Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3 Gadis Di Tepi Jalan

Di tempat lain. Di sebuah rumah yang lebih mirip flat sederhana. Noah berdiri di depan pintu setelah berpikir sejenak di sana.

Ceklek ...

Pintu dibuka oleh seseorang dari luar dan dia berjalan masuk ke dalam ruangan yang memiliki pencahayaan yang tidak terlalu terang. Di sudut bibir seorang gadis tersungging senyuman yang indah. Gadis itu sudah berbaring di atas ranjang yang tidak terlalu besar, dia hanya memakai celana dalam berwarna hitam dan kaos u can see yang berwarna senada.

Gadis dengan wajah cantik, dan menggoda itu sedang tiduran di atas ranjang yang ukurannya tidak terlalu besar. Dia memang sedang menunggu kedatangan sang pemenang yang tak lain adalah Noah.

"Aku yakin kamu akan datang ke sini."

Noah dengan senyum miringnya langsung melempar tubuhnya tepat di sebelah gadis itu berbaring. "Tentu saja, aku ke sini untuk menagih hadiahku yang kamu katakan pada Daniel." Noah dengan segera mengecupi bibir gadis itu dengan liar. Cilla membalas tak kalah liarnya. Dan pergulatan indah di atas ranjang itupun terjadi.

Malam itu pula. Di sebuah rumah yang tampak besar dan mewah, rumah dengan dekorasi ala Eropa klasik dan ada beberapa pillar menjulang tinggi. Sebuah keluarga berkumpul di ruang tengah. Mereka tampak membicarakan hal yang jika didengar oleh kedua anak mereka, bukan hal yang menyenangkan.

"Tenderku menang lagi. Dan kali ini aku benar-benar akan menguasai kerajaan bisnis di dunia."

"Selamat ya, Pa. Teman-temanku pasti akan sangat iri mendengar hal ini. Dan aku bisa membeli berlian mewah lagi sebagai koleksiku," ucap seorang wanita dengan rambut hitam keritingnya.

"Ma, apa kita bisa berlibur akhir pekan ini? Aku bosan dengan kegiatan sekolahku yang terjadi setiap hari. Aku ingin berkumpul dan berlibur ke pantai. Lana, kamu setuju, Kan?" tanya seorang bocah laki-laki yang memiliki manik mata coklat.

"Em ... iya. Aku setuju," jawab gadis dengan rambut gelombang sebahunya. Sebenarnya dalam hati gadis itu. Dia tidak yakin bahwa keinginannya dan adiknya akan di penuhi oleh kedua orang tua mereka. Mengingat dia sudah tau sifat dari kedua orang tuanya itu.

"Nanti saja berliburnya, Leon. Kamu tau kakak kamu Lana kan masih harus menyelesaikan ujiannya, dan mama tidak mau kalau sampai kakak kamu Lana mendapat nilai yang jelek nantinya di sekolah," terang wanita cantik itu.

"Huft! Iya, aku tau, tapi Mama dan Papa janji, Ya? Setelah Lana menyelesaikan ujiannya kita akan pergi ke berlibur ke Pantai Sand Paradise?"

"Iya, kita lihat saja, Papa juga masih harus menyelesaikan banyak pekerjaan setelah memenangkan tender itu."

Manik mata gadis yang bernama Lana itu hanya melihat sekilas adik dan kedua orang tuanya berbicara. Kemudian dia kembali fokus pada buku yang ada di tangannya, "Ma, Pa, Aku pergi ke kamar dulu. Aku sudah mengantuk." Gadis itu beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju kedua orang tuanya. Lana memberi kecupan selamat malam kepada papa dan mamanya.

"Lana, aku juga mau kembali ke kamarku." Pria kecil itu merangkul kakaknya. Mereka berdua naik ke atas kamarnya.

Lana dengan cepat merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk miliknya, dia terlentang dan menatap langit-langit kamar tidur yang dia tempeli dengan hiasan berbentuk bintang. Saat Lana mematikan lampu di kamarnya, hiasan berbentuk bintang itu menyala di dalam terang. Gadis itu tersenyum senang. "Aku ingin sekali bisa berlari dengan lepas di tempat yang sangat indah." Lana menutup kedua matanya dan membayangkan bisa berlarian bermain di pantai yang sepi dan hanya ada dia sendiri. Tidak sadar Lana pun terlelap dalam tidurnya.

Keesokan harinya. Noah sudah terbangun dari tidurnya, dia segera memakai baju dan celana panjang jeansnya. Noah mengambil kunci motornya dan segera keluar dari tempat Cilla. Cilla yang masih tertidur pulas itu di tinggalkan begitu saja oleh Noah.

Noah mengendarai motornya dengan agak cepat. Entah dia mau ke mana? Namun, di tengah perjalanan, dia harus menghentikan motornya karena jalanan ternyata macet. Seperti biasa kota Pure Line itu setiap pagi akan selalu mengalami kemacetan di jam kerja. Dan orang-orang di sana sudah paham akan hal itu.

"Shit!" Noah hanya bisa mengumpat kesal. Dia berusahan mencari sela-sela agar motornya bisa berjalan di tengah kepadatan mobil yang juga menunggu agar bisa berjalan walaupun pelan-pelan.

Noah pun akhirnya bisa lolos di tengah kemacetan jalanan itu. Dia kembali memacu motornya. Namun, Noah kembali berhenti saat dia melihat agak jauh dari tempatnya berada. Noah seolah tertarik melihat seorang gadis yang berdiri di depan mobil mewahnya. Wajah gadis itu tampak gelisah, dia mengigiti kuku jarinya.

Noah tersenyum miring dan menghampiri gadis itu. "Apa kalian perlu bantuan?" tanya Noah.

Gadis yang ternyata Lana itu tidak menjawab, dia hanya melihati Noah dari atas ke bawah. "Maaf, Nona Lana. Mobilnya harus saya ganti bannya. Apa Nona mau menunggu sebentar?" tanya seorang pria yang sepertinya itu supir Lana.

"Menunggu? Tapi hari ini aku ada ujian! Aku bisa telat, Pak! Aku tidak bisa menunggu." Sekali lagi muka Lana tampak benar-benar cemas.

"Tapi bagaimana lagi, Nona? Mengganti ban ini memang membutuhkan waktu. Apa Nona Lana naik taxi saja?"

Lana bingung. "Di sini susah mendapatkan taxi," celetuk Noah. Lana langsung melihat ke arah Noah. "Maaf, aku tiba-tiba berada di sini. Kalau mau aku bisa mengantarkan kamu ke sekolah, kebetulan arah tujuanku dan sekolah kamu sama. Bagaimana?" Noah melihat nama sekolah dari seragam yang dipakai Lana, Noah tau di mana sekolah Lana, karena dulunya dia pernah menjadi murid di sana, walaupun bukan murid yang berprestasi, tapi setidaknya Noah pernah membuat heboh sekolah itu dengan tingkah bar-barnya. Noah berharap, jika gadis di depannya ini mau menerima tawarannya, entah kenapa Noah tertarik melihat gadis itu.

Lana masih terdiam, jujur saja dia belum pernah bertemu orang asing, jadi sedikit banyak dia harus berhati-hati.

"Jangan takut denganku, aku tidak akan menyakiti atau menculik kamu, aku hanya bermaksud menolong." Noah seolah tau apa yang dipikirkan oleh Lana.

Lana berpikir lagi, jika dia tidak segera berangkat, dia bisa terlambat, jika dia terlambat, Lana tidak akan boleh mengikuti ujian. Dan tentu saja nilainya akan jelek, lebih parahnya lagi, dia akan mendapat omelan bahkan kemarahan kedua orang tuanya.

"Sudahlah, ayo! Kalau kebanyakan berpikir, sekolah kamu bisa terlambat."

Lana segera mengambil tasnya dan dia berjalan menuju motor Noah. "Motor?" Lana sedikit terkejut.

"Apa kamu tidak pernah naik motor?" Noah sekali lagi memberikan senyum miringnya yang sangat manis.

Noah memakai helmnya dan menyuruh Lana naik ke atas motornya. Lana naik dengan ragu-ragu. Kedua tangannya berpegangan pada belakang motor Noah.

"Apa kamu tidak mau berpegangan padaku? Aku tidak mau bertanggung jawab kalau kamu nanti jatuh, karena aku akan sedikit cepat menjalankan motorku."

"Aku tidak akan jatuh. Kamu jalan saja," ucap Lana.

Noah pun mulai menyalakan motornya, dan sedikit menggas motornya, sontak saja Lana terkejut dan langsung melepas pegangannya, dan sekarang malah memeluk Noah karena takut. Noah sekali lagi menunjukkan senyum miringnya dan motornya mulai berjalan dengan agak cepat.

Lana yang tidak pernah naik motor, dia memilih menyandarkan kepalanya pada punggung Noah untuk menghilangkan rasa ketakutannya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel