Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 6. Dibakar Hidup-hidup

Peluru menembus paha Ash dan pria itu tersungkur ke tanah dengan teriakan kesakitan. Elira langsung berlutut di sisinya, tangannya mencengkeram bahu Ash, matanya menatap Jacker.

"Berhenti! Tolong, dia tidak berbohong, tolong berhenti!"

Tapi mata Jacker tidak ke arah Elira. Matanya ke arah tanah di dekat Kaki Ash, ke genangan yang mulai melebar di bawah paha Ash.

Darahnya tidak berwarna merah.

Ungu terang, hampir biru di tepinya, mengalir dari luka tembak itu dan meresap ke tanah. Kerumunan warga yang tersisa pun membeku. Anak buah Jacker saling melirik. Jacker sendiri berdiri tidak bergerak, rahangnya turun sedikit.

Lalu peluru itu bergerak.

Bukan mengalir keluar bersama darah, tapi terdorong perlahan dari dalam, ujung logamnya muncul di permukaan kulit dan jatuh ke tanah. Luka di paha Ash perlahan menutup dari tepinya ke tengah, sampai yang tersisa hanya garis tipis yang kemudian hilang.

Suara Jacker keluar pelan, hanya untuk dirinya sendiri. "Abysswalker."

Tubuhnya sedikit bergetar. Dalam kepalanya ia sudah tahu apa artinya, sudah tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya, dan ia tidak menyukai satu pun dari pilihan yang tersisa.

Abysswalker yang tercipta di luar protokol laboratorium, tidak bisa dijinakkan, tidak bisa diperintah dan tidak bisa diatur. Satu-satunya yang bisa dilakukan adalah memusnahkannya sebelum kekuatannya sepenuhnya aktif.

"Ikat dia di tiang." Suaranya kembali datar. "Sekarang."

Empat anak buahnya langsung bergerak. Ash meronta saat tangannya ditarik ke belakang, tapi tenaganya tidak cukup melawan empat orang sekaligus. Tangan dan kakinya diikat dengan rantai besi ke tiang kayu besar di tepi lapangan, tubuhnya menghadap ke arah warga yang masih berlutut dengan ekspresi cemas.

Elira menerjang ke arah mereka tapi dua orang menangkapnya dari belakang. "Lepaskan! dia tidak berbohong! kalian tidak boleh menyakitinya!"

"Hei!" Suara Ash serak. "Dia tidak ada hubungannya dengan ini. Lepaskan istriku."

Jacker berjalan mendekat ke arah Ash, berhenti di depannya dengan tangan di saku jubahnya. "Maaf, nak." Suaranya hampir terdengar bosan. "Aku sudah bosan dengan lelucon hari ini."

Salah satu anak buahnya datang dengan jerigen dan menyiram isinya ke tubuh Ash dari atas kepala. Bau bensin langsung memenuhi udara, cairan itu mengalir ke wajah, ke tubuh hingga meresap ke tanah di bawah kaki Ash.

"Jacker, jangan!" Elira berteriak, suaranya pecah. "Tolong! Tolong jangan! Kumohon!"

Ash tidak berteriak. Ia menatap Jacker tajam, giginya menggeram.

Pistol Jacker terangkat, ditembakkan sekali ke tubuh Ash, dan percikan api dari peluru yang menggesek rantai besi cukup untuk menyulut bensin di tubuh Ash.

Api berkobar seketika.

"AAGGHH!" Rasa panas dan sakit seketika menyerang.

Tubuhnya berusaha meregenerasi, jaringan yang rusak mencoba menutup, tapi api terus membakarnya lebih cepat, membuat Ash merasakan sakit yang perlahan.

"TIDAK! ASH!" Elira menangis meraung mencoba memberontak namun sia-sia.

Orang-orang masih berlutut, beberapa memalingkan wajahnya, ada yang menangis, gemetar ketakutan, ada yang menggeram kesal namun, tak ada satu pun yang bergerak dari posisinya.

Salah satu anak buah Jacker berjalan ke arah Elira, matanya menyapu dari atas ke bawah. "Bos, akan kita apakan wanita ini?"

Jacker berbalik, menatap Elira dengan ekspresi yang dingin dan penuh perhitungan. Tangannya bergerak, jari-jarinya mencengkeram kain di bahu Elira dan menariknya keras hingga robekan panjang terbuka di sana. "Jalang ini ... tubuhnya cukup bagus untuk seorang wanita desa."

"Mungkin bisa kita jual di kota, bos," kata anak buahnya.

Jacker melirik ke arah Ash yang masih berteriak di tiang, apinya belum padam dan tubuhnya juga masih terlihat utuh. Lalu matanya kembali ke Elira. "Tidak perlu. Biarkan dia menyusul suaminya, aku tidak ingin meninggalkan dendam."

Akan tetapi, sudut bibir Jacker naik sedikit. "Tapi sebelum itu, tidak ada salahnya kita bersenang-senang sebentar." Ia berpaling ke anak buahnya. "Telanjangi dia."

Orang-orang seketika bereaksi, geram tak tertahan, beberapa bangkit dari posisi mereka. Wanita-wanita tua memaki dan mengutuk Jacker. Teriakan-teriakan mulai bersahutan saat anak buah Jacker menikmati merobek setiap kain di tubuh Elira.

DORRR! DORRR! DORRR!

Jacker menembak ke udara tiga kali berturut-turut.

"Aku sudah tidak ada urusan dengan kalian!" teriaknya ke kerumunan warga. "Siapapun yang masih ingin hidup, tinggalkan tempat ini sekarang!"

Rentetan tembakan semua anak buahnya ke udara membuat kepanikan meledak, orang-orang berlarian ke segala arah. Beberapa anak buah Jacker menarik wanita-wanita desa yang mereka incar saat kerumunan itu berhamburan.

Ash melihat semuanya dari tiang itu.

Kulitnya mengelupas dan menutup lalu mengelupas lagi dalam siklus yang tidak kunjung berhenti. Tubuhnya kesakitan, tapi yang paling menyakitkan baginya adalah perasaan tak berdaya, ketika melihat istrinya.

Ia melihat Elira ditarik ke sana, didorong ke sini, dijatuhkan ke tanah lalu diangkat lagi, diperlakukan seperti binatang. Mulutnya terus berteriak tapi suaranya sudah tidak keluar, tenggorokannya sudah tidak bisa lagi membentuk suara yang jelas.

Lalu sebuah batu kecil melesat dari arah pintu balai desa dan menghantam wajah salah satu anak buah Jacker.

Ash menggeser pandangannya ke arah asal batu itu.

Lyanna berdiri di depan pintu balai desa dengan batu lain di tangannya. Wajahnya yang biasa membuatnya tertawa sekarang terlihat marah, matanya merah, giginya terkatup rapat. "Lepaskan ibuku!" teriaknya.

Dalam kepalanya, Ash berteriak lebih keras. "Tidak, jangan sakiti putriku.  Kumohon lari, sayang! Lari sekarang!" tapi tidak ada suara yang keluar, pita suaranya telah terbakar habis.

"Sial, wajahku! ini akan meninggalkan bekas luka, sialan! siapa anak ini!" pria itu kesal dan berjalan mendekat.

Tiba-tiba sebuah gulungan tali melesat dari samping, lingkarannya terbuka di udara dan jatuh tepat di leher Lyanna. Salah satu anak buah Jacker menarik ujung tali yang sudah dilemparkan melewati balok kayu di rangka atap yang sedang diperbaiki, dan tubuh Lyanna seketika terangkat dari tanah.

Elira melihatnya. Suaranya keluar tapi tidak berbentuk kata, hanya seperti gumaman kecil yang lemah, dan tubuhnya yang sudah lemah mencoba bangkit, mencoba bergerak ke arah putrinya, tapi kakinya tidak menurut.

Jacker tidak melihat ke arah Lyanna. Ia sedang mengisi ulang pistolnya, wajahnya dingin menatap ke bawah.

Ash melihat kaki putrinya meronta, sepatu kecil yang merupakan kado ulang tahunnya, bergerak tidak beraturan di udara. Matanya tidak bisa berpaling, kelopak mata Ash sudah tidak ada untuk membantunya menutup mata, dan ia harus menyaksikan semuanya sampai gerakan kaki itu melambat, lalu berhenti.

Ash lalu menatap ke Elira, ke tubuh istrinya yang tidak bergerak lagi di tanah.

Kegelapan mulai masuk dari tepi pandangannya, perlahan ke tengah, dan suara-suara di sekelilingnya seperti menjauh.

"Sial, 4 bulan yang sia-sia. Bagaimana aku akan memanjakan penisku setibanya disana," gumam Jacker sambil membersihkan pistolnya.

Lalu kegelapan itu berhenti. Darah di dalam pembuluh Ash terasa seperti mendidih.

Jacker mengisi pistolnya, bibirnya masih bergumam tak jelas. Lalu matanya bergeser, melirik ke arah tiang tempat Ash terikat, dan ekspresinya seketika berubah.

Matanya melebar.

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel