satu, tersenyum. “Santai juga penting.”

Geril menatap Auriga. “Lo ikut makan, ya. Jangan cuma diam di situ.”

Auriga menerima bungkus kecil itu, mengangguk. Tidak banyak bicara, tapi kehadirannya terasa.

Beberapa menit kemudian, percakapan mengalir—tidak terlalu serius, tapi cukup untuk menunjukkan dinamika masing-masing:

Geron menceritakan pengalaman sekolahnya hari itu dengan nada emosional, kadang berlebihan tapi jujur.

Angkasa menyelipkan komentar jenaka, membuat beberapa ketegangan mencair.

Reano menimpali fakta atau pertanyaan logis, menjaga percakapan tetap jelas.

Alkael sesekali menambahkan kalimat singkat, menahan api Geron, menyamakan frekuensi Angkasa, dan menenangkan Auriga tanpa terlihat berlebihan.

Geril memberi perspektif sederhana tapi membuat semua tersadar, seperti mengingatkan mereka untuk tidak terbawa emosi.

Fattah menyeimbangkan semuanya, membuat suasana tetap nyaman.

Auriga hanya duduk, memperhatikan, kadang menimpali. Setiap interaksi kecil membuatnya merasa ada tempat di dunia ini yang tidak menuntut dia jadi kuat sendirian.

Waktu berlalu cepat. Lampu sore masuk melalui celah jendela, bayangan memanjang di lantai. Tidak ada yang terburu-buru pulang. Suara tawa kecil, komentar pedas ringan, dan jarang, hening yang penuh arti—semua menjadi ritme baru.

Auriga menyadari sesuatu: Dragon bukan cuma geng, tapi lingkar aman pertama yang ia punya.

Dan dari ritme sederhana itu, sesuatu mulai terbentuk:

rasa percaya, loyalitas, dan kesadaran bahwa mereka tidak harus menghadapi dunia sendirian.

Bangunan tua itu tidak lagi sekadar beton dan debu.

Ia menjadi titik awal—tempat di mana Dragon perlahan mulai menemukan bentuknya.

Malam itu, bangunan tua itu terasa lebih hening dari biasanya. Lampu redup menggantung, memantulkan bayangan panjang di dinding yang sudah retak. Angkasa membagi makanan ringan sisa sore, Geron masih sesekali tertawa kecil, Reano memperhatikan setiap sudut ruangan, dan Alkael berdiri di tengah, menunggu semuanya tenang. Geril duduk dengan tenang, menatap Auriga sekilas, seolah memberi ruang.

Auriga menarik napas panjang, merasakan keberanian yang tiba-tiba muncul. Ia menatap teman-temannya satu per satu.

“Lo semua,” ucapnya pelan, tapi tegas, “gue punya ide.”

Semua menoleh. Bahkan Geron, yang biasanya blak-blakan, menundukkan kepala sedikit, penasaran.

“Ini,” Auriga melanjutkan, “bukan soal ribut, bukan soal pamer, bukan soal nunjuk siapa paling kuat.”

Geron menatapnya curiga. “Terus lo mau apa?”

Auriga menelan pelan. “Gue pikir… kita bisa bikin tempat sendiri. Tempat pulang. Bukan rumah orang tua, bukan sekolah, tapi tempat di mana kita nggak sendirian. Tempat kita bisa jujur, marah, senyum, gagal… tanpa takut dihakimi.”

Alkael menatapnya diam. Mata tajamnya mengamati Auriga, seolah menimbang setiap kata. Reano mengernyitkan alis, tapi tidak menolak. Angkasa tersenyum, hampir tertawa kecil, tapi menatapnya serius. Geril mengangguk pelan, memberi sinyal dukungan. Fattah tersenyum hangat, sementara Geron hanya menggeleng singkat, masih ragu, tapi diam.

Auriga menarik napas lagi, menegaskan: “Gue nggak bilang kita nggak boleh marah, atau gagal. Tapi yang gue maksud… kita nggak nyakitin orang yang sama-sama di sini. Kita nggak bikin geng ini cuma buat ribut. Kita bikin geng ini… supaya kita punya rumah. Rumah kecil kita sendiri.”

Hening.

Alkael menunduk sebentar, lalu menatap semua. “Rumah, ya?” Nada suaranya rendah, tapi terasa seperti persetujuan perlahan. “Gue ngerti maksud lo.”

Geron menepuk meja. “Rumah? Gue nggak bawa kasur, Bro.”

Auriga tersenyum tipis. “Bukan kasur. Maksud gue… tempat aman. Tempat pulang. Tempat kita nggak harus pura-pura kuat sendirian.”

Angkasa mencondongkan badan, tersenyum: “Bener juga. Gue setuju sama konsep itu.”

Reano mengangguk. “Efisien. Lebih jelas daripada ribut tanpa tujuan.”

Geril menambahkan pelan, “Dan kalau rumah ini ada, kita bisa bantu satu sama lain… bukan cuma bertahan sendiri.”

Fattah tersenyum lembut. “Gue suka itu.”

Alkael berdiri, berjalan perlahan ke tengah lingkar. “Kalau begitu… rumah ini, tempat pulang ini… akan jadi aturan kita. Yang penting di sini cuma satu: kita saling jaga.”

Geron mendengus pelan, tapi kali ini tanpa nada marah. “Lo yang ngatur, Kael?”

Alkael tersenyum tipis. “Bukan ngatur. Gue cuma bikin lingkar ini tetap… bisa pulang ke sini.”

Auriga menatap semua orang. Rasanya aneh, tapi ringan. Seperti beban yang lama dipikul, perlahan mulai terangkat. Ia sadar satu hal: Dragon bukan hanya tentang kekuatan fisik atau reputasi—tapi tentang menemukan rumah, bahkan bagi mereka yang tak punya rumah sendiri.

Lampu redup menyorot wajah semua anggota. Bayangan panjang mereka beriringan di lantai, bukan tumpang tindih, tapi sejajar. Auriga tersenyum tipis lagi. Untuk pertama kalinya, ia merasa punya suara. Dan suara itu—meski lembut—mampu membuat orang lain mendengar.

Dragon lahir malam itu,

bukan dari amarah atau dendam,

tapi dari keinginan sederhana untuk pulang

Malam itu, bangunan tua terasa hangat. Lampu redup menyorot wajah ketujuh anggota yang duduk membentuk lingkar, masing-masing masih menyerap kata-kata Auriga dari pertemuan sebelumnya. Ada rasa lega, tapi juga antisipasi—karena saatnya membahas hal baru: nama geng mereka.

Alkael membuka percakapan. “Kalau kita punya rumah, kita butuh nama. Lo semua setuju nggak?”

Geron mengangkat tangan cepat. “Biar gue pilih? ‘Api Neraka’? Sesuai karakter gue.”

Angkasa tertawa. “Santai Bro. Jangan terlalu dramatis.”

Reano mengernyit. “Nama harus punya filosofi. Biar jelas tujuan dan identitasnya.”

Fattah mengangguk pelan. “Bener. Bukan sekadar keren doang.”

Geril menatap lingkar, suara tenang tapi tegas: “Nama bisa jadi pegangan. Biar orang ngerti siapa kita, tapi juga jadi pengingat kita sendiri. Apa yang kita perjuangkan.”

Auriga menarik napas panjang, menatap teman-temannya satu per satu. “Kalau gue boleh… gue punya ide. Naga.”

Semua menoleh. Geron menyeringai. “Naga? Kok kedengerannya biasa banget sih?”

Auriga menatap Geron balik. “Denger dulu maksudnya. Naga bukan cuma hewan buas. Naga itu… kuat, bebas, bisa terbang tinggi. Tapi juga melindungi rumahnya, keluarganya. Naga nggak pernah nyerang tanpa alasan. Tapi kalau diserang… ya pasti membela.”

Alkael menatap Auriga, pelan tapi fokus. “Lanjut.”

Auriga menambahkan: “Dragon… karena kita kayak naga. Kita punya rumah sendiri. Kita punya lingkar. Kita nggak nyakitin orang yang sama-sama di sini. Tapi kita juga nggak takut buat jaga rumah itu.”

Geron tertawa, tapi kali ini tawa pendek, bukan pedas. “Oke, gue suka filosofi itu. Tapi tetep keren nggak ya kalau namanya cuma Dragon?”

Reano menyilangkan tangan. “Sederhana. Efektif. Filosofinya jelas. Gue setuju.”

Angkasa mengangguk. “Dragon… terdengar berat tapi juga fleksibel. Gue suka.”

Geril menatap Auriga. “Bener, ini bukan sekadar nama. Ini pengingat. Kalau kita mulai nyasar, lihat nama ini… inget kenapa kita ada di sini.”

Fattah tersenyum. “Setuju. Dragon… ya, cocok.”

Alkael mengangguk pelan. “Oke. Dragon jadi nama kita. Tapi inget… nama itu nggak cuma buat keren-kerenan. Kita harus bisa hidup sesuai filosofi itu.”

Auriga menoleh ke semua. “Setiap orang punya peran. Setiap orang penting. Dragon bukan cuma soal satu orang, tapi lingkar yang saling jaga.”

Geron mengangkat tangan. “Asal gue tetep boleh marah-marah ya? Tapi nggak nyerang orang di luar.”

Auriga tersenyum tipis. “Boleh. Tapi kontrol, Bro.”

Alkael menambahkan: “Dan itu aturan pertama Dragon. Semua anggota menjaga lingkar, bukan cuma diri sendiri.”

Ruangan hening beberapa saat. Tidak sunyi, tapi penuh kesadaran. Setiap orang meresapi makna nama itu. Tidak hanya simbol, tapi janji.

Angkasa bersandar, senyum tipis. “Dragon… terdengar keren juga di telinga. Nanti kalau ada yang tanya, kita jawab simpel: rumah kita.”

Auriga menatap dinding penuh coretan. Bayangan mereka berjejer panjang di lantai berdebu. Rasanya seperti simbol kecil, bahwa mereka sudah punya identitas—meski baru lahir.

Dan malam itu, Dragon lahir secara resmi,

bukan dari kekerasan, bukan dari gengsi,

tapi dari keinginan sederhana untuk pulang, melindungi, dan percaya.

Hari itu, bangunan tua terasa sedikit panas. Bukan karena matahari—lampu redup sudah menyalakan bayangan panjang—tapi karena percakapan mulai memanas. Dragon belum genap seminggu terbentuk, tapi perbedaan karakter mulai muncul ke permukaan.

Geron, seperti biasa, tidak bisa diam. “Gue nggak ngerti, Bro. Kenapa lo santai aja, Angkasa? Lo kayak nggak peduli sama rencana kita.”

Angkasa mengangkat bahu, senyum tipis. “Gue peduli, Bro. Tapi santai nggak berarti nggak serius.”

Geron menepuk meja, wajah merah. “Santai doang nggak bakal bikin kita kuat! Gue capek tiap kali kita harus nunggu orang lain mikir dulu.”

Reano menatap Geron, nada tegas tapi dingin. “Geron, kita nggak butuh panik. Strategi butuh kepala dingin.”

“Lo aja yang dingin mulu, Re,” balas Geron, sedikit menyerang. “Gue nggak salah kalo gue gerak cepat!”

Alkael berdiri di tengah lingkar, menatap mereka berdua. “Cukup.” Suaranya rendah, tapi setiap kata terasa berat. “Dragon ini bukan soal siapa paling cepat atau siapa paling dingin. Ini soal kita bisa kerja bareng.”

Auriga menelan pelan, mencoba menenangkan diri. “Geron… nggak semua orang mikir sama cara lo. Kita harus saling ngerti.”

Geron menatap Auriga sebentar, lalu mendengus. “Lo masih kecil, Auriga. Gue ngerti maksud lo… tapi kadang gue nggak sabar.”

Fattah menambahkan lembut, “Kadang sabar bukan berarti kita kalah, Geron. Tapi bisa bikin keputusan lebih tepat.”

Geril duduk, suara tenang tapi jelas: “Kalau kita mulai ribut di awal, gimana kalau suatu saat tantangan besar datang? Lo mau Dragon bubar sebelum sempat jalan?”

Auriga mengangguk. “Betul. Kita perlu belajar toleransi. Bukan berarti ngecilin diri, tapi ngerti batasan masing-masing.”

Geron menatap Geril, lalu menatap semua anggota. Napasnya panjang. “Oke… gue ngerti. Tapi gue nggak janji bakal tenang terus.”

Alkael tersenyum tipis. “Gue juga nggak minta lo janji. Tapi kita bisa saling ingetin, kan?”

Angkasa tersenyum. “Nah, baru ini suasana kayak Dragon. Ngobrol, ribut dikit, tapi ada jalan keluar.”

Reano menepuk meja. “Setuju. Tapi jangan sampai keseringan, nanti malah bikin capek aja.”

Auriga menatap semua, merasa hangat aneh. Konflik muncul, tapi bukan untuk menghancurkan. Justru membuat mereka sadar bahwa Dragon bukan cuma nama—itu adalah tempat untuk saling belajar, menahan ego, dan tetap bersama.

Geril menambahkan ringan: “Kita bisa ribut, asal tetap ingat tujuan. Rumah ini bukan buat ngerusak, tapi buat nguatkan.”

Geron tersenyum tipis. “Sip… tapi gue tetep bakal marah kadang-kadang.”

Auriga tersenyum kecil. “Dan kita bakal terima itu.”

Bangunan tua itu kembali hening, tapi bukan sunyi yang menekan. Hening itu terasa penuh kesadaran, bahwa konflik ringan hanyalah bagian dari proses. Dragon perlahan belajar hidup sebagai lingkar—tidak sempurna, tapi nyata.

Malam semakin larut. Lampu redup di bangunan tua membuat bayangan panjang anggota Dragon menari di dinding. Semua duduk melingkar, beberapa masih bercanda, beberapa diam menatap lantai, tapi ada ketenangan yang tidak pernah Auriga rasakan sebelumnya.

Geron menepuk lututnya. “Gue nggak nyangka, awalnya gue kira tempat ini cuma sekadar bangunan busuk buat ngabisin waktu.”

Angkasa menepuk pundaknya. “Tapi ternyata nggak, kan? Bisa duduk di sini tanpa takut dimarahin atau dicengin.”

Fattah tersenyum lembut. “Ini rumah kita sendiri. Dragon, kan?”

Auriga menatap mereka satu per satu. Hatinya hangat. Rasanya aneh—perasaan nyaman yang sudah lama hilang.

Geril menambahkan, suara tenang: “Kita nggak sempurna. Tapi rumah ini ada karena kita semua mau berusaha jadi lingkar yang saling jaga. Dan itu jauh lebih penting daripada kekuatan atau reputasi.”

Reano mencondongkan badan, menatap lantai sebentar. “Setuju. Kalau kita mulai belajar dari awal… mungkin Dragon bisa lebih dari sekadar nama.”

Alkael berdiri di tengah lingkar, menatap semua anggota. “Kita baru mulai. Masih banyak hal yang bakal kita hadapi. Tapi malam ini, gue senang lihat kalian di sini. Semua berbeda, tapi semua ada di lingkar yang sama.”

Auriga tersenyum tipis. Ia merasakan sesuatu yang unik: perasaan pulang, bukan ke rumah orang tua, bukan ke tempat nyaman yang dipaksakan, tapi ke tempat yang mereka buat sendiri. Sebuah rumah yang menerima semua luka, semua emosi, semua ketidaksempurnaan.

Geron bersandar di tembok, napas panjang. “Oke… gue mulai ngerti maksud lo, Auriga. Dragon… rumah kita. Keren juga.”

Auriga menoleh. “Rumah kecil kita sendiri. Tempat kita bisa jadi diri sendiri tanpa takut dijudge.”

Angkasa menambahkan, “Dan kadang, tempat kayak gini bisa ngajarin kita lebih banyak daripada sekolah atau rumah orang tua.”

Fattah tersenyum. “Betul. Kadang orang nggak sadar… mereka cuma butuh tempat untuk pulang.”

Geril menatap Auriga. “Lo punya peran penting juga, lo tau? Lo yang bikin semua orang mikir tentang arti rumah ini.”

Auriga menunduk sebentar, hatinya hangat tapi malu. Ia tidak menyangka, kata-katanya akan mempengaruhi mereka semua.

Alkael menatap ke luar jendela, mata tajam tapi lembut. “Malam ini kita nyadar satu hal. Dragon bukan cuma nama. Dragon adalah kita. Dan kita baru mulai.”

Di luar, angin malam masuk lewat celah jendela, membawa aroma tanah basah dan daun kering. Suara langkah di jalan sepi terdengar samar, seperti memberi pengingat bahwa dunia di luar sana masih keras. Tapi di dalam bangunan tua itu, Dragon punya rumah sendiri. Lingkar ini mulai lengkap.

Auriga menutup matanya sebentar, merasakan damai. Rumah itu bukan hanya bangunan. Bukan hanya nama. Tapi lingkar orang-orang yang akhirnya bisa saling percaya, saling menjaga, dan saling pulang.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel