Bab 4
Aku duduk semalaman dengan tangan dan kaki sedingin es.
Keesokan harinya.
Pintu penjara kembali dibuka, beberapa sipir menyeretku keluar.
Di kedua sisi jalan, rakyat berdesakan memenuhi tempat itu.
"Pengkhianat yang bersekongkol dengan musuh dan mengkhianati negara, mati pun tidak pantas disayangkan!"
"Jenderal Keluarga Xie mempertaruhkan nyawanya di medan perang demi kami, justru diseret ke jurang hidup dan mati oleh orang-orang licik seperti kalian!"
"Raja Cheng sungguh bijaksana! Berani mengungkap tempat persembunyian keturunan Keluarga Chu, semoga beliau dan Nona Xie Tang bersatu selamanya!"
Sayuran busuk dan batu-batu pecah menghujani tubuhku seperti hujan.
Aku ingin berteriak, ingin memberitahu semua orang.
Aku bukan Chu Wanwan!
Namun tenggorokanku tidak mampu mengeluarkan sedikit pun suara, aku hanya bisa menanggung amarah yang meluap dari segala penjuru.
Di tempat eksekusi, Cheng Yizhi melihat tubuhku penuh kotoran, seberkas rasa iba melintas di matanya.
Dia melangkah maju, dengan lembut menyingkirkan daun sayur di rambutku, lalu berkata pelan.
"Jangan takut. Sebentar lagi aku akan membacakan titah Kaisar untuk menyelamatkanmu."
Aku memalingkan wajah, enggan menatapnya.
Saat bilah pedang algojo hampir jatuh.
Dia berteriak lantang.
"Tahan pedang! Istriku berbelas kasih, mengingat Nona Chu masih muda dan belum memahami benar perkara dunia, serta memiliki ikatan mendalam dengannya sejak kecil. Karena itu, dia secara khusus memohon titah istimewa dari Yang Mulia Kaisar untuk mengampuni hukuman mati baginya!"
Orang-orang di sekitar pun berdecak kagum, memuji kemurahan hati dan kebajikan Cheng Yizhi serta "Xie Tang".
Di dalam hati, aku mencibir dingin.
Ingin menyelamatkanku, namun juga ingin memanfaatkan namaku untuk menyempurnakan reputasi mereka.
Perhitungan yang sungguh sempurna!
Namun ketika Cheng Yizhi merogoh dadanya dan mengeluarkan titah kekaisaran, raut wajahnya mendadak berubah.
Dari sudut mataku, aku melihat lengkungan senyum di bibir Chu Wanwan yang sekejap menghilang.
Seketika aku mengerti.
Ternyata perkataannya semalam bahwa tak seorang pun akan lolos berarti mencuri titah yang dapat menyelamatkan nyawaku.
"Raja Cheng, pelaksanaan hukuman telah tertunda. Jika tidak ada titah Kaisar, mohon jangan menunda lagi!"
Dia panik menatapku, bertemu dengan tatapanku yang sedingin es, lalu berkata tergesa.
"Beri aku satu jam! Aku akan segera masuk istana dan memohon titah Kaisar yang baru!"
Pejabat pengawas eksekusi berkata dingin.
"Apakah kamu mengira tempat eksekusi ini permainan anak-anak? Sekalipun kamu Raja Cheng, aturan tidak boleh dilanggar. Paling lama dua seperempat jam. Jika kamu tidak kembali, yang bisa kamu lihat hanyalah kepalanya."
Melihat itu, Chu Wanwan segera bangkit berdiri.
"Aku akan pergi bersamamu!"
Sekilas saja aku sudah menembus siasatnya.
Benar saja, perjalanan pulang-pergi dari tempat eksekusi ke istana seharusnya hanya memakan waktu satu seperempat jam. Namun hingga detik terakhir, bayangan Cheng Yizhi tak juga terlihat.
Sebaliknya, dari kerumunan terdengar bisik-bisik samar.
"Katanya Nona Keluarga Xie tadi berlari terlalu tergesa, tak sengaja terjatuh dan terluka. Raja Cheng sedang menemaninya di tempat tabib istana."
Hanya lecet kecil, ternyata lebih penting daripada nyawaku.
Aku ditekan kuat ke papan kayu tempat eksekusi.
Kudengar pejabat pengawas mengeluarkan perintah tanpa belas kasihan.
"Laksanakan hukuman!"
Pada detik aku memejamkan mata, dari kejauhan tiba-tiba terdengar derap kuda yang tergesa.
Di tengah kerumunan, seseorang berteriak kaget.
"Jenderal Xie! Jenderal Xie telah kembali!"
