Bab 4
Hari ini Farid tengah mengantarkan sebuah orderan makanan dari pelanggan. Matanya mulai menyisir sekeliling, mencari alamat yang dituju.
Hingga sampailah dirinya pada sebuah rumah tradisional beretnik Jawa, joglo. Farid langsung nyelonong masuk ke halaman rumah tersebut karena pagarnya yang tidak terkunci. Banyak deretan mobil terparkir di sana.
Berjalan perlahan dan pintu yang setengah terbuka memungkinkan Farid mengintip ke dalam. Ia terperangah saat mendapati beberapa orang tengah melakukan proses shooting.
Seorang laki-laki datang menghampiri, saat menyadari kehadiran Farid dengan jaket hijaunya khas pengemudi ojek online.
“Ada apa, Mas?” tanya pria tersebut.
Farid tersenyum. “Ada pesanan, atas nama bapak Irwan.”
Si pria baru ingat kalau ia diberi mandat untuk membayar pesanan rekannya.
“Oh. Pizza bukan?” tanyanya lagi.
“Iya.”
Pria tersebut merogoh uang pecahan seratus ribuan di kantong celananya. Lalu menyodorkannya pada Farid. “Ini Mas, uangnya.”
Farid malah bengong. Arah pandangnya terfokus pada proses shooting yang tengah berlangsung.
“Mas?”
Farid pun tersadar. “Oh, iya. Makasih, Mas,” ucapnya sambil menerima uang tersebut.
“Baru lihat proses shooting yah?” tanya si pria.
“Iya. Saya suka dunia perfilman, Mas. Pengen jadi sutradara atau kru film tapi nggak kesampaian. Ini lagi bikin film atau ...?”
“Sinetron. Ceritanya settingnya di Jogja, jadi kami dari Jakarta jauh-jauh ke sini”
Farid mengangguk-anggukan kepala.
Dari dulu, Farid sangat menggilai dunia seni peran dan film. Ia bercita-cita menjadi sutradara, tapi tidak pernah bisa terlaksana karena terkendala faktor biaya.
“Kenapa tidak kursus cinematografy saja, Mas?”
Farid menaikan sebelah alis. “Bukannya harus kuliah?”
“Nggak perlu lulusan diploma atau sarjana untuk terjun ke dunia film. Kalau Masnya punya bakat dan kreatifitas pasti bisa dengan hanya mengikuti kursus. Awalnya saya bukan lulusan perguruan tinggi, tapi saya sengaja kursus cinematograf dan sekarang jadi kru editing.”
“Apa biaya kursus itu mahal?”
“Hmm, tergantung sekolah kursusnya sih.”
Pria tersebut menyodorkan sebuah kartu. “Ini sekolah kursus film, jika berminat bisa datangi tempat itu. Lokasinya di Jakarta. Mas nggak usah ragu, karena lulusannya sudah banyak yang bekerja di stasiun TV dan PH.”
Farid menerima dan membaca alamat sekolah yang tertera di kartu tersebut.
“Mas Beto, mana pizzanya? Gue laper.”
Tiba-tiba seorang wanita datang mendekati pria yang diketahui bernama Beto. Suara serak-serak basah wanita itu sontak mengalihkan perhatian Farid, reflek ia mendongak.
Kedua mata Farid tak berkedip sama sekali melihat makhluk cantik di hadapannya. Wajah tirus putih mulus, rambut panjang hitam bergelombang serta tubuh ramping nan sexy. Hotpans yang dikenakan turut menampilkan kaki jenjangnya yang putih.
“Ini ‘kan punya Pak sutradara. Kenapa jadi kamu yang minta?”
“Sebenarnya itu pesanan gue, tapi karena gue ogah pesen, ya udah pake hapenya si Pak Irwan,” ujar si wanita.
“Oh begitu.”
Setelah mengambil kantong berisi satu kotak pizza tersebut, wanita itu pun berlalu pergi kemudian mendudukan diri di sebuah kursi tak jauh dari Farid berdiri dengan menyilangkan kedua kaki.
Sedangkan Farid, masih terpaku memandangi keindahan si wanita yang tengah duduk membelakanginya itu.
“Nggak minta foto, Mas?” tanya Beto.
Pertanyaan Beto membuat Farid tersadar. “Minta foto maksudnya?” tanya Farid bingung.
Beto terkekeh. “Waah ... kayanya Masnya jarang nonton FTV atau sinetron ya?”
Farid menggeleng.
“Dia itu Clarissa, artis FTV. Meskipun perannya figuran, tapi dia sering nongol lho di tv.”
“Saya ... jarang nonton FTV atau sinetron, sukanya nonton film, Mas,” ucap Farid disertai tawa ringan.
“Oh begitu. Oh iya, jangan lupa entar malem, sinetron perdana kita tayang di saluran TV3. Seru lho ceritanya. Hehe,” ucap Beto dengan bangganya.
“Baiklah, saya akan coba nonton. Kalau begitu saya permisi dulu.”
Farid pun lekas pergi dari tempat itu.
***
Farid FOV
Teringat percakapan tadi siang bersama pria itu, aku segera pergi ke ruang tengah. Menyalakan televisi lalu mencari chanel TV3.
Oh My God benar saja! Ada wanita cantik itu di sana. Dia memerankan karakter antagonis yang menyebalkan. Wajar saja menurutku, mukanya terkesan cuek dan judes. Namun, aku suka.
Kalau bukan karena wanita itu aku ogah nonton FTV dan sinetron. Bagiku sinetron Indonesia kurang bermutu. Dari segi pengambilan gambar, editing, cerita yang berbelit-belit dan kualitas alakadarnya. Maklumlah, namanya juga sinetron kejar tayang. Seandainya aku jadi sutradara, aku akan membuat sinema Indonesia yang lebih baik dari ini.
Menghela napas panjang, lalu merebahkan tubuhku di sandaran sofa. Termenung. Memikirkan keinginanku yang belum tercapai, atau mungkin tidak akan. Kapan cita-citaku akan terwujud? Aku bosan hidup begini terus. Aku ingin sukses. Akan tetapi dari mana memulainya? Dana pun tak ada.
“Tumben nonton sinetron.” Ibu datang meghampiri lalu mendudukan dirinya di sampingku.
“Lagi pengen nonton aja,” kataku yang masih terfokus ke layar televisi.
“Itu pemainnya si Clarissa ya? Aktingnya jadi jahat mulu!”
Wajar saja Ibu mengomel dan serba tahu, karena dia adalah emak-emak penikmat sinetron.
“Bu ....”
“Hmm?” Ibu menoleh padaku sebentar, setelah itu kembali asyik ke layar televisi.
“Ibu tahu ‘kan cita-citaku dari dulu apa?”
“Iya, Ibu masih inget.”
“Aku bisa masuk ke dunia itu Bu, tapi ... harus kursus atau sekolah film. Sedangkan dananya dari mana ya? Hah, aku bingung.”
Ibu celingak-celinguk melihat sekeliling. Sepertinya memastikan dulu tidak ada keberadaan orang lain. Itu kebiasaan Ibu sebelum berbicara suatu yang bersifat rahasia.
Sesaat kemudian dia mendekatkan wajahnya padaku. “Jual saja tanah si Betty buat biaya sekolah kamu,” bisik Ibu dengan seringaian miring.
Aku terdiam. Ibu masih saja memikirkan tanah warisan milik Betty. Ibu memang menginginkan keuntungannya dari tanah dan rumah warisan mendiang mertuaku itu.
“Apa Ibu lupa dengan ayah? Dia pasti marah jika aku memakan harta warisan Betty. Aku sendiri masih ingat, kala Ibu dulu meminta Betty menjual tanahnya dengan dalih meminjam buat memperluas warung kita. Apa reaksi Ayah? Murka ‘kan? Ayah bilang, itu adalah aset Betty dan jangan pernah diganggu gugat walau aku suaminya sekalipun,” bisikku di telinga Ibu.
“Iya, tapi ‘kan kamu suaminya. Seharusnya kamu lebih mendorong Betty untuk merayu bapakmu supaya memberikan hak tanah itu padamu. Lagian, Ibu yakin pasti dia nggak keberatan kamu menjual tanahnya. Kamu saja yang bego, nggak bisa memanfaatkannya.”
“Bukannya aku bego, Bu. Kalau Ayah nggak ikut campur, tanah itu pasti sudah aku manfaatin. Ibu seperti nggak tahu saja, rasa sayangnya Ayah sama Betty gimana?” aku berdecak kesal. Ibu selalu seperti itu. Membujukku untuk menguasai harta Betty.
“Kamu tahu kenapa Ibu setujui ayahmu menikahkan kamu dengannya? Kalau bukan karena tanah dan rumah warisan orantuanya Ibu mana mau punya mantu gendut kaya dia.”
Ku aliahkan kembali pandanganku ke layar televisi. Terdiam tidak menaggapi lagi. Cape berdebat. Ini semua gara-gara Ayah, dia selalu ikut campur urusan rumah tanggaku dan Betty. Bahkan dia sering mengancamku untuk tidak memakan harta warisan Betty secuil pun.
Ibu kembali mendekatkan wajahnya padaku dan berbisik, “Kamu punya kesempatan yang besar, Rid. Orangtua Betty dua-duanya telah tiada. Sedangkan dia tidak punya siapa-siapa selain kamu dan Nita. Masa, hasil panen dari tanah Betty dipegang dan diurus oleh Ayahmu? Seharusnya kamulah yang mengurus tanah dan keuntungannya itu, Farid.”
Aku berpikir sejenak. Benar juga apa yang dikatakan Ibu. Jalan satu-satunya supaya aku bisa sukses adalah dengan menjual tanah Betty. Namun, selagi ada Ayah sepertinya sukar.
Kami terperanjat kaget lalu dengan cepatnya membenarkan posisi kami kembali pura-pura asyik nonton televisi. Pasalnya, Betty ke luar dari kamar dengan muka datarnya.
Apakah Betty sempat mendengar percakapanku dengan Ibu? Ah, semoga saja tidak. Manamungkin ia mendengarnya sedangkan kami bercakap dengan berbisik.
***
Betty POV
Saat aku ke luar kamar untuk minum air, samar-samar aku mendengar Mas Farid dan Ibu yang tengah serius mengobrol di ruang tengah. Tidak begitu jelas, sebab terdengar berbisik.
Aku tidak tahu apa yang mereka obrolkan, jadi aku melengos pergi begitu saja ke dapur.
Ketika aku sedang meneguk segelas air, Ayah menepuk pundakku. Aku menoleh dan mendapati Ayah dengan senyum hangatnya.
Aku balas senyum. “Ada apa, Yah?” tanyaku.
Tanpa membalas pertanyaanku, Ayah mengeluarkan satu amplop coklat dari saku celananya, kemudian menyerahkannya padaku.
“Ini. Hasil panen sawahmu.”
Ku terima amplop itu. Setiap panen Ayah rutin memberikan hasil keuntungan penjualan beras itu padaku, jadi bukan hal yang mengejutkan.
“Ayah, sudah mengambil bagian Ayah?” aku ingin Ayah mengambil haknya juga, sebab beliau yang mengurus sawah sepetak milikku. Dari mulai menamam bibit sampai panen. Itung-itung menggajih Ayah. Namun, Ayah selalu mengambil bagiannya sedikit. Baginya itu sudah cukup.
Sesaat kemudian Ayah mengangguk.
“Kamu tabung uang hasil panen ini, buat masa depanmu dan Nita. Jangan kasih ke Farid, nanti dia keenakan dan males kerja.”
Ayah selalu mewanti-wantiku untuk rajin menabung dan jangan gampang memberi Mas Farid uang hasil panen. Katanya, harta ini hakku dan Mas Farid tidak berhak memakannya.
Kadang aku merasa tidak enak hati, jadi diam-diam aku memberikan sebagian uang hasil panen ini pada Mas Farid tanpa sepengatahuan Ayah.
Mahu bagaimana lagi, penghasilan Mas Farid sebagai ojek online tidak mencukupi. Mas Farid tidak setiap hari memberikanku nafkah. Untunglah, aku punya warisan tanah jadi agak sedikit membantu kebutuhan.
Aku hanya bisa menyisihkan sedikit uang itu untuk ditabung. Ditambah lagi dengan Ibu, dia selalu berdalih meminjam uang, tapi tidak pernah dikembalikan. Ya sudah aku ikhlaskan saja.
“Gunakan uang itu baik-baik, buat kebutuhanmu dan Nita.” Setelah mengucapkan itu Ayah beralu pergi ke luar dapur.
Begitu pun diriku. Aku kembali ke kamar untuk melanjutkan tidurku yang tadi sempat terjeda, dan saat masuk ke dalam aku mendapati Mas Farid tengah duduk di atas ranjang lalu menatapku dengan senyum simpulnya.
“Betty. Duduk di sini, aku ingin mengatakan sesuatu.” Mas Farid menepuk-nepuk sisi kasur memintaku untuk duduk di sebelahnya.
“Ada apa, Mas?” tanyaku sembari mendudukan diri.
Mas Farid menatapku lekat. “Betty, aku mau minta tolong Padamu. Kamu mau tidak kalau ...” Mas Farid menjeda ucapannya.
“Minta tolong apa?” Aku sungguh dibuat penasaran dengan maksud Mas Farid.
“Aku ... ingin kamu jual tanahmu.”
