Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 7 ( Tidak Mendapat Izin )

Mama mereka menyuruh Lana dan Leon duduk di depannya. Lana terdiam duduk di tempatnya, Lana agak takut jika nanti apa yang di ucapkan Leon akan membuat mamanya marah. “Kalian mau bicara apa?”  Tatapnya tajam.

“Ma, apa boleh aku mengajak Lana pergi ke acara pesta ulang tahun temanku besok malam?”

“Pesta? Memangnya teman kamu ada yang berulang tahun?”

“Ada, Ma, dan aku ingin mengajak Lana. Kasihan Lana, lagian dia, kan, sudah selesai ujian sekolahnya, dan liburan yang Mama dan Papa janjikan juga tidak tau kapan akan terlaksana?” Leon memutar bola matanya jengah.

“Sudahlah, Leon! Aku juga tidak apa di rumah saja, aku bisa membaca buku seperti biasanya?” Lana tidak mau sampai Leon mendapat masalah nantinya.

“Membaca buku terus, apa yang menyenangkan dengan membaca buku? Lagian kamu itu sudah dewasa, Lana, dan sudah saatnya merasakan bersenang-senang sedikit. Boleh, ya, Ma?” tanyanya lagi.

“Kamu tumben sekali mau mengajak Lana? Memangnya kamu tidak punya teman buat kamu ajak ke pesta itu?” Mamanya kembali menikmati makanannya dengan santai.

“Banyak, Ma. Tapi kali ini aku mau mengajak Lana. Teman-temanku sebagian juga mengenal Lana, ini juga pesta ulang tahun biasa, tidak yang aneh-aneh. Jadi Mama tidak perlu khawatir. Dan aku janji pulangnya juga tidak akan malam-malam.”

“Kamu pergi sama teman-teman kamu saja. Lana biar di rumah dengan Mama dan Papi. Iya, kan, Sayang?” Wanita itu tersenyum pada Lana.

Lana tidak merespon dan akhirnya dia berpamitan naik ke kamarnya, Lana berjalan dengan lesu, dia semakin tidak napsu makan kalau begini. Lana membanting tubuhnya di atas kasur empuknya.

Leon masih duduk di meja makan dengan mamanya, Leon seolah tidak percaya dengan sikap mamanya itu. Tega sekali mamanya kepada Lana, padahal Lana itu tidak pernah meminta apa-apa selama ini pada mamanya.

“Mama keterlaluan!”

“Jaga bicara kamu, Leon! Kamu lupa sedang bicara dengan siapa? Hormati mama kamu,” bentaknya kasar.

“Aku sangat menghormati Mama dan Papa selama ini, bahkan Lana juga, tapi Mama apa tidak kasihan sama Lana? Lana itu selalu menurut sama kalian. Biarkan dia bersenang-senang sedikit, Ma. Dia manusia, bukan boneka manekin di rumah ini.”

“Apa kamu sudah selesai bicaranya? Kalau sudah, kamu bisa pergi ke kamar kamu, kamu masih kecil, jangan mengajari mama bagaimana cara mendidik kamu dan kakak kamu.”

Leon tidak banyak bicara, dia langsung naik ke atas kamarnya, Leon benar-benar kesal sama mamanya. Leon pergi ke kamar Lana. “Hai, Lana. Kamu baik-baik saja, Kan?”

“Aku baik, Leon. Aku sudah melarang kamu tadi, tapi kamu tidak memperdulikannya.”

“Kita pergi diam-diam saja kalau begitu, Lana.” Leon melihat Lana dengan tatapan devil. “Bagaimana?”

“Kamu sama gilanya dengan si keriting itu.” Lana menutup mukanya dengan bantal.

“Dengarkan aku dulu, Lana.” Leon membuka bantalnya dan menyuruh Lana mendengarkan apa rencana Leon. “Kita pergi diam-diam dari jendela kamar kamu, jendelanya, kan, tidak terlalu tinggi. Jadi kita bisa meloncat, mama dan papi tidak akan tau, karena kita akan pergi saat malam hari, menunggu mereka sudah tidur.”

Lana melihat curiga kepada Leon. “Katakan sesuatu, Leon? Sebenarnya apa yang kamu inginkan? Kamu ada rencana ke mana memangnya?”

“Em ... itu?” Leon tampak bingung.

“Leon!” desak Lana.

“Sebenarnya aku mau pergi berkencan dengan seorang gadis yang menjadi anak baru di sekolahku, dan dia memang sedang berulang tahun, dan aku ingin mengajaknya jalan-jalan serta memberi kejutan buat dia.”

Mata Lana mendelik mendengarkan apa yang dikatakan oleh Leon. “Kamu, kan masih kecil dan masih anak sekolah, kenapa kamu sudah berpacaran?”

“Lana! Kamu itu terlalu polos, apa kamu tidak sadar, kamu sudah seharusnya memiliki kekasih. Bahkan teman-teman kamu saja sudah pernah melakukan lebih dari itu.”

“Jangan berpikiran yang aneh-aneh, Ya, Leon. Aku sudah tau semua itu. Tapi apa memang salah jika aku tidak seperti mereka? Sebaiknya kamu keluar saja dari kamarku, aku mau tidur.” Tangan Lana mengusir adiknya bangkit dari tempat tidurnya dan Leon pun meninggalkan kamar Lana.

Lana teringat ucapan si keriting itu tentang dia sudah melakukan hal yang lebih dari sekedar pacaran, dan sekarang adiknya. Bagaimanapun juga, Lana ini tinggal di luar negeri, tapi entah kenapa Lana, tidak tertarik hal semacam itu. Apa karena dia kelamaan di kurung di rumah.

“Noah!” teriak seseorang.

Noah yang sedang duduk di atas motornya sendirian terdiam. Sahabatnya Daniel berjalan menghampiri Noah. “Kamu kenapa? Apa kamu sedang memikirkan sesuatu?”

“Aku baik-baik saja, Dan.” Noah mencoba tersenyum.

Tidak lama datang juga gadis dengan rambut cepaknya, berpakaian kaos polos u can see, dan celana jeans biru laut yang terdapat sobekan di bagian lututnya. Cewek itu membawa rokok di tangannya. Cilla menghampiri Noah dan dengan mesranya dia memberikan rokoknya pada bibir Noah. Tidak lupa dia juga mengecup mesra bibir Noah.

“Huft! Kalian memuakkan, apa tidak bisa bersikap wajar saja kalau di depanku?” gerutu Daniel.

Cilla menatap dengan tatapan menggoda pada Daniel. “Makannya cari seorang gadis yang bisa kamu ajak bersenang-senang. Jadi milikmu itu tidak kaget jika melihat hal seperti ini.” Cilla mengerucutkan bibirnya seolah memberi ciuman pada Daniel.

“Kamu ME-MUAK-KAN.” Daniel menekankan kata-katanya. Noah yang melihatnya hanya tertawa saja.

“Cilla, apa kamu bisa pergi sebentar, aku mau berbicara dengan Daniel.”

Cilla melihat dengan menggigit bagian bawah bibirnya. “Baiklah, tapi aku malam ini akan menunggu kamu di tempatku.” Cilla berjalan dengan menggoyang-goyangkan pinggulnya sensual. Setelah Cilla pergi Noah mengatakan ingin bertanding balap motor lagi, dan Daniel diminta untuk mencarikan lawan baginya.

“Kamu sedang membutuhkan uang?”

“Iya. Kamu kan tau aku harus membayar uang untuk menangguhkan hukumanku waktu aku memukuli si berengsek selingkuhan wanita itu.”

“Mama kamu maksudnya? Bukannya mama kamu yang akan membayarnya? Lalu kenapa kamu mau membayarnya lagi?” Kedua alis Daniel mengkerut.

“Aku harus membayar kebutuhanku satu lagi, Dan.” Noah melirik pada Daniel. Daniel juga melihat heran pada Noah. “Ikutlah denganku, aku akan mengajak kamu ke suatu tempat.” Noah duduk dengan benar di atas motornya dan Daniel duduk tepat di belakang Noah. Noah mengendarai motornya dengan cepat di jalanan yang sedang sepi.

“Kita mau ke mana? Dan ini kenapa tempatnya jauh seperti ini?” tanya Daniel heran.

“Kamu nanti akan mengetahuinya jika kita sudah sampai, jadi jangan banyak bicara, Dan.” Noah kembali melajukan motornya dengan sangat cepat. Beberapa menit kemudian, mereka sampai di sebuah bangunan yang tidak terlalu terawat. Apalagi perjalanan ke sana juga memakan waktu.

"Noah, ini apa?" tanya Dan heran, "kenapa kamu membawaku ke sini?" Noah tidak menjawab, dia melepas helmnya, dan langsung turun dari motornya. Noah berjalan masuk ke dalam gedung itu. "Noah, tunggu!" teriak Daniel yang akhirnya berlari mengejar Noah ke dalam gedung itu.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel