Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3

"Hey, good morning, babe," Daniel menyapa Claret begitu teleponnya diangkat. Jam menunjukan pukul tujuh malam yang berarti tujuh pagi di kota New York.

Seperti yang biasa dilakukan Daniel, ia membangunkan Claret di pagi hari, berbincang sebentar, bertukar rindu, lalu saling memberikan kata-kata semangat.

"Hey, man."

Bukan suara Claret yang ia dengar, malahan suara laki-laki. Belum sempat Daniel bertanya suara siapakah ini, di seberang sana sudah menjelaskannya terlebih dahulu.

"It's Nathan. Claret is in the bathroom. Any message?"

Daniel menggeram. Kenapa Nathan ada bersama Claret di pagi hari? Claret bukan tipe orang pagi yang biasa beraktivitas sebelum jam 7.

"Where're you?" tanya Daniel dengan nada kasar.

"Her apartment," Nathan memberi jawaban dengan enteng. Seolah-olah tidak ada suatu hal yang salah dengan hal itu.

"And why are you in her apartment in this early morning?"

"I think I over slept here last night."

Kalimat itu membuat Daniel bertambah geram.

"Oh, wait. She's done." Kemudian terdengar Nathan bersuara keras memanggil Claret.

Lalu Daniel bisa mendengar Claret berbicara sebentar dengan Nathan, sepertinya Claret menyuruhnya untuk mencuci muka, menggosok gigi, lalu memakan sup yang sudah dibuatkan oleh Claret.

"Hey, Niel," sapa Claret setelah beberapa saat.

"Kamu sudah mandi? Tumben." Daniel berkomentar dengan nada ketus.

"Aku terbangun pagi."

Daniel dibuat kesal dengan cara menjawab Claret yang terdengar biasa seolah-olah tidak ada hal yang salah.

"Karena kamu tidur dengan Nathan?!" Daniel sudah tidak bisa menahan emosinya lagi.

"Tidur dengan Nathan? Itu terdengar seperti aku berselingkuh dengan Nathan?"

"Kalau tidak, lalu apa? Kenapa dia bisa tidur di apartment kamu?"

"Dia baru saja putus dengan tunangannya, Niel."

"Dia baru putus, lalu dia mendekati kamu?"

"Daniel! He's a friend!"

"Aku tidak mengerti bagaimana dua orang yang berteman dapat tidur bersama?!"

"Kami tidak tidur bersama dalam satu kamar, Daniel! Dia tidur di sofa! Beside, dia mabuk semalam."

"Dia mabuk??!!" Daniel berteriak. "Dia mabuk dan kamu malah membiarkannya tidur di apartment kamu?!"

"Niel, tidak mungkin aku membiarkan dia tidur di bar, kan? Sudah aku bilang, he's a friend."

"Kamu bukan wanita murahan yang memasukan laki-laki sembarangan untuk tidur di apartment kamu!"

"Aku memang bukan wanita murahan."

"Lalu kenapa kamu membiarkan dia tidur di apartment kamu?!!"

"Niel, sudah aku bilang!"

"I don't give a shit with that ridiculous reason of yours."

"Excuse me?"

"Kamu berjanji tidak akan berdekatan dengan Nathan, ingat?"

"Seingat aku, aku meminta kamu untuk percaya padaku!"

"Bagaimana aku bisa percaya?!"

"You should!" Claret menjadi lelah dengan pertengkaran mereka ini.

"Aku bahkan tidak tahu apa yang selama dua bulan ini kamu lakukan dengan Nathan!"

"Kamu pikir aku akan berselingkuh dengan dia?!"

"Won't you?"

"Daniel?!"

"I can't think."

Claret berusaha sebisa mungkin meredam emosinya dan berusaha meyakinkan Daniel. "Entah berapa kali aku harus mengatakan nya bahwa aku mencintai kamu sejak 10 tahun lamanya."

"Dan ini sudah tahun yang kesebelas."

"Don't be ridiculous, Daniel."

"I'm not. Aku tidak bisa yakin karena aku tidak bersama dengan kamu di dua bulan terakhir ini."

"Aku mencintai kamu, Daniel. Itu tidak berubah."

Daniel tidak juga dapat diyakinkan. "Lalu kenapa kamu tidak mau ikut ke Jakarta?!"

"Kamu bilang kamu mengerti kondisi aku!" nada bicara Claret meninggi.

Tidak ada jawaban dari Daniel.

Claret menghela nafas dengan kesal. "Call me if you're getting any better."

Daniel tidak juga menjawab. Dengan kesal, Claret menutup sambungan teleponnya.

***

"Kedengarannya kalian sedang bertengkar."

Volvo menghampiri kakaknya yang sedang berdiri di pinggir kolam renang. Sementara orang tua mereka sudah menunggu di meja makan dengan hidangan yang baru saja disiapkan.

Daniel berbalik menghadap Volvo sambil memasukan handphone nya ke saku celananya. Ia tidak lagi memakai jasnya dan lengan kemeja biru mudanya sudah digulung sampai ke siku.

"Sepertinya ini masalah besar," keluh Daniel.

"Bukannya kalian memang sering bertengkar? Bahkan untuk hal-hal sepele seperti makan apa atau review film."

"Tapi ini lebih besar dari itu, Vo."

"Memangnya tentang apa?"

"Aku takut."

Volvo mengerutkan keningnya. "Takut? Sejak kapan seorang Daniel menggunakan kata itu?"

Daniel menggeleng pelan. Lalu dia berjalan mendahului Volvo masuk ke rumah.

"Kau takut kehilangan Claret?" Volvo bergegas mensejajari langkah Daniel.

Daniel tidak menjawab.

"Kau takut dia tidak mencintaimu lagi?" tanya Volvo lagi.

Daniel tiba-tiba menghentikan langkahnya, lalu menatap Volvo yang berdiri di sebelahnya.

"Bagaimana kalau Claret menemukan seseorang yang lebih membuatnya nyaman?"

"Kau tidak yakin padanya?"

Daniel berdecak. Daniel tidak yakin pada Claret. Bukannya Daniel meragukan cinta Claret padanya. Daniel tahu betapa Claret sudah mencintainya sejak dulu. Hanya saja, ia tidak percaya diri bahwa dia bisa membuat Claret tetap mencintainya.

"Kalian berdua, papa sudah menunggu di meja makan." Titania Deksa muncul dari lorong lalu menggeret mereka berdua ke ruang makan.

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel