Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3. Nafsu Liar

Elira berbalik dan hampir menjatuhkan mangkuk kayu di tangannya saat mendapati Ash sudah berdiri sangat dekat di belakangnya. Ash meletakkan satu tangan di dinding di sisi kepala Elira, membatasinya.

"Ada apa, sayang?" tanya Elira. Suaranya masih tenang, tapi matanya mencari-cari ekspresi di wajah suaminya.

Ash tidak menjawab. Dia menatap istrinya dalam dengan tatapan yang tidak biasa, bukan ekspresi datar yang sudah dikenal Elira selama bertahun-tahun.

Elira mengernyit, pandangannya bergerak ke wajah dan leher Ash. Urat-urat biru terlihat jelas di bawah kulitnya, seperti akar pohon yang menekan ke permukaan, tampak di sisi leher, di pelipis, di punggung tangan yang menumpu di dinding.

"Ash." Nada suara Elira berubah, lebih hati-hati. "Ada apa denganmu? Urat-uratmu ...." Dia mengangkat tangannya dan menyentuh sisi leher suaminya dengan ujung jari. "Apa kau baik-baik saja?"

Ash tidak menjawab pertanyaan itu. Tangannya bergerak dan dalam satu tarikan, kain yang menutupi payudara Elira robek. Wanita itu tersentak kaget, matanya melebar menatap suaminya.

"Ah ...." Elira mendesah pelan dengan mata yang melebar.

"Sayang? kau baik-baik saja?" Elira heran, suaminya tak pernah merobek pakaian hanya untuk meminta sentuhannya.

Biasanya Ash memulai dari sentuhan-sentuhan lembut disertai pujian-pujian murahan yang akan membuat Elira tertawa. Tapi wanita itu tak melawan, tak menyela.

Dia hanya memperhatikan Ash yang napasnya lebih cepat dan terasa panas di wajahnya. Kedua mata Ash menatap kedua payudaranya dengan penuh nafsu seperti baru pertama kali melihatnya. 

"Ah!" Elira kembali terkejut saat tiba-tiba kedua tangan Ash meraih dan meremas kedua payudara itu.

Ash menempelkan wajahnya, dia menghisap puting Elira kuat dengan suara yang berisik seperti orang yang menyantap semangkuk sup. Elira meringis, menahan sentuhan yang menyakitkan itu.

"Sayang, kau akan membangunkan Lyanna di sebelah dengan suara itu."

Akan tetapi, Ash tak menghiraukannya, pria itu tak mengucapkan satu kata pun. Elira mencengkeram tepi meja dengan kuat untuk mengalihkan rasa sakitnya.

Ash menghisap bergantian kedua puting yang sudah keras itu, sesekali disertai gigitan yang menyakitkan. Setelah puas, Ash menarik pinggang istrinya, memutar tubuh wanita itu hingga punggung Elira menghadap dirinya.

KRAKK!

Elira tersentak kaget saat tiba-tiba kain yang menutupi pantatnya robek. Elira semakin yakin jika ada sesuatu yang berubah dalam diri suaminya malam itu.

"Sayang ... apa kau yakin kau baik-baik sa–"

Ucapan itu terpotong saat tiba-tiba sesuatu memasuki Elira begitu saja. Tanpa bisikan lembut, tanpa ciuman, tanpa sentuhan apapun sebelumnya. Elira terbelalak, mulutnya terbuka penuh, tangannya mencari sesuatu untuk digenggam.

"Ash ... Ah! pelan-pelan sayang!"

Tubuhnya berguncang, hentakan demi hentakan diterimanya tanpa penolakan. Itu adalah Ash, pria yang dicintainya selama 15 tahun. Sosok yang sangat dia percayai dan dia andalkan.

Pria yang telah menyelamatkan dirinya dan desa pinedale. Malam itu dia hanya perlu menjalani kewajibannya sebagai seorang istri. Satu tangan menopang tubuh Elira di meja, sedangkan satu tangan lainnya menutup mulutnya erat agar Ash tak mendengar teriakannya.

Hentakan di pingganggnya tak kunjung berhenti, biasanya Ash akan berhenti setiap beberapa detik dan merubah posisinya. Air mata mengalir membasahi pipi Elira, rasa sakit itu tak kunjung berubah menjadi nikmat seperti biasanya.

Tiba-tiba tubuh Elira dipindah lagi, kali ini Ash mengangkat tubuh istrinya dan menggendongnya di depan. Kedua lengan Elira melingkar di leher Ash dan kedua kakinya meggantung, ditopang oleh lengan Ash yang memegangi pantatnya.

Elira kembali terbelalak, posisi itu bahkan lebih menyakitkan dari yang sebelumnya. Tubuh Elira bergerak naik dan turun, nafasnya tertahan setiap kali penis Ash membelah vaginanya dalam.

"Ash ... tolong, pelan!!" Elira menepuk punggung Ash berkali-kali namun, suaminya terus mengabaikannya.

Tak lama kemudian tubuh Ash mengejang, Elira jatuh begitu saja di lantai diantara perabotan yang masih berantakan. Sedangkan Ash, terhuyung ke belakang, tubuhnya menabrak dinding kayu sebelum jatuh dan duduk bersandar di lantai.

Napasnya tersengal seperti orang yang sekarat. Tapi yang menjadi perhatian Elira adalah urat-urat biru di sekujur tubuhnya yang memudar. Semuanya seperti bergerak kembali ke arah jantung dan menghilang, meninggalkan warna kulit Ash yang kembali normal.

Ash membuka matanya. Ia menatap langit-langit dapur selama beberapa detik, napasnya masih berat. Lalu kepalanya menoleh ke bawah dan matanya melihat Elira yang masih terbaring di lantai dengan penampilan yang berantakan.

Kain yang robek di beberapa bagian. Permukaan kulit yang berkeringat, rambut berantakan yang menempel di wajah.

"Ya Tuhan, apa yang terjadi sayang? bagaimana kau bisa terbaring disini?" Ash sigap mendekat, mencoba membantu istrinya bangkit.

Elira diam sesaat, air mata masih menggenang di pelupuk matanya. Wanita itu berusaha mencari kalimat yang tepat untuk menjelasan tanpa membebani pikiran suaminya. Elira tahu apa yang dilakukan Ash barusan diluar kesadarannya. 

Ash masih menatap istrinya dengan berjuta pertanyaan. "Sayang? apa yang terjadi?" 

Elira tersenyum, akhirnya. Tangannya bergerak lembut menyentuh wajah Ash. "Yang barusan itu, luar biasa."

Ash menatapnya dalam, mencoba memahami arti kalimat itu. Tapi dia tak bertanya lebih jauh, hanya tahu jika istrinya lelah dan terutama masih tersenyum padanya.

***

Beberapa hari kemudian, desa Pinedale mulai kembali bernapas, meski perlahan.

Mereka yang meninggal sudah dimakamkan di bukit kecil di timur desa, batu-batu nisan sederhana berjajar di antara gundukan-gundukan tanah yang masih basah. Puing-puing bangunan dan benda-benda yang memenuhi jalanan sudah dibersihkan bergotong royong, dan sekarang waktunya membangun kembali.

Warga yang memilik keahlian tukang, mengerjakan rangka-rangka rumah yang roboh dan memasang atap. Mereka yang memiliki tenaga cukup besar mengangkat balok dan memecah batu untuk bahan bangunan.

Para wanita baik yang tua dan muda bergiliran menyiapkan makanan dan minuman di balai desa, meja panjang dari papan kasar penuh dengan panci-panci dan piring makan.

Tidak ada wajah ceria di antara mereka. Masing-masing masih terlihat sembab, mata yang merah dan pipi yang cekung, tapi tangan mereka terus bergerak dan mulut mereka sesekali saling menegur dan menguatkan.

Ash berada di hutan sekitar tiga kilometer dari desa bersama beberapa pria lain, mencari kayu yang layak untuk rangka bangunan. Kapaknya sudah bekerja sejak pagi, telapak tangannya mulai kasar dan pegal di pergelangan.

Saat matahari tepat di atas kepala dan mereka berhenti untuk makan siang di tepi sungai kecil, suara itu datang dari langit.

Denging keras, berat, melintasi pepohonan di atas mereka dan membuat daun-daun bergerak. Ash mendongak bersamaan dengan yang lain dan melihat bayangan besar melintas di celah-celah pepohonan, terlalu besar untuk seekor burung.

Mereka berlari ke tepi hutan dan melihat keluar ke area terbuka.

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel