Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 5. Jacker si Gila

Pemuda itu ambruk ke tanah dengan lubang di kepala.

Kerumunan itu meledak seketika, teriakan dan tangisan bercampur jadi satu, beberapa orang berlari ke segala arah tapi anak buah Aegis sudah berbaris  mengelilingi mereka. Tembakan ke udara beruntun memaksa semua orang menghentikan langkahnya.

Di balik semak, Wren menarik lengan Ash ke belakang saat Ash hendak berdiri.

"Apa yang kau pikirkan? Lihat senjata mereka," bisik Wren, suaranya datar tapi matanya serius. "Apa kau akan melawan mereka dengan kapakmu?"

Ash berhenti. Pikirannya menghitung dengan cepat, jumlah anak buah Jacker yang terlihat, jarak antara mereka, senjata yang mereka bawa. Kapak di tangannya kini terasa sangat kecil. Ia duduk kembali, tapi matanya tidak berhenti bergerak, menyisir wajah-wajah di kerumunan satu per satu berharap tak melihat Elira disana.

Tembakan terus terdengar setiap beberapa menit. Setiap kali suaranya meletus, ada satu tubuh lagi yang jatuh. Wajah Jacker tidak berubah setelah semua itu, datar dan dingin, seperti orang yang sedang mengerjakan sesuatu yang membosankan.

Di samping Wren, Raldo berdiri dengan bahu yang kaku sejak tadi. Ash menyadarinya tapi tidak sempat berbuat apapun saat pria itu tiba-tiba berdiri tegak.

Di lapangan, seorang anak buah Aegis menarik seorang remaja laki-laki keluar dari kerumunan. Remaja itu tersandung saat didorong ke depan, matanya langsung menoleh ke arah semak-semak tempat Raldo berdiri.

Raldo sudah berlari sebelum Ash bisa menahannya. Kakinya menapak tanah dengan kuat, tubuhnya menembus semak tanpa memperlambat langkah.

"Lepaskan dia!" teriaknya. "Itu adikku, lepaskan!"

Jacker tidak menoleh. Ia hanya berdiri dengan punggung menghadapke arah Raldo, menatap remaja yang gemetar di depannya. "Kamu tahu sesuatu, anak muda?"

Remaja itu tidak bisa menjawab. Mulutnya terbuka tapi tidak ada suara yang keluar, matanya terpaku pada kakaknya yang berlari mendekat dengan air mata yang sudah mengalir di kedua pipinya.

Raldo tinggal beberapa meter jauhnya saat ujung pistol menempel di pelipis adiknya.

DORRR!

Langkah Raldo berhenti seketika. Tubuhnya membatu di tengah lapangan, berdiri tanpa bergerak, menatap ke depan dengan ekspresi yang kosong.

Salah seorang anak buah Jacker mendekatinya dari samping. "Hei. Kamu tahu tentang Oars berleher biru itu?"

Raldo tidak menjawab. Tangannya mengangkat kapak. "Bangsat kalian!" Ia mengayunkan kapaknya.

Anak buah Aegis itu melangkah ke samping, menghindar dari ayunan itu dengan mudah. Moncong senjatanya naik dan menempel di bawah rahang Raldo.

DORRR!

Tubuh Raldo jatuh ke tanah.

Kerumunan yang tersisa diam gemetar, tidak ada lagi teriakan, tidak ada lagi yang berlari. Mereka berdiri dengan kepala yang menunduk dan mata yang tidak berani menatap. Beberapa orang menangis tanpa suara.

Ash juga gemetar, tangannya mencengkeram gagang kapak seperti ingin meremasnya, tapi bukan karena takut. Di sebelahnya Wren dan Dano membisu, mata mereka menatap lapangan.

Ash tanpa segaja melihat salah satu jendela di balai desa. Seorang anak buah Jacker berjalan melintasi jendela, tangannya menggenggam rambut seorang wanita yang ia seret di belakangnya.

Wanita itu berusaha berdiri sambil berjalan, tangannya mencoba mengurangi tarikan di rambutnya. Ash mengenali sosok tersebut, keringat dingin seketika membasahi punggungnya.

Elira digiring ke tengah lapangan dan didorong hingga tersungkur di depan Jacker. Pria tambun itu menatapnya sebentar, lalu mengangkat kepalanya dan menatap kerumunan yang tersisa.

"Kita ulangi pertanyaan yang sama," katanya.

Ash sudah berdiri sebelum kalimat itu selesai. Wren menarik lengannya tapi Ash melepaskan genggaman itu dan keluar dari semak, kakinya sudah berlari ke arah lapangan.

"Aku tahu di mana monster itu!"

Suaranya memecah keheningan lapangan. Anak buah Jacker yang berjaga mengangkat senjata mereka, tapi Ash tidak berhenti. Ia menerobos di antara mereka, mendorong dua orang yang mencoba menghadangnya, dan berdiri tepat di depan Elira.

"Aku tahu apa yang kau cari." Suaranya keluar lebih tenang dari yang ia kira.

Jacker menatapnya beberapa detik. Untuk pertama kalinya sejak tiba di Pinedale, sudut bibirnya bergerak ke atas sedikit.

"Akhirnya." Ia menghela napas panjang. "Katakan padaku, di mana Oars biru sialan itu?"

Ash menatap mata pria itu dalam.

"Aku telah membunuhnya."

Tidak ada yang berbicara selama beberapa detik setelah Ash mengucapkan kalimat itu.

Lalu tawa Jacker pecah, keras dan tiba-tiba, diikuti semua anak buahnya. Beberapa di antara mereka sampai menunduk memegangi lutut.

Ash tidak bergerak, matanya tetap menatap wajah Jacker.

"Kamu membunuhnya." Jacker mengulang kalimat itu di antara tawanya, lalu menyeka sudut matanya dengan punggung tangan. "Dengan apa, nak? Makhluk itu tidak mempan peluru, meriam besi kami pun mampu dia remukkan."

Ia berhenti sejenak, senyumnya melebar. "Apa kau memasukkan kemaluanmu sampai dia mati tersedak?"

Tawa anak buahnya semakin keras. Salah satu dari mereka sampai berjongkok di tanah dan beberapa lainnya sampai terbatuk-batuk.

"Aku menusuk rahangnya,"  jawab Ash datar. "Menggunakan pedang dari bawah sampai menembus kepalanya. Makhluk itu tidak sempat memberontak."

Jacker melambaikan tangannya, tawanya mereda. "Haha, sialan. Oke, cukup bagus untuk jadi lelucon, tapi saat ini aku tidak punya waktu untuk leluconmu, berandal."

"Aku tidak berbohong."

Wajah Jacker kini berubah. Tawanya habis dan yang tersisa hanya ekspresi orang yang sudah kehilangan kesabarannya. "Kami mengikuti kawanan itu selama empat bulan."

Nada suaranya turun, tapi justru itu yang membuat suasana mendadak tegang. "50 orang Aegis mati, 4 pesawat kami hancur. Kini kami kehilangan jejaknya setelah melewati wilayah ini."

Ia melangkah mendekat, berhenti tepat di depan Ash, napasnya terasa hangat di wajah Ash dari jarak itu. "Lalu kau mau aku percaya bahwa seorang petani, hanya dengan pedang, berhasil melakukan apa yang tidak bisa dilakukan pasukan terlatih dan bersenjata lengkap?"

Suaranya turun menjadi hampir berbisik. "Apa kau sedang mengejek kami, bocah?"

"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya." Ash masih bersikeras.

"Kalau memang begitu," Jacker mundur satu langkah, "tunjukkan jasadnya. Aku tidak peduli kalau kau sudah menguburnya, tunjukkan saja lokasinya."

Ash tidak menjawab langsung. Ia sendiri tidak tahu ke mana jasad makhluk itu pergi, tidak ada yang tersisa saat ia siuman kecuali darah biru yang sudah mengering di tanah.

Sebelum ia sempat menjawab, suara Elira memotong dari belakang.

"Aku melihat semuanya!" Elira bangkit dari posisinya, suaranya tidak gemetar meski matanya merah. "Kawanan itu membawa jasad Oars besar itu pergi ke arah hutan utara setelah pertarungan selesai. Suamiku mengatakan yang sebenarnya."

Jacker menatapnya sebentar, lalu kembali ke Ash, giginya menggeram lalu tangannya bergerak.

DORRR!

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel