Kenzo Stevano Andrew
KENZO STEVANO ANDREW—cowok tampan yang berusia 17 tahun lebih beberapa bulan ini memiliki gelar sebagai The Devil Bad Boy di sekolah.
Siapa yang tak kenal dengannya?
Most wanted boy di SMA Bhakti Negara yang digilai kaum hawa, terlepas dari semua kelakuannya yang minus.
Bergelar Devil membuatnya ditakuti oleh para murid di sekolah, diusik sedikit saja maka dia akan langsung mengamuk dan kalian tak akan selamat. Terlebih lagi sang ayah—seorang pengusaha sukses pemilik sekaligus ketua yayasan sekolah SMA Bhakti Negara.
Memiliki wajah tampan yang mempesona serta kehidupan perekonomian keluarga yang baik, bahkan sangat baik. Tak membuatnya bersyukur dan bersikap layaknya anak pengusaha yang memiliki sopan santun tinggi. Lihat saja sekarang! Bahkan ketika guru BK menasehati, ia sama sekali tidak mendengarkannya.
"Kenzo! Ini sudah kali keberapa kamu kedapatan merokok di lingkungan sekolah?" Suara Bu Mira menggelegar di dalam ruang BK. Kenzo memutar matanya malas menanggapi makian dari Bu Mira yang sudah menjadi makanan sehari-hari.
Aroma rokok yang berasal dari tubuh Kenzo makin menyeruak di dalam ruangan, di tambah dengan keadaan AC yang rusak membuat ruangan ini menjadi sumpek seketika.
"Ceramahnya udah belom, nih? Saya ngantuk, mau tidur." Suara sinis itu terjun begitu saja dari mulut Kenzo.
"Kamu ya, nggak ada sopannya sama orang tua!" ketus Bu Mira dengan keadaan marah dan mata melotot. Guru BK itu makin geram ketika memperhatikan Kenzo.
Seragam yang tidak dimasukkan ke dalam celana, dasi yang entah berada di mana, rambut yang sudah tidak masuk ke standar sekolah, serta kondisi kancing telah terbuka semua memperlihatkan kaos hitam polos yang digunakannya. Tipikal bad boy pada umumnya.
Kenzo melipat tangan di dada. Dia mengembuskan napas dengan kasar. Berdiri lalu mendorong keras kursi yang didudukinya.
"Kenzo! Jangan seenaknya kamu. Mentang-mentang anak pemilik sekolah kelakuan kamu kaya gini." Bu Mira kembali memarahi Kenzo. Namun, apa dikata, Kenzo sudah berlalu meninggalkan ruang BK.
Kenzo berjalan melewati koridor kelas X dengan cuek. Para junior cewek nyaris saja berteriak histeris jika saja mereka tidak ingat akan bermasalah nantinya dengan cowok tersebut. Sedangkan para junior cowok hanya menunduk menghindari tatapan permusuhan dari Kenzo, bahkan ada yang berpura-pura sibuk dengan aktivitasnya demi menghindari masalah yang akan mereka dapatkan nanti.
Kenzo mengeluarkan handphone dari dalam saku celana abu-abu, kemudian mendial salah satu nomor di sana.
"Lo berdua gue tunggu di danau belakang sekolah!"
Tut-tut-tut!
Kenzo memutuskan panggilan secara sepihak. Sifat bossy-nya sangat kentara sekali.
Dengan tampang angkuh dia terus melangkah menuju area belakang sekolah yang terdapat sebuah danau.
"Eh, sini lo!" Kenzo memanggil seorang cowok berkacamata yang tiba-tiba melintas di depannya.
Cowok yang dipanggil itu sontak saja kaget. Ada apa seorang bad boy di sekolah ini memanggilnya. Keringat dingin tiba-tiba mengalir di tubuh, tangannya pun sudah terasa dingin.
"I—iya?" tanya cowok itu dengan menunduk seraya meremas kedua tangan.
Kenzo mendengus kesal dengan cowok yang mendadak gagap di depannya ini.
"Lo ambilin tas gue di kelas! Terus lo antar ke danau belakang," titahnya tak terbantahkan.
"I—iya," jawabnya. Dengan segera dia langsung ngacir menuju kelas Kenzo untuk mengambil tas.
Setibanya di danau, Kenzo memilih duduk di bawah pohon beringin tua yang tumbuh di tepi danau. Menyandarkan punggungnya seraya memejamkan mata menikmati semilir angin yang terasa menenangkan.
“Kenzo! Woy!”
Tiba-tiba terdengar suara teriakan. Dengan malas Kenzo membuka mata dan menoleh ke arah sumber suara. Terlihat dua orang temannya tengah melambaikan tangan. Tanpa menunggu waktu lama, keduanya berlari menghampiri Kenzo.
"Lo dikasih siraman rohani di ruang BK berapa lama, Ken?" tanya salah satu dari mereka yang ber-name tag Aiden Al-Fathir.
"Lama banget pokoknya. Sampai gue ngantuk," balas Kenzo kesal.
"Segitu amat sama emak lo,” celetuk cowok yang ber-name tag Galang Raffael Wijaya sambil cekikikan.
Kontan saja mata Kenzo terbelalak marah. Apan-apaan ini? Guru BK nyokapnya? NO!
"Sialan lo, Njing," umpat Kenzo tidak terima.
"Kayanya Bu Mira demen deh sama bokap lo, Ken. Secara, 'kan bokap lo itu Duren alias Duda Keren," ujar Aiden yang asal nyablak kalau berbicara.
Galang mengangguk menyetujui asumsi Aiden. "Benar juga itu, Ken. Bu Mira kan demen juga ngurusin lo. Siapa tau itu taktik buat caper sama bokap lo," ujar Galang mengeluarkan pendapat.
Kenzo semakin kesal kepada kedua sahabatnya. Sahabat macam apa yang berpikiran kalau Bu Mira—guru BK galak itu bakal jadi nyokapnya.
"Guru BK tugasnya, 'kan emang ngerecokin murid kaya gue ini. Otak lo berdua pada ke mana, sih?" Kenzo memukul kepala kedua sahabatnya dengan kesal.
Yang dipukul hanya meringis seraya mengusap bekas pukulan Kenzo.
“Untung sahabat sendiri,” rutuk mereka dalam hati yang ditujukan pada Kenzo.
"Eh, itu si culun ngapain ke sini?" tanya Aiden yang melihat kedatangan cowok berkacamata.
"Ngantar tas gue," jawab Kenzo pendek.
"Taruh tas gue dan lo pergi dari sini!" usir Kenzo kepada cowok berkacamata itu.
"I—iya."
Aiden greget sendiri dengan tingkah 'si culun' yang kebingungan menaruh tas Kenzo. Dengan segera ia mengambil tas Kenzo dengan cara merampasnya.
"Sana pergi! Nunduk mulu, emang cakepan sepatu lo dari kita-kita, ya? Nggak jantan banget lo jadi cowok." Kali ini Aiden lah yang bersuara.
"Permisi," pamit cowok tersebut. Dia berlari meninggalkan area danau.
Sepeninggal cowok berkacamata itu. Kenzo mengeluarkan sebungkus rokok dari dalam tas. Menyalakannya dengan pematik, lalu menghisap seraya menghayati setiap kepulan asap yang diembuskannya.
Tak ketinggalan. Aiden dan Galang juga ikut menyalakan rokok.
Waktu mereka bertiga selalu dihabiskan di sini. Terutama untuk merokok sambil menikmati ketenangan danau.
Di danau juga terdapat perahu kecil yang terbuat dari kayu, atau lebih tepatnya adalah sampan. Di sana juga terdapat jembatan kayu membentang sedikit ke danau, yang akan terlihat seperti dermaga kecil.
***
