Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2. Urat Biru

Ash mengalihkan pandangannya pada si besar yang kini berlari ke arahnya. Dia harus menyelesaikan urusannya dengan si besar itu sebelum bisa menyelamatkan istrinya.

Tak jauh darinya, sebuah pedang tergeletak di sisi potongan jasad prajurit penjaga. Dengan sisa tenaga yang ada, Ash meraih pedang itu dan menghunusnya, tepat saat makhluk dengan cahaya biru samar di lehernya itu mendarat taring-taring yang siap mencabik.

"ARRGGHH!"

Mata si besar itu terbelalak, gigi taringnya menancap di bahu Ash, tapi pedang miliknya juga menancap dalam di bawah rahang makhluk itu, menembus pangkal lidah hingga ke kepala.

"Makan ini!"

Darah biru gelap mengalir di tubuh Ash, membuatnya bermandikan darah.

Saat kejadian itu semua makhluk lain mendadak berhenti dan melihat ke arahnya. Ash sudah diambang kesadaran, dia terus melihat ke arah gudang kecil tempat Elira dan Lyanna bersembunyi.

Perlahan pandangannya gelap, tubuhnya tak mendengar perintahnya lagi.

***

"Tenanglah sayang, ayahmu pria yang kuat. Dia akan baik-baik saja."

Suara Elira terdengar samar di dekatnya, nada bicara istrinya itu pelan dan hati-hati seperti biasa saat berbicara dengan Lyanna. Ash tidak bisa menangkap kata-katanya dengan jelas, tapi cukup untuk tahu keduanya masih hidup.

Pelupuk matanya berat saat dia mencoba membuka mata. Langit-langit kayu yang tidak asing menyambutnya, cahaya dari beberapa lampu ruangan terasa menyilaukan.

"Ayah!"

Lyanna menyergap lebih dulu, pelukan gadis kecil itu erat di lehernya, tubuhnya gemetar halus. Ash mengangkat satu tangan dan menepuk punggung putrinya pelan.

"Hai cantik, ayah disini," katanya pendek.

Elira duduk di sampingnya, matanya merah dan basah. Dia tidak langsung bicara, hanya menatap wajah Ash dengan ekspresi yang susah dibaca antara lega dan takut sekaligus.

"Kau menangis," kata Ash.

"Tentu saja aku menangis." Suara Elira sedikit bergetar. "Kau berlumuran darah dari ujung kepala sampai kaki, Ash. Aku pikir kau sudah ...." Kalimatnya menggantung, dia menggeleng pelan. "Syukurlah kau masih di sini."

Ash duduk tegak perlahan, tulang punggungnya berbunyi. Baru saat itulah dia benar-benar melihat sekelilingnya. Aula desa, tempatnya biasa melihat warga berkumpul untuk ibadah setiap akhir pekan, kini penuh dengan manusia yang terluka.

Puluhan orang berbaring di lantai beralaskan kain seadanya, beberapa mengerang pelan, beberapa hanya diam menatap langit-langit dengan ekspresi kosong. Suara tangis anak kecil terdengar dari sudut ruangan, bercampur dengan suara bisik-bisik orang dewasa yang kelelahan.

"Elira," kata Ash, matanya beralih ke perban di lengan istrinya. "Lukamu?"

"Cakaran kecil saja." Elira mengangkat lengannya sebentar lalu menurunkannya lagi. "Tidak dalam, tidak sampai menghambatku untuk bergerak. Tidak perlu khawatir."

Ash mengangguk satu kali. Pandangannya menyapu ruangan sekali lagi.

"Monster-monster itu, apa yang terjadi?"

"Pergi." Elira menghela napas pelan. "Tiba-tiba saja mereka berhenti dan pergi, seperti ada yang memanggil mereka pulang. Tidak ada yang mengerti kenapa." Dia melirik ke arah pintu aula. "Pasukan bantuan dari Kota Vindale sudah berjaga di luar sejak tadi malam, berjaga-jaga kalau mereka kembali lagi."

Ash tidak menjawab. Dia memiringkan kepalanya sedikit, mencerna informasi itu dalam diam. Kawanan makhluk yang menyerang desa bukan tanpa tujuan, dan mereka tidak pergi begitu saja tanpa alasan. Ada sesuatu yang menggerakkan mereka, dan sesuatu yang sama yang menghentikan mereka.

Satu hal lain yang mengganggunya lebih dari itu.

Ash menunduk, memandangi tangannya sendiri. Tidak ada rasa nyeri. Sama sekali tidak ada. Dadanya, lengannya, bahunya yang tadi ditembus taring makhluk besar itu. Semuanya terasa normal, tidak ada perih, tidak ada rasa panas, tidak ada rasa tertusuk dalam.

Ash berdiri.

"Ash?" Elira mendongak.

"Aku butuh ke toilet."

Ash berjalan melewati beberapa orang yang berbaring di lantai, mencari sudut belakang aula. Saat pintu toilet kayu itu tertutup di belakangnya, dia berdiri di depan cermin kecil yang tergantung miring di dinding, menatap bayangannya sendiri di bawah cahaya lampu yang remang.

Dia mulai membuka perban di lengan kirinya dengan gerakan lambat. Kain putih yang sudah kecokelatan oleh darah kering itu terlepas lapis demi lapis, sampai kulit lengannya terlihat sepenuhnya.

Tidak ada luka, tidak ada bekas luka, tidak ada kulit yang mengering, tidak ada garis merah bekas gigitan. Kulitnya bersih seperti tidak pernah disentuh apapun.

Ash juga melepas perban di dadanya. Sama, tidak ada jejak apapun di sana, padahal dia masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana taring makhluk itu menancap di bahunya, bagaimana tulang-tulangnya berderak saat tubuhnya dibanting berulang kali.

Dia mengetuk dadanya sendiri dua kali dengan kepalan tangannya. Tidak sakit.

Ash menatap bayangannya di cermin dalam diam yang cukup panjang. Darah biru gelap milik makhluk pemimpin itu, dia ingat cairan itu mengalir deras di tubuhnya sebelum kesadarannya padam. Dia tidak tahu apa yang masuk ke dalam tubuhnya saat itu, dan sampai sekarang dia belum punya jawaban yang masuk akal.

***

Malam turun dengan cepat. Ash menggendong Lyanna yang sudah terlelap di punggungnya, satu tangan Elira menggenggam lengannya saat mereka berjalan pulang melewati jalanan yang sunyi.

Beberapa rumah di sepanjang jalan sudah menjadi puing, sisanya berdiri setengah rusak dengan dinding berlubang dan atap yang runtuh sebagian. Bau asap dan darah masih tercium pekat sepanjang jalan.

Rumah mereka masih berdiri, tapi bagian depannya terbuka. Atap ruang tengah sudah hilang sepenuhnya, dan dinding samping retak panjang dari atas ke bawah. Kamar tidur di bagian belakang kondisinya lebih baik, hanya sebagian atapnya yang jebol sehingga langit malam terlihat dari dalam.

Elira menidurkan Lyanna di kasur tanpa banyak bicara, menyelimuti putrinya rapat-rapat meskipun angin malam masuk dari lubang atap di atasnya.

"Tidur nyenyak ya, sayang," bisiknya di dekat telinga Lyanna.

Ash berdiri di ambang pintu kamar, memandangi langit gelap yang terlihat dari lubang atap. Bintang-bintang terlihat jelas malam ini. Dia mendengar Elira bergerak ke dapur, suara piring beradu pelan dan langkah kaki ringan di lantai kayu.

Kemudian sesuatu bergeser di dalam tubuhnya.

Bukan rasa sakit, bukan pusing. Jantungnya mulai berdenyut lebih cepat dari biasanya, dan ada sensasi panas yang muncul di bagian bawah perutnya, menjalar naik ke dada dengan lambat tapi pasti.

Ash menekan tangannya ke dinding sebentar, mencoba mengenali sensasi itu. Bukan adrenalin biasa karena karena jantungnya berdetak cepat bukan karena rasa tegang.

Dia melangkah ke dapur. Elira sedang membungkuk mengambil sesuatu dari rak bawah, punggungnya membelakangi Ash. Lekuk tubuh istrinya terbungkus rok panjang yang sudah kusut dan kotor oleh debu serta darah kering, tapi bentuk bokongnya yang bulat indah tetap terlihat jelas.

Napas Ash mulai tidak teratur.

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel