Pustaka
Bahasa Indonesia

A Walk Among The Dead

35.0K · Tamat
will.iam
24
Bab
1.0K
View
9.0
Rating

Ringkasan

Antoni Bram Setyo seorang pengusaha minuman terbesar di Indonesia itu harus kehilangan putri tunggal nya yang masih berusia delapan belas tahun. Ketidak mampuan putri nya untuk berbicara membuat semua orang membenci dan mengasingkan nya. Hingga akhir nya, kejadian yang menghebohkan separuh warga kota terjadi. Dalam sebuah siaran langsung, Mayesa. Putri satu-satu nya Antoni mengakhiri hidup nya sehingga medapat berbagai macam tuaian dari sorotan publik. Kejadian itu, sontak membuat Antoni geram sehingga ia berniat untuk menghancur kan ibu kota dan seisi nya. Bama Satria adalah Kapten dari anggota Kopasus yang ditugaskan untuk menyelamatkan Rena Mellisa, seorang artis sekaligus penyanyi terkenal di tanah air dari penculikan yang dilakukan seorang warga asing. Namun tugas nya berubah ketika tiba-tiba saja kekacauan terjadi di pusat kota. Manusia tampak gila, dan saling memangsa satu sama lain. Terkait pengeluaran sebuah minuman yang di duga merupakan sumber terjadi nya kekacauan tersebut. Rena melakukan perjalanan bersama yang lain, untuk segera keluar dari pusat kota menuju ke pusat bantuan ibu kota Jawa Barat, Bandung.

BaperThrillerMenyedihkan

Bab 1

Bab 1

Seorang pria, berumur 43 tahun memasuki ruang laboratorium yang sangat besar. Ia melewati tabung-tabung besar di sekitar nya yang berisikan manusia bersama cairan zat adiktif di dalam nya. Manusia itu tampak nya masih hidup, jari dan kedua kaki nya terkadang bergerak sesekali tetapi seakan tak berdaya.

"Apa sudah campur bahan-bahan itu kedalam nya ?" tanya nya, disamping seorang pria paruh baya yang tengah fokus menatap layar monitor nya.

"Hm, kapal dari Tiongkok itu membawa obat yang dibutuh kan dengan jumlah yang cukup banyak. Untung nya, penyeludupan itu tak di ketahui." jelas pria itu, membuat pria tersebut tersenyum miring sambil menyilang kedua tangan nya.

"Sudah kau pastikan lagi kegunaan dari obat itu ?"

"Sudah, obat itu merupakan kombinasi dari heroin dan kokain atau heroin dan sabu ( Metamfetamin ). Dan efek nya berkali-kali lipat lebih berbahaya"

" Obat itu merupakan obat Psikoaktif Sintesis jenis Amphetanime Type Stimulants ( ATS ) yang mengandung senyawa Katinona, atau Alpha-pyrrolidinopentiophenone ( Alpha PVP ). Alpha PVP ini adalah narkotika sintesis yang sudah ditemukan sejak tahun 1960 "

"Obat jenis Flakka ini sudah tercantum dalam peraturan dengan nama kimia Alpha PVP,"

"Jika dicampurkan dengan zat-zat adiktif yang sudah kita buat, maka pengonsumsi akan terus tercandu dan ingin mengonsumsi secara terus-menerus. Hanya saja, pengaruh dan efek nya sangat besar pada otak mereka akibat penguat dari senyawa kimia Alpha PVP tadi." Jelas pria itu dengan tatapan sedikit khawatir.

"Justru itu yang ku ingin kan, cari sampel darah yang bisa mengatasi zat dan senyawa itu. Jika sudah berhasil kau temukan, kita akan membuat eksperimen itu. Hahah" pria paruh baya itu menghela nafas nya, sementara pria tersebut lekas pergi setelah meninggalkan gelak tawa nya tadi.

***

Di tempat lain, tampak sejumlah prajurit sedang berbaris dengan tegap dan juga rapi. Menghormat ke arah Jenderal dihadapan mereka yang di pimpin oleh seorang Kapten berparas tampan dengan sorot mata yang begitu tajam. Ia mengeluarkan perintah dengan tegas sehingga membuat semua prajurit itu menurunkan tangan mereka. Pria yang sedang berdiri penuh wibawa itu beranjak dari tempat nya setelah usai memberikan satu pengumuman penting. Sehingga membuat pria berparas tampan itu lekas membubarkan barisan para prajurit kemudian berkacak pinggang sambil menatap langit yang sudah berubah menjadi warna jingga diatas nya.

"Lapor! Kapten!" pria itu menatap ke arah seseorang yang saat ini sudah menurunkan tangan nya.

"Ada apa ?"

"Jenderal, menyuruh mu keruangan nya."

"Ahh.." ia membuang nafas nya, lantaran ia sudah bisa menebak apa yang akan dibahas oleh sang Jenderal itu, ayah nya.

"Baiklah," ucap sang kapten membuat pria itu mengangguk sigap sambil memberi hormat nya sampai pria itu pergi.

Di dalam ruangan, tampak seorang lelaki paruh baya sedang duduk tegap sambil melihat-lihat sejumlah berkas yang ada di atas meja nya. Pria itu masuk dengan langkah tegas, kemudian menghormat dan langsung menyimpan kedua tangan nya ke belakang dengan kedua kaki yang sedikit terbuka.

"Berhenti lah untuk menjadi bagian dari Alpha."

"Tapi, yah.."

"Perintah adalah tugas yang harus di selesaikan!!"

"Siap!!" jawab nya, kembali menegak.

"Kau tidak jadi dikirim ke Urk dan kembali lah ke Jakarta bersama Sersan Sakha." pria itu menahan senyum nya, lantaran ia merasa senang bisa menikmati keseharian nya tanpa panggilan darurat lagi.

"Siap,"

"Jangan melakukan hal-hal aneh dan jangan menunjuk kan identitas mu sembarangan."

"Kau mengerti!!!" tegas sang jenderal, membuat pria itu lekas menghormat.

"Siap! Mengerti!"

"Baiklah, persiapkan barang-barang mu. Jaga diri mu baik-baik,"

Pria itu hanya mengangguk sambil tersenyum. Tak lupa, ia kembali menghormat kemudian lekas keluar dari ruangan itu. Berlari, menuju sang sersan yang tengah duduk di atas bebatuan.

“Ayah ku menyuruh kita kembali ke Jakarta" ucap nya, sambil terengah. Sontak membuat Sakha berdiri menatap nya.

"Benarkah ??" ucap pria dengan nama lengkap Sakha Arkan Wiratama yang berpangkat sebagai Sersan Mayor itu. spontan Sakha langsung merangkul sang kapten, melupakan kedudukan pangkat nya yang lebih rendah.

"JAKARTA!! ... i'm coming" ucap Sakha penuh semangat, hingga membuat pria dengan nama lengkap Bama Satria itu hanya tertawa.

***

Jakarta, pukul 19:20 pm.

Seorang wanita cantik, tengah duduk di dalam kamar nya mengusap busur panah kesayangan nya dengan kain. Sesekali ia meniup debu halus yang bersarang di sela-sela.

Tok-tok!!

"Anna!" wanita itu memutar kedua mata nya malas, ketika mendengarkan suara sang kakak yang memanggil nya.

"Laodia Anna Bella!!"

"Ck! Apa!!" ia menghela nafas gusar nya, kemudian lekas keluar dari kamar nya setelah meletak kan busur panah itu di atas ranjang.

Seorang wanita tengah sibuk menyalin makanan ke atas piring, ia tampak begitu tergesa-gesa demi menyuguhkan makan malam untuk adik nya.

“Elis!! Kan aku sudah bilang, aku tidak suka sup mu!!." ucap nya dengan ekspresi kusut

"Coba dulu, aku sudah berusaha membuat nya se-enak mungkin." wanita yang kerap dipanggil Anna itu tetap tak yakin, tetapi ia juga lekas mengambil sendok sup di atas meja kemudian menyendok kuah sup tersebut dan langsung menyeruput nya dengan pelan.

Ekspresi nya tampak berubah, menggambarkan sesuatu yang membuat hati Elis sang kakak menjadi kecewa.

"Kan, sudah ku bilang! Kau itu tak berbakat untuk memasak." Elis masih tak yakin, padahal ia sudah mengikuti resep yang ia dapat dengan takaran yang pas. Ia ikut mengambil sendok diatas meja, kemudian lekas mencicipi sup tersebut.

"Ehmm.. tapi ini masih bisa dimakan. Rasa nya tak begitu buruk jika dimakan dengan nasi"

"Kau sendiri saja yang makan! aku cuma mau masakan mama."

"Anna, jangan membahas itu. Mama dan papa sudah lama pergi, aku hanya berusaha semampu ku. Kau harus tetap makan"

"Tidak, aku mau memesan makanan saja."

"Kau punya uang ?" Anna terdiam, sambil menatap semangkuk sup dihadapan nya.

"Berhematlah, aku belum mendapatkan pekerjaan. Bisakah kau membantu ku ? Cari lah kerja apa saja paling tidak bisa mencukupi kebutuhan mu. Kita cari uang sendiri-sendiri, jika hanya mengandalkan ku, penghasilan yang ku dapatkan tidak akan cukup."

"Aku menunggu lomba memanah itu,"

"Anna, berhenti melakukan itu mulai sekarang. Kau hanya bisa memainkan nya sebagai hobi. Pikirkan kehidupan kita dan kedepan nya" wanita itu seketika menegak kan kepala nya, memberi tatapan tajam kepada sang kakak.

"Kau dari dulu memang tidak pernah mendukung ku. Aku tak tau alasan nya, apa kah kau iri dengan ku ? Karena papa selalu memanja kan ku ?"

"Keadaan sudah berbeda, berpikir lah secara positif. Kau selalu emosi jika sedang bertatap muka dengan ku."

"Ya, aku memang tidak suka pada mu. Gara-gara kau, mama dan papa meninggal!! Aku benci pada mu Elis!!! Sampai kapan pun!! Aku tidak akan pernah menganggap mu!!!" bentak nya kemudian kembali memasuki kamar nya, sambil membanting pintu. Elis hanya bisa mendesah kasar, ia duduk di atas bangku nya sambil memijit pelipis nya pelan. Kejadian itu, selalu diungkit oleh Anna yang padahal bukan kesalahan nya sama sekali. Tak mengapa, sebagai seorang kakak Elis akan mengalah dan mencoba tak melanjutkan perdebatan nya.

***

Bama berdiri di depan cermin, sambil merapikan pakaian nya. Ini hari terakhir ia bertugas.

Dering telfon nya tiba-tiba berbunyi, ketika ia hendak beranjak pergi. Sontak, Bama langsung mengangkat panggilan dari ayah nya tersebut.

"Ya, ayah ?"

"Bama, maaf jika ayah mengacaukan liburan mu. Ayah ada tugas kecil untuk mu."

"Tugas apa yah ?"

"Penyanyi terkenal asal Indonesia menghilang, seseorang yang di curigai merupakan warga asing. Ada satu laporan mengenai seorang penipu dari negara Singapura yang melarikan diri ke Indonesia, penipu itu telah merugikan banyak perusahan besar di negara nya. Hingga menjadi buronan disana lalu masuk ke Indonesia. Cari dia dan kembalikan ke pihak berwenang. Ingat, kau tidak boleh bertindak lebih jangan sampai menimbulkan konflik lain. Kau mengerti ?"

"Siap!! Mengerti!!"

"Maafkan ayah, jika memberi mu tugas dadakan."

"Tidak apa-apa, ini memang sudah menjadi tugas ku."

"Hm, baiklah.. jaga diri mu jangan sampai terluka."

"Siap." Bama kembali menyimpan ponsel nya dan lekas pergi keluar dari markas nya.

***

Seorang wanita terbangun dari tidur nya, ia telah membuka kedua mata nya dengan lebar tetapi tak bisa melihat apapun lantaran gelap. Mulut nya terlakban, kedua tangan nya terborgol dengan kuat, serta kedua kaki nya terikat. Ia berteriak dengan keras sehingga kerongkongan nya terasa perih namun tak ada siapa pun yang bisa mendengar nya. Wanita itu menangis ketakutan, dingin nya udara membuat tubuh nya menjadi gemetar.

Ia mencoba untuk bergerak, menggeserkan bokong nya menuju balkon, tetapi terhenti ketika ia menabrak sesuatu. Ia meraba benda tersebut, terasa begitu dingin dan sedikit berambut. Alis ? Pikir nya. Ia menurun kan lagi gerak tangan nya, hingga dapat merasakan wajah seseorang yang seperti nya sudah tak bernafas. Ia kembali menurun kan tangan nya, hendak memeriksa detak jantung seseorang tersebut tetapi ia malah merasakan cairan di atas dada pria tersebut.

Wanita itu menarik tangan nya dengan cepat, kemudian ia mencium telapak tangan nya yang sudah basah. Amis, dan sedikit lengket. Sontak ia langsung menjauh ketakutan hingga terpojok disudut ruangan. Kegelapan terus mengitari nya, membuat tingkat ketakutan nya semakin menjadi-jadi. Wanita itu kembali menangis, sambil berharap seseorang atau bahkan polisi menemukan nya. Yang ia sendiri pun bahkan tak mengetahui keberadaan nya..