Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 7

Isak tangis mengiringi pemakaman Ayah mertua. Aku, Mas Farid dan Ibu masih tidak percaya semua ini bisa terjadi. Ayah pergi tanpa diduga-duga. Kata dokter yang sempat datang ke rumah dan memeriksa, ternyata Ayah terkena serangan jantung.

Aku sedih saat melihat Ibu yang tak henti-hentinya menangis hiseris sambil mengusap-ngusap pusara Ayah, dan Mas Farid yang diam seribu kata. Mas Farid memang terlihat tegar dari luar, tapi aku yakin ia pasti terpukul atas kepergian Ayah yang mendadak.

Proses pemakaman telah usai, dan kami pun pulang ke rumah dengan membawa duka. Aku merasa kehilangan, karena selama ini Ayah teramat baik padaku.

"Mas, istirahat dulu aja. Dari semalem Mas nggak tidur."

Mas Farid hanya mengangguk. Lalu segera beranjak pergi ke kamar. Kemarin siang setelah mengetahui Ayah telah tiada, aku langsung menghubungi Mas Farid, dan ia sampai rumah setelah isya. Mungkin Mas Farid mendadak beli tiket pesawat dari Jakarta ke Jogja. Setelah sampai rumah, ia tidak tidur sama sekali. Semalaman ia hanya duduk di sebelah jasad Ayah, menunggu tuk dimakamkan paginya.

***

Tiga bulan sudah selepas kepergian Ayah. Aku makin kesepian, dan tidak betah tinggal hanya bersama Ibu. Di tambah lagi, Mas Farid jarang menghubungiku. Aku merasa jadi istri yang diabaikan. Sesibuk-sibuknya seorang suami, harusnya bisa menyempatkan diri menelepon ataupun hanya sekedar menanyakan kabar. Namun, kenyataannya?

Menghela napas panjang. Kurebahkan diri di ranjang. Memandangi foto Mas Farid tengah memangku Nita di ponselku. Mas Farid, mengapa selama di Jakarta kamu jarang menghubungi? Apa kamu tidak merindukanku?

Kebetulan sekali saat aku tengah memikirkannya, Mas Farid menghubungiku. Betapa senangnya hatiku sampai-sampai aku senyum-senyum sendiri. Buru-buru kutekan tombol hijau.

"Halo, Mas ...."

"Gimana kabarmu dan Nita?"

"Baik, Mas sendiri?"

"Aku baik-baik saja. Oh iya. Aku ingin minta tolong, Bet."

Aku mengerutkan dahi. "Minta tolong apa, Mas?"

"Aku ... habis dirampok Bet. Motor dan uang dari penjualan tanahmu hilang."

Aku terperangah kaget. "Mas serius?!"

"Iya, makanya aku ingin minta tolong. Hmm ...." Mas Farid menggantungkan ucapannya, mungkin berpikir sejenak. "Aku ingin kamu ... jual rumah warisan orangtuamu Betty. Kamu mau, 'kan?"

"Untuk apa, Mas? Terus berapa butuhnya?

"Aku minta semuanya, Betty. Untuk membeli motor baru, dan ... untuk keperluan yang lainnya."

Sejenak aku berpikir, menimbang-nimbang permintaan Mas Farid. Rumah warisan orangtuaku lumayan besar dengan ruang tengah, ruang keluarga, tiga kamar dan dapur. Jika dibandingkan dengan rumah mertuaku yang hanya dua kamar amatlah jauh.

Jika rumah itu dijual, mungkin akan dihargai 350 juta juta rupiah. Namun, pertanyaannya. Untuk apa Mas Farid membutuhkan uang sebanyak itu?

"Bukankah harga motor itu hanya puluhan juta? Memangnya untuk kebutuhan apa lagi, Mas?"

"Nanti aku kasih tahu kamu, Betty. Pokoknya kamu jual saja rumah itu, nanti aku ganti ko."

Demi Mas Farid, aku akan relakan rumah pemberian orantuaku dijual. Lagipula, Mas Farid berjanji akan menggantinya.

"Baiklah, Mas."

"Makasih ya, Betty."

***

Flashback (Satu minggu sebelumnya)

Farid POV

"Selamat bergabung di PH kita, Pak Farid."

"Terimakasih, Pak." Aku berjabat tangan dengan produser eksekutif setelah menandatangani surat kontrak kerjasama bersama Three Pictures. Production House tempatku magang dulu.

Aku melangkah ke luar dengan rasa senang tak terkira. Akhirnya, cita-citaku masuk ke dunia perfilman tercapai. Satu lagi, aku bisa leluasa bertemu dengan Clarissa, PH dimama FTV dan sinetronnya diproduksi.

Memang sudah bakat dan keahlianku di bidang ini. Berkat film pendek dan dokumenter yang aku menangkan di festival film, aku langsung dihubungi produser eksekutif untuk bergabung dengan PH-nya. Tidak hanya itu saja, dia juga memuji kinerjaku saat magang dahulu.

Farid, kau memang luar biasa.

***

Merebahkan tubuh di kursi kantor. Memijit pelipisku yang terasa pening. Seharian ini kepalaku pusing sekali gara-gara membaca naskah-naskah cerita yang bejibun. Rencanya, sebagai sutradara baru aku akan memulai proyek serial televisi.

Mulai lelah, kuputuskan saja hari ini pulang lebih awal.

Ketika aku hendak ke luar parkiran, aku melihat dia. Clarissa tengah berjalan ke luar. Sinetron yang dibintanginya sudah tamat. Sepetinya ia akan ambil peran kembali di FTV. Kasihan, Clarissa selalu jadi artis figuran. Tak pernah sekalipun aku lihat ia memerankan peran utama.

Kalau boleh jujur, aktingnya agak kaku dan kurang luwes. Mungkin itulah faktornya.

Aku ingin mendekatinya untuk mengajak pulang bareng. Namun, aku merasa minder. Manamungkin Clarissa mau diantarkan dengan menaiki sebuah sepeda motor?

Sekarang aku adalah sutradara, aku butuh mobil dan apartemen. Tapi uang tanah dari Betty tidak cukup untuk membeli sebuah mobil.

Langkahku tercekat seketika. Aku baru ingat dengan rumah warisan Betty. Mengapa baru terpikirkan olehku? Benar juga. Apa aku suruh Betty saja untuk menjualnya, lalu kubelikan mobil dan menyewa apartemen di Jakarta.

Benar. Aku harus meminta Betty agar menjual rumah warisannya. Alasannya biar aku pikirkan nanti.

***

Dengan alasan dirampok, Farid berhasil membujuk Betty untuk menjual rumah warisan sang mertua, kemudian Farid membelanjakan uang itu untuk keperluannya membeli mobil dan menyewa sebuah apartemen kelas menengah.

Jika sebelumnya Farid merasa minder, kini ia mulai percaya diri untuk mendekati Clarissa, dan sekarang ia tengah duduk berhadapan dengan Clarissa di kantor. Sebenanya, Clarissa sudah tidak asing dengan sosok Farid. Sebelumnya ia telah mengenal Farid sebagai anak magang dan sekarang pria itu telah naik jabatan sebagai sutradara. Clarissa akui, Farid memang luar biasa.

"Jadi, Bapak mau ngomong apa?" tanya Clarissa seraya menyilangkan kedua kakinya.

Farid tersenyum. "Aku lagi punya proyek sinetron, dan aku belum mendapatkan pemain yang cocok sebagai tokoh utama. Terus aku ingat kamu. Sepertinya kamu lumayan juga meranin tokoh ini, kamu mau?" balas Farid to the point.

Clarissa terperanjat. Senang bukan main. "Serius, Pak?" tanyanya dengan mulut menganga.

"Iya. Jadi, kamu mau apa tidak?"

"Tentu donk!" seloroh Clarissa antusias. Peran utama yang ia idamkan selama ini, akhirnya terwujud.

Hati Farid bersorak gembira. Clarissa menerima tawarannya bermain dalam proyek sinetron yang ia garap. Itu artinya, kesempatan untuk berdekatan dan mengenal Clarissa lebih jauh semakin di depan mata.

***

Dua minggu lamanya Clarissa dan Farid sering bertemu, dan keduanya pun telah saling mengenal satu sama lain. Sore ini, Farid tengah mengantarkan Clarissa pulang ke rumah.

Clarissa melepaskan sabuk pengaman. Sebelum turun dari mobil, ia mengucapkan sesuatu, "Makasih ya, Pak. Sudah antarkan aku pulang," ucap Clarissa disertai senyuman, membuat seorang Farid semakin tergila-gila.

"Jangan sungkan-sungkan, dan ... nggak usah terlalu formal sama aku."

"Tapi 'kan tetap saja Bapak sutradara, dan itu artinya Bapak atasan saya."

"Panggil aja aku Farid."

Clarissa hanya menganggapi dengan senyum tipis. Entah mengapa Clarissa sedikit nyaman ketika di dekat Farid. Pasalnya, akhir-akhir ini Farid sering memberikan perhatian lebih padanya jika dibanding dengan pemain lainnya.

Farid mengulum bibir, gugup. "Clarissa ... mau nggak kamu malam minggu nanti makan malam denganku?"

Tanpa pikir panjang Clarissa mengangguk.

"Bener kamu mau?" tanya Farid tak menyangka.

"Iya ... sampai jumpa besok malam, Pak," ucap Clarissa sembari membuka pintu lantas turun dari mobil. Ia melambaikan tangan ke arah Farid dengan senyum lebarnya.

***

Malam ini, Farid dan Clarissa tengah berduaan di sebuah cafe dengan nuansa romantis. Bisa dibilang semacam candle light dinner.

Makanan di meja makan telah tandas, dan kini saatnya untuk Farid mengungkapkan sesuatu. Clarissa terperanjat karena Farid dengan tiba-tiba menggenggam tangan tangannya.

"Clarissa, aku ingin mengatakan sesuatu."

"Apa?" Clarissa sungguh dibuat penasaran.

Farid menghela napas dan mengembuskannya, grogi.

"Kamu sungguh cantik dan baik Clarissa. Kamu tahu, selama ini aku sangat mengagumimu. Setiap hari kamu yang selalu muncul di pikiranku. Pertama kali aku melihatmu, kau buat aku terpesona."

Clarissa masih bergeming, mendengarkan ucapan pria di hadapannya.

"Clarissa, aku ... menyukaimu. Mau nggak kamu jadi ... pacar aku?"

Sebenarnya Clarissa sudah peka dengan tingkah Farid selama ini. Bukan geer, tetapi Clarissa sudah yakin jika Farid memang menaruh hati padanya. Dari memberikan erhatia, gerak gerik dan tingkah Farid yang selalu mencoba mendekatinya.

Jika dipikir-pikir, Farid lumayan juga. Kalau dirinya menjadi kekasih Farid, bisa saja karir Clarissa mungkin akan lebih bersinar karena Farid adalah seorang sutradara.

"Jadi bagaimana?" Farid mulai dilanda gelisah. Ditolak atau diterima?

"Ok, aku mau jadi pacar kamu."

Senyuman terbit di wajah Farid. Hatinya berbunga bahagia. Sungguh tidak disangka jika seorang Clarissa akan menerima cintanya.

Farid mengecup punggung tangan Clarissa. "Makasih ya udah mau nerima aku."

Malam itu, Farid bahagia tak terkira. Dunia serasa milik dirinya dan Clarissa. Namun, ada satu yang Farid lupakan. Bagaimana dengan Betty yang merupakan istri sahnya?

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel