Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 7 Kedatangan Wanita Hamil

Tidak ada keterkejutan di raut wajah tua Pak Sutiyoso. Tetap sumringah. Mungkin baginya permintaanku itu seperti permen lolipop. Harga apartemen tidak ada apa-apanya bagi pengusaha ini.

“Om pasti kabulin. Hari ini juga Om akan ajak Wulan lihat-lihat apartemen.”

“Yakin nih?”

“Iya, Sayaaang ... yakin.”

“Ya udah tunggu, Wulan mandi dulu.” Bukannya menjawab, laki-laki tua itu malah menelan ludah, lidahnya menjilat bibir atas.

Pasti otaknya sedang mesum.

“Mau nungguin gak?”

“I-iya, Lan. Om tunggu.”

Aku pun beranjak mengambil handuk di kamar dan membawa pakaian ganti. Kemudian Menuju kamar mandi yang terletak di dekat dapur. Kalau keluar hanya dibalut handuk, pasti kelihatan dari ruang tamu. Tak sudi tubuhku dilihat oleh Pak Sutiyoso.

Selain dikunci, pintu kamar mandi aku tutup dengan ember yang diisi penuh. Ember itu aku taro di dekat pintu. Takut-takut kalau si Tua bangka itu mengintip.

Selesai mandi aku menghiasi diri. Mengenakan kaos dan rok ketat selutut.

Kupandangi tubuh ini dari pantulan kaca. Ternyata aku begitu cantik. Kulit putih, hidung mancung, pipi tirus, dan bibir tipis. Pantas saja banyak para pelanggan karaoke selalu ingin aku dampingi.

Aku melenggang keluar dengan memakai sepatu high heels yang tempo hari dibelikan Pak Sutiyoso.

Melihat penampilanku, mulut Pak Sutiyoso ternganga.

“Om, cepetan. Mau aku kunci rumahnya.”

Bergegas tua bangka itu keluar. Menuju mobil mewahnya yang terparkir di sisi jalan.

***

Lagi-lagi Pak Sutiyoso tidak diantar supir pribadi. Ia memilih untuk menyetir sendiri. Matanya tak henti-henti melirik kedua pahaku.

Entah apa yang berada di otaknya.

“Matanya liat ke depan, Om!” Titahku ketus. Dia terlihat kikuk, lalu terkekeh.

“Maaf, Lan. Paha Wulan mulus banget. Bikin Om gak fokus nyetir.”

Aku segera mengambil tas yang tersimpan di jok belakang untuk menutupi kedua paha.

Selama perjalanan hanya keheningan di antara kami. Aku lebih asyik bermain ponsel. Membuka Facebook, melihat perkembangan orang-orang desa. Ya, sekarang aku punya handphone mewah. Benda canggih ini hadiah dari Bang Yos karena aku telah membuat tempat karaokenya tambah ramai.

Aku menscroll beranda. Status Minah melintas. Memang aku sengaja berteman dengan orang-orang desa di media sosial. Supaya dengan mudah memamerkan kesuksesanku.

“Kawajiban salaki mere nafkah ka pamajikan. Lain pamajikan nu mere nafkah ka salaki. (Kewajiban suami memberi nafkah kepada istri. Bukan istri yang memberi nafkah kepada suami).”

Rumah tangga si Minah sepertinya tidak harmonis. Pasti karena krisis keuangan. Aku sangat bahagia melihat orang yang pernah menghinaku hidupnya sedang mengalami kesulitan.

“Kita sudah sampai, Lan. Bentar ... jangan turun dulu. Biar Om yang bukain pintunya.”

Halah ... sok romantis banget sih?! Dia pikir aku akan terkesan? Tidak akan pernah.

Setelah turun dari mobil, Pak Sutiyoso menggenggam tanganku, namun aku tepis.

“Jangan pegang-pegang! Belum tentu aku cocok sama aartemennya!” ucapku masih dengan nada ketus.

Pak Sutiyoso hanya pasrah menerima perlakuan buruk dariku.

“Apartemen ini baru dua bulan Om beli. Biasa tempat Om males pulang ke rumah.” Pak Sutiyoso mulai buka suara. Aku masih tetap diam.

Pintu apartemen terbuka. Ruangannya ternyata luas. Ada mini bar di dekat dapur.

Aku melihat-lihat sekeliling. Luar biasa bagusnya. Seperti di film-film.

“Kamarnya ada dua, Lan. Kamar mandi ada di dalam. Yang ini kamar utama, sebelah sana kamar tamu. Atau buat keluarga Wulan nanti kalau mau menginap.” Laki-laki bertubuh tambun itu menjelaskan.

Apa aku sedang mimpi? Kucubit pipi. Ah ternyata tidak. Ini nyata! Sangat nyata! Tua bangka ini pasti serius akan memberikannya padaku.

“Om serius kan kalau ini buat Wulan?”

“Serius. Yang penting Wulan gak marah lagi. Mau nemenin Om kayak kemarin-marin.” Aku tersenyum, lalu mulai berakting. Pura-pura manja. Bergelayut di lengannya.

“Makasih ya, Om. Om baik deh!”

Satu kecupan berhasil mendarat di puncak kepala tanpa sempat aku mengelak. Tak apalah, yang penting sekarang aku tidak tinggal lagi di kontrakan kumuh.

***

Dua hari sudah aku menghuni apartemen Pak Sutiyoso. Barang-barang milikku yang mulai banyak sudah dipindahkan.

Kini tidak tidur lagi di kasur lipat, tapi di ranjang ukuran king size. Luar biasa hidupku! Perubahan yang fantastis.

Tak lupa aku melakukan selfi, mengupload ke beberapa media sosial.

Di Facebook beragam komentar dari orang-orang desa memenuhi postinganku.

“Wooww ... Wulan tambah geulis wae.(Wulan makin cantik aja.)” Komentar Dira. Laki-laki yang dulu pernah membully.

“Eta teh rumah Wulan yang baru ya?” Lilis anak Teh Marni ikutan komentar.

“Uluh-uluh ... ternyata Wulan beneran sukses. Kerja di kantor apa, Lan?”

Komentar-komentar itu tak satupun aku balas. Dulu aja, tak pernah sudi menyapaku apalagi bertanya. Giliran mulai terlihat sukses, barulah mereka sok ramah. Iiiihh sorry ....

Sedang asyik bermain ponsel, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu.

Aku pun bangkit memeriksa siapa orang tersebut.

“Maaf, Mbak. Mau ketemu siapa ya?” tanyaku ramah.

Wanita yang belum aku ketahui namanya itu rupanya sedang hamil. Mungkin sudah tujuh bulan.

“Apa benar kamu yang bernama Wulandari?”

Kok wanita ini tahu namaku? Siapa dia? Apa jangan-jangan istri lain Pak Sutiyoso?

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel